Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Trauma berat...


__ADS_3

Hari berganti hari tanpa terasa. Kini, tiga bulan sudah setelah operasi pencangkokan itu. Naya masih belum menunjukkan tanda akan tersadar dari tidur panjangnya. Enam bulan sudah Naya mengalami koma.


Sementara Zian, sudah mulai beraktivitas seperti biasanya walaupun dia masih harus menjalani aturan ketat yang dibuat oleh sang kakak. Dia merasakan apa yang dulu Naya rasakan selama lima tahun lamanya. Hidup dalam keterbatasan. Bahkan makan pun harus dengan petunjuk seorang ahli gizi.


Ingat, kau tidak boleh beraktifitas berlebihan, jangan makan sembarangan, kau hanya boleh makan makanan yang disarankan oleh ahli gizi. Jadi selama enam bulan ini, aku akan terus memantaumu sampai kau benar-benar pulih. Dan satu lagi, aku akan selalu mengingatkanmu untuk meminum obatmu!


Kalimat panjang dari Fahri yang bernada ancaman itu terus menari-nari dalam ingatan Zian ketika sedang beraktivitas di luar sana.


Dan, hari itu, Zian sedang berada di proyek pembangunan gedung Yayasan Kia. Tahap pembangunan itu sudah mencapai 90persen. Senyum kepuasan hadir di wajahnya melihat bagunan besar itu. Dimas benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.


"Kerjamu bagus! Kau akan mendapatkan bonus dariku," ucap Zian dengan wajah bahagianya.


"Tidak usah, Bos. Gaji yang kau berikan padaku sudah membuat aku dan ibuku hidup dengan nyaman. Aku tidak mau serakah..." Zian tersenyum mendengar ucapan Dimas. Dia merasa tidak salah memilih orang. Walaupun awalnya banyak yang meragukannya, namun dia mampu mematahkan keraguan orang-orang itu.


Tidak lama, ponsel milik Zian berdering. Tampak pemanggil berasal dari rumah sakit tempat Naya dirawat. Seorang dokter baru saja mengabarkan bahwa Naya telah siuman.


Zian mematung, seakan belum percaya dengan pendengarannya, rasa bahagia tergambar jelas di wajahnya. "Dimas, Nayaku... Nayaku..." Zian menjatuhkan setitik air matanya, membuat Dimas dilanda rasa khawatir.


"Ada apa dengan Naya?" tanya Dimas terkejut.


"Mereka bilang Nayaku sudah siuman. Ayo cepat! Antar aku ke rumah sakit," titah Zian. Dengan langkah yang cepat, mereka menuju area parkiran. Dimas segera melajukan mobil menuju rumah sakit. Sepanjang jalan Zian terus tersenyum bahagia diikuti air mata haru yang terus mengalir. Ingin segera memeluk sang istri.


Naya masih diperiksa oleh beberapa dokter dan perawat. Fahri saat itu masih disibukkan dengan banyaknya pasien yang mengantri sehingga tidak berada disana.


Naya terlihat masih lemah, dengan tatapannya yang sayu dan wajah pucatnya, namun tidak sepucat dulu lagi. Dia memandangi satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. Dia seperti masih bingung dengan apa yang terjadi padanya. Mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya berada di tempat itu.


"Semuanya bagus, tekanan darah dan detak jantung normal," ucap salah seorang dokter, lalu kemudian memberikan suntikan di lengan kiri gadis itu.


Setengah berlari, Zian melangkahkan kakinya melewati lorong rumah sakit itu menuju ruang tempat Naya dirawat. Sudah tidak sabar ingin memeluk sang istri tercintanya. Hingga dia tiba di depan pintu yang tertutup itu. Dia menghentikan langkahnya sejenak, mengatur napas. Air mata bahagianya terus mengalir. Dia memegang gagang pintu itu dengan tangan bergetar. Dimas yang berada di belakangnya menepuk bahunya pelan.


"Kau tidak apa-apa, Bos? tanya Dimas membuyarkan lamunan bosnya itu.


"Aku tidak apa-apa."


Zian kemudian membuka pintu itu perlahan, lalu masuk kesana. Saat melihat Naya telah membuka matanya, air matanya kembali berjatuhan. Kini Naya telah terbangun dari tidur panjangnya. Harapannya untuk memulai hidup baru dengan Naya akhirnya akan terwujud.


Beberapa peralatan medis yang tadi melekat di tubuh gadis itu sudah dilepas. Sekarang hanya tersisa jarum infus yang masih melekat di pergelangan tangannya.


