Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Perfect Honeymoon


__ADS_3

"Apa kita akan berkeliling dunia lagi seperti waktu itu?" tanya Naya.


"Tidak! Aku hanya ingin ke Turki saja. Aku mau menunjukkan pada anakku dimana kota kelahiran ayahnya," jawabnya sambil bermain dengan Deniz.


"Kita liburannya berapa hari?"


"Terserah kau saja. Aku milikmu, jadi kau yang memutuskan berapa lama kita liburan." Zian mencubit pipi gempil itu dengan gemas. "Kau suka liburan kali ini?"


"Aku sangat suka? Tapi kenapa kau harus menculik kami? Kau kan bisa mengajak baik-baik."


Zian terdiam mendengar pertanyaan itu. Jika dulu dia melakukannya karena Naya kabur dari rumah dan Fahri menghalanginya untuk menemuinya, maka kali ini penyebabnya adalah Anita dan Dimas yang memaksanya bekerja meskipun dia tidak mau.


"Itu... Itu kejutan. Ya, kejutan. Anggap saja ini bulan madu yang sempurna," jawabnya sambil tersenyum getir.


"Apa ada orang yang memberi kejutan dengan menculik?"


"Aku ini laki-laki romantis, Naya. Seharusnya kau senang memiliki suami romantis seperti aku. Aku lebih romantos dari tokoh pria di novel-novel. Iya kan, Deniz?" Zian bertanya sambil membulatkan matanya.


"Apa, Ayah?" tanya Deniz tak mengerti.


"Katakan iya saja!" ucapnya menekan.


Deniz menatap ayahnya bingung, namun bocah itu tetap berkata iya walaupun tidak mengerti sepenuhnya.


Naya menghela nafas panjang, sepertinya sangat sulit berkata tidak pada Tuan Zildjian Maliq Azkara ini. Dia memiliki cara unik untuk menunjukkan rasa cintanya, dan juga cara uniknya melindungi orang-orang di sekitarnya.


Romantis, setiap kali berada di pesawat ini aku pasti hanya menggunakan piyama. Karena kau menculikku saat aku sedang tidur. Ya, kau pasti kembali menaruh obat tidur di makananku kan? batin Naya.


Wanita itu hanya dapat garuk-garuk kepala dengan kelakuan suaminya yang aneh itu.



****


*


*


Pesawat jet pribadi berlogo Kia mendarat di bandara Internasional Turki. Karena alasan tidak ingin diganggu, Zian sampai harus membawa serta istri dan anaknya kabur ke kota kelahirannya, Istanbul, Turki.

__ADS_1


Zian menggendong anaknya turun dari pesawat itu. Si kecil Deniz yang sejak bayi diasingkan di tengah hutan belantara begitu takjub melihat pesawat dari jarak dekat. Tak henti-hentinya bocah laki-laki itu terus bertanya pada sang ayah tentang apapun yang dilihatnya.


Seorang sopir tampak sudah menunggu kedatangan Zian dan keluarga kecilnya di negara itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah tempatnya menghabiskan masa kecil, Deniz terus berceloteh, membuat Zian benar-benar merasa gemas dengan anaknya itu.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di sebuah mansion besar yang merupakan tempat Zian menghabiskan masa kecilnya. Zian pun menunjukkan seisi rumah itu pada anaknya. Dia membawa Deniz melihat kamarnya yang masih dipenuhi mainannya saat masih kecil dulu.


Laki-laki itu benar-benar memanfaatkan waktunya untuk membahagiakan dua orang tercintanya.


****


Kesesokan harinya....


Pagi-pagi Zian sudah tidak terlihat di rumah besar itu. Hanya ada beberapa pelayan dan juga sopir yang sudah disiapkan untuk mwngantar Naya dan Deniz menuju tempat mereka akan berjalan-jalan.


Beruntung, salah satu asisten rumah tangga di rumah itu ada yang bisa berbahasa Indonesia. Sehingga Naya yang tidak mengerti bahasa Turki bisa terbantu.


"Bibi, memang suamiku kemana?" tanya Naya pada seorang asisten rumah tangga itu.


"Katanya dia akan menunggu di suatu tempat. Nona akan diantar sopir ke tempat tuan menunggu. Gunakan pakaian yang hangat. Cuaca sedang dingin, Nona!"


"Dia memang sedikit aneh," gumamnya sambil memakaikan pakaian untuk Deniz.


Berselang tiga puluh menit, mereka tiba di tempat itu. Naya dan Deniz pilun terlihat antusias melihat keindahan tempat itu. Sebuah danau yang sangat indah. Mereka berkeliling mencari Zian di antara banyaknya orang lalu lalang.


"Ibu... Itu ayah...!" ucap Deniz sambil menunjuk seorang laki-laki yang dia yakini adalah ayahnya. Deniz pun berlari ke arah sang ayah dengan riang gembira.


"Ayah...!" panggil Deniz.


