Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Buku catatan


__ADS_3

Dua minggu sudah Naya menghilang, Zian terus mencarinya tanpa henti. Anita yang mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari tidak juga membuahkan hasil. Dimas pun begitu.


Naya hilang bagai ditelan bumi. Tidak ada jejak atau informasi sekecil apapun tentang keberadaannya. Bahkan mereka telah melibatkan kepolisian untuk mencarinya. Namun, semua usaha pencarian itu menemui jalan buntu.


Iklan pencarian pun kembali beredar ke seluruh pelosok negeri. Barang siapa yang menemukan atau bisa menginformasikan keberadaan Kanaya Indhira akan diberikan imbalan dalam jumlah besar. Telah banyak orang yang mengaku melihat Naya, namun tak ada satupun yang terbukti benar.


Siang itu, Fahri datang mengunjungi Zian di rumah sederhananya. Dengan membawa sebuah buku di tangannya, pria itu memasuki rumah yang pintunya tidak pernah ditutup. Zian selalu membuka pintu rumah itu, berharap Naya segera pulang.


Zian sedang termenung di kamar ketika terdengar suara memanggil namanya. Dengan langkah gontai, ia menyeret kaki menuruni tangga.


"Ada apa? Kenapa kemari?" tanya Zian yang masih berdiri di anak tangga pertama.


Fahri kemudian memilih duduk di sofa, meletakkan buku itu itu di pangkuannya. "Duduk dulu, ada sesuatu yang mau aku tunjukkan padamu."


Zian pun melangkah mendekat, lalu duduk di sofa itu. Fahri memandangi wajah Zian yang tampak lesu dan pucat, dengan bulu halus yang tumbuh di sekitar wajahnya. Sejak Naya menghilang, dia tak lagi memperhatikan penampilannya.


Buku dengan sampul berwarna gelap itu digeser Fahri ke hadapan adiknya.


"Apa itu?" tanyanya datar.


"Ini buku catatan Naya," jawab Fahri. "Aku memberikan buku itu padanya beberapa bulan lalu. Aku memintanya mencatat semua gejala yang dia alami. Kau boleh menyimpan buku itu ... dan mungkin, kau juga perlu membacanya."


Tangan Zian terulur meraih buku tersebut. Baru membuka lembar pertama saja sudah menciptakan genangan kristal bening di bola matanya. Ada nama Kanaya Indhira Adiwinata yang terukir dengan tinta emas. Dengan sebuah kalimat indah di bawahnya.


Tersenyumlah, Naya ... Tuhan mencintaimu lebih dari yang kau tahu.


Sebelum kau mengeluhkan rasa makananmu, pikirkanlah orang lain yang bahkan tidak punya apapun untuk dimakan.


Membaca kalimat itu saja seperti sebuah tikaman belati tajam menghantam tanpa ampun. Zian yakin tidak akan sanggup membaca lembar demi lembar.


"Siapkan mentalmu untuk membaca buku itu." Fahri bangkit meninggalkan tempat duduknya. "Aku pergi dulu, aku harus segera ke rumah sakit." Sebelum beranjak pergi, ia menepuk pundak adiknya.


Kesunyian kembali menyapa. Zian membuka catatan pertama yang Naya tuliskan. Tulisan berupa curahan hati saat Zian pertama kali mengusirnya dari rumah.


Aku berdarah...


Bukan fisikku yang terluka, tapi hatiku.


Darah yang mengalir ini tidak berarti, lukaku tidak seberapa.


Aku hanyalah seorang pengemis yang memohon pada takdir untuk dikasihani.


Zian ... Bisakah kau maafkan aku?

__ADS_1


Hatiku yang lemah ini tidak berdaya untuk menjauh.


Aku bisa kuat menahan sakitku ini, tapi untuk jauh darimu aku tidak akan sanggup walaupun hanya satu detik.


Tahukah kau...


Setiap hari kerinduanku seperti akan membunuhku.


Aku menantikanmu di setiap hembusan nafasku.


Dan ketika aku jauh darimu, aku seakan telah mati.


Lalu mengapa sekarang aku harus terpisah darimu?


Tidak bisakah aku bersandar padamu,


walaupun aku hanyalah benalu bagimu?


Zian ...


Jika takdir berbaik hati memberiku pilihan, aku akan memilih untuk menghabiskan sisa waktuku dengan berada di dekatmu.


Aku akan menunggu mautku tiba dengan bahagia...


Zian membaca tulisan itu dengan berderai air mata, dia memeluk buku itu dengan tangisannya yang semakin pilu.


Kini, menyesal seolah tiada artinya lagi. Dia telah kehilangan Naya. Zian kemudian membaca lembar demi lembar catatan dalam buku itu dengan berderai air mata, hingga dia menemukan sebuah catatan dimana Naya menyebutkan sebuah ruangan rahasia yang berada di rumah itu.


"Ruangan rahasia?"


Zian kemudian beranjak dari duduknya, lalu memeriksa setiap ruangan dalam rumahnya, hingga akhirnya dia membuka pintu sebuah ruangan yang merupakan gudang di rumah itu.


Matanya membulat sempurna saat memasuki ruangan itu. Buku yang ada di genggamannya terjatuh begitu saja. Ruangan itu telah dipenuhi dengan lukisan wajah Zian.


Tiba-tiba kakinya terasa gemetar, seakan tidak kuat berdiri. Zian pun bersandar pada sebuah lemari rak bekas yang terdapat dalam ruangan itu.


BRUK!


Terdengar seperti suara benda terjatuh dari rak itu. Zian mengalihkan pandangannya pada benda yang terjatuh. Rasa sakit di hatinya semakin menjadi-jadi ketika menyadari benda apa yang baru saja terjatuh itu.