Zian masih mematung di tempatnya berdiri, lalu pelan-pelan melangkah mendekat. Naya belum menyadari keberadaan Zian di dalam ruangan itu. Sejak terbangun, belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Dia juga tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dokter padanya.


"Naya..." panggil Zian dengan suara lirihnya. Naya tidak merespon panggilan itu. Tatapannya masih kosong melihat seorang perawat wanita yang sedang membersihkan peralatan medis yang tadi mereka gunakan.


Hingga Zian semakin mendekat, barulah Naya mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki jangkung yang berjalan mendekatinya. Naya menatap dari ujung kaki hingga ke wajah. Sejenak, dia terdiam menatap wajah Zian.

__ADS_1


Tiba-tiba, bayangan-bayangan Zian terlintas di benaknya. Naya memejamkan matanya, bayangan itu semakin jelas. Terlintas di benaknya beberapa bayangan saat Zian mengusirnya, Saat dirinya berlutut di bawah kaki lelaki itu, saat Zian mendorongnya keluar dari pintu dan terjatuh di teras rumah.


Matanya yang tadinya sayu, membulat sempurna dan sudah dipenuhi cairan bening, napasnya berat seiring dengan bayang yang terus bermunculan itu. Naya pun menjerit seraya menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


Zian yang melihat keadaan Naya langsung mendekat dan memeluknya.


"Sayang... Ini aku," ucap Zian seraya memeluk tubuh itu. Dan entah kenapa suara Zian seolah menakutinya. Dengan tubuh gemetaran, Naya berusaha memberontak di dalam pelukan suaminya itu.


"Ja-jangan... Jangan, aku mohon... Jangan..." ucap Naya berusaha melepaskan diri. Namun Zian semakin erat memeluknya. Hingga Naya kembali pingsan. Zianpun menjadi panik, lalu kembali membaringkan Naya. Dokter itu kemudian kembali memeriksa Naya yang kini tidak sadarkan diri.


Hingga dua jam kemudian, Naya kembali terbangun dan mendapati Zian berada di dekatnya. Naya pun kembali histeris, mengagetkan Zian yang sedang berbaring di sebelahnya. Zian kembali memeluk Naya, mencoba menenangkannya. Zian memencet tombol alarm yang berada di samping.


"Jangan!! Tolong jangan sakiti aku.." Naya berteriak histeris, tubuhnya gemetaran. "Ayah... Ayah dimana? Ayah..." Naya menjerit memanggil ayahnya yang telah meninggal.


Tidak lama, Dokter Fahri dan beberapa perawat masuk ke ruangan itu, dia terkejut melihat Naya yang sedang berusaha melepaskan pelukan Zian padanya.


"Ayah... tolong aku...!" Naya berusaha menepis tangan Zian yang melingkar di tubuhnya. "Lepaskan aku, tolong jangan sakiti aku, jangan usir aku!"


"Tidak, Sayang... Aku tidak akan menyakitimu... Aku mohon tenanglah."


Dokter Fahri mendekat, lalu meminta Zian melepaskannya. Zian pun segera melepaskan pelukannya, lalu mundur beberapa langkah, sementara Naya menutup kedua telinganya, meringkuk di pembaringan itu. Dokter Fahri mencoba menenangkan Naya. Dia menangkup wajah tirus gadis itu


"Naya... Lihat aku!" pinta Dokter Fahri. Naya kemudian menatap wajah dokter itu dalam-dalam. Air matanya kembali berjatuhan. Dia memeluk Dokter itu dengan tubuhnya yang gemetaran menahan rasa takutnya.


"Tenanglah, ada aku di sini." ucapnya seraya mengusap punggung gadis itu. "Apa yang kau takutkan?" tanyanya lembut.


"Aku takut... tolong aku... Di-dia... Dia mau menyakitiku..." Wajah Dokter Fahri langsung berubah mendengar ucapan Naya, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Zian.


"Aku minta yang lain keluar dari sini... Kau juga," pinta Dokter Fahri seraya memberi kode pada Zian agar dia keluar dari ruangan itu.


Zian pun mundur perlahan, lalu keluar dari ruangan itu. Matanya kembali dipenuhi cairan bening. Sekelumit pertanyaan timbul di benaknya. Mengapa Naya begitu takut dan langsung histeris jika melihatnya.


Di dalam sana, sang dokter masih berusaha menenangkan gadis itu. Dia masih memeluk Naya yang masih gemetaran. Hingga beberapa saat kemudian, Naya mulai tenang. Fahri pun melepaskan pelukannya.


"Kau ingat siapa namamu?"


Sejenak Naya terdiam mendengar pertanyaan dokter itu. "Naya..." jawabnya singkat.


