
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari itu Zian diizinkan untuk pulang. Dengan wajah berbinar, Naya merapikan pakaian milik Zian dan memasukkannya ke dalam koper. Gadis polos itu tidak tahu, akan ada banyak kejutan yang menantinya.
"Sudah selesai?" tanya Zian.
"Sudah... Boleh aku berpamitan dengan Kakak Dokter sebelum kita pulang?"
Zian melirik jam tangannya, "Dia tidak ada!"
"Tidak ada?" Wajah Naya pun mendadak sedih. Dia sangat ingin berterima kasih pada kakak kesayangannya itu sebelum pulang. "Tapi aku belum berterima kasih padanya."
"Nanti saja, masih banyak waktu untuk berterima kasih, kan..."
Tidak lama, Dimas dan Anita muncul dari balik pintu, langsung masuk ke kamar itu. Dimas kemudian membawa koper Zian keluar.
"Kenapa Anita dan Dimas ada di sini? Apa bos gila mereka tidak akan marah kalau mereka keluar di jam kerja?" Naya dengan polosnya berbisik di telinga Zian membuat laki-laki itu menahan tawanya.
Lucu sekali. Dia menyebut suaminya bos gila. batin Zian
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Zian malah menyahut dengan pertanyaan, "Kenapa kau menyebut bos mereka gila?"
"Bos mereka memang gila, kan?"
Cukup! Aku ingin menggigitnya karena terlalu menggemaskan.
Zian pun merangkul Naya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. Hingga mereka tiba di lobby, sebuah mobil mewah dengan seorang sopir sudah menunggu mereka. Naya yang tidak tahu apa-apa itu menjadi semakin bingung.
"Itu mobil siapa? Kenapa Dimas memasukkan kopermu ke dalam mobil itu?"
"Aku tidak tahu, mungkin mereka meminjam mobil milik bos gila itu..." Zian masih merangkul Naya menuju mobil itu. Saat sudah dekat, sopir berseragam hitam itu membungkuk tanda hormat, lalu membukakan pintu mobil. Naya melirik Anita dan Dimas yang sudah pergi dengan mengendarai mobil lain.
Naya pun kembali berbisik, Zian menundukkan kepalanya agar dapat mendengar bisikan itu, "Kenapa kita tidak naik taxi atau naik bus saja... Kenapa harus menumpang mobil orang?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau bos gila itu tahu kita menumpang mobilnya bagaimana? Apa dia akan marah... Atau Dimas dan Anita akan dapat masalah? Aku dengar bos gila itu tidak terima kesalahan sekecil apapun. Aku tidak mau naik ke mobil itu. Ayo, kita naik bus saja..." Naya menarik lengan Zian, wajahnya memelas memohon agar jangan naik ke mobil mewah itu.
__ADS_1
Zian pun membelai puncak kepala istrinya itu, "Ayolah Naya, aku tidak enak menolak bantuan mereka."
Lagi-lagi sandiwara Zian terlihat sangat meyakinkan. Namun, Naya tetap tidak mau naik ke mobil itu. Karena Naya tak juga mau naik, akhirnya Zian menggendongnya menaiki mobil itu, membuat Naya gelagapan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naya.
"Diam!" ucap Zian singkat. Naya mencoba untuk protes, namun Zian menghadiahinya pelototan mata, sehingga nyali gadis kecil itu menciut.
"Jalan!" titah Zian pada sang sopir.
Kenapa aku merasa kita tidak tahu malu naik ke mobil orang. Dan Zianku, bukankah dia ini orang yang tidak suka menerima bantuan orang lain? Tapi kenapa dia mau naik ke mobil orang. Dulu dia marah, saat aku pulang diantar sopir kakak. Lalu kenapa sekarang dia seperti orang yang tidak tahu malu? Dia bahkan seenaknya memerintah sopir orang. batin Naya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Naya terdiam. Dia bahkan merasa malu pada sopir itu karena telah membuat repot.
Tiba-tiba, Naya tersadar bahwa jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju rumah Zian. Mereka sedang mengarah ke sebuah kawasan perumahan elit. "Kita mau kemana? Ini kan bukan jalan menuju rumahmu..."
