Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Hukuman dari Takdir


__ADS_3

Pagi harinya Dimas dan Anita datang memenuhi panggilan Zian ke rumah sakit tempat Naya dirawat. Mereka berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit itu, menuju ruangan dimana sang bos berada.


Zian masih tetap setia duduk di samping Naya, tanpa bosan memandangi wajahnya. Melalui empat tahun pencarian bukan sesuatu yang mudah baginya. Dan sekarang harus dihadapkan dengan situasi yang memilukan. Dimana selama setahun belakangan, dia telah hidup bersama gadis yang menjadi cinta pertamanya itu, namun terus mengabaikannya.


Zian mengusap puncak kepala Naya kemudian mengecup keningnya.


****


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan lelaki itu. Zian langsung keluar dari ruangan itu menemui dua asistennya yang baru saja datang.


"Dimana dia?" tanya Zian membuat alis Dimas mengerut, belum mengerti sepenuhnya apa yang sedang ditanyakan oleh bosnya itu.


"Di tempat biasa," jawab Anita santai.


Wanita itu sudah mengetahui maksud pertanyaan sang bos walaupun terdengar ambigu. Dimas kembali mengerutkan alisnya mendengar ucapan Anita.


Zian kemudian masuk kembali ke dalam ruangan itu, lalu menghampiri Naya.


"Sayang, aku akan keluar sebentar, ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Setelah itu aku akan kembali padamu," bisik Zian lalu mengecup kening sang istri.


Zian kemudian beranjak ke kamar mandi membasuh wajahnya dengan air, lalu menyambar jaket yang menggantung di sudut kamar. Sementara Anita dan Dimas tetap setia menunggu di depan pintu.


"Hey, Anita... Apa kau ini cenayang? Kau tahu apapun yang dikatakan bos walaupun dia bertanya tidak jelas," ujar Dimas seraya menyenggol lengan kanan Anita.


"Bicara begitu lagi akan ku..." Anita menggantung ucapannya karena sudah dipotong duluan oleh Dimas.


"Baiklah... baiklah... Aku tidak akan bicara. Jangan keluarkan senjatamu!" ucap Dimas seraya mengangkat kedua tangannya. Laki-laki itu sering membuat Anita kesal dengan ucapannya yang kadang seperti anak kecil.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa terjebak dengan wanita mafia mengerikan ini. Apalagi aku harus satu tim dengannya. Ibu... lindungi aku dengan do'amu. batin Dimas.


Tidak lama, Zian muncul dari balik pintu dan langsung menghampiri dua orang kepercayaannya itu.


"Ayo kita pergi!" ajak Zian yang sudah berjalan lebih dulu. Anita dan Dimas pun mengekor di belakangnya. Baru beberapa langkah, tiga orang pria bertubuh besar langsung berdiri di depan ruang dimana Naya berada. Dimas berbalik ketika melihat orang-orang itu.


"Bos, kenapa ada tiga orang di depan kamar Naya? Siapa mereka?" tanya Dimas penasaran. Namun pertanyaan itu tidak dijawab oleh Zian.


Anita melirik Dimas dengan kesal, "Kau tidak lihat seragam mereka? Kita tidak mungkin meninggalkan Naya sendirian tanpa penjagaan!" seru Anita.


Jadi orang-orang tadi adalah suruhan Anita, ya... Seram juga. Batin Dimas.


Saat tiba di parkiran, mereka langsung naik ke sebuah mobil yang terparkir. "Kita langsung ke sana?" tanya Anita yang duduk di kursi kemudi.


"Iya, aku ingin cepat menyelesaikannya," jawab Zian.


Anita pun melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi seperti biasanya. Dimas selalu ketakutan setiap kali anita yang menyetir. Timbul pertanyaan dalam benaknya, mengapa Zian bisa punya seorang asisten wanita yang mengerikan seperti Anita. Ada kisah apa dibalik hubungan Zian dan Anita.


***

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah bangunan megah dengan gerbang besar. Gerbang itu langsung terbuka ketika Anita menekan sebuah remote kecil yang ada di tangannya.


Bukankah aku dan Anita semalam menyekap Marvin di sini? Mau apa bos menemuinya? batin Dimas.


Zian, Anita dan Dimas langsung turun dari mobil, lalu dengan cepat berjalan ke sebuah ruangan. Disanalah Marvin sedang duduk terikat di sebuah kursi, dan baru tersadar ketika Zian masuk ke ruangan itu.


