
Keesokan harinya...
Berita tersebar dengan sangat cepat. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan kasus yang tengah menjerat Zian. Jagat maya pun dihebohkan dengan berita terkait bos Kia Group itu. Bahkan berita itu telah menjadi trending di internet dengan judul 'Tuan Maliq mengaku bersalah'.
Setelah diberitahu oleh Dimas tentang apa yang terjadi pada Naya yang membuatnya sampai mengalami pendarahan, Zian akhirnya mengaku bersalah di hadapan tim penyidik dan media. Pengakuan Zian benar-benar menggemparkan. Pasalnya, semua orang yang mengenalnya atau bahkan pernah mendengar nama bos Kia Group meyakini Zildjian Maliq Azkara tidaklah bersalah.
Zian dikenal sebagai orang baik dan dermawan. Bahkan dia membangun sebuah rumah sakit dan membiayai pengobatan banyak orang yang tidak mampu.
Sementara itu, Fahri terlihat sangat sedih setelah melihat berita pengakuan adiknya itu di tv. Setitik air matanya terjatuh mengingat beratnya kasus yang menjerat Zian. Hal sama pun terjadi pada Evan yang sedang berada di cafenya bersama Rafli.
Setelah melihat berita, Evan menangis di dalam sebuah ruangan.
"Apa yang terjadi pada kakakku? Kenapa dia mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukannya?" ucap Evan seraya menjatuhkan setitik air matanya.
Rafli berusaha menguatkan temannya itu dengan menepuk bahunya. "Kak Zian memang kadang mengerikan. Tapi dia bukan orang jahat. Pasti ada sesuatu di balik pengakuannya."
"Aku yakin seseorang sedang mengancamnya sehingga dia melakukan semua ini. Kakakku tidak sejahat itu. Dia bukan seorang mafia obat-obatan terlarang. Semua yang dituduhkan padanya itu tidak benar."
Rasanya Evan benar-benar ingin menghajar orang yamg melibatkan kakaknya dalam masalah itu. Namun, Zian telah membuatnya berjanji untuk tidak mencari tahu atau berusaha terlibat dalam masalah itu.
Anita dan Dimas pun sama terkejutnya. Mereka sedang berada di cafe rumah sakit saat melihat berita itu di tv.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa bos mengaku begitu saja? Bukankah dia tidak bersalah?" ucap Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
Anita hanya melirik kesana-kemari memperhatikan beberapa pengunjung cafe yang tampak sedang saling berbisik. Tanpa permisi, Anita meninggalkan Dimas begitu saja yang masih membeku menatap layar tv yang menggantung itu.
"Anita, tunggu! Kau mau kemana?" tanya Dimas seraya menarik lengan Anita.
__ADS_1
"Aku mau menemuinya. Aku harus menanyakan kenapa dia lakukan semua ini pada Naya dan aku! Apa kau tahu apa hukuman yang akan dijatuhkan padanya jika dia mengaku bersalah? Hukuman mati, Dimas!" Anita mulai tidak dapat membendung air matanya.
"Jangan pergi sendiri! Aku akan mengantarmu," ucap Dimas seraya menarik pergelangan tangan Anita menuju area parkir. Dimas kemudian mengarahkan pandangannya ke segala arah, memberi kode pada beberapa pria berseragam hitam dengan logo huruf Z di punggungnya.
Dimas menempatkan puluhan orang pengawal untuk berjaga di setiap sudut rumah sakit itu, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.
***
Setibanya di rumah tahanan, Anita langsung meminta dipertemukan dengan Zian. Dia duduk di sebuah ruangan menunggu Zian, dengan raut wajah yang jelas terlihat sedih.
Tidak butuh waktu lama, Zian sudah datang dengan menerbitkan senyumnya.
"Apa istri dan anakku baik-baik saja?" tanya Zian sesaat setelah duduk di sebelah Anita. Gadis itu hanya menjawab pertanyaan Zian dengan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kau lakukan semua ini? Kenapa kau mengakui sesuatu yang tidak pernah kau lakukan?" tanya Anita diiringi isakannya.
