Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Jam tangan


__ADS_3

Langit yang cerah seolah menjadi saksi betapa bahagianya seorang pria tampan yang sedang mengintip dari kejauhan. Siang itu, sang istri tercinta sedang mempersiapkan diri untuk pulang. Senyum tipis pun terbit di bibir pria itu, mengingat selama berbulan-bulan wanita pujaannya itu berjuang melawan maut, kini berangsur telah pulih.


"Kau sudah siap?" tanya Elma yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Iya, Kakak..." Naya tersenyum seperti biasanya, Zian yang melihat senyum indah itu seakan meleleh. Dulu jika Naya tersenyum, Zian akan membentaknya dengan keras, seolah dia tidak menyukai senyum cerah itu. Namun, yang sebenarnya, dia seperti akan hanyut saat memandanginya lebuh dari lima detik.


Melihatmu tersenyum saja sudah membuatku bahagia. Apalagi melihatmu pulih. Rasanya aku tidak menginginkan apapun lagi di dunia ini. Bisa melihatmu hidup sudah merupakan hadiah terbesar dalam hidupku. batin Zian.


"Aku akan ke ruangan suamiku dulu. Kau tunggu aku di sini. ya..." ucap Elma diikuti anggukan oleh gadis polos itu. Elma kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan Naya sendiri.


Naya lalu mengambil koper yang ada di sudut ruangan itu, meletakkannya di atas tempat tidur, lalu membukanya. Gadis itupun merapikan pakaiannya yang sudah di lipat, lalu memasukkannya ke dalam sana. Namun, aktivitasnya harus terhenti ketikan melihat selembar kemeja yang ada di dalam koper itu. Kemeja milik Zian yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi sebelum pergi dari rumah beberapa bulan lalu.


"Kemeja siapa ini?" gumam Naya seraya meneliti kemeja berwarna navy itu. "Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?"


Bayangan-bayangan pun kembali bermunculan. Naya menutup matanya seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Bayangan dirinya menangis memeluk sebuah kemeja muncul secara tiba-tiba di benaknya. Naya yang tak kuasa menahan kakinya untuk berdiri, langsung menjatuhkan dirinya di lantai, memengangi kepalanya yang terasa pusing.


Zian yang melihat itu menjadi panik, lalu secepat kilat berlari mendekat. Dia meraih tubuh kecil itu dan memeluknya. "Ada apa? Kau sakit?" tanya Zian dengan paniknya.


Naya masih meringis kesakitan, menutup mata dan tangannya yang memegangi kepalanya. Dia belum sadar siapa yang sedang memeluknya sekarang. Dan, saat mencium aroma tubuh yang sangat familiar baginya, Naya mendongakkan kepalanya, ingin melihat wajah orang itu.


Tubuhnya pun kembali gemetaran. Naya langsung berusaha melepaskan tangan Zian yang melingkar di tubuhnya, lalu bergeser mundur hingga punggungnya menempel pada dinding ruangan itu. Naya menyembunyikan wahnya di antara lututnya, ketakutannya pada sosok lelaki di depannya semakin menjadi-jadi.


"PERGI! Aku mohon jangan ganggu aku, jangan sakiti aku... Pergi!" teriaknya dengan suara bergetar.


Zian kemudian mendekati Naya, lalu mengusap pungggungnya. Dengan cepat gadis itu menepis tangan itu.


"Kakak, tolong aku!" teriak Naya memanggi Elma yang masih ada di ruangan Fahri. Zian yang ikut panik melihat ketakutan Naya lalu memilih untuk segera keluar dari ruangan itu, lalu pergi ke ruangan Fahri untuk meminta bantuannya.


Tinggallah Naya sendirian menangis, meringkuk di lantai dengan tangan menutup telinganya. Isakannya terus terdengar memenuhi setiap sudut ruangan itu. Bayang-bayang Zian terus melintas dalam pikirannya, membuatnya semakin takut.


Tidak lama, Fahri dan Elma masuk ke dalam ruangan itu dan menenangkannya. "Tenanglah, Naya... Sudah tidak apa-apa... Dia sudah pergi."


