
"Duduklah," ucap Dokter Fahri seraya menunjuk kursi di depannya.
Dokter itu kemudian menginstruksikan pada asistennya agar keluar dari ruangan itu. Agar dapat bicara berdua dengan adiknya yang sangat sulit ditemui sejak satu tahun belakangan ini.
"Kak, aku mau menanyakan sesuatu padamu," ujar Zian dengan terburu-buru begitu mereka hanya tinggal berdua di dalam ruangan itu.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi sebelumnya, aku mau mengatakan sesuatu dulu."
"Ada apa?" tanya Zian penasaran.
Dokter Fahri kemudian menatap tajam pada Zian seraya mengepalkan tangannya di bawah meja. Jika kecurigaannya benar bahwa Zian adiknya adalah Zian yang dimaksud Naya di dalam bukunya, entah apa yang akan dilakukannya pada adiknya itu.
"Apa kau ingat, aku pernah mengatakan aku punya seorang pasien istimewa?" tanya Dokter Fahri dengan raut wajah datar.
Zian mengerutkan alisnya, pikirannya kemudian melayang, berusaha mengingat siapa yang dimaksud kakaknya itu.
"Pasienmu yang istimewa?" Zian memutar bola matanya pertanda sedang berusaha mengingat. "Oh, aku ingat. Gadis yang selalu kau sebut sebagai peri kecilmu, kan? Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Dia sekarat," jawab Dokter Fahri singkat membuat Zian tersentak kaget, pasalnya dokter itu menjawab dengan raut wajah emosi.
"Sekarat? Maksudnya?"
Dokter Fahri menghela napasnya, menahan emosinya yang terasa menembus ubun-ubun, namun tetap menahannya-- sebab ingin membuktikan dulu kecurigaannya. "Usianya sekarang hampir 20tahun, peri kecilku itu sudah beranjak dewasa. Tapi, sayangnya takdir seakan mempermainkannya."
"Apa yang terjadi padanya?"
Aku dan Evan pasti akan menghajarmu sampai mati, jika benar kau adalah si Bajing*n yang membuat peri kecilku menderita selama satu tahun ini. batin sang dokter.
Dokter Fahri pun mulai menceritakan apa yang dialami gadis itu selama setahun belakangan ini.
"Setahun lalu, perusahaan ayahnya mengalami kebangkrutan. Dia difitnah dengan kejam oleh seseorang yang tidak dikenal, lalu dia terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang laki-laki biasa, sejak saat itu dia memutuskan untuk menghentikan pengobatannya."
"Kenapa dia menghentikannya? Bukankah kau pernah bilang, peri kecilmu itu sedang menjalani pengobatan di tahun kelima? Bukankah kau pernah kondisinya mulai membaik?" tanya Zian panjang lebar.
"Iya... Tapi dia tidak melanjutkannya lagi. Dia pikir suaminya hanya seorang laki-laki biasa, sementara pengobatannya membutuhkan banyak uang. Suaminya itu hanya sanggup memberinya sedikit uang di setiap bulannya yang hanya cukup untuk makannya sehari-hari, sehingga dia harus bekerja untuk membiayai pengobatannya sendiri."
Mendadak, Zian teringat pada Naya. Zian yang dengan sengaja memberinya sedikit uang di setiap bulannya agar Naya tidak betah dengan kehidupan sederhana mereka yang jauh dari kata mewah. Namun, perasaan aneh itu segera ditepisnya.
"Malang sekali dia, apa suaminya tidak tahu kalau dia sakit?" tanya Zian lagi, membuat Dokter Fahri semakin merasa emosi.
"Entahlah! Dia bilang padaku, tidak mau membebani suaminya dengan sakitnya. Sehingga dia memilih menyembunyikan keadaannya dari semua orang."
Zian terdiam, tiba-tiba pikirannya tertuju pada Kia.
Bagaimana kalau Kia-ku mengalami hal yang seperti itu? Bagaimana kalau dia sakit akibat perbuatanku tapi dia tidak punya cukup uang untuk berobat? Kia... Maafkan aku. batin Zian.
Zian tercengang mendengar setiap kata yang diucapkan kakaknya itu.
