Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 90


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan mengenakan gaun berwarna putih, Naya terlihat begitu cantik bagai putri Cinderella. Gadis itu berdiri di hadapan sebuah cermin. Memandangi dirinya yang begitu cantik hari itu.


"Apakah yang di cermin itu benar-benar aku?" gumamnya.


Seseorang kemudian berdiri di belakangnya, membuyarkan lamunannya.


"Kau sudah siap?" tanya Evan diikuti Rafli dan Mia di belakangnya.


Naya menghela napas panjang, lagi dan lagi, "Aku sangat gugup..."jawab Naya, lalu mengarahkan pandangannya pada Mia. "Mia, aku harus bagaimana?"


"Santai saja, jangan gugup begitu! Kau seperti pengantin baru saja. Kau ini sudah menikah dua tahun Naya!" ucap Mia.


"Walaupun dua tahun menikah, tapi aku kan masih perawan," jawab Naya polos, membuat Mia mengerutkan alisnya.


Evan dan Rafli tertawa mendengar ucapan polos Naya. Sahabat kesayangannya itu akhirnya menggelar resepsi pernikahan dengan konsep sesuai impiannya sejak lama. Dua pria yang dijuluki keong kembar oleh Zian itu menggandeng tangan Naya keluar dari ruang make up sebuah salon ternama dengan beberapa orang wanita yang memegangi ekor gaunnya yang menjuntai.


"Harusnya kau bahagia, tidak mudah mendapatkan hati orang seperti Kak Zian. Dia itu seperti batu kutukan." ucap Evan dengan santainya. "Tapi dia lebih beruntung mendapatkanmu. Ah, aku sangat iri pada orang tua itu..."


Evan yang usil itu selalu menyebut kakaknya sudah tua. Perbedaan usia Naya dan Zian yang terpaut sebelas tahun itu sering menjadi bahan ledekannya.


Rafli kemudian menepuk pundak Evan yang sudah terlalu banyak bicara. "Ayo cepat kita berangkat, kalau kita terlambat, bisa-bisa kita dicincang olehnya."


"Dicincang?" Naya mengerutkan alisnya mendengar ucapan Rafli.


"Kau belum tahu, semengerikan apa Kak Zian itu? Bukankah kau pernah merasakannya selama satu tahun?" tanya Evan yang kembali mengingat perbuatan Zian kepada Naya di awal pernikahannya.


"Ah... itu..."


"Kalau dia menyakitimu lagi, katakan padaku. Aku pasti akan menghajarnya sampai mati jika dia berani menyakitimu lagi."


Naya pun tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. "Terima kasih, ya! Kalian bertiga sudah menemaniku selama ini. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kalian."


Mereka berempat pun berpelukan dan saling merangkul selama beberapa menit. Berbagi kebahagiaan bersama. Buru-buru, mereka menggandeng Naya keluar dari tempat itu. Di luar telah ada sebuah kereta kencana menunggu. Naya pun berbinar melihat kereta yang telah dihias sedemikian rupa itu.


"Kita akan ke sana dengan kereta ini?" tanya Naya dengan wajah bahagianya.


"Bukankah kau menginginkan konsep pernikahan seperti putri-putri Disney? Kak Zian sedang mengabulkannya untukmu." jawab Mia.


Zian... Dia membuat semua kejutan ini untukku


"Ayo cepat! Acaranya akan segera dimulai. Kau tidak mau membuat si pemarah itu mengomel, kan?" Evan mengajak Naya menaiki kereta kencana tersebut menuju gedung tempat resepsi itu yang jaraknya sangat dekat dari tempat mereka berada sekarang. Sementara Mia dan Rafli segera menuju mobil yang terparkir di sudut sana.


Rasanya seperti sebuah mimpi. Iya, ini persisi seperti mimpiku waktu itu. Saat pertama kali aku memimpikannya.


"Evan, aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Naya di tengah-tengan perjalanan menuju gedung itu.


"Apa ini seperti mimpi?" Naya mengangguk mendengar pertanyaan Evan. "Kau beruntung, karena ini kenyataan, bukan mimpi..."


Kereta kencana itu berhenti tepat di depan sebuah gedung. Dan, alangkah bahagianya gadis itu melihat gedung itu telah dihias semirip mungkin dengan istana disney. Beberapa orang pria datang dan membantu Naya turun dari kereta tersebut.


"Selamat datang tuan putri..." Fahri yang telah menunggu di depan membungkukkan kepalanya, sedang menyambut kedatangan Naya. Laki-laki itu lalu menggandeng Naya memasuki gedung itu. Sepanjang jalan memasuki gedung besar itu, mata Naya dimanjakan dengan taburan kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di atas karpet.


Si kecil Kay dan seorang anak laki-laki memegangi ekor gaun yang dipakai Naya. Kedua bocah itu terlihat sangat menggemaskan.


Di ujung sana tampak seorang lelaki jangkung menyunggingkan senyumnya, berdiri menunggu kedatangan sang putri. Fahri menatap sekilas wajah Naya yang begitu bahagia dengan mata berkaca-kaca. Alunan merdu biola pun terdengar saat Naya melangkahkan kakinya di atas karpet merah itu. Seorang pria menyanyikan sebuah lagu dari Shane Fillan yang berjudul Beautiful in white.


