Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 95


__ADS_3

"Sayang, ayolah...! Mari kita pulang," bujuk Zian sekali lagi.


"Tidak mau! Aku malu!" teriaknya dibarengi isakan, "Kau tidak mengerti bagaimana rasanya. Mereka di luar menghujatku dan bilang aku gadis murahan yang mudah tidur dengan sembarang laki-laki."


Zian memejamkan matanya sesaat, sudah mulai frustrasi. Entah bagaimana lagi harus membujuk istrinya itu agar mau keluar dari toilet itu. "Sayang... ini toilet wanita. Aku tidak enak ada di dalam sini terus."


"Biar saja!" ucap Naya singkat, lalu kembali menangis.


Zian menangkup wajah Naya yang mulai terlihat tembem itu, menatap dalam-dalam matanya.


"Dengarkan aku! Walaupun seluruh penduduk bumi berkata seperti itu, tapi bagiku kau adalah permataku yang paling berharga. Jadi, aku ingin kau tetap menjadi Nayaku yang kuat seperti dulu. Dan bukankah karena foto itu, sehingga aku akhirnya menikahimu?"


Naya membenamkan wajahnya di dada Zian, lalu memaki-maki suaminya itu dalam hati. Entah mengapa gadis itu malah menyalahkan sang suami atas penghinaan yang dialaminya hari itu.


"Ini semua salahmu!" kata Naya.


"Apa? Salahku?" Zian mengeryitkan alisnya, merasa bingung sendiri.


"Iya, salahmu...!"


"Kalau saja kau bukan si bos gila itu, mereka tidak akan menghinaku seperti tadi. Mereka menghinaku karena merasa aku tidak layak untukmu. Aku mau Zianku yang lama dengan skincare oli di wajahnya, bukan laki-laki berdasi sepertimu!" ujarnya seraya menarik dengan keras dasi yang melekat di leher suaminya itu.


Zian mulai bingung dengan tingkah Naya itu. "Naya, aku kan jadi montir untuk bisa mengawasi pembangunan gedung dan rumah sakit itu. "


"Apa peduliku? Pokoknya aku mau Zianku yang lama!"


Ya ampun! Kenapa istriku jadi aneh begini. Dia sama sekali tidak pernah membentakku seperti ini. Bahkan dia tidak pernah mengeraskan suaranya saat berbicara denganku. Apa yang mereka katakan padanya sehingga membuatnya jadi begini.


"Kenapa kau jadi cengeng begini? Dulu kau tersenyum senang saat foto itu tersebar. Bahkan kau tidak peduli dengan semua pemberitaan itu. Kenapa sekarang kau seperti ini?"


"Ini juga karenamu!" bentak Naya lagi. "Kalau kau tidak memanjakanku seperti sekarang, aku tidak akan secengeng ini. Kau yang membuatku menjadi manja dan cengeng," ucap Naya dengan nada setengah berteriak.


Zian mengulum bibirnya menahan tawa mendengar ucapan polos itu.

__ADS_1


Kenapa dia jadi menggemaskan begini. Untung saja ini tempat umum. Kalau saja kita di kamar, aku pasti sudah menghabisimu.


"Baiklah, aku yang salah."


Zian meraih tubuh naya dan menggendongnya keluar dari tolilet, membuat gadis itu gelagapan. Naya pun menyembunyikan wajahnya di dada Zian karena malu bertemu orang-orang di luar sana. Mia dan Dimas yang menunggu di luar segera mengekor di belakang Zian.


Dan, semua mata tertuju pada sosok lelaki jangkung yang menggendong seorang wanita keluar dari pusat perbelanjaan itu. Hingga Zian membawa Naya naik ke mobil, mata sebagian orang masih tertuju padanya.


Sedangkan Zian, mana peduli dengan tatapan orang-orang. Laki-laki itu hanya memikirkan sang istri saja.


Di perjalanan pulang, Naya masih saja menangis walaupun Zian dan Mia sudah berusaha membujuknya terus menerus. Namun, ucapan orang-orang di cafe itu begitu menyakiti hatinya.


"Naya, berhentilah menangis! Aku akan membereskan masalah itu besok," ucap Zian seraya mengusap rambut panjang itu. Wajah gadis itu masih merengut. Marah, kesal, dan sedih menyatu menjadi satu. Ingin rasanya Naya mencekik seseorang untuk menghilangkan sakit hatinya.


