Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 104


__ADS_3

Setelah sebulan lamanya Zian membawa Naya berbulan madu- dengan mengunjungi berbagai negara yang pernah ditulis sang istri dalam sebuah buku, akhirnya mereka kembali dari perjalanan panjang itu.


Lebih dari sepuluh negara yang telah dikunjungi pasangan suami istri itu. Zian benar-benar memanfaatkan liburannya dengan membahagiakan istri tercintanya. Laki-laki itu menuruti apapun yang diinginkan sang istri walaupun kadang tidak masuk akal.


Bahkan, saat berkunjung ke Istanbul, Turki yang merupakan kota kelahiran Zian, Naya pernah menangis meminta makanan yang hanya ada di negara asalnya dan membuat Zian uring-uringan mencari restoran yang menyediakan makanan itu.


Dan pagi itu, Zian kembali pada rutinitasnya. Dengan setumpukan map yang tersusun di atas meja kerjanya. Sementara Naya sedang mengunjungi sahabatnya, Mia dan membawakan beberapa buah tangan yang dibelinya untuk sahabat terbaiknya itu.


"Enak sekali jadi kau. Aku sangat iri padamu. Apa Kak Zian benar-benar menuruti semua keinginanmu?" Mia bertanya dengan wajah berbinar.


Naya hanya menjawab dengan anggukan, membuat Mia mengelus dada. "Padahal dulu aku pikir Kak Zian hanya orang biasa. Ternyata dia seorang Sultan. Kau bisa minta apapun yang kau inginkan darinya."


"Tapi dia itu menyebalkan, Mia!"


"Menyebalkan apanya? Dia sudah sebaik itu padamu, tapi kau masih menyebutnya menyebalkan?"


Kau tidak tahu, kan. Dia menuruti semua keinginanku tapi aku harus membalas kebaikannya dengan tubuhku. Dia sangat licik. batin Naya.


"Pokoknya menyebalkan saja!" ujar Naya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?" tawar Mia setelah melihat wajah Naya yang kusut.


"Kemana?"


"Kemana saja. Nonton dan berbelanja. Apa saja yang bisa membuatmu senang."


Wajah Naya pun berbinar mendengar ajakan itu, "Baiklah..."


Dan akhirnya, Naya dan Mia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan diantar oleh seorang sopir.


Tanpa sadar, mereka telah berada di pusat perbelanjaan itu selama berjam-jam. Hingga mereka melepas rasa lelah dengan duduk di sebuah cafe. Sambil menunggu pesanan, Mia mengedarkan pandangannya kesana kemari, hingga matanya menangkap sosok lelaki yang dikenalnya.


"Naya, bukankah itu Kak Zian?" Mia menunjuk seseorang yang sedang duduk sendiri di sudut cafe itu. Mata Naya pun mengikuti kemana arah yang ditunjuk Mia.


Zian ... iya itu dia.


"Sedang apa dia di sini?" tanya Naya dengan heran. Setahunya, pagi-pagi sekali suaminya itu sudah berangkat ke kantor karena ada rapat penting.


Beberapa saat kemudian, terlihat seorang wanita cantik menghampiri Zian yang membuat Naya membelalakkan matanya. Suasana di cafe itupun berubah panas. Naya merasakan tubuhnya telah terbakar melihat sang suami sedang duduk berdua dengan seorang wanita.


"Mia, itu siapa yang sedang bersamanya?" Naya menutup wajahnya dengan buku menu, agar Zian tak melihatnya.


"Mana aku tahu, dia kan suamimu. Seharusnya aku yang tanya padamu." Mia ikut menutupi wajahnya dengan selembar kertas.


"Aku belum pernah melihat wanita itu sebelumnya."


Zian dan wanita itu terlihat sangat serius membicarakan sesuatu. Sedangkan Naya sudah dikuasai perasaan cemburu. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Naya!" panggil Mia, "kau baik-baik saja kan?"


Naya menghela nafas, dengan matanya yang terus tertuju pada sosok suaminya itu. "Aku tidak apa-apa. Ayo Mia, kita pulang saja."


