
Pagi itu, Dimas kembali menemui sang bos di sebuah hotel mewah tempatnya menginap. Dimas baru saja akan melaporkan kondisi terakhir kasus yang menjerat mantan bosnya.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Kenzo sesaat setelah Dimas masuk ke dalam ruangan itu.
"Dia mengakui semua perbuatan yang dituduhkan Glen dan teman-temannya tanpa perlawanan," jawab Dimas membuat Kenzo tertawa lantang. Jelas sekali laki-laki itu sedang sangat puas dengan hasil kerja Alex yang berhasil menjerat Zian.
Kenzo memiliki Dendam pribadi yang sudah mendarah daging pada Zian. Karena lelaki yang mendapat julukan 'mafianya mafia' itu benar-benar telah mengacaukan bisnis gelap yang digeluti Kenzo selama bertahun-tahun. Terlebih, Zian menyelamatkan Anita dari tempat prostitusi dimana gadis itu akan diperjual belikan untuk memuaskan para pria hidung belang.
"Aku akan datang ke sidang terakhirnya. Aku akan memastikan sendiri dia dijatuhi hukuman mati."
Dimas tekekeh mendengar ucapan bosnya itu, "Itu akan menyenangkan. Dia sama sekali tidak punya saksi pembela. Dan walaupun dia menyewa dua pengacara terbaik di negeri ini, itu tidak akan cukup untuk membelanya."
"Baiklah, kalau begitu bawa Kinara Marissa padaku! Aku rasa sekaranglah waktunya aku bertemu dengannya," titah Kenzo pada Dimas.
"Hari ini, Bos?" Dimas bertanya ingin memastikan.
"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," Sekilas senyum licik terbit di sudut bibirnya. Untuk sebuah alasan, Kenzo tidak pernah bisa merelakan sosok sesorang Kinara Marissa hidup bebas di luar sana.
"Baiklah, aku akan segera membawanya kemari."
"Bagus, aku sangat suka cara kerjamu. Kau bisa memerintahkan anak buahku yang lain untuk membantumu," ucap Kenzo seraya terkekeh kecil. Dimas masih berdiri disana, dengan senyum sama seperti sang bos.
"Tapi, Bos... Anak buahmu yang lain bisa apa? Coba kau lihat, mereka bahkan tidak bisa memukul orang dengan benar. Jari tangan mereka semua tidak ada yang utuh. Lalu bagaimana aku bisa mengandalkan mereka?"
Kenzo menatap tajam pada Dimas, sepertinya benar-benar dipenuhi kemarahan. "Itu semua perbuatan Tuan Maliq itu. Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya. Tapi dia sudah membuat semua anak buahku menjadi cacat."
"Lalu kenapa kau tidak rekrut orang baru yang lebih mampu? Untuk apa mengandalkan mereka yang cacat? Itu hanya akan mengganggu."
"Lalu bagaimana menurutmu?"
"Aku ingin orang baru yang lebih mampu. Dan yang pasti jarinya utuh!" Dimas menunjukkan senyumnya pada sang bos.
__ADS_1
"Baiklah, Kau atur saja! Aku percaya padamu!"
"Aku akan mengurusnya hari ini!" ucap Dimas.
Kenzo yang masih betah duduk di sofa ruangan itu hanya duduk bersandar sambil memikirkan sesuatu, "Tapi kau harus tahu, kesetiaan itu sangat mahal harganya, Dimas! Sangat sulit menemukan mereka yang mau setia," ucapnya seraya mengeluarkan sebuah koper kecil dari dalam laci meja.
"Kau benar, Bos! Kesetiaan itu sangat mahal."
Kenzo meletakkan koper itu di atas meja dan menggesernya ke arah Dimas. Laki-laki itu kemudian membuka kunci benda berbentuk kotak itu dan memperlihatkan isinya.
Dimas tersenyum puas melihat isi koper itu yang penuh dengan lembar uang yang pasti jumlahnya sangat besar.
"Aku rasa ini cukup untukmu bersenang-senang," ucap Kenzo kemudian menutup kembali koper itu.
