
Pagi-pagi sekali Naya sudah terbangun dengan mata sembabnya. Matanya berkeliling menatap setiap sudut kamar yang akan ditinggalkannya itu. Air matanya kembali berguguran. Gadis itu lalu bangkit dari pembaringan lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat dan mata sembabnya seolah menjadi bukti lelahnya.
Naya kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah koper yang berada di sudut kamar itu, dia sudah mengemas pakaiannya semalam.
Pelan-pelan, Naya melangkahkan kakinya keluar kamar dan menapaki tangga. Lalu menuju dapur, tempatnya biasa berkutat di pagi hari. Dia mulai melakukan pekerjaannya di pagi itu untuk terakhir kalinya.
"Mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya aku melakukan semua ini," gumamnya.
Saat sedang sibuk dengan kegiatan memasaknya, Zian melewatinya begitu saja menuju kamar mandi. Naya mengalihkan pandangannya sejenak, menatap punggung tegak laki-laki yang menjadi suaminya itu. Dengan mata berkaca-kaca, Naya kembali terfokus pada kegiatannya.
Jika hari-hari sebelumnya, Naya akan menyapa Zian dengan ucapan selamat pagi, sambil memaksakan bibirnya tersenyum, namun setelah mendengar ucapan Zian semalam saat mabuk, seolah dia tidak punya keberanian walaupun hanya menunjukkan wajahnya di hadapan laki-laki itu.
Pada akhirnya aku kalah. Sejak awal aku begitu percaya diri bisa membuatnya menoleh padaku. Bahkan aku pernah berangan-angan, setiap dia bangun pagi dan tidak menemukanku di sampingnya, dia akan mencariku. Dia akan memelukku dari belakang saat menemukanku di sini. Tapi sekarang aku tahu, itu hanyalah sebuah angan-angan yang akan segera terkubur bersamaku.
Tidak lama kemudian, Zian keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang. Lagi-lagi dia melewati Naya begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun. Seolah tidak ada Naya di sana.
Selama setahun begitulah kehidupan yang dijalani gadis itu. Menjadi seorang istri yang diabaikan, bahkan dianggap pembawa malapetaka dalam kehidupan sang suami.
Setelah selesai memasak, Naya menghidangkan sarapan di meja makan. Matanya pun tertuju pada pintu sebuah kamar yang masih tertutup. Naya mendudukkan dirinya di kursi, menunggu Zian keluar dari kamar.
Tidak berselang lama, Zian keluar dari kamar dan tanpa sepatah katapun, dia beranjak menuju pintu lalu pergi begitu saja dan membanting pintu dengan keras, membuat Naya tersentak kaget.
Naya membeku di tempat duduknya, dia hanya mampu menatap makanan yang sudah terhidang di meja dengan tatapan sedih. Air matapun kembali berguguran membasahi pipinya.
Dia benar-benar ingin aku pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Naya beranjak menuju suatu tempat. Dia berdiri di depan sebuah bengkel yang sudah tutup. Kembali dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.
Semua ini karena aku... Karena keberadaanku membuat Zianku kehilangan segalanya. Dia harus berurusan dengan Marvin dan menutup bengkel ini, dan sekarang karena aku, dia kehilangan gadis yang dia cintai. Apakah aku adalah lambang kesialan baginya? Kenapa keberadaanku membuatnya menderita?
Setelah puas memandangi tempat itu, Naya mengalihkan pandangannya pada sebuah rumah yang berada di depan bengkel. Rumah sahabatnya, Mia. Ingin rasanya Naya berpamitan pada sahabatnya itu, namun diurungkan. Dia lalu beranjak menuju rumah sakit tempat Dokter Fahri praktek.
***
Dengan membawa buku catatannya, Naya duduk mengantri di antara beberapa pasien yang sedang menunggu di depan ruangan itu.
Setelah duduk mengantri berjam-jam, tibalah gilirannya untuk masuk ke ruangan itu. Dokter itupun segera menyambut gadis yang telah dianggapnya seperti adik sendiri itu dengan memeluknya.
Dokter Fahri menatap Naya dari ujung kaki ke ujung kepala dengan perasaan sedih. Naya bagai tulang yang terbungkus oleh kulit, begitu kurus dan pucat dengan kantung mata yang sembab. Dokter itu kemudian membawa Naya untuk duduk di kursi dalam ruangannya lalu meletakkan air mineral di meja.