"Kau tidak menyapa Kak Zian dulu?"


"Untuk apa?Aku mau pulang." Naya berdiri dari duduknya, sementara Mia langsung mengekor di belakangnya.


Saat Naya akan melewati meja Zian, lelaki itu mengalihkan pandangannya sehingga tidak melihat keberadaan sang istri di sana. Naya dan Mia berjalan keluar dari cafe itu. Bahkan, mereka sudah jauh dari cafe, namun wajah Naya masih merengut.


"Kau ini kenapa, Naya?"tanya Mia.


"Aku sedang memikirkan suamiku!" Rasa kesal bercampur sedih tergambar jelas di wajah Naya.


"Kau bisa berpikir? Ya ampun, itu keajaiban," ucap Mia sambil terkekeh.


"Diam kau! Menyebalkan! " sentak Naya, "Mia, menurutmu pendapatmu? Lebih cantik mana, wanita tadi atau aku?"


"Sebenarnya kau lebih cantik dan masih muda. Tapi kau lihat kan, penampilan wanita tadi benar-benar menggoda. Dia lumayan berani memakai pakaian seperti itu di hadapan seorang laki-laki."


"Menggoda?" Naya sudah mulai gusar.


"Semua laki-laki pasti suka dengan wanita yang berpenampilan sedikit terbuka." Naya mulai teracuni oleh ucapan temannya itu. Pikiran-pikiran Zian digoda banyak wanita cantik dan seksi menari-nari di benaknya.


"Apa aku kurang menarik?" Suara Naya terdengar getir.


"Bukan kurang menarik, tapi kau datar. Suamimu bisa bosan!"


"Bosan? Apa mungkin dia bisa bosan padaku?"


"Tentu saja bisa. Kau harus bisa memberikan sesuatu yang berbeda."

__ADS_1


Naya mengerutkan alisnya, berfikir keras apa maksud sahabatnya itu. "Maksudmu berbeda bagaimana?"


"Caramu melayaninya di tempat tidur, bodoh!" Mia mulai kesal dengan kebodohan temannya itu.


"Kau sok tahu! Kau kan belum menikah. Kau tahu apa soal begituan."


Mia berdecak kesal mendengar ucapan Naya. "Untuk apa ada internet kalau kau masih bodoh! Ayo ikut aku!" Mia menarik lengan Naya menuju sebuah toko pakaian dalam wanita. Lalu mengambil sebuah lingerie yang menggantung di sana.


"Kau tahu, ini namanya apa?" tanya Mia. Naya meneliti setiap bagian pakaian yang menurutnya tidak layak pakai itu.


"Pakaian jaring!" jawab Naya dengan polosnya.


"Aku tahu, kau memang bodoh, Naya!" Mia pun mulai menjelaskan tentang pakaian yang berada di genggamannya itu. "Kau pernah baca novel?" tanyanya kemudian.


Naya hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Ini adalah lingerie. Kau tahu, tokoh utama pria di novel-novel sangat menyukai jika istrinya tidur dengan pakaian ini."


Baju apa ini. Apa benar, para suami senang jika istrinya memakai pakaian ini saat tidur? Batin Naya.


"Benarkah?" tanya Naya tak percaya.


"Kalau kau datar, suamimu bisa diambil wanita tadi. Kau harus bisa merayu suamimu saat menjelang tidur dengan seksi, agar dia tidak bisa melupakanmu."


Naya bergidik ngeri mendengar ucapan Mia. Dia mulai membayangkan dirinya yang tidak pernah merayu Zian sebelumnya. Membayangkan itu saja, sudah membuatnya geli setengah mati.


"Kau mau menipuku, ya? Kau kan belum menikah."


"Terserah!Aku hanya memberi saran." Akhirnya Mia mulai kesal.


****


Dan akhirnya, malam pun tiba...


Zian duduk selonjoran di tempat tidur sambil membaca buku, laki-laki itu sudah memakai setelan piyamanya. Sesekali matanya melirik kamar mandi. Naya sudah hampir satu jam berada di dalam sana, namun tak juga keluar.