"Terima kasih, Bos! Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan!" Dimas meraih koper kecil itu dan pergi meninggalkan kenzo setelahnya.
****
Tidak lama kemudian, Dimas masuk ke dalam ruangan itu dengan menunjukkan senyum liciknya.
"Selamat malam, Monster Betina! Apa mereka menjagamu dengan baik?" tanya Dimas sesaat setelah memasuki ruangan itu. Dia kemudian berjongkok di depan Anita.
Sedangkan Anita, tampak enggan menjawab sapaan Dimas. Hanya matanya saja yang tajam menatap Dimas. Jika Dimas yang dahulu ditatap begitu saja sudah ketakutan, namun berbeda dengan Dimas yang sekarang. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya.
"Apa kau sadar kalau tatapanmu itu sangat menakutkan? Tapi aku suka."
"Dengar! Kau harus memastikan aku tetap terikat seperti ini. Jangan sampai ikatanku terlepas, karena kalau tidak, kau akan jadi manusia pertama yang mati di tanganku," ujar Anita.
Dimas berdecak mendengar ucapan Anita, "Kau sudah ada di tempat yang paling berbahaya. Tapi kau masih juga bisa mengancam. Kau pikir kau masih akan aman berada di tempat ini?" ucapnya sambil menodongkan senjata di depan Anita.
Gadis itu mengerutkan alisnya mendengar ucapan Dimas seperti sedang memikirkan sesuatu. Anita kemudian melirik semua pria berseragam hitam yang berdiri di setiap sudut ruangan itu, satu persatu.
__ADS_1
"Bunuh aku saja, atau kau yang akan mati di tanganku!"
Dimas tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Anita. "Bosku menginginkanmu dalam keadaan utuh, Monster Betina! Aku mana berani melukaimu seujung kuku pun!" ucap Dimas menekan kata 'Bos'. Lalu membetulkan ikatan di tangan Anita.
"Sekarang mari kita pergi! Aku akan membawamu pada seseorang yang sudah lama mencarimu!" ucap Dimas kemudian berdiri dari posisi berjongkoknya. "Bawa dia!" perintahnya pada beberapa orang pria yang berdiri di sana.
Beberapa pria itupun segera melepas ikatan tali di kaki Anita, lalu menyeretnya keluar dari ruangan itu. Sementara Dimas berjalan dengan cepat di depannya sambil memegang senjata di tangannya.
Setibanya di depan bangunan tua itu, Dimas mendorong Anita masuk ke dalam mobil. diikuti dua orang pria yang ikut naik ke mobil itu, sementara Dimas duduk di kursi penumpang depan.
"Jalan!" titah Dimas pada pria yang merupakan anak buah Alex itu.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka ke sebuah bangunan besar, tempat Kenzo meminta Dimas membawa Anita. Di depan bangunan itu sudah ada beberapa orang pria yang berjaga. Dimas tampak memberi kode pada beberapa pria itu sebelum menyeret Anita masuk kesana.
Sementara Anita membulatkan matanya, melihat para pria yang berjaga di depan bangunan itu.
Dimas langsung menyeret Anita memasuki sebuah ruangan kosong. Kemudian kembali mengikat kakinya. "Aku ada kejutan untukmu," ucap Dimas.
Tidak lama, datanglah seorang laki-laki yang benar-benar membuat Anita ketakutan. Bahkan, Anita langsung kehilangan keberaniannya hanya mendengar kekehan yang masih samar-samar di telinganya.
Dan, saat laki-laki itu masuk ke ruangan itu, Anita dikuasai ketakutan luar biasa. Dia meringkuk, sambil memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat wajah orang yang telah menyekap dan menganiaya dirinya selama hampir satu tahun lamanya, bahkan saat itu usianya masih 17tahun.
"Apa kabar, Kinara Marissa! Apa kau tidak merindukan mantan suamimu ini?" tanya Kenzo.
Seluruh tubuh Anita pun gemetaran, jelas terlihat raut ketakutan di wajahnya.
****
BERSAMBUNG
Yang pinter menganalisa akan menemukan rahasia dibalik bab ini. 😄😄😄😄
__ADS_1