"Apa suaminya memperlakukannya dengan baik?" Pertanyaan Zian kali ini benar-benar memancing emosi dokter itu, namun berusaha menahan diri.
"Tidak! Dia diperlakukan dengan sangat buruk oleh suaminya. Karena pengaruh sakitnya yang membuat penglihatannya sering rabun, dia jadi sering memecahkan barang-barang di rumahnya tanpa sengaja, dan suaminya akan sangat marah jika mendapatinya. Dia akan membentaknya dengan keras."
Zian kembali teringat pada Naya yang hampir setiap hari memecahkan gelas dan piring. Dan jika laki-laki itu menemukan Naya melakukan itu, dia akan memaki-maki gadis itu dan melontarkan kata-kata kasar padanya. Namun, walau begitu Naya terus membalas ucapannya dengan senyuman.
__ADS_1
Naya, kenapa aku malah memikirkannya.
"Adik kecilku yang istimewa itu sangat malang. Sekarang dia terlihat seperti tulang yang terbungkus oleh kulit, dia sedang menunggu maut menjemputnya." Dokter Fahri menjatuhkan air matanya.
Zian kemudian mengingat Naya yang semakin hari semakin kurus dan pucat. Bahkan gadis itu tetap berusaha tersenyum walaupun Zian berbicara kasar padanya.
"Jika memang suaminya tidak mampu membiayai pengobatannya, kenapa kau tidak menyarankannya untuk mengajukan bantuan di Yayasan Kia?"
"Aku sudah menawarkan bantuan padanya, tapi dia menolaknya. Dia pernah berjanji pada suaminya, bahwa dia hanya akan hidup dari hasil jerih payah suaminya. Suaminya tidak begitu suka jika gadis itu menerima bantuan dari orang lain, dia pikir itu akan melukai harga diri suaminya."
Lagi-lagi, Zian mengingat hari dimana dirinya mengusir Naya saat istrinya itu memberinya uang hasil jual mobil-- agar dapat membuka sebuah bengkel baru di tempat lain. Bukannya berterima kasih, zian malah memaki habis gadis itu, bahkan Naya harus bersujud di kakinya memohon ampun.
"Dia sangat bodoh, menaruh kepentingan suaminya di atas segalanya. Dia bahkan mengabaikan peringatanku untuk tidak beraktivitas berlebihan."
Entah mengapa, setiap ucapan Dokter Fahri mengingatkan Zian pada Naya.
Zian sengaja membuat daftar pekerjaan yang berat untuk Naya-- dengan harapan gadis itu tidak betah dengannya dan segera pergi dari hidupnya. Akan tetapi, Naya tak sekalipun pernah mengelukannya dan melakukan semua pekerjaan itu dengan penuh semangat. Bahkan di hari pertama tinggal di rumah Zian, Naya membersihkan gudang di lantai atas yang penuh dengan barang bekas, sampai akhirnya pingsan karena kelelahan. Mata Zian mulai berkaca-kaca mengingat semua perbuatannya pada gadis yang menjadi istrinya itu.
"Di dunia ini ternyata ada istri sebaik itu. Beruntungnya laki-laki yang menjadi suaminya," lirih Zian.
"Kau benar. Laki-laki itu beruntung memiliki istri sepertinya, tapi tidak dengan peri kecilku. Karena selama satu tahun pernikahannya, suaminya tidak pernah menganggapnya ada. Suaminya tidak menyadari bertapa berharganya adikku itu."
"Kenapa ada suami sebodoh itu..." ujar Zian.
"Benar, aku juga merasa begitu. Karena kebodohannya, selama satu tahun tinggal bersama adikku tanpa tahu bahwa setiap hari istrinya sedang berjuang melawan kematian." Zian diam membisu. Tidak ada sepatah katapun yang dapat terucap dari bibirnya. "Jika saja kau yang ada di posisi suaminya, apa yang akan kau lakukan?"
Kedua bola mata Zian telah dipenuhi cairan bening.
"Aku... Akuu akan..." Zian menggantung ucapannya, tidak sanggup berkata-kata mengingat semua perlakuan buruknya pada Naya. Bayangan-bayang Naya pun bermunculan di benaknya.
Zian hanya mampu menundukkan kepalanya mendengar ucapan Fahri yang seolah menyayat hatinya. Sudah mulai menebak maksud kakaknya itu.
