
Zian memutar bola matanya berkeliling ke setiap sudut ruangan itu, lalu melangkahkan kakinya masuk dengan tergesa-gesa.
"Naya..." panggil Zian begitu melihat pembaringan pasien kosong. Dia kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk mencari sang istri. Namun, kamar mandi juga kosong, tidak ada Naya di sana.
Dimas dan Anita yang masih berada di luar ruangan saling melirik begitu mendengar Sang Bos beberapa kali meneriakkan nama Naya. Dengan cepat kedua orang itu memasuki ruangan itu.
Dimas pun terkejut saat menyadari Naya sudah tidak ada di sana. "Tadi aku meninggalkannya di sini begitu Anita memintaku ke kantor," kata Dimas dengan nada panik. "Koper dan tasnya juga sudah tidak ada."
Zian menjadi semakin gusar, memikirkan Naya sendirian di luar sana dalam keadaan sakit. "Apa dia melarikan diri seperti waktu itu?" tanya Zian begitu mengingat Naya pernah kabur dari rumah sakit dan malah pulang ke rumah.
Buru-buru Zian melangkah keluar dari ruangan itu, diikuti Anita dan Dimas. Pria itu kemudian bertanya pada seorang petugas yang berjaga di sana. "Permisi, pasien kamar 728 pergi kemana?" tanya Zian pada petugas itu.
"Pasien kamar 728, atas nama Kanaya Indhira sudah pulang beberapa menit yang lalu," jawab petugas itu.
"Pulang?" tanya Zian dengan raut wajah yang sudah sangat khawatir. Sejenak Zian mematung, hingga tepukan tangan Dimas di bahunya mengagetkannya.
"Naya pasti belum jauh, ayo kita cari! Dia bahkan masih sempoyongan saat berjalan," ucap Dimas yang berada di belakang Zian.
Zian langsung mengambil langkah seribu menuju halaman rumah sakit. Anita dan Dimas memilih berpencar mencari Naya yang mereka yakini masih berada di sekitar rumah sakit itu.
Zian terus mencari kesana kemari, sesekali meneriakkan nama Naya. Hingga dia tiba di halaman depan rumah sakit, Naya tidak juga terlihat. Zian mengusap wajahnya kasar, matanya kembali di penuhi cairan bening.
"NAYA!" teriaknya sekali lagi.
Tidak lama, Dimas dan Anita juga tiba di halaman rumah sakit. Mereka pun tidak melihat tanda-tanda keberadaan Naya. "Anita, perintahkan orang-orangmu melacak keberadaan Naya bagaimana pun caranya," titah Zian.
"Baiklah..." sahut Anita.
"Aku akan pulang ke rumah dulu, mungkin saja Naya pulang ke rumah," ucap Zian.
Tanpa banyak bicara, Zian berlari menuju parkiran lalu menaiki mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sementara Dimas dan Anita masih saling menatap dengan wajah bingung bercampur panik.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Beberapa hari yang lalu dia bilang sedang menunggu Naya pergi dari hidupnya. Sekarang, yang dia tunggu-tunggu selama satu tahun ini terwujud. Naya benar-benar pergi. Tapi kenapa dia seperti orang gila mencarinya?" tanya Anita panjang lebar, "Tapi, tadi kau bilang Naya sedang sekarat, maksudmu apa Naya mengidap penyakit berat?"
Dimas kembali mengepalkan tangannya, mengingat keadaan Naya yang semakin melemah, bahkan tadi Naya belum bisa bangkit sendiri dari pembaringannya.
"Iya, itu benar, Anita. Naya sedang sekarat. Dia tidak punya banyak waktu lagi," ucap Dimas dengan suara lirihnya. Anita tercengang mendengar ucapan Dimas.
"Naya sakit apa?" tanya Anita penasaran.
Dimas lalu menceritakan pada Anita apa yang tadi Naya ceritakan padanya. Tentang sakitnya dan juga tentang penembakan yang terjadi padanya lima tahun lalu.
Anita membeku, air matanya lolos begitu saja. "Kau bilang apa? Naya pernah tertembak lima tahun lalu?" tanya Anita dengan nada bergetar.
"Iya, Anita. Seorang pria jahat menembaknya, lalu mereka meninggalkannya begitu saja di jalan. Akibat perbuatan jahat merekalah, Naya sekarang mengalami ini semua."
Wanita itu kehabisan kata-kata, otaknya berusaha mencerna penjelasan Dimas. Anita yang selama ini tidak pernah menangis, akhirnya menjatuhkan air matanya.
Apakah itu artinya Naya adalah Kia? Apa Maliq belum tahu kalau Naya adalah gadis yang dia cari selama lima tahun ini?batin Anita.
