Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Terbongkarnya rahasia besar


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana, Zian dan Anita sedang terlibat pembicaraan serius. Mereka duduk di ruang tamu yang berdekatan dengan pintu masuk.


Anita sedang menjelaskan proyek pembangunan gedung yayasan dan rumah sakit yang sebentar lagi akan rampung. Lebih cepat dari perkiraannya. Dimas bekerja dengan sangat baik.


"Baiklah, aku ingin semuanya diselesaikan secepat mungkin, agar saat Naya sudah pulih, kita bisa meresmikan gedung dan rumah sakit itu." ucap Zian yang terlihat begitu puas dengan hasil kerja Anita dan Dimas.


"Baiklah... Oh, ya... Beberapa orang menanyakan apa arti KIA. Aku harus jawab apa?" Anita menatap Zian bingung. Dia hanya tahu Kia itu adalah nama yang ada di tulisan kalung milik Naya yang di temukan oleh Zian beberapa tahun lalu.


"Kanaya Indhira Azkara..." jawab Zian mantap.


Anita mengerutkan alisnya mendengar Zian menyebut nama Naya dengan menyematkan nama keluarganya di belakang nama Naya.


"Ah, bagus juga... Sekarang Naya kan sudah menjadi bagian dari keluarga Azkara..." Anita terlihat sangat antusias menyiapkan logo baru untuk yayasan Kia Group. "Ngomong-ngomong, kenapa kau kembali tinggal di sini?" tanya Anita kemudian.


Zian memutar bola matanya mengelilingi rumah itu. "Aku belum bisa meninggalkan rumah ini. Rumah ini membuatku merasa dekat dengan istriku. Setiap bagian rumah ini mengingatkanku padanya..."


"Apa Naya belum mengingatmu sama sekali?" tanya Anita yang ikut sedih melihat bosnya itu begitu patah hati.


"Yang dia ingat dariku hanya tentang aku yang selalu menyakitinya. Dia tidak ingat siapa aku. Lagipula ini memang salahku. Aku terlalu banyak menyakitinya sehingga dia mengalami depresi dan akhirnya seperti sekarang... Setiap melihatku dia akan menangis ketakutan..."


Zian menyandarkan punggungnya di sofa itu. Pikirannya terus tertuju pada sosok istri yang begitu dia rindukan. Naya yang dulu begitu lembut padanya, senyum indahnya yang selalu menghiasi wajah cantiknya, sapaan penuh semangatnya di pagi hari, rasa masakannya yang terasa aneh, tapi Zian sangat menikmatinya. Namun sekarang, semuanya bagai hilang tak berbekas.


Tidak terasa air matanya kembali berderai mengingat semua itu. Hanya rasa sesal yang sekarang memenjarakan lelaki itu.


Nayaku, aku sangat merindukanmu. Lihatlah, betapa setiap bagian rumah ini penuh dengan kenanganmu. Dan sekarang aku tenggelam di dalamnya.


Anita kemudian menepuk bahu sahabatnya itu, "Bersabarlah, suatu hari Naya pasti akan kembali mengingatmu. Dia sangat mencintaimu... Kau lihat sendiri bagaimana kerasnya dia berjuang untuk mendapatkanmu."


"Dan sekarang aku yang mengemis memohon cintanya..."


Anita terkekeh pelan, "Anggap saja ini sebagai penebus kesalahanmu. Kau selama ini mengabaikannya. Mungkin kau harus berjuang sedikit lebih keras untuk mendapatkan cintanya kembali..."


Ya, selama satu tahun, Nayaku terus menghujaniku dengan cintanya. Dan aku membalasnya dengan kekejamanku. Dan sekarang takdir memberiku hukuman ini. Nayaku melupakanku...

__ADS_1


Wajah Zianpun langsung berubah mengingat kesalahan besarnya pada Naya. Kesalahan yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh istrinya itu.


"Jika dia tahu siapa aku yang sebenarnya, apa dia masih bisa mencintaiku? Jika dia tahu akulah yang telah menghancurkan hidupnya, apa dia masih bisa menerimaku?"


"Sudahlah... Jangan ungkit itu lagi! Dia tidak akan pernah tahu tentang itu. Biarkan saja kejadian itu terkubur bersama waktu. Lagipula tidak ada yang tahu kejadian itu selain aku, kau dan Alex." Anita mencoba menenangkan perasaan Zian yang selalu dihantui rasa bersalah pada Naya.


"Nayaku menulis di buku hariannya, bahwa dia sangat membenci laki-laki yang sudah menembaknya dan membuatnya mengubur semua mimpinya. Dia bahkan berharap supaya Tuhan menghukum laki-laki itu seberat-beratnya. Bagaimana aku bisa menghadapinya nanti kalau dia tahu, bahwa laki-laki itu adalah aku. Aku yang sudah menembaknya dan meninggalkannya begitu saja di tengah kesakitannya."


"Aku tahu, tapi itu bukan sepenuhnya salahmu saja, aku dan Alex juga ikut bersalah. Kau saat itu ingin menolongnya, tapi aku dan Alex malah...."