"Dia siapa, Kakak? Kenapa orang jahat itu selalu mengikutiku? Apa salahku padanya? Aku takut," ucap Naya diselingi isakan.


"Jangan khawatir... Aku tidak akan membiarkannya menyakitimu." Fahri membelai puncak kepala Naya yang masih ketakutan di dalam pelukan Elma. Dia kemudian mengalihkan pandangannya keluar. Tampak Zian bersembunyi di balik sebuah pilar dengan wajah sedih.


"Bawa aku pergi dari sini, Kak... Dia akan terus mengikutiku."


"Baiklah, ayo kita pulang..." Elma membantu Naya berdiri, lalu membereskan isi koper milik Naya. Wanita itu kemudian menemukan kemeja milik Zian yang teronggok di lantai, lalu memasukkannya ke dalam koper. Sementara Zian masih menatap Naya dari kejauhan.


****

__ADS_1


Mobil yang di tumpangi Naya dan Elma memasuki halaman sebuah rumah besar. Dengan beberapa penjaga yang berdiri di depan gerbang. Gadis itu tidak menyangka bahwa Dokter Fahri adalah orang yang sangat kaya.


Saat memasuki rumah itu, bola mata Naya memutar ke kanan dan kiri, meneliti setiap bangunan megah itu. Langkah kaki seorang anak perempuan cantik berusia empat tahun membuyarkan lamunan gadis itu.


Anak perempuan itu berlari ke arah sang ibu dan memeluknya. "Kay... Beri salam dulu pada Kakak Naya... Kay Masih ingat Kakak Naya, kan?" tanya Elma pada anak menggemaskan itu. Gadis kecil itupun menggeleng pelan, dengan matanya yang tertuju pada Naya.


"Ini namanya Kakak Naya, dulu kan, kay sering bermain dengan Kakak... Tidak ingat, ya?" tanya Elma lagi.


"Mungkin Kay lupa. Dia kan masih kecil waktu itu," ucap Naya lalu berjongkok di hadapan gadis kecil itu. "Bagaimana kalau sekarang kita berteman..." Naya mengulurkan tangannya pada Kay. Gadis kecil itupun menyambut uluran tangan itu dengan senyum yang merekah.


"Kakak Naya akan tinggal di sini, ya?" tanya anak kecil itu.


"Apa boleh." Naya menunjukkan wajah sedihnya di depan Kay. Gadis kecil itu pun mengangguk dengan cepat, lalu memeluk Naya.


Tidak lama, seorang pria menuruni tangga dengan setengah berlari. Naya pun mengalihkan pandangannya pada sosok pria tersebut.


"Evan?" Naya spontan menyebutkan nama Evan saat melihatnya berada di rumah itu.


"Naya... Kau... Kau bisa mengingatku?" tanya Evan dengan mata berbinar. Naya kemudian mencoba mengingat kembali sosok pria yang kira-kira hampir seusianya itu.


"Aku... Aku hanya bisa mengingat namamu saja. Aku tidak ingat yang lain. Kau Evan, kan?" Elma dan Fahri pun saling melirik saat melihat interaksi dua orang itu, lalu segera menghampiri mereka.


"Naya, ini adik bungsuku. Dia tinggal di sini bersama kami. Ternyata kau masih ingat dengannya..." ucap Fahri membuat Naya kembali mengerutkan alisnya.


"Kau yakin, tidak ada foto Zian lagi yang menggantung di rumah ini... Kau sudah pastikan semuanya sudah disingkirkan, kan?" tanya Fahri pada Evan.


"Tenang saja, Kak. Semua Foto Kak Zian sudah aku selundupkan ke gudang. Jangan khawatir!" jawab Evan.


"Ayo ikut aku! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" Fahri berjalan menuju sebuah ruangan yang terdapat di sudut rumah itu, sementara Ebvan mengekor di belakangnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Evan.


"Bantu Naya mengembalikan ingatannya... Aku rasa kau bisa melakukannya."


"Maksud Kakak apa? Memangnya aku kenapa?"


"Naya bisa mengingatmu. Itu bagus. Dia kan pernah bekerja di cafemu. Kau bisa sering-sering mengajaknya kesana. Mungkin saja dia bisa mengingat semuanya sedikit demi sedikit."