"Naya...! Apa yang kau lakukan di kamar mandi?"


Hening, tidak ada sahutan.


Naya di kamar mandi sedang menatap geli pantulan dirinya di hadapan cermin. Dia benar-benar memakai lingerie yang tadi dibeli Mia untuknya.


"Kenapa aku geli sendiri melihatnya?" gumamnya.


Naya menghela napas sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi. Dan, begitu Zian menoleh pada sosok istri yang berdiri di ambang pintu kamar mandi, laki-laki itu terlonjak kaget.


"Na-Naya, apa yang kau pakai itu?" tanya Zian dengan suara terbata-bata.


"Kau menyukainya?" Naya tersenyum penuh harap. Sedangkan Zian sama sekali tidak menunjukkan reaksi selain terkejut. Bukannya senang, Zian malah geli melihat istrinya memakai pakaian itu.


"Siapa yang memberimu pakaian jaring-jaring itu? Apa itu benar-benar ada di lemarimu?"


"Aku... Aku membelinya tadi siang!" Naya menunduk malu.


"Apa? Kau membeli pakaian jaring-jaring ini? Siapa yang memberimu ide membeli pakaian terbuka seperti ini?"


Apa dia tidak suka? Tapi Mia bilang para suami akan suka jika istrinya memakai ini. Tapi kenapa Zianku sepertinya tidak suka.


Naya menjawab dengan ragu-ragu, "Mia yang membelinya untukku."


"Mia?" Zian terlihat frustrasi, Lalu kembali meneliti tubuh sang istri yang terbalut pakaian super tipis itu, sehingga setiap lekukan tubuhnya terlihat. "Cepat ganti! Aku benar-benar geli melihatmu memakai pakaian jaring penangkap ikan itu."


"Penangkap ikan?"


"Iya, itu lebih layak menjadi penangkap ikan daripada menjadi pakaian. Cepat ganti!" Zian mulai kembali menunjukkan sikap galaknya.


"Ganti?"


"Iya, cepat ganti! Kau terlihat seperti wanita penggoda. Aku tidak suka melihatnya."


"Apa? Kau bilang aku seperti wanita penggoda?" teriak Naya dengan kesal.


*****


Zian duduk di mobil, menatap ke jendela kamarnya dengan perasaan kesal. Naya baru saja mengusirnya dari rumah karena tersinggung dengan ucapan Zian yang menyebutnya mirip wanita penggoda.


"Apa masuk akal aku diusir dari rumahku sendiri. Dan lebih parahnya aku diusir istriku sendiri. Mia, dia benar-benar meracuni otak Naya dengan memakai pakaian laknat itu." gumam Zian.


Laki-laki itu kemudian melajukan mobil menuju rumah sang kakak.


Berselang lima belas menit, Zian tiba di rumah itu. Para penghuninya sedang berada di ruang keluarga. Fahri sedang bermain bersama Kay, sedangkan Evan sedang duduk di atas karpet bulu sambil membaca buku. Elma sedang asyik menonton TV.

__ADS_1


"Selamat malam!" Zian datang mengagetkan mereka.


Mereka kemudian menatap heran pada Zian yang datang dengan setelah piyama dan sandal jepitnya. Tanpa permisi, Zian langsung duduk di sofa dan menyambar jus milik Evan yang ada di meja.


"Hei, Kak! Itu punyaku!" ucap Evan.


"Apa peduliku?" sahut Zian dan langsung menyedot habis jus apel itu.


Fahri dan Elma menatap heran Zian, kemudian saling melirik. "Waktu itu Naya yang datang dengan piyama dan sandal bulunya, sekarang kau juga datang dengan piyama dan sandal jepitmu. Apa yang terjadi?" tanya Elma.


"Jangan bilang kau juga kabur dari rumah!" tanya Fahri.


"Naya mengusirku dari rumah!" seru Zian kesal.


Evan dan Fahri seperti tersedak udara mendengar ucapan Zian. Sementara Elma menganga tak percaya.