Beberapa amplop berisi uang yang diberikan Zian pada Naya. Zian mengambil satu-persatu amplop yang jatuh itu dan membukanya. Air matanya semakin deras mengalir ketika melihat isi amplop-amplop itu.


"Naya ...." gumamnya dengan suara yang begitu lirih. "Bahkan kau begitu takut menggunakan uang yang kuberikan padamu. Dan kau menyimpannya semua di sini. Kenapa hatiku begitu buta? Kenapa aku sekejam ini memperlakukanmu."

__ADS_1


"Kau tahu kan, aku bukan orang kaya. Aku akan menendangmu dari sini jika kau menghambur-hamburkan uang." ucapan yang Zian lontarkan kala itu.


Zian kemudian menyeka air matanya, lalu memandangi lukisan itu satu persatu, hingga dia menemukan lukisan pengantin wanita yang sedang berjalan di atas karpet merah. Sejurus kemudian, Zian menemukan bercak darah di lukisan itu. Air matanya kembali tak terbendung.


Di dalam ruangan itulah, Zian menikmati penyesalan terdalamnya. Dia kemudian melanjutkan membaca catatan dalam buku itu hingga pertengahan dan kemudian merasa tidak kuat lagi melanjutkan membacanya. Rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Setiap kalimat yang ditulis Naya dalam buku itu seperti sayatan dalam hatinya. Zian pun menutup buku itu dan kembali menangisi sang istri.


****


Sementara itu, di sebuah Villa yang cukup jauh dari kota, seorang pria menyunggingkan senyum licik saat membaca sebuah koran yang berisi iklan pencarian.


"Zildjian Azkara ... Sayang sekali, kau tidak akan pernah menemukan apa yang kau cari ... Karena dia akan menjadi mayat sebelum kau menemukannya," ucap pria itu seraya terkekeh sinis.


Tidak lama kemudian, seorang pria masuk ke ruangan itu membawakan minuman untuknya lalu meletakkannya di meja.


"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya sang pria.


"Sepertinya dia semakin melemah. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan."


"Baguslah! Biarkan dia mati perlahan." Pria itu lalu meletakkan koran yang baru saja dibacanya di atas meja. "Sepertinya sekaranglah saatnya aku menyapanya. Dia pasti akan sangat senang bertemu denganku," ucap pria berjas hitam itu.


Di Villa itulah Naya berada sekarang. Sudah dua minggu lamanya dia terkurung di dalam sebuah kamar. Dia terbaring dengan tubuh lemahnya di atas tempat tidur. Hingga siraman air yang mendarat di wajahnya membangunkannya dari tidurnya. Gelagapan, Naya berusaha bangkit dari posisi berbaringnya, lalu mendongakkan kepala ingin melihat sosok pria yang sedang berdiri di sisi pembaringannya. Namun, dia tak lagi dapat melihat dengan jelas sosok lelaki itu.


Naya mengusap wajahnya yang basah akibat disiram air, tatapannya sayu, tubuhnya semakin kurus dengan wajah sudah seperti mayat hidup. Dia seolah tidak punya tenaga lagi, bahkan hanya untuk berdiri saja dia sudah tidak kuat.


"Ka-kau sia-pa?" tanya Naya dengan suara seperti berbisik. Dia belum mengetahui siapa orang yang telah menyekapnya di Villa itu.


Pria itu terkekeh sinis, "Kau tidak mengenaliku, Kanaya Adiwinata?" tanya pria itu.


Naya mencoba menajamkan pendengarannya dan seketika seluruh tubuhnya gemetar menyadari siapa laki-laki itu. "Ma-Marvin?" gumamnya.


"Rupanya kau masih mengingatku. Bagaimana kabarmu? Apa kau menikmati masa-masa terakhirmu di ruangan ini?" Naya membeku, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.


"Bagaimana jika aku memberitahu suamimu bahwa kau sedang bersamaku," ucap Marvin lagi membuat Naya semakin ketakutan.


Sekuat tenaga gadis itu berusaha bangkit dari pembaringannya, namun terjatuh ke lantai. Dia kemudian menyeret kakinya dan berlutut di hadapan pria itu.


"Aku mohon jangan! Lepaskan dia, jangan sakiti dia. Kau ingin aku, kan? Sekarang kau boleh membunuhku, tapi aku mohon jangan sentuh suamiku. Kau sudah membuatnya kehilangan segalanya." Sekuat tenaga Naya berusaha menyelesaikan kalimat itu seraya memegangi kaki Marvin.


Naya yang polos itu masih mengira suaminya yang hanya lelaki biasa itu telah kehilangan pekerjaannya karena ulah Marvin.


Marvin kemudian berjongkok, lalu menarik rambut gadis itu dengan kasarnya, sehingga Naya meringis kesakitan. "Aku memang hanya ingin dirimu! Aku tidak ada urusan dengannya. Lagipula dia tidak peduli padamu, kan? Kalau dia peduli, dia pasti sudah menemukanmu. Itu bukan sesuatu yang sulit baginya." Marvin kemudian mendorong tubuh Naya sehingga kepalanya terbentur ke lantai.


Naya mengusap keningnya yang mengeluarkan darah karena benturan itu. Gadis itu kembali menangis hingga sesegukan. Bukan karena sakit yang dia rasakan, namun karena ucapan Marvin yang menorehkan luka di hatinya.

__ADS_1


Kenapa hatiku sangat sakit mendengar ucapannya. Bukankah aku tahu kalau memang dia tidak menginginkan aku. Dan, kalaupun aku mati, dia tidak akan peduli. Aku hilang, dan dia tidak mencariku. Lalu apa yang aku harapkan... Kenapa aku berharap dia akan mencariku dan menemukanku di sini. Kenapa aku lupa kalau dia memintaku untuk pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya...


****


__ADS_2