Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 105


__ADS_3

"Heh, Keong... Kau tidak sedang menipuku, kan?" Zian belum percaya sepenuhnya dengan setiap kata yang keluar dari mulut adiknya itu.


Evan mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar ocehan kakaknya. "Kalau kau tidak yakin, besok pagi kau bisa bawa Naya ke rumah sakit untuk memeriksanya! Tapi aku yakin dugaanku tidak salah."


"Benarkah?" Wajah Zian sudah berubah senang. Rasa bahagia yang teramat sangat merasuki jiwanya. Dia akan segera menjadi seorang ayah.


"Kau bilang belakangan ini Naya jadi aneh dan sering meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Apa dia juga sering mual?" tanya Evan.


Sejenak Zian memikirkan kebiasaan Naya akhir-akhir ini yang sering merasa mual di pagi hari dan kadang ingin makan sesuatu yang aneh-aneh tengah malam.


"Dia hanya mual di pagi hari," jawab Zian.


"Itu namanya morning sickness, Kakak!" seru Evan seraya menggeleng pelan, dia benar-benar gemas dengan kebodohan kakaknya itu. "Itu terjadi karena perubahan hormon di dalam tubuhnya. Lonjakan hormon estrogen dan hCG membuat wanita sering mual di awal kehamilannya."


"Hormon? Hormon apa lagi yang kau bicarakan itu? Aku hanya tahu satu jenis hormon saja!"


Fahri mengerutkan alisnya mendengar ucapan Zian, lalu melirik Elma yang masih mengulum bibirnya menahan tawa.


"Apa?" walaupun Fahri tahu jawaban Zian akan sangat bodoh dan memalukan, namun laki-laki itu tetap bertanya.


"Hormon tostestoren!" jawab Zian dengan percaya dirinya.


Elma menganga tak percaya mendengar jawaban Zian. Sedangkan Fahri menepuk jidatnya. Evan hanya mampu menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Tes-tos-te-ron!" ucap Evan dengan nada menekan frustrasi. "Kau bahkan salah menyebutkan nama jenis hormon yang kau tahu itu."


Zian hanya menatap Evan dengan ekor matanya. "Apa bedanya? Hanya beda peletakan huruf saja!"


"Iya! Kau benar!"


Lebih baik mengalah dari pada ikut gila. batin Evan.


"Lalu hormon siialan macam apa yang membuat Naya berani mengusirku dari rumah?" tanya Zian gemas. Dan kali ini ketiga saudaranya menghela napas panjang.


"Mungkin kecebongmu tidak menyukaimu," jawab Evan.


"Dan juga karena kebodohanmu. Istrimu mau menyenangkanmu dengan memakai lingerie, kau malah bilang dia mirip wanita penggoda. Kalau aku jadi Naya, kau pasti sudah ku rebus dengan air mendidih," ucap Elma gemas.


Zian bergidik ngeri mendengar ucapan kakak iparnya itu, lalu menggeser tubuhnya mendekat pada Fahri dan berbisik, "Apa kau tidak geli kalau melihat Kak Elma memakai jaring penangkap ikan?"


PLAK!


*

__ADS_1


*


*


****


Zian mengusap kepalanya yang baru saja mendapat tepukan dari Fahri, lalu berdiri dari duduknya dan mendekat pada Kay yang sedang tertidur. Zian mengecup kening bocah perempuan itu dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun. Lalu tanpa permisi, beranjak dari sana.


"Hey, kau mau kemana?" tanya Fahri.


"Pulang!"


"Bukankah kau sudah diusir dari rumahmu? Lalu kau mau pulang kemana lagi?"


Zian menghentikan langkahnya lalu berbalik, "Aku mau membuat perhitungan dengan kecebongmu itu. Berani sekali dia membuat ibunya mengusirku dari rumah," ucap Zian sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


"Itu kan kecebongmu!" seru Fahri. "Kenapa dia bisa sebodoh itu?" gumamnya.


"Dia itu kan adikmu, Kak!" jawab Evan.