Tiba-tiba, rasa mual menyerangnya, merasa cairan itu sudah berada di kerongkongannya.


"Hueekk!"


Naya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Zian mulai panik melihat Naya seperti akan muntah. "Sayang... Kau mau muntah?" Zian memijat tengkuk Naya, "Lihat kan, kau jadi mual karena kebanyakan menangis."


Ya ampun! Kenapa dia malah menyalahkan aku. batin Zian.


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah itu. Saat mobil berhenti, Naya buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Zian mempercepat langkahnya mengikuti Naya yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya.


Mia menatap Naya dengan perasaan bingung. "Aku sudah berteman dengan Naya sejak lama. Tapi aku belum pernah melihat Naya sedih seperti ini. Sepertinya kejadian hari ini benar-benar membuatnya sakit hati," ucap Mia pada Dimas.


"Aku juga belum pernah melihatnya menangis seperti tadi," sahut Dimas yang juga merasa heran dengan tingkah Naya. "Oh ya, aku akan kembali ke kantor. Ikutlah, aku akan mengantarmu pulang."


"Baiklah, sepertinya Naya juga butuh istirahat."


Di kamar, Naya tergesa-gesa memasuki kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang tadi dimakannya.


Hueekkkk!!!

__ADS_1


Naya terus muntah-muntah di kamar mandi. Zian yang melihat Naya muntah-muntah kembali dihinggapi perasaan khawatir. Walaupun Naya sering mengalaminya akibat obat-obatan yang diminumnya, namun tetap saja Zian menjadi panik. Naya baru selesai setelah mengeluarkan semua dari dalam perutnya.


Zian pun kembali dipenuhi perasaan takut saat melihat wajah Naya memucat. Laki-laki itu segera menggendong sang iatri dan membaringkannya di tempat tidur, lalu menyelimutinya.


"Bukankah kau punya obat anti mual yang diberikan kakak padamu."


"Obatnya habis." jawab Naya singkat.


"Kenapa kau tidak bilang kalau obatnya sudah habis?" Zian mulai gemas dengan kelakuan sang istri yang dikiranya selalu menutupi apapun darinya.


"Aku kan tidak pernah mual lagi selama dua bulan ini. Tapi ucapan orang-orang tadi membuatku mual." Naya kembali menangis mengingat ucapan orang-orang tentangnya.


"Sudah jangan menangis lagi!" bujuk Zian dengan nada lembut, kemudian ikut berbaring di sana dan memeluk istri yang sedang sensitif akut itu.


"Jangan sentuh aku! Kau sangat menyebalkan sama seperti mereka."


Kenapa aku jadi kesal begini pada Zianku? Aku sampai ingin mencekiknya karena kesal. batin Naya.


Zian melepaskan tangannya yang sudah melingkar di tubuh istrinya itu. "Baikkah, tapi berhenti menangis, ya...! Aku akan jelaskan semuanya di media besok."


"Untuk apa?" Naya mengerucutkan bibirnya, dan entah mengapa itu terlihat begitu lucu di mata sang suami. Zian merasa ingin menggigit bibir mungil itu saking gemasnya.


"Agar penduduk bumi tahu, laki-laki yang bersamamu di foto itu adalah aku."


" Kau kan tidak punya foto aslinya. Mereka tidak akan percaya. Mereka akan mengira kau berbohong untuk membelaku saja."


Zian pun kembali tersenyum melihat tingkah Naya yang semakin menggemaskan di matanya. "Tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan foto aslinya. Kau lupa siapa suamimu ini?"


Wajah gadis itupun berubah senang mendengar ucapan sang suami, "Benarkah?" tanyanya dengan wajah berbinar.


Zian tersenyum lalu membelai wajah cantik itu, "Iya, Sayang... Karena itulah, jangan menangis lagi," ucap Zian membuat Naya tersenyum senang. Naya pun langsung memeluknya dengan erat.


Ya ampun... Kenapa membujuk wanita yang sedang marah sesulit ini. Coba lihat! Barusan dia minta jangan disentuh. Sekarang dia yang memeluk duluan. Entah hal ajaib apa lagi yang akan dia lakukan setelah ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2