"Dimas, buka ikatannya!" perintah Zian dengan wajah datar. Dimas langsung mendekat dan melepas ikatan Marvin. Zian sudah mengepalkan tangannya, sudah tidak sabar ingin menghajar Marvin yang sudah begitu tega menganiaya Naya yang sedang sakit.


"Bangunlah! Ayo, kita buat perhitungan," ujar Zian membuat Marvin berdiri dari duduknya, menatap geram pada Zian.


"Kalian keluarlah!" titah Zian pada Dimas dan Anita.


Tanpa banyak bertanya, mereka keluar dari ruangan itu dan menunggu di depan pintu. Dimas dipenuhi pertanyaan dalam benaknya, tentang apa yang mau dilakukan Zian di dalam sana, sehingga meminta ditinggal berdua dengan Marvin. Sementara Anita terlihat biasa-biasa saja.


"Anita, bos mau apa di dalam? Kenapa dia minta kita meninggalkannya?" tanya Dimas.


"Kau akan tahu nanti," jawab Anita singkat seperti biasanya.


Dimas yang penasaran itu mencoba menempelkan telinganya di pintu agar bisa mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Dia terus menggeser telinganya seraya mencoba menajamkan pendengarannya, namun tidak ada suara apapun dari dalam sana.


"Duduklah dengan tenang! Ruangan itu kedap suara. Kau tidak akan mendengar apapun!"


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi." Dimas mencoba protes, namun nyalinya langsung menciut melihat ekpresi wajah Anita yang tidak bersahabat.


Setengah jam kemudian, Zian keluar dari ruangan itu dengan santainya. "Suruh anak buahmu mengurusnya. Bila diperlukan bawa dia kerumah sakit," ucap Zian yang kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.


Dimas yang penasaran langsung mengintip dari balik pintu. Matanya terbelalak melihat Marvin yang sudah tergolek di lantai dengan beberapa memar di wajahnya.


"Anita, sepertinya sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi."


Anita tidak menggubris ucapan Dimas, hanya memberi kode pada beberapa anak buahnya utuk membereskan Marvin dan membawanya ke rumah sakit.


Setelah urusan itu beres, Dimas dan Anita meninggalkan tempat itu, sementara Zian sudah lebih dulu pergi.


***


Mobil yang di kendarai Zian berhenti di depan rumah sederhana yang dia tempati bersama Naya selama satu tahun ini. Dia masuk ke rumah itu dan langsung menuju ruangan yang berisi lukisan dirinya.


Zian mengambil buku catatan Naya yang baru dibaca setengahnya dari dalam laci sebuah meja. Lalu setelah itu dia berganti pakaian dan kembali menuju rumah sakit.


Dengan memegang buku catatan Naya, Zian berjalan memasuki area rumah sakit. Dia segera menuju ruang ICU tempat dimana Naya berada.


Zian kembali memakai pakaian steril untuk masuk ke ruangan itu, lalu mendekat pada Naya dan mengecup keningnya. Dia kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah pembaringan itu. Pria itupun kembali membuka halaman yang belum sempat dia baca. Air matanya kembali berderai membaca kata demi kata yang tertera dalam buku itu.


Hingga dia menemukan sebuah catatan yang membuat hatinya bagai disayat.


Rambutku mulai rontok


Seiring dengan tumbangnya seluruh harapanku

__ADS_1


Saat dimana keyakinanku seakan ikut tercabut dari hatiku


Zianku...


Aku takut,


aku butuh bahumu untuk bersandar


Aku ingin berteriak


dan mengusir semua ketakutanku


Tapi lihatlah...


Aku sekarat dan terdampar dalam kegelapan ini


Sendiri menunggu kematianku


Zianku...


bolehkah aku marah pada takdirku?


Takdir yang mempertemukanku dengan seorang laki-laki jahat yang membuatku kehilangan segala keberuntunganku


Dia, yang telah membuat hatiku menjadi rapuh


Dia yang merenggut kehidupanku


dan meninggalkanku begitu saja di tengah kesakitanku


Dia yang membuat hidupku seolah dikejar kematian


Lalu...


Dosakah jika aku membencinya dengan segenap hatiku?


Dosakah jika aku tidak bisa memafkannya...


Dosakah jika aku berharap Tuhan menghukumnya...


Karena dialah,


aku mengubur seluruh mimpiku.


Seluruh harapan dan ambisiku.


Siapapun laki-laki itu, aku hanya bisa berharap agar Tuhan menghukumnya.


"Akulah laki-laki itu, Naya... Dan sekarang Takdir sedang menghukumku..." gumam Zian dengan deraian air matanya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2