
Larut dalam rasa pilu menyesakkan dada, Naya terpaku membaca kata demi kata dalam sepucuk surat yang ditinggalkan Zian untuknya. Lelehan air mata tak tertahankan, jatuh membasahi pipi.
"Kenapa kau melindungiku dengan cara aneh seperti ini? Kenapa hanya untuk menjagaku kau harus pergi?"
Jemarinya bergerak mengusap pipi yang basah. Menguatkan hatinya yang luluh lantak.
Aku berjanji, mulai hari ini aku tidak akan menangis lagi. Aku akan jadi istri dan ibu yang kuat seperti yang kau minta.
Tersadar dari lamunan, Naya melirik beberapa ART yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam koper.
"Kau sudah siap? Kita harus berangkat," ucap Anita, tiba-tiba masuk ke kamar. Ia melihat Naya yang tampak memucat. "Kau baik-baik saja?"
Naya menjawab dengan anggukan pelan. "Iya, aku merasa lebih baik setelah membaca suratnya."
Perhatian Naya lantas teralihkan pada beberapa foto yang menghiasi meja. Ia meraih salah satu foto yang menjadi favoritnya kala menikmati masa bulan madu di Barcelona bersama Zian.
Aku akan menunggu dengan sabar sampai tangan Tuhan akan membawamu kembali dan menyatukan kita lagi.
.
.
.
Di luar rumah, Dimas sudah menunggu bersama beberapa pengawal yang akan mengantar mereka ke sebuah villa besar yang berada di tengah hutan. Tengah malam adalah waktu yang mereka pilih untuk berangkat, dengan pertimbangan keamanan.
Naya dan Anita sudah duduk di mobil. Sementara Dimas mengamati keadaan sekitar demi memastikan segalanya aman.
Berselang satu jam perjalanan, mereka tiba di perbatasan kota. Tidak ada kendala berarti selama perjalanan, hingga melewati sebuah jalan yang cukup sunyi.
Tiba-tiba dari arah belakang beberapa mobil menyalip, bahkan Dimas hampir saja menabrak mobil salah satu mobil yang menghalau di depan.
"Sial! Mereka menemukan kita!"
Mata Dimas berkilat marah menatap beberapa mobil yang sudah mengepung. Menyadari keadaan berbahaya, ia segera memutar arah. Melesatkan kereta besi itu di jalan sunyi.
"Berpeganglah yang kuat! Anita, tolong lindungi Naya!" teriak Dimas, setelah mendapati ketakutan di wajah istri sang bos.
Anita mengangguk cepat. Membuat Dimas menginjak pedal gas semakin dalam. Sialnya, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari arah depan dan menghalau mereka. Beruntung Dimas masih sempat menghentikan laju mobil sebelum saling hantam.
__ADS_1
"Aku rasa mereka mau menangkap kita." Anita menatap tajam beberapa pria berpakaian hitam yang baru saja turun dari mobil.
"Bawa Naya pergi dari sini. Aku akan menghalangi mereka!" ucap Dimas.
"Tapi bagaimana denganmu? Kau tidak akan bisa menghadapi mereka."
"Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Naya!" Pria itu membuka pintu mobil dengan menyembunyikan dua buah senjata di tangannya.
Anita memanfaatkan kesempatan yang ada dengan membawa Naya pergi.
"Kau bisa berjalan sedikit lebih cepat?" tanya Anita.
"Perutku sakit, Anita!" Naya meringis memegangi perutnya, sambil berlari kecil. Hingga akhirnya, mereka tiba di persimpangan jalan. Naya sudah tidak kuat lagi. Anita membawanya bersembunyi di balik sebuah pilar. Mereka bersandar di sana.
Sambil mengatur napasnya yang memburu, Naya mengusap perutnya yang mulai terasa sakit. Keringat dingin pun membasahi keningnya.
Anita menyandarkan Naya di bahunya, sambil terus berusaha menenangkannya. Sesekali Anita melirik kesana kemari memastikan tidak ada orang yang mengejar mereka.