"Nama ayahmu?"


"Erlangga Adiwinata."


"Kau ingat aku?"

__ADS_1


Naya menatap Dokter Fahri dengan bercucuran air mata, "Kakak dokter," jawabnya.


Dokter Fahri membelai puncak kepala gadis itu dengan sayang, "Baiklah, kau ingat seseorang yang bernama Zian?"


Naya mengerutkan alisnya, mencoba mengingat nama itu. Dia menggeleng pelan, menandakan dia tidak bisa mengingat nama itu.


Dokter Fahri kemudian menanyakan beberapa pertanyaan lagi yang membuat Naya kebingungan. Menyadari keadaan itu, sang dokter lalu berusaha menenangkannya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Ka-kakak, aku takut pada orang jahat tadi... Tolong jangan biarkan dia kemari? Dia itu orang jahat. Aku... Aku... Takut... Dia akan menyakitiku." Naya pun kembali gemetaran setiap kali mengingat wajah Zian.


"Baiklah, aku akan tidak akan mengizinkannya menemuimu? Sekarang kau harus tenang, aku tidak akan meninggalkanmu."


*****


Setelah hampir dua jam bersama Naya di dalam ruangan itu, Dokter Fahri akhirnya keluar setelah Naya kembali tertidur. Dia mengajak Zian bicara berdua untuk menjelaskan kondisi Naya sekarang pada adiknya itu.


Mereka kemudian menuju sebuah taman yang tidak jauh dari kamar dimana Naya berada. Zian duduk di sebuah kursi panjang mengikuti sang kakak.


"Ada apa dengan Naya? Kenapa setiap melihatku dia menjadi histeris?" tanya Zian penuh kekhawatiran.


Fahri menghela napas panjang, sedang memikirkan kalimat yang tepat agar penjelasannya tidak menyakiti hati adiknya itu.


"Aku menduga Naya depresi berat dan hal itu membuatnya mengalami amnesia disolatif," ungkap dokter itu membuat Zian mematung, matanya kembali berkaca-kaca.


"A-pa? Amnesia disolatif? Apa itu, Kak? Bukankah amnesia itu terjadi hanya pada mereka yang mengalami cedera di kepala? Apa operasi pencangkokan ini juga menjadi penyebab Naya kehilangan sebagian ingatannya?"


"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan pencangkokan itu. Amnesia jenis ini dapat terjadi pada saat orang memblokir informasi tertentu, biasanya berhubungan dengan trauma dan stres yang luar biasa. Hal ini membuatnya tidak bisa mengingat informasi pribadi yang penting." Zian mulai tidak dapat membendung air matanya mendengar penjelasan kakaknya itu.


Dokter Fahripun melanjutkan penjelasannya,"Mungkin ini akibat dari peristiwa penyekapan itu sehingga membuatnya depresi berlebihan. Dia mengalami kekerasa fisik saat itu, dan sebagian besar akibat stres dari perlakuanmu padanya selama satu tahun tinggal bersama mu. Sehingga saat dia melihatmu, dia menjadi histeris dan yang dia ingat justru adalah hal yang berusaha dia lupakan, bagian dimana kau menyakitinya dan mengusirnya. Dia terus bergumam mengatakan jangan usir aku... Dan juga, koma selama enam bulan itu juga bisa mempengaruhi memorinya... Semuanya bisa mengakibatkan hal seperti ini terjadi..."


Zian pun di hinggapi perasaan bersalah. "Dia pasti sangat tersiksa dengan perlakuanku padanya selama satu tahun. Dan itu membuatnya trauma." Zian kembali meratapi penyesalannya. Dia ingat semua perlakuan kasarnya pada Naya. "Apa yang bisa ku lakukan untuk membuatnya sembuh dari traumanya?"


"Ini yang penting... Untuk sementara, kau jangan menemuinya. Dia akan histeris setiap kali dia melihatmu. Setelah kondisinya membaik, kita akan melakukan psikoterapi."


"Aku harus menjauhinya, begitu?" tanya Zian kemudian.


"Sepertinya begitu. Yang dia ingat tentangmu hanya kekejamanmu padanya. Dia tidak ingat yang lain. Dia juga lupa beberapa hal, termasuk kematian ayahnya."


Dokter Fahri menepuk pundak adiknya itu. "Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, Naya akan mengingat semuanya kembali. Amnesia itu hanya bersifat sementara."


****


Selamat berjuang babang Zian...

__ADS_1


Jangan lupa anak-anak... tinggalkan komen dan like nya... hehheehehe


__ADS_2