
"Ayolah, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan bodoh seperti itu." sahut Anita.
"Pertanyaan bodoh? Aku hanya penasaran. Kalian berdua punya banyak kesempatan untuk saling jatuh cinta. Karena saat mengenalmu, bos belum bertemu Naya. Apa bener-benar tidak pernah ada cinta di antara kalian berdua? Apa kau benar-benar tidak pernah memiliki perasaan khusus untuk bos?"
Anita menghela napas panjang mendengar berondongan pertanyaan dari Dimas.
"Maliq memang segalanya bagiku, dan kau tahu itu. Aku mencintainya lebih dari apapun di dunia ini. Tapi cinta yang aku miliki untuknya, adalah cinta seorang adik kepada kakaknya. Dan sebaliknya, dia juga begitu padaku. Sekarang kau mengerti?"
"Apa kau pernah mencintai seseorang sebelumnya?" Dimas lagi-lagi bertanya dengan lancangnya, Anita memutar bola matanya pertanda malas meladeni pertanyaan itu.
"Itu bukan urusanmu!"
"Oh ya, aku... sangat penasaran... Kau ini kan sangat cantik tapi kenapa kau belum menikah juga? Apa kau sedang menunggu seseorang seperti bos menunggu Kia saat itu?" Dimas lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang membuat Anita benar-benar kesal.
"Apa aku memberimu izin untuk bertanya seperti itu?" tanya Anita dengan kesal.
"Ayolah, kawan! Kau ini sangat galak. Bagaimana ada pria yang mau jatuh cinta denganmu kalau kau mengerikan begitu. Aku saja takut!"
Anita terlonjak mendengar ucapan Dimas yang baginya terdengar seperti ledekan serius dan menginjak harga dirinya.
"Kau sedang menghinaku, ya?" teriak Anita dengan garangnya.
"Tidak tidak!" Dimas menyahut dengan cepat seraya mengangkat telapak tangannya, "bukan itu maksudku. Aku hanya mengkhawatirkan usiamu saja. Ngomong-ngomong, berapa usiamu sekarang? Apa kau seumuran dengan bos?"
Kekesalan Anita telah sampai pada di puncaknya. Kedua bola matanya yang indah itu menatap tajam pada sosok lelaki di depannya. Jika tidak mengingat Dimas adalah satu-satunya bawahan kesayangan Zian selain dirinya, entah apa yang akan dilakukannya pada Dimas.
Anita, adalah seorang gadis tangguh yang menguasai setidaknya lima ilmu bela diri paling mematikan di dunia. Dia sangat terkenal tidak punya belas kasih. Itulah mengapa semua pengawal Kia Group sangat patuh dan tunduk padanya.
Selain itu, Zian memberinya kebebasan penuh untuk melakukan apapun sesuka hatinya. Namun, keistimewaan itu tidak pernah digunakan Anita seenaknya. Gadis itu bekerja dengan sangat profesional.
Bahkan kesuksesan Zian di dunia bisnis tidak lepas dari campur tangan seorang Anita, yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
"Apa kau tahu satu hal? Kau sangat banyak bicara. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa maliq meminta kau yang mengikutiku di antara ratusan pengawal Kia Group!"
Ucapan Anita yang tajam menusuk itu hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Dimas.
__ADS_1
"Itu artinya, bos sangat percaya padaku. Sehingga memintaku menjaga benda berharga sepertimu, kau kan sangat berharga bagi bos. Selain Naya tentunya."
"Tapi aku lebih bisa menjaga diriku sendiri. Daripada harus diikuti oleh orang sepertimu," ucap Anita yang mulai memainkan pistol di tangannya.
Glek!
Susah payah, Dimas menelan salivanya, menatap senjata yang berada di tangan Anita.
"Hehe, Anita... Ayolah. Kita ini kan satu tim. Santailah sedikit." Anita hanya menggelengkan kepalanya menatap lelaki yang baginya sangat pecicilan itu.
"Kalau begitu jangan banyak bicara!" Anita meninggikan suaranya membuat nyali Dimas menciut.
Lihat betapa mengerikannya wanita di depanku ini. Dia memang sangat cantik. Tapi dia bahkan lebih mengerikan dari Kenzo Salvatrucha... Ya, aku ingin tahu dia ada hubungan apa dengan Kenzo Salvatrucha. Kenapa dia selalu ketakutan setiap mendengar nama itu. batin Dimas.
Seorang pelayan kemudian datang membawa makanan yang mereka pesan. Lalu, terciptalah keheningan selama beberapa saat. Kedua orang itu masing-masing menikmati menu yang dipesannya.
