Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Ancaman hukuman


__ADS_3

Jika Zian sedang merenungi nasibnya di balik jeruji besi, maka lain halnya dengan seorang Marvin Alexander. Senyum kepuasan terbit di sudut bibirnya, sesaat setelah membaca koran yang memberitakan kasus mantan sahabatnya itu. Dua minggu sudah Zian ditahan, namun laki-laki itu belum juga menemukan jalan keluar untuk masalahnya.


"Maliq... Sayang sekali, sepertinya kau akan lama mendekam di penjara," ucapnya seraya terkekeh licik.


Laki-laki itu melipat koran yang baru saja dibacanya, kemudian melempar begitu saja ke atas meja, dengan tawanya yang menggelegar. Lalu menyambar jas yang menggantung di sudut ruangannya. Buru-buru, dia keluar dari rumah mewahnya, lalu naik ke sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah.


"Kita lihat bagaimana reaksimu saat bertemu denganku. Kau pasti akan sangat senang," gumamnya.


Hingga berselang tiga puluh menit kemudian, laki-laki itu tiba di rumah tahanan tempat Zian berada. Terjadilah pembicaraan serius antara Zian dan Alex.


"Mau apa kau kemari?" Zian bertanya dengan wajah datar, sementara Alex terkekeh sinis.


"Tentu saja untuk mengunjungi teman lamaku," ucap Alex. "sepertinya kau sangat menyukai rumah barumu ini. Kau tenang saja, Maliq. Aku akan memastikan kau membusuk di dalam sel tahanan."


"Terima kasih, tapi sepertinya kau sedang membuang-buang waktumu. Lebih baik, kau pikirkan bagaimana cara untuk melarikan diri."


Alex kembali terkekeh mendengar ucapan Zian. "Aku sedang tidak ada rencana untuk ditangkap polisi. Bukankah, kau adalah bos mafia obat-obatan terlarang bukan aku."


"Aku tidak ada waktu untuk mendengar omong kosongmu!" Zian akan melangkahkan kakinya meninggalkan Alex, namun Alex mengucapkan sesuatu yang membuat Zian mematung di tempatnya.


"Kalau kau berani menyentuh istriku seujung kuku saja, kau akan jadi orang pertama yang mati di tanganku!" ucap Zian dengan tatapan membunuhnya.


"Sayang sekali kawan, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Membunuh Kanaya dan Marissa, bukan sesuatu yang sulit bagiku."


Zian kembali duduk di kursi, sehingga kembali berhadapan dengan Alex.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Zian.


Alex kemudian membisikkan sesuatu di telinga Zian yang membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya geram. Tatapannya yang tajam beradu dengan tatapan Alex yang penuh dengan rencana jahat.


"Keputusannya ada di tanganmu!" ucap Alex lalu berdiri dari duduknya. Dia meninggalkan Zian yang masih mematung di tempatnya duduk memikirkan apa yang dikatakan Alex padanya barusan.


Alex baru saja melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu ketika Fahri baru masuk. Mereka berpapasan di halaman depan. Tidak ada sapaan, Fahri hanya menatap tajam pada Alex, sedangkan Alex dengan senyum liciknya.


Siang itu, Fahri menemui seorang sahabatnya yang ternyata merupakan salah satu dari tim penyidik yang menangani kasus Zian.


"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Fahri yang sedang duduk berdua dengan temannya itu.

__ADS_1


"Sejauh ini semua tuduhan mengarah pada adikmu. Glenn dengan beberapa orang lain yang tertangkap di hari yang sama memberi kesaksian yang sama. Tapi Zildjian Maliq tidak mengakuinya. Kami masih terus mendalami kasus ini." Laki-laki itu menepuk bahu Fahri yang wajahnya mendadak sedih, memikirkan nasib adiknya.


"Kau tenang saja. Aku akan membantu adikmu untuk bisa keluar dari sini!"


"Tidak! Tugasmu adalah mencari bukti keterlibatannya. Jika dia bersalah, sekalipun dia adikku, aku tetap ingin dia dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tidak peduli itu hukuman mati atau penjara seumur hidup," ucap Fahri tegas.


"Tapi... kau tahu kan, hukuman bagi seorang pengedar obat-obatan terlarang di negara kita?"


Fahri menatap wajah sahabatnya itu, kemudian menghela napas berat, "Kau seorang aparat hukum, kewajibanmu mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran. Jika Zian terbukti bersalah, biarkan dia menjalani hukumannya."


Setelah pembicaraannya dengan temannya itu, Fahri kemudian hendak menemui adiknya yang sedang meringkuk di sel tahanan.


Sejenak, dia berusaha menguatkan hatinya dengan bersandar di dinding ruangan itu. Matanya berkaca-kaca memikirkan nasib adiknya yang mungkin terancam hukuman mati.


"Apakah aku sudah gagal membimbing satu orang adikku?" gumamnya.


