
"Jelaskan padaku proses terjadinya kehamilan!" Pertanyaan bernada perintah itu membuat Fahri dan Evan reflek saling tatap satu sama lain. Sebuah pertanyaan yang akan butuh kesabaran untuk menjawabnya.
"Jadi kau menculik kami hanya untuk menanyakan itu?" tanya Evan kesal.
"Hehehe... Kalau bukan pada kalian, lalu aku harus bertanya pada siapa?" Zian menyahut tanpa mempedulikan ekspresi wajah saudara-saudaranya.
Evan memberi kode kepada kakak sulungnya agar segera menjawab pertanyaan .
"Yang kau lakukan setiap malam dengan Naya itu merupakan proses terjadinya kehamilan." jawab Fahri seraya mengurut pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. Sedangkan Evan menaikkan alisnya mendengar jawaban Fahri.
"Aku juga tahu kalau kegiatan itu bisa menyebabkan kehamilan. Aku kan tidak sebodoh itu."
"Memang jawabanku salah, tidak, kan?" sahut Fahri menyilangkan tangan di dadanya.
"Jelaskan menurut ilmu kedokteran. Kalian ini kan dari dunia kedokteran."
"Dan kau berasal dari dunia lain, begitu kan maksudmu. Penjelasannya kan sama saja. Baik dari dunia kedokteran atau dari duniamu."
"Tapi bukan penjelasan seperti itu yang aku minta!" pekik Zian tak terima.
Fahri menghela napas panjang, lalu melirik adik bungsunya. "Evan, ini tugasmu untuk menjelaskannya. Beritahu pada Tuan Zildjian Maliq Azkara ini, bagaimana proses kehamilan itu bisa terjadi."
"Kenapa aku?" tanya Evan mengerutkan dahi.
"Kau kan calon dokter kandungan. Kau yang paling tahu tentang kehamilan," balas Fahri.
Mendengar ucapan Fahri, Zian lantas menatap Evan dari ujung kaki ke ujung kepala, layaknya sedang meneliti curiga.
"Walaupun kau yang paling tahu tentang kehamilan, tapi kau... belum pernah menghamili anak orang kan?" ucap Zian santai membuat Evan terlonjak.
Kekesalan pun terlukis di wajahnya, namun Evan hanya dapat mengusap dada. Berharap hatinya cukup sabar menghadapi kakaknya. Evan kemudian menyandarkan punggungnya di sofa. Memberi Zian penjelasan merupakan tugas yang lebih berat dibandingkan tugas dari dosen.
"Proses terjadinya kehamilan di mulai dari pembuahan!"
"Pembuahan?" Alis Zian saling bertaut. Bingung. Tentu saja yang ada di pikiran polosnya adalah buah yang sebenarnya. "Kau minta dicekik, ya? Kemarin kau menggunakan istilah bisa ular kobra yang tumbuh menjadi seekor kecebong. Lalu sekarang kau gunakan istilah buah-buahan. Apa lagi itu?"
Evan menghela nafas frustrasi, sedangkan Fahri menutupi seringainya dengan jari.
"Bukan buah yang sebenarnya, Kak!" gerutu Evan gemas.
"Lalu buah apa lagi yang kau bicarakan ini? Aku hanya tahu dua jenis buah di dunia ini yang bukan berasal dari pohon."
"Cukup!" Fahri buru-buru memotong. "Simpan saja di benakmu! Jangan kau sebutkan! Itu menodai pikiran suci adikmu." Fahri menyela karena tahu buah apa yang dimaksud Zian.
Evan menatap bingung dua kakaknya secara bergantian. "Memang buah apa yang dimaksud Kak Zian?" bisik Evan di telinga Fahri.
"Kau tidak perlu tahu tentang buah-buahannya Zian! Jelaskan saja tentang buah-buahanmu pada kakakmu itu."
__ADS_1
Seraya menarik napas dalam-dalam, Evan pun mulai menjelaskan kepada Zian tentang proses pembuahan.
"Dengarkan aku, Kak!" ucap Evan menekan. "Pembuahan harus terjadi dalam 24 jam setelah sel telur dihasilkan. Setelah satu dari sel sper*ma berhasil menembus sel telur, maka sel telur akan berubah bentuk dan membentuk lapisan sehingga sel sper*ma lain tidak bisa menembus masuk. Inilah yang disebut dengan proses pembuahan dan berlanjut menjadi proses kehamilan. Kau mengerti kan, Kak?"
Meskipun menyimak dengan serius penjelasan Evan, nyatanya penjelasan itu malah menimbulkan pertanyaan lain.
"Telur?" tanya Zian.
Evan lalu melirik Fahri seakan tak tahan lagi. "Aku tidak sanggup, Kak!"
"LAN-JUT-KAN!" ujar Fahri.
Semakin kesal, Evan menikam Zian dengan tatapan tajam hingga terbesit sebuah ide jahat di otaknya. Mungkin ini akan membuat Zian gila.
"Aku akan menjelaskannya dengan bahasa yang mudah kau mengerti." Evan seraya menepuk pundak Zian.
"Baiklah, jangan memberiku penjelasan yang hanya kau dan Kak Fahri yang mengerti."
"Bukan spe*rma paling cepat datang yang dapat membuahi sel telur. Mereka akan mati oleh kuman yang ada di dalam sana. Sperm* yang datang agak terlambat dan menjadikan mayat sperm* lain sebagai alas untuk melindungi dirinyalah yang akan berhasil membuahi sel telur. Jadi, kesimpulannya kita ini adalah sperm* brengsek yang berjalan di atas mayat saudara-saudara kita. Apa kau sudah bisa mencerna penjelasanku, Kak?"
