Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 103.


__ADS_3

"Hahaha!!" terdengar suara tawa Zian dan Naya di dalam kamar. Dua orang itu sedang bergelung di bawah selimut setelah sebelumnya bermain perang bantal.


"Hentikan! Aku tidak tahan dikelitik!" Naya terus memohon agar Zian berhenti mengelitik perutnya.


"Tidak mau!"


"Kau ini suka sekali menyiksaku, ya? Hahaha, aku mohon hentikan! Itu geli tahu..."


"Baikkah, tuan putri." Zian melepas jari-jarinya yang sejak tadi bermain di perut Naya, kemudian membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka.


"Kemarilah!" Zian merentangkan tangannya meminta Naya segera mendekat. Naya pun langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan sang suami.


"Besok kita akan jalan-jalan lagi, kan?" tanya Naya.


"Kau mau kemana?"


Sejenak gadis polos itu berpikir. Dia benar-benar ingin memanfaatkan kebaikan sang suami dengan meminta apapun. Karena sejak tiba di Barcelona, Zian menuruti semua keinginan Naya, walaupun permintaannya kadang tidak masuk akal.


"Heh, kau jangan mencari ide aneh-aneh lagi. Tadi aku sudah menemanimu mengunjungi museum pablo picasso. Kau bahkan sempat memintaku membelikanmu semua lukisan yang ada di sana. Gila juga harus ada batasnya, kan?"


Hmmm dasar! Kegilaanmu itu yang tidak ada batasnya. Kau lebih gila dari aku.


"Tapi kau pelit. Kau tidak membelikan satupun lukisan itu untukku." Naya mengerucutkan bibirnya dengan lucu, membuat Zian gemas dan langsung memberi gigitan lembut di sana.


"Sayang... Kau tahu harga satu lukisan di museum itu?" tanya Zian diikuti gelengan kepala oleh Naya.


"Sangat mahal, ya?" tanya Naya polos. "Apa uangmu tidak cukup untuk membelinya?"


"Aku bahkan bisa membeli museum itu untukmu, seandainya dijual, tapi..." Zian menggantung ucapannya kemudian mengecupi kening sang istri.


"Tapi apa?"


"Nayaku, kau tahu satu hal... tidak semua keinginan kita harus terpenuhi. Apa kau tahu, satu harga lukisan Pablo Picasso-mu itu bisa untuk mendanai ratusan orang berobat di rumah sakit kita."


Naya tercengang mendengar ucapan suaminya itu. "Semahal itu kah?"


"Jika kau punya uang satu setengah triliun, kau akan pilih mana? Menolong ratusan orang yang butuh biaya berobat di rumah sakit, atau membeli sebuah lukisan yang hanya kau pajang di kamarmu?"


Naya menundukkan kepalanya, sekarang dia mengerti kenapa Zian tidak mau membelikannya lukisan satupun. Zian pun membelai puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Sayang, kau pernah merasakan ingin berobat tapi tidak punya uang, kan? Bagaimna rasanya? Sakit, kan?" tanya Zian lagi, dan mata Naya kini berkaca-kaca mengingat masa dimana dirinya benar-benar ingin sembuh, tapi tidak memiliki cukup uang untuk berobat. "Maafkan aku! Aku yang salah karena menyembunyikan identitasku yang sebenarnya."


"he-em..." Naya mengangguk pelan.


Laki-laki itu kembali memeluk sang istri. "Itulah yang ingin aku jelaskan padamu. Kita bisa saja hidup dalam kemewahan, membeli barang apapun yang tidak penting. Sementara di luar sana, ada banyak orang yang bahkan tidak punya uang untuk berobat. Lalu kenapa kita tidak gunakan apa yang kita miliki untuk meringankan beban mereka?"


Hening! Naya tidak sanggup berkata apa-apa.


"Apa kau benar-benar ingin aku membelikanmu lukisan itu?" tanya Zian.


Naya mengusap air matanya yang berjatuhan, kemudian menggeleng. "Tidak mau! Aku lebih baik menggunakan uang itu untuk menolong orang. Maafkan aku! Aku terlalu banyak menuntutmu ini-itu."


Kenapa aku tidak menyadari betapa baiknya Zianku ini. Dia bahkan punya uang untuk membelikanku semua lukisan yang ada di museum itu, tapi dia lebih memikirkan orang-orang tidak mampu di luar sana.


"Apa kau sendirian membiayai semua pasien di rumah sakit itu?"

__ADS_1


Zian tertawa mendengar pertanyaan polos itu, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak sendiri, Sayang... Aku mana sanggup membiayai semuanya sendirian. Kaya juga ada batasnya, kan? Kau pikir berapa jumlah pasien di rumah sakit itu?"


"Lalu, bagaimana kau melakukannya?"


"Percayalah, dunia tidak pernah kekurangan orang baik, walaupun orang jahat bertebaran dimana-mana. Ada banyak investor dari dalam dan luar negeri yang membantuku. Mereka adalah orang-orang kaya yang tidak pelit."


Aku benar-benar beruntung memiliki suami mafia-ku ini. Tapi kenapa dia pernah menjadi mafia. Apa ada mafia sebaik ini.


Pikiran-pikiran itu terus bermunculan di benak gadis itu. Tentang masa lalu sang suami dulu mendapat julukan mafianya mafia.


"Bo-leh aku tanya sesuatu?" tanya Naya dengan sedikit ragu.


"Apa?"


