Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Selamat tinggal


__ADS_3

Zian baru saja tiba di gedung kantor pusat Kia Group. Buru-buru dia memasuki gedung itu. Beberapa orang tampak membungkukkan kepala saat berpapasan dengannya. Pria itu langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai teratas gedung tinggi menjulang itu


Zian merasa lift berjalan dengan sangat lambat, sementara dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan informasi tentang Kia, dimana gadis yang menjadi cinta pertamanya itu berada.


Tidak lama, Zian telah sampai di lantai teratas, dia langsung memasuki ruangannya. Anita sudah duduk manis di sofa menunggunya. Zian pun langsung mengambil posisi duduk di samping asisten wanitanya itu.


"Anita... Kau ada informasi apa tentang Kia?" tanya Zian menggebu-gebu, napasnya bahkan tersengal karena berlari menuju ruangannya.


"Tenanglah... Atur napasmu dulu!" ucap Anita seraya menuang teh ke dalam gelas yang telah dipesannya dari pantry, lalu meletakkannya di hadapan Zian.


"Ayolah cepat katakan, kau ada informasi apa tentang Kia!"


Anita terdiam sejenak, lalu mengatur napasnya. Dia akan menyampaikan kabar yang tidak mengenakkan bagi bosnya itu.


Entah bagaimana reaksinya jika dia tahu bahwa Kia sekarang sedang sakit. batin Anita


"Anita, kenapa kau diam saja?" bentak Zian membuat Anita terlonjak kaget. Dia kemudian menghela napasnya, sebelum mulai memberitahu bos sekaligus sahabatnya itu.


"Kau ingat, lima tahun lalu tanpa sengaja kau menembak Kia dan tembakanmu mengenai perutnya?"


Zian tersentak mendengar ucapan Anita. Dia kembali mengenang peristiwa yang akan membuatnya merasa bersalah seumur hidupnya itu.


"Bagaimana aku bisa melupakan hari itu, Anita. Seumur hidup, aku akan selalu mengingat hari itu," ujar Zian dengan wajah sedih.


"Belakangan ini aku dan Dimas mencoba menyelidiki data pasien di semua rumah sakit yang ada di kota ini, di hari peristiwa itu terjadi. Tapi kau tahu kan, pihak rumah sakit tidak boleh membocorkan rekam medis pasien sembarangan..." ucap Anita membuat Zian mengerutkan alisnya.


"Iya... Aku tahu, lalu?"


"Dimas mencoba menyelidiki data pasien di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. Dan rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama dengan tempat ibunya menjalani operasi bypass,"


"Apa yang dia temukan?" tanya Zian yang semakin penasaran.


"Dari sanalah Dimas mengorek informasi tentang Kia," Zian semakin dipenuhi pertanyaan dalam benaknya. Dia membeku mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Anita, "Dimas berhasil membuat dokter yang menangani ibunya memberi informasi. Dokter itu mengatakan, lima tahun lalu ada seorang gadis remaja yang menjadi korban penembakan dari orang yang tidak dikenal. Aku yakin gadis itu adalah Kia. Dan dokter itu adalah salah satu dari tim dokter yang menangani gadis itu. Termasuk di antaranya, Dokter Elma."


Zian terdiam, matanya berkaca-kaca. Dia membayangkan wajah polos Kia yang saat itu berusaha tersenyum menahan kesakitannya.

__ADS_1


"Dokter Elma?" gumam Zian dibalas anggukan oleh sang asisten.


Anita melanjutkan, "Peluru yang kau lepaskan, tepat mengenai organ hatinya, sehingga tim dokter memutuskan mengangkat sebagian hatinya yang rusak. Dan, setelah itu, gadis itu ditangani oleh Dokter Fahri, kakakmu..." Cairan bening yang memenuhi kelopak mata laki-laki itupun berjatuhan. Semakin besar perasaan bersalahnya pada gadis malang itu.


"Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Apa dia baik-baik saja?"


"Dokter itu tidak mau memberi informasi lebih. Jadi kau bisa menanyakannya langsung pada kakakmu tentang gadis itu..."


Untuk pertama kalinya, Zian menangis di depan orang lain. Anita kemudian mengusap bahunya, mencoba menguatkan temannya itu. Zian seolah tenggelam dalam rasa bersalahnya pada Kia.


****


Setelah puas memandangi setiap sudut rumah sederhana itu, Naya lalu memasuki kamar Zian. Dia kemudian membuka lemari pakaian suaminya itu lalu mengambil selembar baju kemeja milik Zian. Dia memeluk baju kemeja itu dengan berderai air mata.


Selamat tinggal Zianku, aku akan pergi. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi setelah hari ini. Aku akan menjalani hari-hari terakhirku dengan kenangan tentangmu.


