Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Kelahiran Baby Deniz


__ADS_3

Zian berjalan dengan langkah cepat dan terburu-buru melewati lorong rumah sakit, ditemani Fahri dan Evan, dan juga beberapa orang polisi yang berjalan beriringan dengannya.


Setibanya di ruang operasi, Zian langsung memakai pakaian steril berwarna hijau yang sudah disiapkan sebelumnya. Dia mendekat pada Naya yang sudah terbaring tak sadarkan diri. Sekuat tenaga, Zian berusaha menahan cairan bening yang sudah menggenangi kelopak matanya.


"Sayang... Berjuanglah untukku," bisiknya di telinga Naya.


Sandra menghampirinya dan menepuk bahunya. "Naya akan baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap Dokter sandra diikuti anggukan oleh Zian.


Proses operasi itupun berjalan, sementara Zian baru saja mendonorkan darahnya untuk Naya.


Di luar ruangan itu, Dimas yang baru saja mendapat penanganan dari dokter akibat luka sobekan di beberapa bagian tubuhnya duduk bersama Anita dengan raut wajah khawatir. Berbeda dengan Fahri, Elma dan Evan yang terlihat lebih tenang. Walaupun hati dipenuhi perasaan khawatir mengingat kondisi fisik Naya yang sangat lemah.


Elma melirik Anita yang terlihat begitu lelah, "Anita, beristirahatlah! Kau terlihat sangat lelah," ucap Elma.


"Tidak, Kak! Aku mau menunggu Naya di sini."


"Tapi, wajahmu pucat. Ayo kita ke cafe, kau akan merasa lebih baik setelah makan sesuatu." Elma mengajak Anita pergi kesebuah cafe, meninggalkan beberapa orang yang masih setia menunggu di depan ruang operasi.


Di dalam sana Zian terus berbisik di telinga Naya dan terus berusaha menguatkannya. Sesekali dia mengecupi kening istrinya itu.


Dokter Sandra, dengan sangat berhati-hati mengeluarkan bayi laki-laki dari dalam perut ibunya. Seketika tangisan bayi yang melengking terdengar memenuhi setiap sudut ruangan itu.


Zian membeku menatap bayi yang baru saja terlahir itu. Matanya berkaca-kaca dengan mengucapkan kalimat penuh syukur, anaknya terlahir ke dunia dengan selamat.


Seorang dokter lain kemudian membersihkan bayi mungil itu setelah memotong tali pusatnya. Sementara tangisannya terus menggema di ruangan itu.


"Sandra, apa dia sakit? Kenapa dia terus menangis?" tanya Zian membuat Sandra geleng-geleng kepala.


"Bayi menangis itu bagus. Artinya dia sehat. Semakin kuat bayi menangis setelah kelahirannya semakin bagus."


"Benarkah?" Zian menatap Sandra dengan tatapan curiga. Dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya dia mengajukan pertanyaan yang menurut Dokter Sandra sangat bodoh. Jika dalam keadaan biasa, Sandra pasti akan melayani Zian berdebat sampai saling memaki, namun mengingat keadaan sekarang Sandra mencoba untuk lebih bertindak dewasa.


Sandra dan beberapa dokter lainnya melanjutkan perawatan untuk naya setelah kelahiran bayinya. Zian tidak beranjak sedikitpun dari sisinya. Sesekali menatap bayi di sudut ruangan itu yang sedang di periksa oleh seorang dokter anak.


"Selamat, ya... Kau sudah menjadi seorang ayah," ucap Sandra seraya memeluk saudara sepupunya itu. "Kau harus segera membuktikan dirimu tidak bersalah." bisiknya.


"Terima kasih..."

__ADS_1


Zian mengalihkan pandangannya pada bayi laki-laki itu. Perasaan bahagia bercampur sedih merasuki jiwanya. "Apa aku boleh menggendongnya?"


"Tentu saja. Sepertinya dia sudah selesai diperiksa." Sandra mendekat pada box bayi itu dan menggendongnya, lalu memberikannya pada Zian. "Lihatlah, dia sangat mirip denganmu. Bahkan aku tidak melihat potongan ibunya dalam dirinya. Semuanya berasal darimu."


Zian meraih tubuh kecil itu dengan perasaan bahagia. Pertama kali menggendong anaknya, laki-laki itu tidak dapat lagi membendung air matanya.


Zian langsung mengumandangkan Adzan di telinga bayi itu. lalu mengecup wajah mungilnya setelahnya.


"Maafkan ayah, Nak! Kau harus menjalani hari-harimu tanpa seorang ayah. Tapi kau punya seorang ibu yang luar biasa. Jadilah anak yang kuat. Walaupun kita tidak bersama, tapi ayah akan selalu menjagamu dari jauh. Kau bisa memaafkan ayah, kan?" bisiknya sambil mengusap kepala bayi mungil itu.


Zian meletakkan kembali bayinya ke dalam box setelah puas memandangi wajahnya. Kini laki-laki itu medekati pembaringan sang istri yang masih belum sadar.