"Sekarang, dimana pasienmu itu, Kak?" tanya Zian tanpa berani menatap wajah kakaknya.
"Aku tidak tahu. Tapi dia bilang, hari ini dia akan meninggalkan rumah suaminya. Sebelum menikah, suaminya memberinya syarat, jika dalam satu tahun dia tidak bisa mencintai istrinya, maka dia harus angkat kaki dari rumah itu. Dan beberapa minggu lagi, kesepakatan mereka akan berakhir."
Deg
Zian membulatkan matanya, tiba-tiba tubuhnya bergetar, air matanya lolos begitu saja mengingat Naya yang semalam meminta izinnya untuk pergi. Laki-laki itu baru sadar, beberapa kali menemukan Naya mimisan, Naya setiap hari memecahkan barang, Naya yang menutupi wajah pucatnya dengan make up tebal, Naya yang setiap hari memakan makanan hambar. Zian ingat, pernah menemukan obat di lantai dan malah membuangnya ketempat sampah. Sekelumit ingatannya tentang Naya terus bermunculan.
Bagus, jangan sakit. Aku tidak mau direpotkan dengan biaya rumah sakit yang mahal kalau kau sampai sakit.
Kau tahu kan, aku melarangmu sakit, karena biaya berobat itu sangat mahal.
Kalau kau sampai sakit, aku akan menendangmu keluar dari rumah ini.
Ucapan yang pernah dilontarkan Zian pada Naya bermunculan di benaknya. Dia baru menyadari kepolosan istrinya yang benar-benar mengira Zian akan mengusirnya dari rumah itu kalau dirinya sampai berani sakit.
"Naya ..." gumam Zian seraya menjatuhkan air matanya.
"Pergi kau dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Kau tahu, aku sangat membenci wajahmu yang sok polos itu. Kau adalah gadis teregois yang ada di dunia ini!"
"Sekarang, kau boleh menjatuhkan talak padaku. Aku akan menerimanya."
__ADS_1
"Talak? Kenapa aku harus mengucapkan talak padamu? Aku tidak pernah menganggapmu istriku. Jadi aku tidak perlu mengucapkan talak padamu..."
Ingatan-ingatan Zian tentang Naya, tentang kata-kata kasar yang pernah terlontar untuk istrinya itu seakan menghantam jiwanya. Melihat reaksi Zian, Dokter Fahri semakin yakin jika Zian yang dimaksud Naya dalam buku catatannya adalah Zian adiknya.
"Kenapa? Kenapa kau menangis? Kau teringat seseorang? Atau kisah tentang adik kecilku terlalu menyayat hatimu?"
"Siapa nama pasienmu, Kak?" tanya Zian dengan nada bergetar.
"Aku tidak bisa menyebutkan nama pasienku..." ucapnya. "Setahun ini dia tinggal bersama suaminya yang setahunya hanyalah seorang montir. Apa kau tahu, nama suaminya sama dengan namamu. Aku bahkan berpikir kau adalah laki-laki bajing*n yang telah menikahinya," ujar Dokter Fahri.
"Tapi mana mungkin, suaminya hanyalah seorang montir miskin, dan kau... Kau adalah seorang Zildjian Maliq Azkara, pemilik Kia Group yang kaya raya. Bahkan dengan uangmu kau sanggup mendanai ratusan orang sakit di luar sana. Tapi siapa suami peri kecilku? Hanya seorang montir yang akan marah jika istrinya menghabiskan uang yang dia berikan!"
Bagai petir menyambar tubuhnya, Zian bergetar. Sekarang lelaki itu yakin pasien istimewa yang dimaksud Kakaknya adalah Naya.
"Kau tahu, Zian..." Suara Dokter Fahri mulai terdengar lirih, "aku memberinya sebuah buku, aku memintanya mencatat semua gejala yang dia alami dalam bukunya itu. Tapi yang dia lakukan, dia malah memenuhi buku itu dengan nama suaminya. Setiap lembar dalam catatan menuju kematiannya, dia menuliskan nama suaminya. Suami yang tidak pernah menganggapnya ada dan mengabaikannya,"
Zian terhenyak, napasnya berat. Seolah dadanya terhimpit batu besar.