Naya kemudian keluar dari kamar itu dan memasukkan baju kemeja Zian ke dalam kopernya.


Kau tidak akan marah, kan kalau aku mengambil satu pakaianmu. Aku akan selalu merasa dekat denganmu hanya dengan memeluk pakaianmu ini.


Hingga gadis itu tiba di sebuah halte bus. Naya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, berharap lelahnya segera berkurang. Sekarang, dia tidak tahu harus kemana. Tidak ada tempat yang dia tuju. Tidak ada teman atau saudara untuk tempatnya mengadu.


Hingga sebuah mobil berhenti di depan halte. Seorang pria berjas tampak keluar dari mobil itu dan menghampiri Naya. Dia melihat Naya yang sedang duduk melamun seorang diri dengan sebuah koper di sampingnya.


"Naya, kau mau kemana?" tanya pria itu. Naya kemudian mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara itu.


"Dimas?" ucap Naya yang baru menyadari kehadiran Dimas di sana.


"Kau mau kemana membawa koper?" tanya Dimas lagi.


"Aku akan pergi. Waktuku bersama Zianku sudah habis. Jadi aku memutuskan untuk pergi secepatnya," ucap Naya dengan suara lemahnya.


Dimas menghela napas panjang. Mengutuki perbuatan Zian pada Naya yang dirasa sangat keterlaluan bagi Dimas.


"Lalu kau akan pergi kemana dalam keadaan seperti ini? Lihat dirimu, kau sangat pucat."

__ADS_1


"Aku tidak tahu... Mungkin aku akan mencari rumah sewa," sahut gadis polos itu kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Dimas begitu melihat sebuah bus berhenti. Namun, saat akan menaiki bus itu, kepalanya tiba-tiba pusing. Naya pun pingsan di sana, beruntung Dimas dengan sigap menangkap tubuhnya. Beberapa orang yang melihat kejadian itu, langsung mengerumuni Naya. Dimas lalu menggendong Naya menuju mobilnya dan kemudian menuju sebuah rumah sakit. Sesekali dia menatap wajah Naya yang pucat dengan perasaan iba.


Kasihan sekali gadis ini. Aku harus memberi pelajaran untuk laki-laki bodoh itu. batin Dimas.


***


Zian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju area parkir gedung itu. Lalu menaiki sebuah mobil yang terparkir disana. Dengan segera, dia melajukan mobil itu menuju rumah sakit tempat Dokter Fahri praktek.


Zian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi nomor kontak Dokter Fahri. Namun, setelah beberapa kali mencoba, Sang Kakak tidak juga menjawab panggilan itu.


Dokter Fahri yang sedang memeriksa seorang pasien ketika ponselnya berdering, memilih mengabaikan panggilan itu dan kembali fokus pada pasiennya. Sementara Zian sudah kesal karena kakaknya itu tak kunjung menjawab panggilannya.


Tidak butuh waktu lama, Zian telah sampai di halaman rumah sakit. Dia mengambil langkah seribu menuju ruangan Dokter Fahri. Namun, saat tiba di sana, Zian melihat masih ada beberapa pasien yang mengantri.


Zianpun terpaksa harus sabar menunggu sampai antrian itu selesai. Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu, di depan ruangan kakaknya itu. Perasaannya campur aduk, antara Naya dan Kia. Namun, rasa bersalahnya yang besar membuatnya lebih mementingkan Kia.


Walaupun Kia sudah menjadi milik orang lain, tapi aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Aku akan memberinya apapun yang dia butuhkan.


Setelah menunggu selama hampir dua jam, akhirnya Zian mendapatkan kesempatan untuk menemui kakaknya itu. Dokter Fahri masih duduk di kursi seraya membaca rekam medis seorang pasien ketika ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.


Dan, ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, dokter itu langsung menutup map yang berisi rekam medis pasiennya yang bertuliskan nama Kanaya Indhira Adiwinata, lalu memasukkannya ke dalam laci.


"Kakak, aku ada perlu denganmu," ucap Zian saat memasuki ruangan Dokter Fahri. Dokter itu menatap Zian dengan tatapan dingin.


"Kebetulan, aku juga ada perlu denganmu," imbuh putra sulung dari keluarga Azkara itu.


****


Bersambung


Maaf sudah menunggu lama... hehehe


Terima kasih yang sudah meninggalkan like komentar dan vote.


Jejak-jejak kalian membangkitkan semangat penulis amatiran ini.

__ADS_1


Dan, Sesaat lagi semuanya akan segera terbongkar. Seperti apa penyesalan babang Zian? ada di episode selanjutnya...


__ADS_2