Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Keadilan untuk Tuan Maliq


__ADS_3

Tiga orang manusia itu masih belum puas melepas kerinduannya. Mereka duduk bersama, dengan Naya yang masih menyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan Deniz yang berada di pangkuan sang ayah.


Naya mengusap luka lebam yang ada di sekitar wajah suaminya. "Siapa yang melakukan ini padamu? Wajahmu jadi lebam begini," tanya Naya.


"Dimas yang melakukannya! Kemarin kami terpaksa pura-pura berkelahi. Dia bahkan membuat tulang hidungku hampir patah," jawabnya sambil terkekeh.


"Ayah, kapan kita pulang?" Deniz menyela pembicaraan ayah dan ibunya setelah merasa bosan di tempat itu.


Zian menjawab pertanyaan anaknya dengan senyuman, seraya mengusap kepalanya. "Ayah belum tahu, Nak! Deniz mau sabar menunggu ayah, kan?" tanyanya diikuti anggukan kepala oleh anak berambut kriwil itu.


Tidak lama kemudian, Fahri dan dua orang pengacara masuk ke ruangan itu dan memberitahu bahwa sidang akan dilanjutkan. Sementara Naya masih harap-harap cemas dengan keputusan pengadilan.


"Sayang, bawalah Deniz pulang dulu ke villa, Dimas akan mengantarmu. Hari ini adalah sidang putusan untuk kasusku," ucap zian.


"Tidak! Aku akan menunggumu. Selama ini kau sudah melewati semuanya sendirian. Tanpa memberitahuku semua yang terjadi padamu."


"Vonis untukku belum ditentukan. Aku tidak ingin kau terluka kalau kau mendengar hasil sidangnya. Ayolah, Sayang! Bawa Deniz pulang."


"Tidak mau! Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Aku dengan sabar menunggumu selama dua tahun, tanpa menangis, dan tanpa bertanya pada siapapun kemana suamiku pergi. Sekarang kaulah yang harus menurutiku! Aku akan menunggumu di sini."


Zian terkekeh mendengar ucapan Naya, lalu memberinya kecupan sayang di kening. "Nayaku sekarang keras kepala, ya! Dulu kau sangat penurut padaku. Tapi sepertinya dua tahun sangat berpengaruh."


"Biar saja. Kau juga seenaknya merahasiakan semuanya dariku. Apa hanya aku yang tidak tahu tentang masalahmu?"


"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, aku harus keluar, sidangnya akan dilanjutkan." Zian memberi kecupan untuk Deniz, lalu berdiri dari duduknya dan kembali memakai rompi tahanan yang tadi dilepasnya.


"Sayang, apapun hasil sidang hari ini, tetaplah menjadi Nayaku yang kuat. Aku sangat mencintaimu! Kau mengerti, kan?" ucapnya sesaat setelah memakai kembali rompi tahanan itu.


Naya mengangguk pelan, lalu menggendong Deniz dan mengikuti langkah kaki Zian yang sudah beranjak meninggalkan ruangan itu.


Zian sudah duduk di kursi terdakwa, sedangkan Naya menuju tempat dimana Anita, Elma dan Mia berada. Namun, Naya langsung menghentikan langkah kakinya ketika melihat seorang pria duduk di kursi roda.


Rama, asisten ayah Naya yang menghilang sehari setelah kematian ayah Naya, yang ternyata selama ini disekap oleh Marvin Alexander. Berkat kerjasama Leo dan Dimas, mereka dapat membebaskan Rama dari tangan Alex.


Naya menjatuhkan air matanya, kemudian mendekat pada sosok laki-laki yang sudah dianggap kakaknya itu. Rama pun sama bahagianya. Selama bertahun-tahun, laki-laki itu sangat mengkhawatirkan adik kesayangannya yang manja itu. Terlebih, setelah kematian ayahnya dan perusahaan Adiwinata direbut Alex, Rama tak lagi mendapat kabar tentang Naya yang saat itu masih menjalani pengobatan. Bahkan, Rama tidak pernah tahu bahwa Naya sudah menikah dan sekarang memiliki anak.

__ADS_1


"Naya, adikku!" ucap Rama dengan mata berkaca-kaca. Naya langsung mendekat dan memeluk Rama.


"Kak Rama! Kau darimana saja? Kenapa waktu itu kau meninggalkanku sendirian?"


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku sekarang sudah kembali." Rama kemudian menatap Deniz yang terlihat bingung. "Apa dia anakmu?"


Naya mengangguk pelan, "Iya, Kak! Ini Deniz, anakku!"


Rama mengusap kepala Deniz dengan senyumnya yang bahagia. "Kau tenang saja, Naya. Suamimu pasti akan bebas." ucapnya kemudian diikuti anggukan oleh Naya.


****


-


Sidang pun berlanjut. Di luar sana, sorakan masih terus terdengar menggema. Masyarakat yang hadir sejak pagi tetap setia menunggu hasil persidangan itu. Mereka masih menyuarakan harapan mereka untuk membebaskan Zildjian Maliq Azkara dari semua tuduhan itu.