"Benar juga. Baiklah, kapan-kapan aku akan mengajaknya ke sana."


"Baguslah,"

__ADS_1


Evan kemudian berpikir sejenak, "Tapi, Kau bisa menjamin Kak Zian tidak akan mencekikku, kan... Kau tahu betapa cemburuannya dia. Kalau aku membawa Naya pergi berdua, aku bisa dipanggang olehnya..."


Fahri kemudian tekekeh mendengar ucapan adik bungsunya itu, "Kau tenang saja. Dia sudah jinak. Naya berhasil menjinakkan singa lapar itu..."


***


Naya sudah tertidur ketika jendela kamarnya terbuka. Seorang penyelinap kembali masuk ke dalam kamarnya. Sepasang kaki panjang berjalan perlahan mendekati tempat tidur itu, lalu menyelinap masuk ke dalam selimut.


Naya yang tidak pernah sadar dengan kelakuan seseorang yang begitu merindukannya itu, begitu lelap dalam pelukan lelaki itu.


"Kenapa kau semakin cantik saat sedang tidur?" gumam Zian yang tidak melepaskan pandangannya dari wajah istrinya itu. Setelah puas memandangi wajah pollos itu, Zian ikut tertidur di sana dengan tangan melingkar di perut Naya.


Kerinduan yang terasa menembus ubun-ubunnya membuatnya melakukan tindakan yang menurutnya sangat bodoh.


Menjelang subuh, Zian terbangun dari tidurnya. Dia mengecup kening Naya sebelum akhirnya keluar melalui jendela.


****


Pagi hari, Naya terbangun dari tidurnya. Saat akan turun dari tempat tidur, dia menemukan jam tangan laki-laki ada di atas tempat tidurnya.


"Jam tangan siapa ini?" gumamnya, "apa semalam ada yang masuk ke kamar ini? Tapi aku kan mengunci pintunya..."


Naya menatap dalam jam tangan yang tidak asing baginya itu. "Rasanya aku sering melihat jam ini, tapi dimana?" Gadis itu berusaha keras mengingat dimana dirinya pernah melihat jam tangan itu, hingga kepalanya terasa pusing. Bayangan tangan seorang laki-laki menggunakan jam tangan itu terus terngiang di benaknya.


Karena penasaran, Naya langsung bangkit, lalu keluar dari kamar menuju lantai bawah. Elma sedang menyiapkan sarapan pagi, ketika Naya setengah berlari menghampirinya.


"Naya... Jangan lari-lari. Kalau kau jatuh, bagaimana..."


"Kakak, ini jam tangan siapa? Aku menemukannya di temoat tidurku, apa ini milik Kak Fahri?" tanya Naya seraya menunjukkan jam tangan itu. Elma kemudian mengambil jam tangan itu dari tangan Naya.


Ini kan jam tangannya Zian. Apa semalam dia menyelinap masuk ke kamar Naya...


Elma kemudian melirik Naya sekilas, lalu tersenyum. "Ini milik Fahri. Sepertinya dia meninggalkannya di kamarmu," jawab Elma berbohong, lalu memasukkan jam tangan itu ke saku celemek yang digunakannya. Bisa gawat jika Naya sampai tahu itu jam tangan Zian.


"Tapi kan aku mengunci kamarku, bagaimana kakak bisa masuk?"


Benar juga. Aku harus jawab apa sekarang? Batin Elma.


Bola mata Elma berputar kekanan dan kiri seperti mencari sebuah jawaban untuk membuat Naya tidak curiga. "Mmm.... Memangnya tidak ada kunci cadangan? Dia ingin melihat keadaanmu semalam. Makanya dia masuk ke kamarmu," jawabnya dwngan senyuman getir.


Naya pun bernapas lega, "Benar juga... Ah, aku sampai berpikir ada perampok masuk ke rumah ini." Naya menuang air putih ke dalam gelas, lalu meneguk hingga gelas itu kosong.

__ADS_1


****


Bab selanjutnya, Terbongkarnya kasus penembakan Naya.... Sebenci apa Naya kepada Zian jika tahu Zian adalah orang yang membuat hidupnya menderita???? 😄😄


__ADS_2