
Zian mengedarkan pandangannya kesana-kemari mencari objek yang membuat sang istri sampai ketakutan. Namun, laki-laki itu tidak menemukan apapun di sana.
"Apa yang kau lihat? Kenapa wajahmu langsung pucat?" Zian langsung merangkulnya ketika menyadari tubuh Naya telah gemetaran dengan mata berkaca-kaca. "Sayang...?"
"A-ku ta-kut!" ucapnya terbata-bata.
"Jangan takut, ada aku!" Zian mengusap kepala Naya, "katakan, apa yang kau lihat?"
Naya kembali mengarahkan pandangannya ke tempat tadi melihat seseorang yang membuatnya begitu takut. "Aku tadi melihat Marvin di sana," ucapnya sambil menunjuk ke seberang jalan.
Wajah Zian langsung berubah mendengar Naya menyebut nama itu. Laki-laki itu pun memutar bola matanya, hendak mencari lagi, dengan tangannya yang semakin mengeratkan pelukannya. Kemudian menatap wajah sang istri yang sudah sangat pucat.
"Sayang, kita pulang saja, ya!" tawar Zian diikuti anggukan kepala oleh Naya.
"Tapi makanannya bagaimana?"
"Makan di rumah saja. Aku akan meminta orang membawa makanan malam ke rumah." Zian membantu Naya berdiri dan merangkulnya menuju tempatnya memarkirkan motornya.
Sepanjang jalan Naya terus terdiam, dengan tangan melingkar di pinggang dan kepalanya yang bersandar di punggung Zian. Bayangan-bayangan ketika Marvin menyekap dan menyiksanya terus bermunculan.
****
Zian menyelimuti tubuh Naya lalu mengecup kening dan bibirnya. Dia merasakan tubuh sang istri yang masih gemetar ketakutan. Laki-laki itu pun ikut berbaring dan membawa Naya ke dalam pelukannya.
Bahkan tadi saat makan malam, Naya harus disuapi Zian karena tangannya terus gemetaran. Ketakutan luar biasa sedang merasuki jiwanya. Zian terus berusaha menenangkan sang istri dengan memeluknya.
"Kau yakin, tadi melihat orang itu?" tanya Zian.
Naya mengangguk pelan, dengan matanya yang berkaca-kaca. Trauma akibat penyekapan itu belum hilang sepenuhnya.
"Tadinya aku pikir Anita sudah membunuhnya waktu itu. Aku takut dia akan menyakiti kita lagi," lirih Naya seraya terisak.
Zian mengeratkan pelukannya. Berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jangan takut, selama ada aku, tidak akan kubiarkan dia menjangkaumu." Zian mengecupi puncak kepala sang istri berkali-kali sambil mengusap punggungnya. "sekarang tidurlah!"
"Jangan tinggalkan aku!"
"Tidak akan, aku akan menjagamu." Zian terus memeluk tubuh Naya sambil mengusap rambutnya. Hingga akhirnya, hembusan napasnya mulai teratur yang menandakan gadis itu sudah tertidur. Zian memandangi wajah Naya lekat-lekat. Wajah yang baginya memiliki kecantikan sempurna.
Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi. Walaupun pada akhirnya aku harus menjadi seorang pembunuh, akan kulakukan untuk menjagamu.
****
Pagi menjelang....
Naya menggeliat pelan dalam balutan selimut tebal. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba tempat tidur itu, mencari objek yang setiap pagi memeluknya.
Kosong, tidak ada sang suami yang selalu berbaring di sampingnya. Naya pun membuka matanya perlahan, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Sayang... Kau dimana?" gumamnya.
Matanya membulat menyadari tidak sang suami di kamar itu. Naya pun bangun dari posisi berbaringnya dan duduk menyandar di tempat tidur.