"Kenapa dulu kau dapat julukan mafianya mafia? Apa kau sekejam itu? Siapa namamu tadi?" Naya berpikir sejenak, "Tuan Maliq si mafianya mafia?"


Wajah Zian langsung berubah mendengar pertanyaan itu. Sungguh, masa lalunya itu benar-benar ingin dilupakannya. Dan juga alasan mengapa dirinya mendapat julukan mafianya mafia.


"Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu!" jawab Zian singkat.


"Kenapa?"


"Karena kau akan takut padaku jika kau tahu alasan kenapa para mafia memberiku julukan itu."


Benarkah? Apa semenyeramkan itu, apa Zianku dulu adalah seorang pembunuh berdarah dingin? Kenapa memikirkannya saja aku jadi takut begini?


"Nah, kan? Kau baru memikirkannya saja, kau sudah takut." Zian terkekeh kecil, mencubit hidung sang istri.


"Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?"


Ucapan Zian akhirnya membuat Naya bernafas lega, kemudian kembali memeluk suaminya itu. Walaupun rasa penasarannya tentang masa lalu sang suami masih menghantui pikirannya.


"Sekarang, tidurlah. Besok kita mau ke pantai, kan?" tanya Zian kemudian.


"Hu-um..."


****


Keesokan harinya, di sebuah pantai...


Atas permintaan Naya yang terus merengek manja, hari itu dengan sangat terpaksa, Zian membawanya berjalan-jalan di pantai.


Sepasang suami istri itu berjalan di tepi pantai, dengan bergandengan tangan. Zian memperhatikan wajah Naya yang sejak tadi merengut dengan matanya yang melirik kesana kemari.


"Kenapa wajahmu begitu? Kan kau yang minta ke pantai."


Ada rasa menyesal di hati gadis itu telah meminta suaminya membawanya ke pantai. Betapa tidak, banyak wanita di pantai itu yang hanya menggunakan bikini saja. Bahkan Naya sampai kegelian melihatnya.


"Kau sengaja kan, menuruti keinginanku ke pantai, biar kau bisa puas memandangi orang-orang yang memakai bikini itu?"


Zian tertawa mendengar ucapan Naya yang baginya sangat lucu.


"Hey, Senorita-ku... Kau yang terus merengek minta ke pantai, kan? Lagi pula aku tidak melirik mereka." Zian merangkul Naya kemudian berbisik di telinganya, "Aku lebih senang memandangimu saat tidak memakai sehelai pakaian pun."

__ADS_1


"Dasar mesum!"


Naya kemudian menarik lengan Zian dan berjalan ke sebuah tempat yang lebih sepi.


"Ayo kita foto!" Naya mengambil kamera dari dalam tas yang di bawanya. Lalu kemudian berselfie ria. Tidak lama, terbesitlah ide untuk mengerjai sang suami.


Naya mengambil sebuah balok kecil yang tergeletak di tepi pantai. "Sayang, ayo naik ke kayu itu!"


"Untuk apa?"


"Ayolah, naik ke kayu itu, dan lakukan gerakan seperti sedang surfing."


Zian menganga tak percaya mendengar permintaan aneh dan pastinya memalukan baginya.


"Untuk apa, Naya?" Zian mulai gemas dengan ide gila sang istri.


"Ayo cepat naik ke sana!" Naya terus merengek agar Zian mau berpose sesuai keinginannya. Akhirnya, lelaki itu menyerah dan mengikuti keinginan sang istri.


"Seperti ini?" Zian benar-benar berpose seperti sedang berselancar.


"Nah, iyya begitu!" ucapnya sambil tertawa puas.


CEKREK CEKREK.


Jadilah foto lucu Zian yang sedang berselancar di pantai.



Hahaha aku puas sekali mengerjainya. Kenapa dia sangat lucu. Baiklah, akan ku kirim ke grup whatsapp keluarga. Kak Fahri dan Evan pasti akan tertawa melihat foto ini.


Dengan senyum kepuasan, Naya mengirim foto itu ke grup whatsapp keluarganya. Zian yang merasa dikerjai habis-habisan hanya dapat mengelus dada.


Sementara itu, di belahan bumi lain, Evan dan Fahri yang sedang berada di tempat masing-masing, tertawa terbahak-bahak setelah melihat foto yang baru saja dikirim oleh Naya.


"Hahaha, Naya... Naya... Kau benar-benar telah berhasil menundukkan singa itu. Lihat! Dia benar-benar menjadi imut sekarang!" ucap Evan sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Evan pun memberi komentar untuk foto itu.


Evan : [Apakah makhluk dalam foto ini adalah seorang Zildjian Maliq Azkara?] isi pesan Evan disertai beberapa emot tertawa.


Fahri : [Hati-hati adikku, aku takut kau tenggelam.]


Zian yang membaca pesan yang dikirim oleh dua saudaranya itu hanya mampu menatap gemas pada sang istri yang mendadak usil itu.


Zian : [Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!]


Zian kemudian kembali melirik Naya dengan kesal. Ingin rasanya mengigit istri yang rasanya semakin hari permintaannya semakin aneh itu.


"Apa? Sekarang kau sudah puas?" Zian memasang wajah seolah benar-benar kesal.


"Hehe..." Naya hanya menjawab dengan kekehan.


"Aku heran, kenapa permintaanmu semakin hari semakin aneh saja!"


Aku juga tidak tahu, aku merasa sangat senang saat berhasil mengerjaimu. Aku juga heran ada apa denganku. dalam batin Naya.


****

__ADS_1


BERSAMBUNG


terima kasih semoga terhibur. jangan lupa like komen


__ADS_2