Bahkan, panasnya terik mentari tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendukung sang mafianya mafia itu.


Acara talkshow yang diadakan leo dan juga beberapa pemberitaan di media yang mengisahkan Tuan Maliq yang rela membahayakan nyawanya sendiri dengan masuk ke dalam geng mafia berbahaya demi menolong banyak orang, memunculkan simpati masyarakat. Sehingga mereka tidak rela jika orang sebaik Tuan Maliq harus dihukum.


Naya sudah duduk bersama Elma, Mia dan Anita. Wanita itu begitu terharu dengan banyaknya orang yang begitu peduli pada nasib suaminya. Dia menitikkan air matanya, dengan perasaan yang masih was-was menunggu hasil sidang. Anita dan Mia menggenggam tangannya ketika melihat sahabatnya itu begitu gelisah.


"Ibu Elma, kenapa ayah duduk disana?" tanya Deniz yang polos.


"Ayah Deniz kan mau pulang, jadi minta izin dulu pada paman yang duduk di atas sana," jawab Elma menunjuk seorang hakim yang duduk di depan sana.


Naya masih terlihat gelisah disana. Mia yang melihatnya langsung berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Jangan khawatir, Naya! Pengadilan pasti akan memberi keadilan untuk suamimu. Kau dengar riuhnya suara masyarakat yang berharap Kak Zian dibebaskan. Jika suamimu dijatuhi hukuman berat, mereka pasti tidak akan tinggal diam," ucap Mia.


Aku tidak akan kuat kalau harus terpisah lagi dengan suamiku. batin Naya.


****


"Setelah mendengar pembacaan surat dakwaan penuntut umum, dan mendengar keterangan saksi-saksi dan keterangan para ahli, keterangan terdakwa, serta memeriksa bukti-bukti dalam surat perkara ini, maka pengadilan menyatakan bahwa terdakwa, Zildjian Maliq Alzkara alias Tuan Maliq dinyatakan tidak bersalah."

__ADS_1


Putusan hakim ketua yang dibacakan membuat semua orang yang ada didalam ruang persidangan bernapas lega, sekaligus mengucap syukur. Suasana yang tadinya hening, seketika menjadi riuh, bahkan hakim ketua belum selesai membacakan surat putusan itu.


"Harap tenang!" pinta seorang hakim, karena suasana dalam ruangan itu sangat riuh oleh tawa bahagia para pengunjung.


Sementara di laur sana, para pendemo yang mendengar putusan hakim sontak begitu bergembira. Mereka kemudian menyanyikan yel yel yang menandakan kepuasan mereka atas hasil sidang itu.


Naya, tidak dapat membendung air matanya, kini dia bisa berkumpul kembali dengan sang suami setelah terpisah selama dua tahun lamanya.


"Aku sudah bilang kan, suamimu pasti bebas, karena dia tidak bersalah," ucap Anita seraya merangkul Naya yang sedang menangis bahagia.


Sejenak, Zian menoleh pada Naya, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


Dan, hari itu semua orang tampak berbahagia. Fahri dan Elma memeluk Zian sesaat setelah sidang itu dibubarkan. Beberapa orang pun tampak memberi ucapan selamat pada bos Kia Group itu.


"Ayah...!" panggil si kecil Denis sambil berlari menuju ayahnya. Zian langsung menyambut anaknya itu dengan merentangkan tangannya. Begitupun dengan Naya yang langsung menghambur memeluk sang suami.


Hal berbeda justru terjadi pada Dimas, dia memilih duduk di ujung sana, mencari jarak yang aman dengan Anita. Sejak tadi, Anita terus menatap sinis padanya.


Glek!


Dimas susah payah menelan salivanya, ketika melirik Anita yang menatap tajam padanya. Kali ini, entah apa yang akan dilakukan Anita padanya. Laki-laki itu hanya dapat berdoa dalam hati, meminta keselamatan dari sang monster betina itu. Bahkan bagi Dimas, Anita jauh lebih mengerikan dari Kenzo.


Ya ampun, aku lebih baik berhadapan dengan orang seperti Kenzo daripada harus berhadapan dengan monster betina itu. Dia pasti dendam padaku karena aku mengikatnya dengan sangat kencang. batinnya


Dimas mencoba menerbitkan senyuman, walaupun jelas terlihat getir, namun Anita tidak bergeming, tetap saja datar dan garang baginya. Dimas lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sedangkan Anita hanya memicingkan matanya. Dan hal itu menambah ketakutan bagi lelaki yang sebenarnya sangat pecicilan itu.


Matilah aku, Ibu...! batin dimas.


***


BERSAMBUNG


Kebayang nggak sih, kalo Dimas dan Anita ternyata berjodoh.... wkwkwkwkw


"Turuti aku, atau kau kutembak!" ucap Anita ketika lagi ngidam😂😂😂😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2