"Alex mengancamku. Dia ingin aku mengaku bahwa akulah mafia obat-obatan terlarang yang sedang dicari polisi. Dan aku juga harus mengakui keterlibatanku dalam sindikat mafia perdagangan organ tubuh manusia ilegal. Kalau tidak, dia mengancam akan membunuh Naya dan menyerahkanmu pada Kenzo."
"Jadi kau lakukan ini untuk melindungiku? Aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku, aku juga bisa menjaga Naya dan anakmu," Anita berusaha menunjukkan pada Zian bahwa dirinya kuat. Namun, Zian benar-benar tahu, seperti apa ketakutan Anita pada seorang Kenzo.
"Aku tahu kau wanita yang kuat," ucap Zian.
Anita mulai menjatuhkan air matanya, menyesali mengapa dirinya membebaskan Alex saat itu. "Seharusnya aku membunuh Alex saat itu. Kenapa kau membuatku bersumpah untuk tidak menjadi pembunuh? Kenapa dulu kau membuatku berjanji untuk tidak membunuh orang dalam keadaan apapun."
Zian mengusap kepala gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. "Anita, kau tahu kan, selain Naya, kau adalah orang paling berharga dalam hidupku. Aku tidak mau kau menjadi pembunuh. Kau tenang saja. Aku pasti bisa melewati semua ini."
"Tapi bagaimana? Kau sudah mengakui sesuatu yang akan membuatmu dijatuhi hukuman mati."
__ADS_1
Zian hanya tersenyum mendengar ucapan Anita, "Percayalah padaku!" ucap Zian kemudian. Anita pun mengusap wajahnya yang telah dipenuhi cairan bening, Berusaha menormalkan perasaan berkecamuk dalam dirinya.
"Sekarang tugasmu hanya satu, memastikan Naya tidak akan pernah tahu tentang apa yang terjadi padaku. Naya tidak boleh tau aku ditahan."
*****
Di sisi lain, Naya masih duduk melamun dengan tatapan mengarah keluar jendela, memikirkan Zian yang pergi entah kemana. Tidak lama kemudian, Dokter Sandra dan seorang perawat masuk ke ruangan itu dengan mendorong sebuah box bayi.
Naya terlihat begitu bahagia, setelah semalaman tidak dapat melihat anaknya, kini dia dapat melepaskan kerinduannya pada bayi mungil itu.
Sandra menggendong bayi itu dan meletakkannya ke pangkuan ibunya. Naya yang masih kebingungan dan belum tahu apapun tentang dunia bayi begitu takut menggendong bayi kecil itu. Dia mengecupi setiap bagian wajah anaknya dengan sayang.
"Anakku..." ucapnya seraya membelai wajah anaknya, "mereka benar, kau sangat mirip dengan ayahmu. Deniz... kau harus tumbuh menjadi seorang anak yang kuat, seperti ayahmu."
Mendengar ucapan Naya, Dokter Sandra tidak dapat membendung air matanya. Teringat kepada Zian yang baru saja mengaku bersalah atas kasus yang menjeratnya. Sandra menyembunyikan air matanya dengan membelakangi Naya, sesekali wanita itu mengusap wajahnya.
"Naya, aku harus kembali ke ruanganku, aku akan menugaskan tiga perawat untuk membantumu di sini," ucap Sandra tanpa menoleh pada Naya.
Dokter itu pun segera keluar dari ruangan itu. Sedangkan Naya masih terdiam sambil menimang bayi kecilnya.
Mereka semua menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, aku tidak akan bertanya apapun. Aku akan tetap menunggu dan menunggu.
"Aku akan menjadi ibu yang kuat untukmu, Nak! Kita bertiga pasti akan bersama suatu hari nanti. Kau mau sabar menunggu ayahmu, kan?" ucapnya pada bayi mungil itu.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1
Karena kalian nge-ramein kolom komentar. Jadi akooh kasih bonus atu lagi dah... 😅😅