"Oh, ya Anita... Kau ada hubungan apa dengan seseorang bernama Kenzo itu?" tanya Dimas dengan mulut penuh makanan.
Anita tersentak kaget mendengar nama yang disebut Dimas itu, seluruh tubuhnya gemetaran. Bahkan, sendok yang ada di genggamannya terjatuh saking gemetarnya.
"Maaf, sepertinya aku salah menyebut nama," ucap Dimas.
"Ti-tidak apa-apa," Anita menjawab dengan terbata-bata, membuat Dimas semakin dipenuhi pertanyaan dibenaknya.
Gadis itu kemudian menunduk, mengambil sendok yang terjatuh itu sembari menyembunyikan setitik air matanya yang terjatuh. Lalu duduk kembali dengan berusaha sebisa mungkin menormalkan perasaannya. Namun, Dimas masih dapat melihat ketakutan di wajahnya.
Sekarang aku benar-benar yakin ada sesuatu yang tidak beres antara Anita, Kenzo dan bos di masa lalu. Aku akan mulai menyelidikinya. Sepertinya akan sangat menarik. Aku tidak akan memberitahu mereka kalau aku juga mengenal seseorang yang bernama Kenzo itu.
****
Dimas dan Anita keluar dari cafe setelah hampir dua jam duduk bersama di sana. Tidak ada pembicaraan serius antara keduanya. Namun, kediaman itu seolah menjelaskan bahwa Anita sedang tidak baik-baik saja.
Dimas melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Dimas. Anita menghentikan langkahnya sesaat, lalu memberi Dimas tatapan tajam mengintimidasi.
"Aku tidak butuh diantar olehmu! Aku bisa pulang sendiri." Anita berusaha untuk terlihat galak seperti biasanya.
__ADS_1
"Tapi bos sudah memberiku tugas itu. Apa kau melawan perintah bos?"
"Dan sampai kapan kau akan menggunakan nama Maliq untuk memaksa?" tanya Anita dengan kesal.
"Sampai bos membebaskanku dari tanggung jawab atas dirimu! Sebenarnya, aku juga tidak suka mengikutimu. Kau ini sangat menakutkan. Aku rasa tidak akan ada penjahat yang mau mengganggumu."
Dimas terus berceloteh ria, membuat Anita pusing mendengar setiap kalimat konyol yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Dengan berat hati. Anita rela diantar pulang oleh Dimas. Gadis itu terus mengumpati Zian di dalam hatinya yang malah meminta Dimas menjaganya.
Saat hendak menuju mobil, dari kejauhan Anita melihat sesosok lelaki bertubuh besar sedang duduk bersama seorang pria. Seketika tubuhnya gemetaran. Anita langsung bersembunyi di belakang Dimas, membuat laki-laki itu gelagapan.
Dimas langsung menggenggam jemari Anita begitu menyadari siapa yang berada di sana. Marvin sedang berbicara dengan seseorang yang sangat dikenal oleh Dimas.
Itu bos Kenzo. Benar kecurigaan bos. Alex mungkin sudah memberitahu Bos Kenzo dimana Anita berada. Tapi kenapa Bos Kenzo mencari Anita. Batin Dimas.
"Tolong bawa aku pergi dari sini, Dimas! Aku takut!" ucap Anita dengan suara bergetar.
Dimas pun merangkul Anita dan segera membawanya ke mobil. Dimas buru-buru membawa Anita pergi dari sana.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dimas.
Hening! Tidak ada sahutan dari Anita. Gadis itu mematung dengan mata berkaca-kaca. Dimas pun semakin penasaran. Bahkan, saat tiba di apartemen miliknya, Anita masih saja gemetaran dengan wajah yang memucat.
****
****
****
Dimas menyelimuti tubuh Anita yang sudah tertidur di sofa ruang tamu. Bahkan, saat tidur Anita masih menggenggam erat jemari Dimas dan enggan melepasnya. Untuk pertama kalinya, Dimas melihat sisi rapuh seorang Anita yang selama ini terlihat begitu menakutkan di matanya.
"Ada masa lalu apa antara kau dan orang itu sampai membuatmu ketakutan begini." gumamnya.
Perlahan, Dimas melepaskan genggaman tangannya, lalu duduk di sofa sebelahnya. Laki-laki itu menatap lekat-lekat wajah Anita yang sudah terlelap.
Bos benar, dia hanya seorang gadis rapuh yang harus dilindungi.
__ADS_1