"Minumlah, kau terlihat lelah," ucap Dokter Fahri. Naya mencoba meraih botol air mineral yang sengaja diletakkan Dokter Fahri di atas meja. Namun, tangannya meleset akibat penglihatannya yang buram . Wajah Dokter itupun langsung berubah melihat Naya yang tidak dapat menjangkau botol air mineral itu. Dia kemudian mengambil botol itu dan meletakkannya di genggaman Naya.
__ADS_1
Setelah meneguk air mineral itu, Naya menyerahkan buku catatannya kepada Sang Dokter.
"Maafkan aku, Kakak... Aku baru menyerahkan buku ini sekarang. Aku ingin menyelesaikan catatanku sebelum memberikannya padamu," ucap Naya saat menyerahkan buku itu.
Dokter Fahri memasukkan buku itu di dalam lacinya kemudian berdiri dari duduknya. Dia mendekat pada Naya yang masih duduk di kursi lalu membelai wajah yang semakin tirus itu. Dia merasa sakit melihat kondisi kesehatan Naya yang semakin menurun. Dia lalu memeluk gadis kesayangannya itu.
"Katakan padaku, siapa yang melakukan ini pada adik kecil kesayanganku," tanya Sang Dokter dalam dekapannya. Matanya berkaca-kaca menahan agar tidak menangis di depan Naya.
"Aku... Akulah yang melakukan ini pada diriku sendiri, Kakak... Keegoisanku dan ambisiku yang membuatku jadi begini," jawab Naya.
"Kalau begitu aku akan menghukummu karena membuat adik kecilku jadi begini."
Naya merebahkan kepalanya di dada dokter itu, sesaat memejamkan matanya yang terasa lelah, "Jangan maafkan aku, Kakak! Jatuhkanlah hukuman yang berat untukku... Kau sudah melakukan apapun yang kau bisa untuk menjagaku agar aku tetap hidup, tapi lihat apa yang kulakukan untuk membalasnya, aku gagal berjuang untukmu..."
Ucapan Naya yang terdengar lirih itu meruntuhkan pertahanan Sang Dokter. Dia menjatuhkan air mata dalam pelukannya pada gadis yang sudah lima tahun dia perjuangkan itu.
Kanaya, gadis kecil yang dahulu semangatnya menyala bagai kobaran api, gadis yang selalu ceria walaupun hidupnya tidak mudah. Kini, dia seakan merebahkan ketangguhannya dan menyerah pada takdirnya.
Selang beberapa menit, dokter itu melepaskan pelukannya, lalu mengusap puncak kepala Naya dengan sayang. Tidak banyak hal terucap dari bibir kedua orang itu, namun air mata yang mengalir seolah mampu menjelaskan segalanya.
***
Naya menyeka air matanya yang terus berjatuhan, "Iya, Kakak... Aku akan pergi besok pagi..."
"Apa kau sudah memberitahunya?"
"Belum, tapi aku yakin dia akan lega kalau aku pergi... Aku hanya menjadi bebannya. Lagipula kesepakatan kami tinggal beberapa minggu lagi. Jadi aku rasa, semakin cepat aku pergi semakin baik..."
"Dia akan menyesal sudah mengabaikanmu," ucap Dokter Fahri.
"Tidak, Kakak... Aku tidak mau dia menyesal. Aku yang memaksanya, aku menjebaknya kedalam pernikahan kami. Sebelum menikah dengannya, aku tidak menaruh syarat bahwa dia juga harus mencintaiku, kan? Dia sudah mengizinkanku tinggal di rumahnya selama satu tahun ini juga bukan hal yang mudah untuknya. Akulah yang egois. Aku tidak menyadari betapa tidak inginnya dia bersamaku,"
Dokter Fahri kembali memeluk Naya seraya mengusap punggungnya, "Kau gadis yang luar biasa, Naya. Suamimu tidak bisa melihat betapa istimewanya dirimu."
Setelah bicara dengan Dokter Fahri dan menumpahkan semua keluh kesahnya, Naya segera kembali ke rumah dengan diantar sopir Dokter Fahri. Sepanjang jalan, Naya ingat beberapa bulan lalu ketika pulang ke rumah diantar sopir Dokter Fahri, dan Zian mengusirnya dari rumah.