Not sure if you know this

__ADS_1


(tidak yakin apakah kau tahu ini)


But when we first met


(Tapi saat pertama kali bertemu)


I got so nerveous, I couldn't speak


(Aku sangat gugup, aku tak sanggup berkata-kata)


In that very moment


(pada saat itu juga)


I found the one and


(Ku temukan seseorang)


my life had found its missing peace


(Hidupku telah menemukan kepingannya yang hilang)


So as long as I live I love you


(Maka selama aku hidup aku akan mencintaimu)


Will have and hold you


(Akan memiliki dan memelukmu)


You look so beautiful in white


(Kau sangat cantik dengan gaun putih)


(Dan mulai sekarang hingga napas terakhirku)


This day I'll cherish


(hari ini kan ku kenang)


You look so beatiful in white, tonight


(Kau sangat cantik dengan gaun putih)


what we have its timeless


(Yang kita punya adalah abadi)


my love is endless


(Cintaku tak berbatas waktu)


and with this ring i say to the world


(Dan dengan cincin ini ku katakan pada dunia)


You my every reason


(Kau adalah semua alasanku)

__ADS_1


You're all that I believe in


(Kau adalah semua yang kupercayai)


With all my heart i mean every word


(dengan sepenuh hati kuucapkan kata dengan sungguh-sungguh)


So as long as I live I love you


(Jadi selama aku hidup aku akan mencintaimu )


will have and hold you


(akan selalu memelukmu


You look so beautifull in white


(Kau terlihat sangat cantik dengan gaun putih)


Sebuah lagu dari Shane Fillan itu seolah mewakili semua perasaan cinta yang dimiliki Zian untuk Naya. Setitik air mata terjatuh dari kelopak mata gadis itu, menyadari betapa sang suami begitu mencintainya dan mengabulkan apa yang menjadi impiannya.


Semua matapun tertuju pada sosok gadis cantik yang malam itu seperti seorang putri sungguhan. Ada yang berdecak kagum, ada yang merasa iri, dan adapun yang ikut menangis haru merasakan kebahagiaan malam itu.


"Jangan menangis, atau Elma akan marah kalau make up mu luntur," bisik Fahri.


"Aku seperti sedang bermimpi, Kakak!" ucap Naya seraya mengusap wajahnya, menghapus setiti air matanya.


Ini sama persis seperti mimpiku, dan Zianku berdiri disana menungguku, dengan senyumannya. Mimpiku telah menjadi nyata.


Zian mengulurkan tangannya ketika Naya berada dalam jarak cukup dekat dengannya. Fahri pun menyerahkan tangan Naya pada Zian.


"Akhirnya hari yang kau tunggu-tunggu tiba..." ucap Fahri dengan nada bermuatan ledekan.


Zian tersenyum puas, "Dan sekarang, baik kau maupun takdir tidak akan bisa menghalangi apa yang mau aku lakukan." Zian melirik Naya sekilas kemudian berbisik di telinga kakaknya itu, "Naya hanya milikku dan dua bulan sudah berlalu. Jadi mulai malam ini hentikan kebiasaan burukmu itu!"


Fahri terkekeh mendengar ucapan Zian yang baginya sangat lucu. Selama ini setiap malam Fahri selalu mengirimkan pesan bernada ancaman pada adiknya itu menjelang tidur. Sekarang dokter itu harus menghentikan kegiatan usilnya itu.


Putra sulung keluarga Azkara itupun memeluk adiknya itu, menepuk punggunya berkali-kali seraya mengucapkan selamat atas penikahannya. Setelahnya, Fahri turun dari panggung itu dan kembali ke meja dimana Elma dan Kay berada.


Zian kembali meraih jemari istrinya itu, lalu memakaikan cincin di jari manisnya. Zian menatap wajah Naya lekat-lekat.


"Sayang, kau adalah wanita tercantik di dunia," bisik Zian lalu mengecup kening gadis itu. Naya meresapi kecupan itu dengan memejamkan matanya, "Aku mencintaimu," bisik Zian lagi.


Naya kembali menjatuhkan setitik air matanya mendengar bisikan mesra itu. Semua yang ada hari ini sama persis seperti mimpinya dua tahun lalu. Hari pertama kalinya dia bertemu dengan sosok Zian yang hanya seorang montir, namun Naya tidak peduli dengan status sosialnya saat itu.


Zian menghapus air mata yang mengalir di wajah istrinya itu, lalu mengecup kedua mata itu bergantian, kanan dan kiri.


Acara malam itupun berlanjut dengan meriah. Kesabaran seorang Zildjian Maliq Azkara menunggu cinta pertamanya selama tujuh tahun akhirnya berbuah manis. Dan Kanaya Indhira Adiwinata, tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa bahagia hatinya saat ini. Hati yang dahulu begitu rapuh, hati yang selalu merasa sakit itu, sekarang menemukan tempat bersandarnya.


Hanya raut kebahagiaan yang tersirat di wajah pasangan itu. Para tamu berdatangan menyalami dan ikut mendoakan kebahagiaan untuk Zian dan Naya.


Terima kasih Tuhan... Sekarang aku mengerti kenapa Kau memberiku mimpi itu. Kenapa Kau memberiku takdir yang sempat ku benci ini. Maafkan aku yang sempat marah pada takdirMu. Sekarang aku mengerti, seperti halnya kupu-kupu yang bersabar melewati banyak proses menuju keindahannya. Aku pun pasti memiliki waktu indahku sendiri, seperti sekarang...


Setelah melewati semua ujian yang menurutku sangat berat. Hari ini, aku mendapatkan apa yang selama ini hanya ada di mimpiku. Bersama seseorang yang halal untukku. Bersama Zianku, pangeranku yang ada di mimpiku, suamiku yang kucintai dengan segenap hatiku.


****


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2