
Di kantor pusat Kia Group.
Zian, Anita dan Dimas menyaksikan berita di tv yang memuat konferensi pers pagi tadi. Hampir semua stasiun tv memuat berita itu. Bahkan, nama Naya kembali jadi trending topic dimana-mana.
"Sekarang masalahnya sudah beres," ucap Dimas sesaat setelah mematikan tv itu.
"Tentu saja belum." Zian segera menyela ucapan Dimas. "aku belum punya cara membujuk Naya agar mau membatalkan keinginannya kembali ke rumah lama."
"Jadi dia benar-benar mau tinggal di rumah lama kalian?" tanya Anita dan dijawab anggukan oleh Zian. Dia benar-benar merasa tidak bisa membawa sang istri ke rumah lamanya yang sederhana itu. Tempatnya menyiksa Naya selama satu tahun.
Anita menuang air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada sang bos, lalu menyodorkan obatnya. Zian meraihnya dengan wajah malas.
"Dia bilang, di rumah yang sekarang bosan. Katanya aku merantainya. Jadi dia tidak bebas melakukan apapun." Zian menghela napas, "Aku benar-benar kehabisan akal menghadapinya. Bahkan aku harus menghindarinya dengan pergi ke kantor di akhir pekan."
"Turuti saja, Bos. Anggap saja kau sedang membayar kesalahanmu di masa lalu." imbuh Dimas dengan maksud meledek, kemudian terkekeh pelan.
"TUTUP MULUTMU!" bentak Anita. Wanita itu tidak pernah terima jika siapapun menyinggung tuannya itu.
"Kau lebih galak dari anjiing herder tetanggaku!" ucap Dimas kesal.
"Jadi kau membandingkan aku dengan hewan itu, kau mau aku menjadikan namamu tinggal kenangan?" kata Anita mengancam.
Dimas mendengus kesal, jika Anita sudah mengancam, siapapun tidak berani menjawab.
Zian kemudian teringat sesuatu yang beberapa hari lalu dia minta pada Anita dan Dimas. "Kalian sudah siapkan yang aku minta, kan?"
"Yang mana? Kau kan sangat banyak meminta," kata Anita.
"Kejutan untuk Naya."
"Oh, sudah beres. Semuanya sudah aku urus. Kau tinggal bilang kapan mau berangkat."
"Baguslah..." ucap Zian, kemudian menyandarkan kepalanya di kursi, memikirkan kejutan indah yang akan dipersembahkan-nya untuk sang istri.
"Jadi kita mau apa di sini?" tanya Dimas yang merasa dirinya ikut terjebak permainan bodoh bosnya.
"Entahlah. Terserah bos..." jawab Anita, dengan lirikan matanya yang mengarah pada Zian.
"Terserah kalian mau melakukan apa di sini. Yang jelas kalian berdua akan menemaniku di sini sampai malam." ucap Zian santai, namun bermakna menekan.
Mereka bertiga pun akhirnya seperti orang kurang kerjaan yang masuk kantor hanya bertiga di akhir pekan, menghabiskan waktu hingga malam dengan bermain kartu.
Sementara di rumah, Naya sudah uring-uringan menunggu sang suami yang tak kunjung memunculkan dirinya.
"Padahal ini akhir pekan. Memang setelah konferensi pers tadi dia mau kemana? Kan semua orang sedang libur." gumam Naya kesal.
Naya mondar-mandir di ruang tamu menunggu Zian. Hingga menjelang malam, Zian tak kunjung pulang. Naya melirik kopernya yang berada di samping sofa. Gadis itu sudah mempersiapkan kepulangannya ke rumah lamanya, dengan mengemasi beberapa pakaiannya.
__ADS_1
Dia membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu, sambil memainkan ponselnya. Sudah puluhan pesan dikirim ke nomor sang suami, namun Zian tak juga membalas pesan-pesan itu. Kekesalan pun semakin merajai hati gadis yang mendadak pemarah itu.
****
Malam tiba...
Zian baru saja sampai di rumah setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di kantor bersama Anita dan Dimas dengan bermain kartu. Saat melangkahkan kakinya masuk ke kamar, Naya berlari ke arahnya dan langsung memeluknya, membuat laki-laki itu gelagapan.
"Hehe, Sayang... Ada apa denganmu?" tanya Zian dengan alis mengkerut. "Tidak biasanya." ucapnya sambil mengendurkan dasi yang melilit leher kemejanya.
Naya mendaratkan ciuman di pipi setelah melepaskan pelukannya, lalu berbisik, "Ini akhir pekan. Mana janjimu?"
"Janji?" Zian pura-pura tak mengerti maksud sang istri dengan menunjukkan wajah super bodohnya.
"Iya, kau janji kan, mau membawaku pulang ke rumah lama di akhir pekan. Aku mau ke sana." Naya bergelayut manja di lengan suaminya itu, menyandarkan kepalanya di bahu sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Zian menerbitkan senyum terpaksa, susah payah menelan salivanya. "Minggu depan saja, ya... jangan sekarang. Aku benar-benar lelah."
DUAARRRR
Bagai petir menyambar, rencana akhir pekan indah yang telah disusun dengan indah oleh gadis itu seketika hancur berkeping-keping.
Naya merengut setelah mendengar jawaban suaminya itu. Gadis itu pun merasa dibohongi oleh Zian.
Kau membohongiku lagi. Dalam batin Naya.