BRUK!


Terdengar seperti suara benda terjatuh di luar sana, Zian dan Anita langsung menoleh pada pintu yang setengah terbuka itu. Zian langsung mendekat ke pintu. Matanya membulat, cairan bening semakin menggenangi kelopak matanya.


Naya berdiri di ambang pintu dengan air mata yang telah membanjiri wajahnya. Napasnya terlihat lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Mia hanya bisa menunduk melihat ekpresi pasangan suami istri itu.


"Na-Naya..."


"Ja-jadi ka-kau orang yang telah menembakku?" tanya Naya dengan suara terbata-bata. Zian gelagapan, tidak menyangka Naya ada di sana.


"JANGAN MENDEKAT!" teriak Naya. "Dan jangan panggil aku sayang!"


Naya sudah gemetaran melihat sosok lelaki jangkung itu. Matanya menatap Zian dengan penuh ketakutan.


Dia adalah laki-laki yang menembakku... Laki-laki yang akan aku benci seumur hidupku...


"Naya... Aku..."


"BERHENTI DI SITU! Kau... Kau adalah manusia paling jahat di dunia ini... Mi-mia... Ke-kenapa kau biarkan aku menikah dengan orang sepertinya..." suara Naya semakin terdengar lirih "Kenapa takdir membuatku harus bertemu orang sepertinya..." Seluruh tubuh Naya telah bergetar, dangan air mata yang semakin mengalir deras.


Tidak peduli apa yang akan dilakukan Naya padanya, Zian mendekat dan meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat. "Maafkan aku, Naya... Aku sangat menyesal... Hukumlah aku!" bisik Zian dalam pelukannya, sementara Naya terus memberontak meminta Zian melepaskannya.


"Lepaskan aku! Aku tidak sudi disentuh olehmu." Semakin Naya memberontak semakin Zian mengeratkan pelukannya. Anita dan Mia hanya menjadi penonton adegan itu.

__ADS_1


"Lepaskan!" lirih Naya, "Aku tidak mau disentuh olehmu, tanganmu kotor dan penuh dosa..." Mendengar ucapan Naya itu, Zian melepaskan pelukannya, dia langsung berlutut di kaki sang istri yang memohon pengampunan.


"Ampuni aku, Naya! Aku bersalah... Aku akan berikan apapun yang kau minta sebagai penebus kesalahanku padamu." ucap Zian seraya memeluk kaki gadis itu.


Naya berusaha melepaskan kakinya yang dipeluk Zian, namun semakin erat Zian memeluk kaki itu. "Lepaskan aku, aku mohon." Naya mulai terisak, sambil terus berusaha melepas tangan Zian yang melingkar di lututnya.


"AKU BILANG LEPASKAN!" Teriak Naya penuh emosi. "Kau bilang akan melakukan apapun yang aku inginkan, bukan? Baiklah, kalau begitu aku punya satu permintaan..."


Zian mendongakkan kepalanya menatap wajah Naya dengan tatapan sendu, sedangkan Naya memalingkan wajahnya, merasa enggan bertatapan dengan laki-laki itu.


"Katakan! Apapun itu akan aku penuhi." Suara Zian terdengar getir.


"Pergilah dari hidupku untuk selama-lamanya dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku membencimu dengan segenap hatiku." Naya mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Zian hanya mampu menggeleng pelan di bawah sana dengan posisinya yang masih berlutut, ditambah deraian air mata yang mengalir.


"Aku mohon jangan hukum aku seberat itu... Aku tidak bisa jauh darimu," lirihnya.


"Tapi aku ingin kau pergi dari hidupku untuk selama-lamanya! Dan cepat ceraikan aku. Aku tidak mau memiliki suami orang jahat sepertimu!" Naya kembali menangis meratapi nasibnya. Dalam hati dia berteriak memaki takdirnya sendiri.


Zian membeku mendengar permintaan Naya. Tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirnya, lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat itu.


Perlahan, Zian mulai melepaskan tangannya yang melingkar di kaki Naya. Masih dengan posisinya yang berlutut di hadapan sang istri.


"Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan..."


Naya pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah itu diikuti Mia di belakangnya. Dengan setengah berlari, Naya semakin menjauh dari tempat itu.


Tinggallah Zian yang belum beranjak dari posisinya, sampai Anita datang dan membantunya berdiri.


"Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin Naya hanya terkejut memdengar kenyataan itu. Begitu dia mengingatmu kembali, dia pasti akan bisa menerimamu!"


Zian kemudian melangkah keluar, menatap punggung Naya yang sudah semakin menjauh pergi. Rasa sakit di hatinya tidak terbendung lagi.


Nayaku... Maafkan aku. Jika saja nyawaku dapat menebus semua kesalahanku padamu di masa lalu, aku akan rela memberikannya. Aku salah, aku meninggalkanmu begitu saja di jalanan, dan saat kembali bertemu denganmu, aku tidak mengenalimu. Karena keserakahanku untuk menemukan Kia, aku menyiksamu dengan perlakuanku. Aku tidak sadar bahwa kau dan Kia adalah orang yang sama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2