Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Firasat buruk


__ADS_3

Hari berganti hari tanpa terasa. Kini, lima bulan sudah Anita tinggal di rumah Zian. Sejak kedatangannya, Naya bagai mendapat angin segar. Anita menjadi sahabat terbaiknya, selain Mia. Bahkan Anita menjadi tempatnya berkeluh kesah saat lelah menghadapi Zian yang sangat berlebihan dalam menjaganya.


Pagi itu Zian masih enggan bangkit dari pembaringan. Tangannya masih sibuk mengusap perut sang istri yang kini sudah membesar. Matanya berbinar ketika merasakan gerakan bayinya dari dalam perut.


"Dia bergerak!" ucapnya antusias.


"Kau kan sudah biasa merasakan gerakannya," sahut Naya.


"Iya, tapi kan setiap hari gerakannya semakin kencang. Apa kau merasa sakit saat dia bergerak begitu?"


"Tidak..."


"Benarkah?" Zian menempelkan telinganya di permukaan kulit perut itu dan menunggu gerakan selanjutnya dari dalam sana. "Aku sudah tidak sabar menunggunya lahir."


"Aku juga..."


Sesaat kemudian, Zian kembali merasakan gerakan anaknya yang sangat aktif di dalam perut ibunya. Sejak mengetahui anaknya berjenis kelamin laki-laki, kebahagiaannya semakin lengkap. Bahkan dari jauh-jauh hari, dia sudah menyiapkan sebuah kamar untuk anaknya yang akan segera lahir.


"Dia akan merebutmu dariku! Tapi awas saja kalau dia berani, aku akan buat perhitungan dengannya."


"Kau ini ayah macam apa? Anakmu belum lahir, kau sudah mengancamnya!"


Dasar mafia! Naya membatin.


Naya mengusap rambut sang suami yang masih betah menempelkan telinganya di perutnya. Wajahnya tiba-tiba berubah sedih mengingat mimpinya semalam. Zian menyadari wajah Naya yang tiba-tiba murung.


"Ada apa? Kenapa wajahmu tiba-tiba sedih?" Zian mengubah posisinya hingga kini duduk bersandar di tempat tidur.


"Semalam aku mimpi buruk," ucap Naya dengan mata berkaca-kaca.


"Itu kan hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan. Memang kau mimpi apa?"


Dengan wajah sedih, Naya menceritakan mimpinya semalam yang membuatnya terbangun ketakutan. Mimpi tentang Zian yang pergi meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.


"Sayang, jangan berpikir begitu. Kau tidak akan pernah kehilangan diriku. Aku hanya milikmu. Selamanya."


"Kau tidak akan pergi meninggalkanku, kan! Kau akan selamanya bersamaku, kan?" ucap Naya dengan berderai air mata. Zian menghapus air mata sang istri yang membanjiri wajah tembemnya, lalu mengecup kelopak matanya bergantian, lalu memeluknya.

__ADS_1


"Memang aku mau kemana? Kau adalah rumahku. Kau adalah tempatku pulang. Kalau bukan pulang padamu, aku mau kemana?" ucapnya lalu memberi kecupan sayang di bibir.


Selama beberapa menit, Naya bersandar di dada sang suami. Tidak membiarkannya beranjak dari tempat tidur. Zian melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Sayang, aku mau mandi dulu. Aku harus cepat ke kantor."


"Baiklah, aku akan siapkan pakaianmu."


Setelah Zian mandi, Naya membantunya berpakaian seperti biasanya.


"Terima kasih," ucap Zian sesaat setelah Naya selesai memasangkan dasinya.


"Turunlah duluan. Aku mau mandi dulu."


"Baiklah..."


****


Setelah mandi, Naya merasa lebih baik, namun tidak mengurangi perasaan yang mengganjal di hatinya. Dengan langkah penuh semangat, Naya menuruni tangga tergesa-gesa, dengan perutnya yang sudah membuncit. Zian yang sudah duduk di meja makan bersama Anita bagai kebakaran jenggot melihat Naya menuruni tangga dengan buru-buru.