"Sayang, jika memungkinkan bagimu, maafkanlah aku. Aku bukan suami yang baik. Dan sekarang aku harus meninggalkanmu," ucapnya Zian lalu mengecup kening Naya, kemudian berbisik, "Aku sangat mencintaimu,"


Setelah mengucapkan itu, Zian kemudian keluar dari ruang operasi. Fahri dan Evan langsung mendekat dan memeluknya, saat melihat setitik air mata yang jatuh melalui ekor mata saudaranya itu.


"Selamat adikku! Kau sudah menjadi seorang ayah," ucap Fahri tanpa melepaskan pelukannya.


Ketiga bersaudara itu berpelukan lama. Tidak ada pembicaraan apapun yang terucap di antara ketiganya. Namun, pelukan itu seolah mampu menjelaskan perasaan masing-masing.


"Tolong jaga anakku selama berada di rumah sakit ini! Jika aku dihukum berat, atau bahkan dihukum mati, jangan biarkan dia kehilangan sosok seorang ayah," ucap Zian pada kedua saudaranya.


Zian melepaskan pelukan itu, lalu menatap dua saudaranya bergantian. "Kalian jangan terlibat dalam masalah ini. Aku mohon jangan mencari tahu apapun. Aku akan mengatasinya dengan caraku sendiri. Kalian tidak tahu seberbahaya apa Alex dan Kenzo. Kalau kalian mau membantuku, tolong percaya saja padaku. Itu sudah cukup.


"Baiklah, aku harus segera pergi." Zian akan melangkah namun, kembali teringat satu hal, "Kak, jangan sampai Naya tahu aku kemari dan menemaninya."


Setelah berpamitan pada Elma, Anita dan Dimas. Zian kembali ke rumah tahanan bersama beberapa orang polisi yang sejak tadi menunggunya.


Tidak lama kemudian, dua orang perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong sebuah box bayi. Fahri dan Evan saling berebut ingin melihat wajah keponakannya itu.


"Dia benar-benar mirip Kak Zian," ucap Evan dengan mata berkaca-kaca.


"Iya... Sangat mirip," imbuh Fahri.


Elma dan Anita pun tidak sabar untuk melihat wajah bayi laki-laki itu, sebelum akhirnya petugas mendorong box itu menuju ruang bayi.


****

__ADS_1


Naya masih memejamkan matanya. Dia masih dalam pengaruh obat bius yang diberikan dokter sebelum operasi. Anita dan Elma dengan setia menunggunya terbangun.


Hingga sayup-sayup Naya dapat mendengar suara Anita dan Elma yang sedang mengobrol membicarakan bayinya. Elma langsung mendekati Naya ketika melihat ada pergerakan di sana.


"Kau sudah bangun..." ucap Elma seraya mengusap puncak kepala Naya.


Masih setengah sadar, Naya mulai merasakan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, terutama di bagian perut. Dia meraba perutnya yang kini sudah mengecil. Matanya membulat seketika menyadari tidak ada lagi bayi dalam perutnya.


"Kak Elma... Anakku... Dimana dia?"


"Dia baik-baik saja. Anakmu sehat dan sekarang masih di ruang bayi," jawabnya seraya tersenyum.


"Aku mau melihatnya, Kak!" Naya ingin bangkit dari posisi berbaringnya, namun rasa sakit di tubuhnya memaksanya untuk tetap berbaring.


"Kau jangan banyak bergerak dulu. Aku akan membawanya kemari nanti. Sekarang, istirahatlah dulu."


Elma melirik jam di pergelangan tangannya, lalu keluar dari ruangan itu untuk memberitahu Dokter Sandra bahwa Naya sudah sadar.


Sementara Anita masih setia duduk di samping Naya.


"Kau tahu, anakmu sangat lucu. Dia sangat mirip dengan ayahnya," ucap Anita mencoba menghibur Naya yang wajahnya mendadak sedih.


"Anita, kenapa aku merasa tadi dia ada bersamaku? Aku seperti mendengar suaranya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau pasti sedang merindukannya. Makanya kau seperti merasa dia ada di dekatmu. Tapi percayalah, dia akan segera kembali padamu." Anita menggenggam jemari Naya, "Ngomong-ngomong, apa kau sudah punya nama untuknya?"


"Deniz! Suamiku pernah bilang, kalau punya anak laki-laki, dia akan memberinya nama Deniz." Naya berusaha menahan air matanya menyebut nama itu.


"Itu nama yang bagus."


Naya pun teringat pada surat yang ditulis Zian untuknya, yang memintanya menjadi ibu yang kuat untuk anak mereka. Dan tidak menanyakan pada siapapun kemana sang suami pergi.


Aku tidak akan menangis, dan tidak akan bertanya kemana dia pergi. Yang harus aku lakukan hanyalah, menunggunya kembali. Ya, aku akan menunggu dengan sabar. batin Naya.


****


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Karena komentar kalian membuat aku senang, jadi akohh kasih bonus di hari minggu. 😅😅


terima kasih dukungannya. Yang sabar.... Konflik nggak lama kok.


__ADS_2