"Sayang... Duduklah yang tenang? Sejak tadi kau sangat gelisah..."
Bagaimana aku bisa tenang, kita sedang dalam masalah sepertinya. batin Naya.
Apa ini rumah bos gila itu? Apa Zianku mau menjualku pada bos gila itu? Kenapa aku sebodoh ini?
Cairan bening sudah memenuhi kelopak mata gadis itu, dia hanya dapat menunduk memikirkan nasibnya selanjutnya. Dia benar-benar mengira Zian akan membuangnya pada bos Kia Group.
Gerbang besar itu terbuka setelah sang sopir menekan tombol di remote kontrol. Mobil itu pun memasuki halaman yang sangat luas. Di depan sana ada sebuah bangunan yang sangat megah, yang layak disebut istana. Naya melirik Zian dengan ekor matanya,
"I-ini rumah siapa? Kenapa kita kemari?" pikiran gadis itu sudah semakin kalut. Namun, Zian terlihat sangat santai. Hanya senyum yang menghiasi wajah tampannya.
"Kau akan tahu nanti, Nayaku... " ucap Zian lembut.
Di kejauhan sana, Naya melihat sebuah mobil berwarna merah yang tidak asing terparkir. Naya semakin bingung dibuatnya.
Itukan mobilku yang aku jual waktu itu... Kenapa ada di sini?
Dan, mobil mewah itupun berhenti. Sopir itu turun lebih dulu dan membukakan pintu. Zian segera turun dari mobil dan kemudian mengulurkan tangannya pada Naya untuk membantunya turun dari mobil.
__ADS_1
Naya menatap rumah itu dengan takjub, namun ada ketakutan yang sangat besar di dalamnya.
"Ini rumah siapa?" Suara Naya sudah terdengar getir.
Zian tersenyum, lalu membelai wajah Naya, "Ini rumahmu, Sayang... Mulai sekarang kau akan tinggal di rumah ini..."
Deg!
Jantung gadis itu berdetak lebih cepat, napasnya memburu. Cairan bening kembali memenuhi kelopak matanya. Hatinya yang tadi dipenuhi kebahagiaan dan harapan akan hidup bahagia bersama Ziannya di rumah sederhana mereka pupus sudah.
Iya kan... Zianku benar-benar akan membuangku ke rumah ini. Kenapa dia mau menyerahkanku pada bos gila itu. Aku ingin mati saja. Aku hanya ingin hidup bersama Zianku.
Zian yang menyadari perubahan wajah sang istri hanya dapat tersenyum jahil. "Ayo masuk!"
Zian menarik pergelangan tangan gadis itu, dengan cepat Naya menepis tangan Zian seraya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau masuk ke dalam sana..."
"Kenapa?"
Sekuat tenaga Naya menahan agar air matanya tidak jatuh. "Kenapa kau lakukan ini padaku? Kalau kau tidak bisa menerimaku, kenapa kau mau membuangku kemari? Kau kan sudah bilang akan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku... Tapi kenapa sekarang kau mau menyerahkanku pada bos gila itu?"
Zian yang jahil itu tertawa dalam hati, kepolosan istrinya membuatnya merasa tidak tahan.
Kenapa semakin lama dia semakin lucu? Dia sama sekali belum menyadari semuanya. Aku jadi tidak sabar melihat reaksinya selanjutnya.
"Ayo... Di dalam ada yang sedang menunggumu..." Zian kembali merangkul Naya dan mengajaknya masuk, Namun Naya terus menepis tangan Zian.
"Aku tidak mau... Aku mohon jangan bawa aku masuk ke sana. Kenapa kau tidak membawaku pulang ke rumahmu? Aku mau pulang ke rumahmu saja, aku tidak mau tinggal di rumah ini..."
Lihat kan, bahkan di pintunya saja ada logo Kia. Apa aku akan ditukar dengan uang yang banyak? Apa Zianku benar-benar mau menjualku?
"Sayang... Ayo kita masuk!"
****
Bersambung
__ADS_1