Bayangan-bayangan masa lalu saat kejadian itu bermunculan di benaknya. Bagaimana Zian tanpa sengaja melepaskan satu tembakan yang mengenai perut seorang gadis remaja yang masih menggunakan seragam sekolahnya. Bagaimana Zian ingin menolong gadis itu, namun dirinya dan Marvin menariknya dan memaksanya meninggalkan gadis kecil itu sendirian di jalan.
Aku harus segera memberitahu Maliq
*******
Zian baru saja tiba di rumahnya. Dia menatap bangunan sederhana yang pintunya tertutup rapat itu. Lalu dengan segera turun dari mobil mewahnya dan memasuki rumah itu.
Zian mengingat kembali saat Naya melarikan diri dari rumah sakit beberapa waktu lalu membuat Zian panik mencarinya. Dan, saat pulang, menemukan Naya di rumah sedang menyiapkan makan malam untuknya.
Kini, harapan tinggallah harapan. Zian berharap saat pulang ke rumah, akan ada Naya yang selalu menyambutnya dengan senyuman indahnya. Namun, sekarang tidak ada lagi senyuman itu, tidak ada lagi sapaan penuh semangat dari gadis yang selama satu tahun ini mengisi hidupnya.
Zian duduk di meja makan. Selama ini, hanya di tempat itu dirinya dan Naya berada dalam jarak dekat. Butiran cairan bening kembali berguguran, mengingat betapa buruknya perlakuannya selama ini pada Naya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Naya... Aku bersalah," gumam Zian dengan berderai air mata.
Selama beberapa jam, Zian menangis tanpa henti. Tidak lama, terdengar suara langkah kaki memasuki rumah itu. Zian tersentak mendengar suara langkah kaki itu.
"Naya... Itu pasti Naya. "
Laki-laki itu langsung keluar hendak memastikan siapa yang datang, dengan harapan melihat Naya di depan sana. Namun, yang datang bukanlah Naya melainkan Dimas.
"Bagaimana? "
"Belum ada kabar," sahut Dimas malas, masih sangat geram dengan Zian. "Aku rasa kali ini Naya benar-benar akan pergi dari hidupmu, Bos."
Zian menjatuhkan tubuhnya di sofa, kakinya tiba-tiba terasa lemas. "Apa Naya mengatakan sesuatu padamu tadi? Apa dia tidak bilang mau pergi kemana?" tanya Zian.
Dimas masih berdiri di depan Zian, ekor matanya menatap Zian seperti ingin menerkam lelaki bodoh di depannya. "Naya mengatakan banyak hal padaku."
Zian mendongakkan kepalanya menatap Dimas. "Apa kata Naya?"
Dimas lalu ikut duduk di sofa. Mengingat apa saja yang dia dan Naya bicarakan. "Dia bilang, dia akan pergi dari hidupmu, karena tidak mau menjadi bebanmu. Apa kau tahu, Bos... kenapa dia merahasiakan keadaannya? Semua itu karenamu!" Dimas menghela napas panjang. "Dia bilang padaku tidak mau kau sampai tahu kalau dia sekarat dan sedang menunggu mautnya. Dia berpikir kau akan mengusirnya dari rumahmu jika dia sampai sakit. Dia tidak mau menjadi bebanmu, karena dipikirannya kau hanyalah seorang laki-laki biasa yang tidak punya cukup uang untuknya menjalani pengobatan. Dan dia mengira tubuhnya yang lemah itu hanya akan membebanimu."
Zian tidak menjawab perkataan Dimas, hanya deraian air mata yang terus mengalir. Bagaimana dia mengancam akan mengusir Naya jika gadis itu menghamburkan uang.
Apa yang sudah aku lakukan. Aku membuatnya hidup dalam kesederhanaan hanya untuk membuatnya tidak betah dan segera pergi dari hidupku. Bahkan dia begitu takut menghabiskan uang yang aku berikan padanya. Nayaku, kau dimana? Aku ingin memelukmu dan bersujud di kakimu.
"Dia merasa semua yang terjadi padamu adalah karena keberadaannya. Naya terus menyalahkan dirinya. Kau menderita, kehilangan pekerjaanmu, kau harus berurusan dengan orang berbahaya seperti Marvin Alexander. Dan, kau kehilangan gadis yang kau cintai karena keberadaannya. Dia terus dan terus menangisi itu semua."
Zian memejamkan matanya mendengar serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Dimas, rasa sakit di hatinya semakin menjadi-jadi.
"Setelah semua perlakuan burukmu padanya, tidak sedikitpun dia menyimpan dendam atau marah. Dia merasa pantas menerima semua itu dan menganggap sebagai penebus dosanya yang telah memaksamu menikahinya. Sekarang dia sudah pergi. Bukankah kau harusnya senang. Kau selalu bilang ingin dia pergi dari hidupmu untuk selamanya, kan? Sekarang dia sedang mengabulkan harapanmu dengan kepergiannya." ucapan Dimas begitu menghujam jantung bagi Zian.
****
__ADS_1