Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Monster Betina


__ADS_3

"Aku tahu, tidak mudah menghilangkan trauma masa lalu. Itu pasti sangat sulit bagimu. Tapi... Kalau kau bisa menjadi monster betina bagi semua orang, kenapa kau tidak bisa menjadi monster betina saat berurusan dengan orang seperti Kenzo?" Dimas begitu bersemangat menasehati Anita bagai seseorang yang sangat bijak. Laki-laki itu bahkan tidak menyadari wajah Anita yang sudah berubah kesal.


"Monster betina?" kata Anita sambil menunjukkan wajah garangnya. "KAU MENGHINAKU, YA?" teriaknya kemudian.


Dimas terlonjak kaget mendengar suara teriakan Anita. Lalu menunjukkan senyum getirnya.


"Tidak! Tidak! Bukan begitu maksudku." Dimas menjawab gelagapan sambil mengangkat telapak tangannya.


"LALU APA?" teriaknya lagi. "Aku tahu bagimu aku hanyalah wanita mengerikan, monster betina, Kau sering menyebutku begitu, kan?" Sejenak, Anita melupakan kesedihannya. Dimas selalu berhasil memancing emosinya. Bahkan, kini napasnya jadi lebih cepat menahan kekesalannya.


"Sabar! Sabar! Orang bilang, orang sabar di sayang Tuhan."


"Aku tidak punya kesabaran untuk manusia sepertimu!"


"Heh, lihat dirimu! Kau selalu membawa senjata api di sakumu. Kau selalu mengancam orang dengan menggunakan itu. Kalau aku merasa kau lebih mirip monster betina, itu kan wajar."


"Kau menyebutnya lagi!" ucap Anita dengan menggertakkan giginya, membuat nyali Dimas menciut.


Dengan cepat, laki-laki itu berlutut memohon Ampun. "Baiklah, baiklah! Nona Anita yang cantik jelita, ampuni aku! Aku benar-benar tidak sengaja menyebutmu sebagai monster betina. Aku hanya... hanya... hanya..." Dimas tidak kuat lagi melanjutkan kalimatnya setelah menatap raut wajah Anita yang tidak bersahabat.


"DIMASSSSSS!!!" teriak Anita dengan suara menggelegar.


*****


*


*


*


Dimas mengusap wajahnya yang memerah karena baru saja mendapat hadiah persatuan lima jari milik Anita. Dengan mengucapkan ribuan sumpah serapahnya, laki-laki yang selalu terlihat ceria itu mengangkat koper milik Anita dan memasukkannya ke mobil.


"Monster betina itu benar-benar mengerikan. Aku tidak tahu kenapa dia bisa begitu takut pada Kenzo." Dimas bergumam-gumam kesal. "Tuhan, semoga kelak aku tidak menikah dengan wanita galak sepertinya. Aku bisa dicincang habis olehnya."


Tidak lama kemudian, Anita muncul dari dalam gedung pencakar langit itu dan segera naik ke mobi dan membanting pintu dengan kerasl. Dimas pun terlonjak kaget, seraya mengusap dadanya beberapa kali.


"Ya ampun, kalau pintu mobilnya lepas bagaimana? Dasar monster betina!" gumamnya.


"Kalau kau masih menyebutku monster betina, peluruku akan benar-benar menembus jantungmu!" teriak Anita dari dalam mobil.


Dengan segera, Dimas naik ke mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Apa kau ini cenayang? Kau bahkan bisa mendengar bisikanku yang pelan itu," tanya Dimas dengan wajah tak berdosa.


Anita tidak menjawab. Namun, tatapannya seolah memerintahkan laki-laki itu untuk segera menyalakan mesin mobil.


"Iya, baiklah! Aku akan mengunci rapat-rapat mulutku." ucapnya seraya menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


****


Di tempat lain, Zian sedang menatap sang istri dengan kekaguman. Naya sedang bermain piano di sebuah ruangan yang sengaja dibuat Zian untuknya. Kedua bola mata lelaki itu terus tertuju pada Naya, tanpa berkedip.


(



Alunan indah dari piano begitu menyatu dengan suara merdu milik Naya. Sungguh, Zian benar-benar merasa Naya bagaikan seorang peri yang turun dari kahyangan.


Hingga Naya selesai menyanyikan sebuah lagu, barulah Zian mengalihkan pandangannya.


Laki-laki itu mendekat, lalu memberi kecupan di puncak kepala sang istri. Kemudian mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Ajari aku main piano!" ucap Zian seraya menekan tuts piano dengan sembarang saja.


"Itu mudah saja. Tapi kau harus membayar mahal untuk itu!"


"Baiklah, berapa harga yang harus aku bayar, Nona?" tanya Zian.


"Sangat mahal. Kau dan uangmu tidak akan bisa membayarnya," ucap Naya lalu memainkan beberapa nada.


"Kau kan tahu aku sekarang tidak punya uang. Aku sudah alihkan semua yang kumiliki atas namamu. Jadi jangan minta bayaran berupa uang! Aku hanya seorang laki-laki miskin." Zian menunjukkan wajah sedihnya di hadapan Naya.