Naya, apa yang sudah ku lakukan padanya... Dia sakit dan aku tidak menyadarinya, aku malah terus-terusan menyakitinya.
Sejenak, Zian melupakan nama Kia, seseorang yang membuatnya terburu-buru mendatangi rumah sakit itu.
Selama satu tahun ini, Zian begitu membentengi hatinya agar tidak jatuh cinta pada seorang Kanaya. Namun, semakin Zian menjauh, semakin erat Naya menjeratnya, sehingga yang dapat dilakukannya hanyalah menyakiti gadis polos itu. Dengan harapan tidak jatuh cinta padanya. Kini, Zian baru menyadari betapa hatinya telah direbut oleh Naya. Namun, rasa bersalahnya pada Kia terlalu besar, sehingga membutakan hatinya. Zian pun mematung, mencoba menyimpulkan setiap ucapan kakaknya itu. Air matanya semakin meluncur dengan bebasnya.
Dokter Fahri menatap Zian dengan tatapan penuh kemarahan, hingga tangannya yang terkepal di bawah meja bergetar. Sekarang sang dokter yakin, Zian yang ditulis Naya di dalam bukunya adalah Zian adiknya. Sementara Zian telah larut dalam pikirannya.
Naya... dia akan pergi hari ini. Tidak! Aku tidak boleh kehilangannya. batin Zian.
"Kak, aku harus pergi..." Zian langsung berdiri dan menyeka air matanya. Lalu secepat kilat mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Dokter Fahri. Sementara sang dokter masih terdiam didalam ruangannya menahan emosi.
Zian buru-buru melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, berharap Naya belum pergi. Berkendara bagai kesetanan, tidak peduli lagi dengan pengendara lain. Yang penting adalah cepat sampai di rumah dan memohon ampunan pada Naya.
Berselang dua puluh menit, Zian tiba di rumah. Langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah. Namun, saat memasuki rumah itu, suasana sangat sepi, tidak ada sambutan dari seorang Naya yang selama ini dia dapatkan saat pulang, walaupun Zian terus mengabaikannya.
"Naya..." panggilnya. Matanya berkeliling ke setiap sudut rumah itu mencari.
Zian beranjak menuju dapur tempat Naya biasa berada, namun, Naya tidak ada di sana. Dengan kaki gemetar, Zian menuju lantai atas, dimana kamar sang istri berada.
"Naya," panggilnya lagi.
Lelaki itu mengetuk pintu kamar, berharap Naya membuka pintu. Namun, setelah beberapa kali mengetuk, Naya tak juga muncul. Akhirnya Zian memasuki kamar sempit itu dan tak menemukan sang istri di sana. Setitik air matanya terjatuh lagi, menatap kamar yang telah kosong itu.
Dengan tangan gemetar dan perasaan tak menentu, Zian membuka lemari pakaian Naya. Berharap masih menemukan pakaian sang istri di dalam sana, Naya hanya keluar sebentar dan akan kembali. Akan tetapi lemari itu telah kosong, tak ada selembar pun pakaian milik Naya di sana.
Zian menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Duduk bersimpuh dengan berderai air mata.
"Naya... Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku."
Menyesal! itulah yang dirasakan Zian. Baru menyadari semua perasaannya pada Naya. Betapa selama ini dirinya berusaha membohongi hatinya. Naya telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Namun, keegoisannya membuat dirinya menutupi perasaannya dengan perlakuan buruk.
Zian kemudian melihat beberapa botol obat di dalam tempat sampah yang belum sempat dibuang oleh Naya. Laki-laki itu mengambil botol obat yang kosong itu dan meneliti satu-persatu. Air mata pun tak terbendung lagi.
apa yang telah aku lakukan pada istriku? Aku sudah menyakitinya dengan sangat dalam. Aku membuangnya ke dalam kamar sempit dan pengap sementara aku tidur di kamar yang nyaman. Aku setiap hari bersikap kasar padanya tapi tidak sedikitpun dia mengeluh. Dia menghujaniku dengan cintanya, tapi apa yang dia dapatkan dariku... Hanya makian dan teriakan. Semua yang aku lakukan padanya dibalas dengan senyuman. Naya... Bagaimana aku bisa memaafkan diriku...
__ADS_1
***