Laki-laki itu kemudian beranjak dari duduknya menghampiri Naya yang sudah berada di anak tangga terakhir.


"Kau kan tidak usah teriak." Naya mengerucutkan bibirnya mendengar bentakan keras dari sang suami.


"Aku berteriak karena kelakuanmu. Kalau kau jatuh bagaimana?"


"Baiklah, Tuan... Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya," ucapnya sambil mengatupkan tangan di depan dadanya. Lalu tanpa permisi menuju ruang makan dan duduk di samping Anita, meminta perlindungan.


"Selamat pagi." Naya berbisik di telinga Anita. "Tolong atasi dia!"


Anita mengulum bibirnya menahan tawa melihat ekpresi wajah Zian yang sangat panik. "Seharusnya kau tidak cari gara-gara dengannya sepagi ini," Anita balas berbisik.


"Dia saja yang terlalu berlebihan. Kau tidak tahu kan, dia memenjarakanku dengan melarang ini dan itu sampai aku..." Naya menggantung ucapannya ketika Zian kembali duduk di kursi. Nyalinya tiba-tiba menciut jika sudah mendapat hadiah pelototan mata. Beberapa bulan ini, Anita menjadi tempatnya berlindung jika Zian memarahinya jika melakukan sesuatu yang ceroboh.


Dan, sarapanpun berlalu dalam kebisuan.


Setelah sarapan, Naya bergegas kembali ke kamar, dan memuntahkan makanan yang baru saja di makannya. Tidak lama kemudian, Zian datang menyusulnya ke kamar.

__ADS_1


"Sayang..."


"Aku di kamar mandi..." teriak Naya dari dalam kamar mandi. Tidak lama, Naya keluar dari kamar mandi dengan mengusap lehernya.


"Kau muntah lagi?" tanya Zian.


"Iya, tapi tidak apa-apa, sudah biasa." ucapnya seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Zian lalu ikut duduk di sofa, lalu membelai wajah sang istri yang terlihat pucat. "Wajahmu agak pucat. Bagaimana kalau kita ke dokter."


"Tidak usah, aku kan sudah biasa mengalaminya. Kak Sandra bilang, ini normal dan aku baik-baik saja."


"Baiklah, Sayang... Aku harus ke kantor." Zian akan berdiri dari duduknya, namun Naya langsung menarik tangannya.


"Jangan pergi!" ucap Naya dengan manjanya.


"Tidak bisa, Naya... Aku ada rapat penting. Aku akan usahakan pulang lebih awal."


"Tapi peluk aku dulu!" Naya berdiri dari duduknya, lalu merentangkan tangannya.


Zian pun segera memeluk sang istri yang mendadak manja itu. Hingga beberapa menit, Naya tidak juga melepaskan pelukannya. Seolah pelukan itu akan menjadi pelukan terakhirnya.


"Sayang..." bisik Zian.


"Biarkan aku memelukmu dulu. Aku masih sangat merindukanmu," lirih Naya.


"Haha, kau ini sangat lucu, sejak kapan kau jadi manja begini?" Zian mengecup keningnya, lalu berbisik, "Aku akan segera kembali."


Dengan perasaan berat, Naya mengantar sang suami menuju teras rumah. Perasaannya campur aduk. Entah mengapa hari itu, ingin rasanya menghabiskan waktu lwbih banyak dengan sang suami.


Sebelum naik ke mobil, Zian mengusap perut buncit istrinya itu.


"Hey, jagoan! Jaga ibu, ya! Jangan nakal!" ucap Zian kemudian.


Naya melambaikan tangannya, menatap mobil yang ditumpangi Zian bersama Anita. Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Naya lalu mengusap wajahnya yang telah basah oleh air mata.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" gumamnya.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2