Di meja nakas, sudah ada nampan berisi sandwich dan segelas susu yang disiapkan Zian untuk Naya sebelumnya, dengan selembar kertas kecil berisi catatan. Naya meraih kertas kecil itu dan membacanya.
Selamat pagi, Sayang! Maaf aku ada urusan sebentar, aku akan segera kembali. Jangan lupa sarapan dan minum obatmu. Jangan keluar rumah sampai aku kembali.
__ADS_1
"Dia kemana sepagi ini?" gumamnya.
Naya bergegas turun dari tempat tidur dan menghabiskan sarapannya.
Sementara itu, di tempat lain, Zian sedang berdiskusi bersama Anita dan Dimas. Zian duduk di kursi kebesarannya dengan jari memijat pelipisnya.
"Semalam, Naya bilang dia melihat Alex," ucap Zian memecah keheningan di ruangan itu.
Dimas begitu terkejut dengan ucapan sang bos, sementara Anita masih terlihat datar. Dimas melirik Anita, tatapannya bagaikan penuh tanda tanya.
"Aku pikir saat itu kau benar-benar membunuhnya," ucap Dimas pada Anita.
Anita hanya melirik Dimas dengan ekor matanya, kemudian duduk di sofa.
"Maliq, kau tahu kan, alasan kenapa aku tidak sampai membunuhnya," ucap Anita.
Zian mengangguk pelan, "Aku tahu. Tetaplah seperti itu!"
Dimas yang tidak mampu mencerna pembicaraan itu hanya melirik Zian dan Anita bergantian. Baginya Zian dan Anita sama misteriusnya. Mereka penuh dengan rahasia. Dimas kemudian ikut duduk di sana. Memberanikan diri bertanya.
"Anita... Waktu itu kau meminta kami meninggalkanmu berdua dengan Alex di dalam sana. Lalu apa yang kau lakukan padanya? Aku benar-benar mengira kau membunuhnya." Lagi-lagi Dimas memberanikan diri bertanya karena dipenuhi rasa penasaran.
"Aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan itu!" jawab Anita singkat.
Anita lalu melirik Zian, "Apa menurutmu dia masih mengincar Naya?
"Bisa saja. Mungkin dia masih dendam pada kita." Zian menyandarkan kepalanya di kursi, "Anita, pastikan Naya selalu aman. Buat penjagaan ketat untuknya. Tapi aku tidak mau dia tahu kita membuat penjagaan untuknya."
"Lalu?"
"Lakukan diam-diam!"
"Naya sedang hamil! Dan aku tidak mau dia tertekan!"
Wajah Dimas dan Anita pun langsung berubah mendengar ucapan sang bos. Ada raut kebahagiaan, tapi juga kekhawatiran di wajah Anita.
"Wah, itu berita yang sangat baik. Selamat, Bos! Kau akan jadi seorang ayah!" ucap Dimas.
Zian tersenyum sekilas, mengingat di dalam rahim Naya sedang tumbuh seorang pewarisnya.
"Terima kasih, Dimas..."
"Lalu bagaimana reaksi Naya setelah melihat Alex semalam?" Anita melanjutkan pertanyaannya.
Pertanyaan Anita itu membuat senyum yang terbit di sudut bibir sang bos memudar. Mengingat betapa takutnya Naya semalam hingga tubuhnya gemetaran.
"Naya sangat ketakutan. Jadi aku membawanya pulang," jawab Zian.
"Baiklah, sepertinya mulai sekarang kita harus menjaganya lebih ketat," ucap Anita.
"Iya. Jangan biarkan Naya berinteraksi dengan orang yang tidak di kenal. Pokonya aku mau penjagaan yang super ketat."
"Bos, kenapa kita tidak hilangkan saja sumber masalahnya? Seperti apapun ketatnya penjagaan untuk Naya, tapi kau juga harus ingat bahwa Alex bukan orang sembarangan. Dia bisa melakukan apapun," ucap Dimas.
"Kau benar!"