"Baiklah, mari kita buat kesepakatan!" ucap Naya dengan penuh semangat.


"Aku akan mengajarimu main piano, tapi aku minta kau membayarnya dengan waktumu."


"Membayar dengan waktuku? Kedengarannya kesepakatanmu menarik."


"Aku akan meminta waktumu seumur hidup untuk bersamaku, sampai aku tidak bernapas lagi." Naya menaikkan jari kelingkingnya.


"Baiklah, Tuan putri... Aku setuju. Sekarang ajari aku main piano," ucapnya seraya menautkan jari kelingkingnya dengan Naya.


"Sekarang! Kau dan waktumu adalah milikku. Kau tidak punya hak untuk meninggalkanku lagi."


"Baiklah, Sayang. Aku hanya milikmu sampai maut memisahkan kita." Zian membelai rambut panjang sang istri dengan sayang.


Akhirnya, Naya mengajari suaminya itu bermain piano hingga merasa kesal sendiri karena Zian tidak mengerti juga. Laki-laki itu lebih terfokus pada wajah sang istri bukan pada pianonya.


"Aku lelah mengajarimu, Tuan! Kau ini benar-benar susah diajari."


"Kau benar-benar seorang guru yang galak. Bagaimana muridmu bisa pintar kalau kau segalak itu, apa kehamilan juga bisa merubah seorang wanita menjadi gakak?" sahut Zian seraya mencubit gemas pipi sang istri.


"Dan kalau semua murid sepertimu, maka semua guru bisa kena stroke." balas Naya.


"Kau mau bilang aku bodoh, ya?" Zian membuat mimik wajah seperti sangat kesal.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak bilang kau bodoh. Aku kan hanya bilang kau sangat susah belajar."


"Itu sama saja. Hanya pengucapannya saja yang berbeda,"


Perdebatan dua orang itu terus berlanjut, hingga seorang pelayan datang dan memberitahu tentang kedatangan Anita. Zian dan Naya pun segera beranjak menuju ruang tamu, menyambut kedatangan Anita di rumah itu.


"Selamat datang, Anita!" ucap Naya dengan menerbitkan senyum indahnya.


"Terima kasih. Maaf aku mungkin akan merepotkan kalian dengan tinggal di rumah ini."


"Ah, tidak! Anggap saja rumahmu sendiri."


Naya dan Bibi Carlota mengantar Anita menuju kamar yang telah mereka siapkan untuk Anita. Sementara Dimas langsung melaporkan temuannya tentang Anita yang tadinya mau bunuh diri.


"Bos, kau benar! Monster betina itu tidak bisa ditinggal sendiri dalam keadaan begini. Dia bahkan mau bunuh diri dengan gantung diri," ucap Dimas.


"Karena itulah aku memintanya untuk tinggal di rumah ini."


"Bos, aku baru tahu kalau Anita itu jandanya Kenzo," bisik Dimas.


Zian terkejut mendengar ucapan Dimas. "Kau tahu darimana? Apa Anita yang mengatakannya?"


"Iya, Bos! Tadi dia menceritakan masa lalunya padaku. Ternyata dia seorang gadis yang malang."


Zian menghela napas kasar, lalu bersandar di kursi. "Karena itulah, aku tidak bisa menjauhkannya dari hidupku. Sampai dia benar-benar aman. Terima kasih kau sudah mau membantuku menjaganya."


"Tenang saja, Bos! Tapi sejujurnya, aku masih sedikit takut padanya. Dia masih saja mengancamku dengan senjatanya."


Zian terkekeh mendengar ucapan asistennya itu. Dimas yang kurang bisa menyaring kalimat yang keluar dari mulutnya selalu membuat Anita merasa kesal.


"Dia hanya mengancammu saja! Anita tidak sejahat itu." ucap Zian kemudian.


"Semoga saja jodohku bukan wanita mengerikan sepertinya. Aku bisa mati muda kalau punya istri sepertinya."


"Kau akan beruntung kalau bisa menikah dengan Anita, lihat betapa cantiknya dia. Semua laki-laki akan iri padamu," ucap Zian.


"Dia memang sangat cantik, tapi semua itu tertutupi oleh kegalakannya. Kau juga tidak jatuh cinta padanya, Bos. Padahal dulu dia satu-satunya wanita yang dekat denganmu."


"Bagiku, Anita adalah adikku. Dan selamanya akan seperti itu."


Dimas terus mengadukan pada bosnya itu tentang apa yang dilakukan Anita padanya di apartemen, sehingga Zian tertawa terbahak-bahak. Tingkah polos Dimas sangat bertolak belakang dengan Anita yang selalu terlihat garang.


*****


Bersambung.


Terima kasih yang sudah meninggalkan like komen dan vote. Maaf, lama update. Kerjaan di dunia nyata masih menumpuk.

__ADS_1


__ADS_2