Matanya telah berkaca-kaca, namun Zian tetap pura-pura bodoh. Dengan santainya Zian melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Naya yang kesal menarik dasi yang baru saja dilonggarkan itu, sehingga Zian terkejut karena merasa tercekik oleh dasinya.
"KAU PEMBOHONG!" teriak Naya.
Tanpa permisi, Naya meninggalkan suaminya itu, menaiki tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Zian mengusap dadanya pelan, dengan matanya yang mengikuti dimana sang istri sedang meringkuk.
Tidak ingin menambah masalah, Zian pun berpura-pura menjadi makhluk paling polos sejagat raya. Laki-laki itu segera melepas jas yang melekat di tubuhnya, masuk ke kamar mandi. Sementara itu, di bawah selimut tebal, Naya tak henti-hentinya mengumpati sang suami dalam hati.
***
Berselang beberapa menit, Zian keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang. Dia melirik Naya yang masih tertutupi selimut. Sekilas, Zian kembali mengusap dadanya pelan, lalu menghela napas.
Ya ampun, lebih mudah menghadapi seratus orang mafia daripada Menghadapi kemarahan istri. Rasanya aku seperti berada di dalam kandang beruang. batin Zian.
Setelah memakai piyamanya, Zian naik ke tempat tidur dan berbaring di sana dengan posisi membelakang. Dan, setelah beberapa menit terlibat drama saling diam-diaman, laki-laki itu pun menyerah. Dia mendekat, lalu melingkarkan tangannya di atas selimut itu.
"Sayaaang..." bisiknya dengan mesra. Namun, sosok yang berada di bawah selimut itu tetap diam tak bergerak. Zian mengusap-usap selimut itu pelan. "Maafkan aku..."
Tangannya yang nakal terus mengusap selimut itu, berharap menyentuh setiap bagian tubuh sang istri walaupun terhalangi selimut tebal. Tidak lama, Zian merasakan sesuatu yang aneh.
Tunggu! Kenapa Nayaku jadi empuk begini? Apa karena tubuhnya tidak sekurus dulu?
__ADS_1
Zian melingkarkan tangan kekarnya pada onggokan selimut tebal itu dengan erat. Lalu mendaratkan kecupan di atasnya beberapa kali, layaknya sedang mencium sang istri. Semakin lama, semakin dia merasa ada yang aneh dengan tubuh Naya.
Zian yang penasaran lalu membuka selimut itu. Matanya seketika membulat sempurna ketika melihat apa yang ada balik selimut.
"Tumpukan bantal?" gumam Zian dibarengi kerutan di alisnya, ketika menemukan hanya tumpukan bantal yang berada di bawah selimut itu. "Kemana Nayaku?"
Laki-laki itu segera baangkit dari posisi berbaringnya, lalu keluar dari kamar mencari sang istri.
"Naya..." panggil Zian ketika menuruni tangga. Dia beberapa kali memanggil nama itu, namun tak kunjung mendapat sahutan. Hingga tiba di dapur, terlihat seorang pelayan sedang membersihkan peralatan makan.
"Dimana istriku?" tanya Zian pada pelayan itu.
"Saya belum melihatnya sejak naik ke atas, Tuan. Apa nona tidak ada di kamar?"
"Tidak! Makanya aku mencarinya," jawab Zian.
Tidak lama, seorang pria petugas keamanan yang berjaga di rumah itu datang dengan wajah paniknya. "Tuan, Nona Naya... Dia..."
Laki-laki bertubuh tambun itu seperti takut berbicara, membuat Zian begitu kesal karenanya.
"Dimana dia?" tanya Zian dengan segera. "cepat bicara!" bentaknya kemudian.
"No-Nona Naya pergi membawa mobil sendiri, Tuan..." kata petugas keamanan itu.
"APA?" Teriak Zian terkejut. "Kenapa kau biarkan, Bodoh?! Ini sudah malam, dia mau kemana?!"
Pria itu menunduk ketakutan mendengar nada bicara tuannya yang sudah mulai panik bukan kepalang. "Apa dia bilang mau kemana?" tanya Zian lagi.
"Tidak, Tuan..." jawabnya takut-takut. "Nona memaksa mau pergi. Bahkan Nona sempat menabrak pagar."
Mendengar jawaban laki-laki itu, Zian semakin merasa khawatir.
"Dasar tidak berguna! Minggir!" Zian segera beranjak menuju kamar, mencari kunci mobilnya yang tadi diletakkan di atas meja nakas di kamar, namun saat tiba di kamar, kunci tersebut sudah raib.
"Naya...." gumam Zian kesal bercampur khawatir. "Jadi dia pergi dengan mobilku?"
Laki-laki itu pun segera mengganti pakaiannya, lalu tergesa-gesa menuju halaman rumahnya, setelah mengambil kunci mobil milik Naya dari dalam laci.
Dengan cepat, Zian melajukan mobil berwarna merah itu keluar dari halaman rumahnya yang luas.
"Kau mau kemana malam-malam begini, Naya?"
Zian memutar bola matanya kesana kemari mencari mobil yang digunakan Naya untuk kabur dari rumah itu. Namun, setelah sekian menit yang bagi Zian terasa seribu tahun itu berlalu, tak juga terlihat tanda-tanda keberadaan Naya
"Aku bisa gila kalau begini?" ucap Zian frustrasi.
__ADS_1
***
Bersambung 😂