"Dan kakakmu tentunya!" balas Fahri. "Kalian lihat, itulah Tuan Zildjian Maliq Azkara, pemilik salah satu perusahaan terbesar se-Asia. Masuk dalam daftar seratus orang terkaya di dunia. Tapi lihatlah kelakuannya!


"Dia hanya orang bodoh yang mempekerjakan ribuan orang pintar," lanjut Fahri


Sedangkan Zian baru saja keluar dari pintu rumah itu. Bunyi siulannya terdengar begitu riang gembira. Mengalahkan suara jangkrik yang saling bersahutan malam itu.


Zian yang mendapat kabar kehamilan sang istri begitu bahagia. Senyum tak pernah pudar dari wajah tampannya. Laki-laki itu merasa dewa keberuntungan sedang menghujaninya.


Bahkan, suara jangkrik yang bersahutan memecah kesunyian malam terdengar bagaikan alunan musik yang merdu.


Buru-buru, Zian menaiki mobilnya. Laki-laki itu segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


Berselang lima belas menit, Zian tiba di rumah. Dengan langkah setengah berlari, dia memasuki rumah besar itu. Dan, saat tiba di depan pintu kamar, laki-laki itu terdiam sejenak. Mengatur napasnya.


Sesaat kemudian, Zian memutar gagang pintu itu pelan-pelan dan masuk ke dalam kamar. Lampu sudah di matikan dan hanya lampu tidur yang menyala, membuat kamar itu menjadi remang-remang.


Zian menatap sosok yang sedang meringkuk di balik selimut tebal. Suara isakan begitu lirih terdengar dari sana.


"Kenapa aku sangat bodoh? Aku mengusirnya dan sekarang aku sangat merindukannya." gumam Naya yang belum menyadari keberadaan sang suami di dalam kamar itu.


Zian tersenyum mendengar gumaman itu. Lalu segera mendekat dan duduk di bibir tempat tidur. Suara isakan Naya semakin terdengar lirih. Zian kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya itu, membuat Naya terkejut. Namun, rona bahagia terlihat begitu jelas di wajahnya saat mendapati sang suami yang baru saja diusirnya ada di dalam kamar.


"Kenapa kau menangis?" tanya Zian sambil menghapus air mata Naya.

__ADS_1


Naya langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan memeluk Zian dengan erat. Zian tersenyum, mengusap kepala dan punggung wanitanya itu dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku! Aku kurang peka," ucap Zian.


Laki-laki itu melepaskan pelukannya, lalu membelai rambut panjang itu dengan lembut, turun ke wajah. Naya kembali membenamkan wajahnya di dada Zian.


"Maafkan aku!" ucap Naya.


"Kenapa kau yang minta maaf, aku yang salah karena tidak mengerti dirimu. Maafkan aku! Mulai sekarang, aku akan menuruti apapun yang kau inginkan!" ucap Zian, lalu kembali melepas pelukannya, "Besok kita akan pulang ke rumah lama kita dan menginap di sana selama yang kau inginkan."


"Benarkah?" Wajah Naya langsung berbinar.


Zian mengangguk pelan dengan senyum menawannya, "Iya, Sayang! Aku minta maaf, karena aku benar-benar tidak memahami apa yang terjadi padamu."


Zian kemudian mengusap perut Naya dengan penuh kelembutan, membuat Naya mengerutkan alisnya.


"Memang apa yang terjadi padaku? dan kenapa kau mengusap perutku begitu?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin saja," Zian terus mengusap perut yang masih rata itu. "Kau sudah minum obatmu?"


Naya menjawab dengan anggukan.


"Baiklah! Sekarang tidurlah, besok pagi kita akan ke dokter."


"Ke dokter? Kan belum waktunya jadwal kontrolku."


"Aku tahu..."


"Lalu?"


"Kau akan tahu besok!" Zian membaringkan Naya, kemudian ikut berbaring di sana.


Sepanjang malam, Zian tidak pernah melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.


****


Bersambung.


EDISI GABUT


Sorry baru up... Author lagi sibuk-sibuknya di dunia nyata 😭


tetap tinggalkan like dan komen ya....

__ADS_1


Salam hangat dari kota daeng!


__ADS_2