Zian kemudian melirik Anita dengan tatapan yang hanya mampu diartikan oleh mereka berdua.
__ADS_1
Pembicaraan rahasia ketiga orang itu terus berlanjut.
Sementara di rumah, Naya sudah uring-uringan menunggu sang suami yang menghilang di pagi hari. Gadis itu membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Bahkan Zian tidak menjawab panggilan dan pesan yang dikirim Naya.
"Ini kan hari minggu. Dia kemana? Bukankah dia seharusnya tidak bekerja hari ini... Dia kan sudah janji padaku bahwa akhir pekan dia hanya milikku." Naya bergumam-gumam kesal.
Sesaat kemudian, dia bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar hendak menuju sebuah ruangan tempatnya melukis.
Saat melewati sebuah ruangan, Naya menghentikan langkahnya.
"Ini ruangan apa, ya..." gumamnya saat berada di depan pintu sebuah ruangan.
ucapan Zian beberapa tahun lalu saat pertama kali Naya datang ke rumah itu kembali terngiang di benaknya.
"Di rumah ini ada satu ruangan yang tidak boleh kau sentuh, kau masuki dan kau lihat. Jadi pintu ruangan itu akan selalu terkunci."
"Memang ada apa di ruangan itu. Kenapa aku tidak boleh masuk kesana?" Naya mendekat ke pintu dan memegang gagang pintu itu. "sekarang kan Zianku sudah mencintaiku, jadi aku sudah boleh kan, melihat ruangan rahasianya ini. Aku sangat penasaran apa isi ruangan rahasianya ini."
Naya memutar gagang pintu itu pelan-pelan. Dan, pintu ruangan itu terbuka. Sepertinya Zian telah lupa menguncinya kembali setelah memasuki ruangan itu.
Naya pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan gelap itu. Tangannya meraba dinding untuk menyalakan lampu. Dan ketika lampu di ruangan itu menyala, mata Naya membulat sempurna.
Gadis itu begitu terkejut melihat isi ruangan itu. Ponsel yang ada di genggamannya terjatuh begitu saja.
"Apa ini? Ke-kenapa ruangan ini penuh benda seperti ini?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Betapa tidak, ruangan itu penuh dengan senjata api dengan berbagai jenis, yang menggantung di dinding dan jumlahnya tidak terhitung. Sebagian lagi berada di dalam kotak kayu.
Tubuh Naya pun kembali gemetaran. Walaupun dia tahu, suaminya adalah seorang bekas mafia, namun tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa sang suami memiliki sebuah ruangan rahasia seperti ini.
"Apa jangan-jangan Zianku dulu adalah seorang pembunuh berdarah dingin?Kenapa aku jadi takut begini?"
Naya masih mematung di dalam ruangan itu ketika Zian baru saja datang. Saking terkejutnya, Naya sampai tidak mendengar Zian yang sudah beberapa kali memanggil namanya.
"Sayang!" panggil Zian yang belum menyadari dimana Naya berada. Dia mencari ke dalam kamar dan tidak menemukan sang istri.
"Mungkin dia sedang melukis." gumam Zian.
Saat akan menuju ruangan tempat Naya melukis, Zian pun terkejut saat melihat pintu ruangan tempatnya menyimpan semua senjata apinya terbuka.
Buru-buru, laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat Naya mematung di dalam sana dengan sebuah ponsel yang berserakan di lantai.
Kenapa aku bisa lupa mengunci pintu ruangan ini.... batin Zian.
****
BERSAMBUNG
terima kasih yang sudah tetap setia menunggu tulisan amburadul dari penulis amatiran ini.
Maaf akhir-akhir ini author lama up. Kerjaan di dunia nyata sedang menumpuk.
hehe
Jangan ngambekk yaaa....
Terima kasih yang sudah meninggalkan like komen dan vote.
__ADS_1
Luv u all tanpa terkecuali.
Salam hangat dari Kota Daeng!