Tidak masalah kalau kali ini aku diusir lagi. Bukankah aku juga akan pergi setelah ini.
Setibanya di rumah, Naya langsung masuk ke rumah itu. Dia melihat sepatu milik Zian sudah ada di rak sepatu. Naya pun segera beranjak ke kamarnya.
****
__ADS_1
Malam harinya...
Naya duduk sendiri di meja makan menunggu Zian, namun selang beberapa lama menunggu, orang yang ditunggu tak juga keluar kamar. Matanya hanya menatap nanar pada meja makan yang sudah tersedia beberapa menu yang dia masak untuk Zian.
Aku ingin makan malam bersama Zianku untuk terakhir kalinya... Tapi dia bahkan benci melihat wajahku.
Sejak mengetahui bahwa Kia sudah menjadi milik orang lain, Zian mendiamkan Naya. Dia merasa keberadaan Naya menjadi penghalangnya untuk menemukan Kia, sehingga dirinya terlambat dan akhirnya Kia menikah dengan orang lain. Bahkan menatap wajah Naya saja dia tidak sudi.
Pikiran Zian hanya tertuju pada Kia yang telah menikah dengan seorang lelaki biasa. Zian hanya dipenuhi dengan pertanyaan di benaknya, Apakah Kia hidup dengan baik? Apakah suaminya memperlakukannya dengan baik? Hanya pikiran itu yang terus bermunculan.
Tinggallah Naya seorang diri dengan seluruh perasaan bersalahnya, yang merasa dirinya menjadi penyebab Zian kehilangan orang yang dicintainya.
Naya terdiam dalam duduknya, lalu menatap pintu kamar yang tertutup itu. Gadis itupun memberanikan diri menemui Zian di kamarnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali, hingga pelan-pelan pintu terbuka. Zian berdiri di ambang pintu dengan tatapan kebenciannya.
Takut-takut, Naya mengatakan maksud kedatangannya ke kamar Zian malam itu, "Bi-bisakah kita bi-cara sebentar saja?" ucap Naya dengan nada terputus-putus begitu menatap bola mata Zian yang seolah ingin ******* habis dirinya.
"Apa?" tanya Zian singkat dengan tatapan dinginnya.
"Aku sudah mengambil keputusan, akan pergi besok pagi dari rumah ini... Beberapa minggu lagi kesepakatan kita akan berakhir, jadi aku memutuskan untuk pergi lebih awal," ucap Naya dengan kepala menunduk.
"Baguslah, lebih cepat kau pergi lebih baik" jawab Zian, lalu akan menutup pintu kembali, namun tangan Naya menahan pintu itu. Zian pun kembali dikuasai emosi, "Apa lagi?" bentak Zian membuat Naya terlonjak.
"Aku mau minta maaf, untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku sudah egois dan menjebakmu ke dalam pernikahan ini. Maafkan aku..." Naya menyeka air matanya, sementara Zian memalingkan wajahnya malas, "Terima kasih kau sudah mengizinkan aku tinggal di rumahmu selama satu tahun ini,"
Naya menatap dalam wajah Zian yang datar itu, lalu kemudian menabrakkan tubuhnya ke tubuh Zian. Naya menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, melingkarkan tangannya memeluk Zian, dengan derai air matanya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu!" teriak Zian. Dia berusaha melepaskan tangan Naya yang melingkar di tubuhnya, namun semakin erat Naya memeluknya.
"Aku mohon, sebentar saja... Izinkan aku bersandar disini untuk yang terakhir kalinya. Bukankah, setelah hari ini kita tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya?" lirih Naya.
Aku pernah berharap bisa bersandar disini setiap aku merasa lemah, tapi kenyataannya ini bukan tempatku.
Zian membeku, ada perasaan yang sulit dijelaskan mendengar ucapan Naya. Hingga akhirnya Naya melepas pelukannya. Dan kembali menatap wajah Zian.
Naya pun berusaha tersenyum pada Zian walaupun hatinya terluka, "Sekarang, kau boleh menjatuhkan talakmu padaku. Aku akan menerimanya."
****
BERSAMBUNG
maaf baru up... Author kurang enak badan pemirsahhh.... Maaf sudah membuatt menunggu
__ADS_1