Fahri berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mengingat Naya yang sebentar lagi akan menjalani persalinan tanpa didampingi sang suami. Bahkan Naya setiap hari menangisi Zian yang setahunya meninggalkannya keluar kota.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fahri pada Zian.


"Seperti yang kau lihat. Selama Naya dan Anita baik-baik saja, akupun akan seperti itu," jawab Zian.


"Apa Naya makan dengan benar? Kadang dia kehilangan selera makannya secara tiba-tiba. Kadang aku sampai harus memaksanya makan."


Fahri berusaha untuk menerbitkan senyum terpaksanya, "Kau tenang saja. Istrimu adalah seorang wanita yang kuat. Dia baik-baik saja. Lebih baik, kau memberitahunya yang sebenarnya."


"Kak... Kau adalah dokternya. Kau yang paling tahu bagaimana kondisi Naya. Sebentar lagi Naya akan menjalani operasi. Haruskah dia terbebani dengan masalah ini? Kau tahu betul hukuman bagi seorang pengedar obat-obatan terlarang dan mafia perdagangan organ tubuh manusia ilegal di negara kita. Hukuman mati. Bagaimana Naya akan sanggup bertahan jika tahu aku terlibat kasus seperti itu? Dengan ancaman hukuman mati."


"Baiklah, aku akan merahasiakannya."


Zian menatap lekat-lekat wajah kakaknya itu. Dia dapat melihat raut wajah Fahri yang begitu terpukul dengan apa yang terjadi padanya.


"Kau tahu Kak, Naya pernah bilang padaku, kau adalah pembohong yang buruk, dan itu benar." Zian menundukkan kepalanya memikirkan Naya. "Kau akan tetap memberitahu Naya."


Fahri menmejamkan matanya, "Baiklah, aku tidak akan bicara sampai kau mengizinkannya."


"Terima kasih, Kak! Bisakah, kau meminta Dimas menemuiku hari ini?"

__ADS_1


Fahri menganggukkan kepalanya, lalu memeluk adiknya itu. Menyembunyikan air matanya.


****


Sekembalinya dari rumah tahanan, Fahri segera menghubungi Dimas dan memintanya menemui Zian. Mendapat perintah dari sang bos, Dimas segera meluncur ke tempat dimana bosnya itu berada.


"Dimas, maukah kau melakukan sesuatu untukku?" tanya Zian sesaat setelah kedatangan asistennya itu.


"Katakan saja, Bos!"


"Aku pernah membeli subuah lahan yang luas di tengah hutan. Aku juga membangun sebuah villa di sana. Bawalah Naya dan Anita untuk tinggal sementara di sana sampai semuanya aman untuk mereka. Tempat itu aman dari Alex dan Kenzo. Tidak akan ada yang menduga ada villa di tengah hutan itu."


"Tapi, Bos! Aku harus bilang apa pada Naya? Apa dia akan mau tinggal di sana?"


Zian mengeluarkan sebuah amplop dari saku kemejanya dan memberikannya pada Dimas. "Berikan ini pada Naya. Dia akan mengerti setelah melihat isi amplop ini."


Dimas meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. "Baiklah, Bos!"


"Pergilah hari ini! Tempatkan semua pengawal untuk menjaga tempat itu 24jam."


"Hari ini, Bos?" Dimas membulatkan matanya mendengar perintah itu.


"Ya, tadi Alex kemari dan mengancam akan membunuh Anita dan Naya. Ini satu-satunya cara untuk mengamankan mereka." Dimas pun pasrah. Dia menatap Zian dengan perasaan sedih.


Setelah Zian memberitahu Dimas dimana lokasi villanya, Dimas segera menuju rumah Zian untuk memberikan sebuah surat yang sebelumnya ditulis oleh Zian untuk Naya.


Di dalam sebuah kamar, Naya meneteskan air matanya membaca surat dari suaminya itu.


Nayaku...


Maafkan aku, yang pergi tanpa memberitahumu. Apapun yang aku lakukan, percayalah aku lakukan untuk menjagamu. Mungkin kita akan berpisah untuk sementara waktu. Tapi aku berjanji akan kembali hanya untuk menepati janjiku, yaitu menghabiskan sisa usiaku bersamamu.


Maukah kau melakukan sesuatu untukku?


Jangan pernah tanyakan pada siapapun kemana aku pergi. Aku akan selalu baik-baik saja. Aku belum bisa menjanjikanmu untuk segera kembali padamu. Tapi, setiap hari aku selalu berusaha untuk menujumu. Aku mohon, jadilah wanita yang kuat dengan tidak menangisi kepergianku.


Pergilah bersama Dimas dan Anita ke tempat yang sudah aku siapkan untukmu dan Anita. Kalian akan aman di sana.

__ADS_1


Ingatlah, aku selalu mencintaimu.


__ADS_2