Zian yang sedang menikmati indahnya pemandangan danau itu langsung berbalik ketika mendengar suara anak kecil memanggilnya. Dan dengan senyum bahagia, sambil merentangkan tangannya, dia menyambut anaknya itu.



(Bekas luka lebam dari hasil ekting-ektingan konyol berantem sama Dimas di penjara masih membekas aja yaaa babang Zian wkwkwkk )


"Ayah dari mana? Tadi aku mencari Ayah di rumah, tapi tidak ada?" tanya Deniz.


Zian tertawa mendengar pertanyaan anaknya itu. Bahkan Deniz belum sempurna saat berbicara dan masih belepotan. Namun, Zian sudah dapat mencerna setiap kata yang keluar dari mulut anaknya itu.


"Ayah kan menunggu Deniz dan ibu di sini. Deniz suka tempat ini, kan?"

__ADS_1


"Suka!"


Zian kemudian memeluk Naya dan Deniz bersamaan, seraya mengucap syukur dalam hati. Kini kebahagiaannya telah lengkap bersama Kia-nya yang pernah dia cari selama lima tahun lamanya. Dan kebahagiaan itu semakin bertambah dengan hadirnya seorang anak yang begitu menggemaskan. Walaupun harus melewati berbagai ujian berat dalam hidupnya, namun Zian dan Naya tidak pernah menyerah.


Naya kemudian mengambil gambar kebersamaan Zian dan Deniz dengan kamera yang dibawanya dari rumah. Zian sedang menunjukkan pada anaknya itu tempatnya bermain saat masih kecil dulu.



***


Sepasang suami istri itu duduk di sebuah kursi kayu menikmati indahnya pemandangan di danau itu, sambil mengawasi Deniz yang sedang berlarian kesana kemari. Zian menggenggam erat tangan sang istri, lalu memberi kecupan sayang di kening.


"Sayang, terima kasih untuk cintamu yang begitu besar untukku. Aku sangat beruntung memilikimu dalam hidupku. Maafkan aku yang pernah berbuat kasar padamu di masa lalu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku untuk satu tahun yang kau jalani dengan menelan sakit hati karena perbuatanku padamu. Aku berjanji akan menebusnya dengan membahagiakanmu seumur hidupmu," ucap Zian dengan mata berkaca-kaca.


Naya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Aku tidak pernah menyesali satu tahun itu. Aku tahu, setiap kali kau berteriak padaku, kau juga merasa terluka. Aku pernah melihatmu menangis di malam hari setelah kau mengusirku malam itu. Kau membentengi hatimu karena rasa bersalahmu pada Kia yang kau tembak. Karena itulah kau berusaha menjauhkanku dari hatimu."


"Dan lihat kenyataannya, aku selalu jatuh cinta padamu walaupun kau datang padaku dalam bentuk lain. Pertama kali aku jatuh cinta pada seorang gadis kecil yang aku pikir namanya Kia, dan empat tahun kemudian, kau datang padaku sebagai Naya. Aku sempat merasa mengkhianati Kia dengan jatuh cinta pada seorang Kanaya. Tanpa aku sadari Kia adalah Kanaya Indhira Adiwinata. Maafkan ak, Nayaku!"


"Itu salahmu, karena kau tidak mengenaliku lagi setelah empat tahun," ucap Naya dengan memukul pelan dada Zian.


"Heh, siapa suruh kau datang sebagai seorang gadis yang sangat cantik. Kia-ku hanyalah seorang gadis remaja yang polos, sedangkan kau seorang gadis cantik tapi sangat pecicilan."


"Apa? Kau bilang aku pecicilan?" Naya sudah mulai menunjukkan wajah merengutnya, membuat Zian tidak tahan untuk menciumnya, namun Naya dengan reflek menghindar.


"Jangan! Ini tempat umum! Kau tidak malu mencium seorang wanita di depan umum?"


"Biasanya begitu... Tapi untuk hari ini apa peduliku. Anggap saja aku pemilik dunia, dan mereka semua hanya menyewa dariku." Zian menarik tengkuk Naya dan mendaratkan bibirnya dengan lembut. Seolah tidak mempedulikan beberapa orang yang mungkin akan melihat adegan mesra mereka.


"Terserah kau saja Zian... Hari itu dunia milikmu, yang lain hanya ngontrak!" gumam Author.


"Ayah, Ibu..." terdengar suara Deniz memanggil, menghentikan aksi sang ayah. Dengan sedikit kesal, Zian melepaskan ciumannya.


"Anakmu itu benar-benar merebutmu dariku. Kemarin dia mengganggu kegiatan pentingku dengan menangis di pesawat. Dan hari ini, dia mengganggu kita lagi,"


"Kau ini, ayah macam apa? Dengan anakmu sendiri saja cemburu! Dasar mafia!" ucap Naya dengan gemasnya.


Mereka bertiga pun akhirnya menghabiskan waktu dengan bermain di danau itu. Sungguh sebuah keluarga kecil yang sempurna.


***

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2