"Maksudmu, kita berjalan di atas mayat saudara kita itu apa?"
"Kurang lebih, seorang pria melepaskan tiga ratus juta sel sperm*, dan hanya satu yang berhasil. Salah satu yang berhasil itu contohnya adalah dirimu. Kau berhasil mengalahkan 299 juta saudaramu dengan berjalan di atas mayat mereka untuk melindungi dirimu."
Zian sampai terlonjak mendengarkan penjelasan Evan. Otaknya susah payah mencerna kata demi kata.
"Bukan hanya kau, tapi Kak Fahri dan aku sendiri." Evan menunjuk satu persatu kakaknya. "kita bertiga hanyalah sekumpulan badjingan yang memanfaatkan saudaranya sendiri demi bisa hidup seperti sekarang. Jadi, kita sudah brengs*k sejak masih dalam bentuk spe*rma."
"Kenapa aku merasa sedih mendengarnya?"
"Kau tidak perlu merasa sedih, Kak. Dari situ, kau bisa mengambil pelajaran bahwa terlambat adalah emas."
Fahri yang mendengar penjelasan konyol dari Evan hanya mampu mengatupkan bibir. Jika tidak kasihan dengan Zian, mungkin ia akan terpingkal dibuatnya.
"Masuk akal," ucap Zian sambil dengan kepala mengangguk tanda mengerti. Setidaknya, penjelasan Evan kali ini mampu ditangkap olehnya.
Evan kemudian melirik Fahri sambil memberi kode agar jangan menyahut.
"Lalu apa yang membuat Naya terus muntah-muntah di pagi hari. Sandra sudah memberinya obat, tapi tetap saja tidak dapat menghilangkan mualnya."
"Ibu hamil mengalami mual di pagi hari karena terjadi lonjakan hormon yang tinggi di dalam tubuhnya. Itu normal, Kak. Jangan khawatir. Akan hilang sendiri setelah tiga bulan."
"Apa kau tidak punya obat untuk menjinakkan hormon itu?"
"Kau pikir hormon itu binatang buas yang harus dijinakkan? Aku kan sudah bilang itu normal. Nanti juga akan hilang sendiri." Evan sudah sangat gemas dengan Zian yang terus bertanya.
"Tapi wajah Naya jadi pucat setelah muntah. Aku tidak tega melihatnya dalam kondisi seperti itu."
__ADS_1
"Itukan hasil perbuatanmu sendiri! Salahkan bisa ular kobramu yang membuat Naya seperti itu, jangan malah menyalahkan Kak Sandra."
"Ya sudah, beri aku solusi untuk masalah ini. Aku tidak bisa melihat Naya tersiksa setiap pagi."
"Sebenarnya, ada salah satu cara untuk menghilangkan mual, misalnya makan yang asam-asam," ujar Evan membuat Fahri tersentak.
"Tidak! Naya tidak boleh makan yang asam-asam. Kau tahu kan. Makanan yang dimakan Naya masih harus berada dibawah pengawasan ahli gizi. Bahkan, Naya tidak boleh minum sembarang obat."
"Jadi apa solusinya?" tanya Zian frustrasi.
"Tenang saja. Itu biasa dialami wanita hamil. Elma juga mengalaminya." Ucapan Fahri akhirnya membuat Zian sedikit bernapas lega.
"Baiklah, kalau sudah beres aku mau pergi." Evan berdiri dari duduknya, lalu menyambar kunci mobil milik Zian yang berada di atas meja.
"Mau apa kau mengambil kunci mobilku?"
"Lalu kalau tidak dengan mobilmu, kami pulang naik apa?"
Fahri kemudian menepuk pundak Zian, lalu ikut berdiri dari duduknya. "Jangan khawatir. Mual itu gejala normal bagi wanita hamil."
Tanpa mendapat izin dari sang bos besar, Evan dan Fahri melenggang keluar dari ruangan Zian menuju basemen gedung itu.
Di dalam mobil, Fahri tertawa terbahak-bahak mengingat penjelasan Evan yang baginya sangat lucu.
"Darimana kau dapat ide memberi penjelasan seperti itu pada Zian? Kau lihat tadi wajahnya. Hahahah..."
"Aku dapat kutipan itu dari facebook. Kak Zian tidak akan mengerti kalau kita menggunakan istilah medis. Jadi biar saja aku jelaskan dengan cara pembantaian. Dasar mafia."
Dua kakak beradik itu kembali terbahak.
"Dia sangat keterlaluan! Menculik kita hanya untuk menanyakan proses terjadinya kehamilan. Apa ada manusia seperti itu di bumi ini?"
"Ada. Dan sayangnya, itu kakakmu sendiri," ujar Fahri lalu kembali tertawa.
Alis Evan saling bertaut, masih ada pertanyaan di benaknya yang belum terjawab. "Oh ya ... tadi Kak Zian bilang dia hanya tahu dua jenis buah yang tidak berasal dari pohon. Buah apa itu?"
Kali ini, Fahri seperti terjebak dalam dilema besar. Entah harus menjawab apa. Tidak mungkin dirinya menyebutkan buah yang dimaksud Zian pada anak yang masih polos seperti Evan.
"Kau akan tahu setelah kau menikah. Jadi jangan bertanya sekarang!"
Kalian ini memang aneh. Apa hubungannya buah-buahan dengan pernikahan. batin Evan
****
SEMUA AKAN LUCU PADA WAKTUNYA!!!
Kata Epan, Zian gak akan ngerti kalau dijelasin pake istilah medis, dia baru ngerti kalau dijelasin dengan pola pembantaian.
__ADS_1