"Perutmu masih sakit?" tanya Anita diikuti anggukan oleh Naya. Anita membetulkan posisinya, lalu membaringkan Naya dan meletakkan kepalanya di pangkuannya.
Sesaat kemudian, Naya merasakan sesuatu keluar dari bawah sana, seiring dengan perutnya yang semakin sakit. "Anita, sepertinya aku berdarah..." ucapnya sambil menahan rasa sakit.
Anita tersentak kaget melihat banyaknya darah yang mengalir. Kepanikan pun terjadi. Hingga terdengarlah suara teriakan Dimas memanggil mereka.
Dengan cepat, Dimas berlari menuju sumber suara. Saat Dimas tiba di sana, Naya sudah tidak sadarkan diri. Sementara Anita terlihat sangat panik.
"Tunggu di sini, aku ambil mobil dulu." Dimas segera meninggalkan Anita dan Naya untuk mengambil mobil, sementara Anita terus berusaha membangunkan Naya dengan menepuk wajahnya.
"Cobalah untuk bertahan, Naya!" ucap Anita seraya menitikkan air matanya.
Tidak lama kemudian, Dimas datang dengan mobil. Laki-laki itu segera menggendong Naya menaiki mobilnya dan segera menuju rumah sakit.
"Siapa mereka? Kenapa mereka menyerang kita?" tanya Anita.
"Itu anak buah Alex. Untunglah jumlah mereka tidak begitu banyak, sehingga pengawal kita bisa mengatasi mereka," sahut Dimas sambil terus menyetir dengan kecepatan penuh. "Hubungi Dokter Fahri dan Dokter Sandra! Katakan kita sedang menuju ke rumah sakit." Dimas memberikan ponselnya kepada Anita.
.
.
__ADS_1
.
Anita menunggu di depan sebuah ruangan operasi dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Sementara Dimas sedang mendapat penanganan dokter karena terdapat banyak luka di tubuhnya akibat berkelahi dengan beberapa orang tadi.
Beberapa saat kemudian, Fahri, Evan dan Elma datang.
"Apa yang terjadi? Kenapa Naya bisa pendarahan?" tanya Fahri. Wajahnya terlihat menggeram. Anita pun menceritakan serangkaian kejadian yang mereka alami tadi, membuat Evan dan Fahri semakin geram dengan perbuatan Alex.
Tidak lama kemudian, Dokter Sandra keluar dari ruang operasi. Fahri dan Elma mampu membaca ekspresi wajah sang dokter.
"Naya kehilangan banyak darah dan kalian tahu, golongan darah Naya sangat langka. Aku sudah menghubungi semua bank darah di kota ini, tapi stok mereka kosong," ucap Sandra.
Fahri dan Evan saling melirik. Sementara Anita membeku, memikirkan apa yang akan terjadi pada Naya dan bayinya. Hanya Zian, satu-satunya dari mereka yang memiliki golongan darah yang cocok dengan Naya.
"Kak, bagaimana kita bisa membawa Kak Zian kemari? Dia sedang ditahan," Evan berbisik di telinga Fahri.
"Aku akan ke sana. Kita bisa membawa Zian keluar dari rumah tahanan dengan menggunakan layanan Permohonan Izin Luar Biasa," jawab Fahri. "Evan, kau ikut aku. Elma akan tetap di sini bersama Anita.
*
*
*
Setelah mendapat surat keterangan dari pihak rumah sakit, Fahri segera mengarah ke rumah tahanan untuk meminta Layanan Permohonan Izin Luar Biasa untuk Zian agar dapat menemani Naya yang akan menjalani operasi.
Fahri pun menghubungi seorang temannya yang menangani kasus Zian untuk membantunya mengurus segalanya.
"Kak Zian pasti sangat marah kalau tahu apa yang terjadi pada Naya," ucap Evan di tengah-tengah perjalanan.
Fahri tidak menyahut. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada Naya saja.
.
.
.
Sementara itu di dalam ruang operasi, para dokter sedang mempersiapkan segalanya. Naya sudah terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Naya, kau harus kuat! Aku yakin kau bisa melewati semua ini." Elma berbisik di telinga Naya sambil mengusap wajah adik kesayangannya itu.
****