"Apa? Kau di usir?" tanya Fahri yang menahan tawanya.


"Apa yang kau lakukan, Kak? Sampai Naya mengusirmu?"


Tanpa rasa malu, Zian menceritakan pada saudara-saudaranya tentang penyebab Naya mengusirnya dari rumah. Dan, ketiga saudaranya itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zian.


"Kau keterlaluan. Dia sedang berusaha menyenangkanmu dan kau malah menghina penampilannya." Elma mengulum bibirnya setelah mengucapkan itu.


"Apa normal seorang wanita yang sudah menikah memakai pakaian jaring penangkap ikan seperti itu?"


"Itu normal. Dan namanya bukan jaring penangkap ikan! tapi lingerie," ucap Elma.


"Ling... Apa?" Zian menggaruk kepalanya.


"Lingerie!" ucap ketiga orang itu bersamaan.


Zian kemudian menatap Elma dengan ekor matanya. "Apa Kak Elma juga pernah memakai jaring-jaring seperti itu untuk merayu Kak Fahri?" tanya Zian dengan polosnya membuat wajah Elma memerah.


PLAK!


Zian langsung mendapat hadiah tepukan keras di kepalanya dari Fahri. "Pertanyaanmu tidak sopan!" seru Fahri.


"Ya maaf!" ucap Zian sambil mengusap kepalanya.


Zian kemudian menceritakan keanehan sang istri belakangan ini yang baginya lumayan menyebalkan.


"Kalian tahu, kalau aku tidak menuruti keinginannya? Dia akan marah dan kadang menangis. Naya benar-benar berubah. Aku tidak tahu lagi cara membujuknya," ucap Zian frustrasi. "Saat di Turki dia memintaku membelikannya gado-gado. Apa itu masuk akal?"


Elma, Fahri yang merupakan seorang dokter dan juga Evan, saling melirik sambil senyum-senyum mendengar ucapan Zian. Sebagai calon dokter obgyn, Evan sudah menebak ada apa dengan kakak iparnya itu.


"Mungkin bisa ular kobramu sudah tumbuh menjadi kecebong. Makanya Naya menjadi seperti itu," ucap Evan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.


"Bisa ular kobra? Maksudmu Naya habis digigit ular?" Wajah Zian sudah memucat saking khawatirnya. Laki-laki itu akan berperan menjadi manusia paling bodoh di dunia jika menyangkut Naya.


Evan menepuk jidatnya dengan buku, lalu menatap kakak sulungnya, "Kau saja yang jelaskan, Kak! Aku tidak sanggup! Bodoh juga harus ada batasnya, kan?"


Fahri menghela napas, "Bukankah setiap malam Naya digigit ular kobra..." ucap Fahri. Elma tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu. Sementara Zian yang bodoh sama sekali belum mencerna apapun dari pembicaraan itu.


"Itu baru gejala awal. Bisa ular kobramu bisa menyebabkan gejala lebih serius dari sekedar mengusirmu dari rumah." Evan kembali menambahkan.


Zian menatap mereka semua bergantian. Walaupun masih bingung, dia berusaha mencerna ucapan kedua saudaranya dengan pikirannya sendiri. Wajahnya tiba-tiba berubah sedih.


Apa Naya sakit lagi, makanya seperti ini. Ya mereka kan dokter, tentu saja bahasa mereka sedikit aneh dan menggunakan istilah medis yang sulit ku mengerti. Mereka tidak mau aku panik.


"Tapi kau punya penawar bisa ular kobranya, kan?" Zian menyahut seolah benar-benar mengerti isi pembicaraan itu.


"Penawar?" Fahri melirik Evan dan memberi kode.


"Penawarnya tidak ada! Akan sembuh sendiri setelah sembilan bulan. Setelah kecebongmu tumbuh sempurna," kata Evan.


"Eh, kau sudah gila, ya! Kenapa selama itu. Dan istilah medis apa yang kalian berdua gunakan itu. Bisa ular kobra jenis apa yang bisa tumbuh menjadi seekor kecebong?" Zian mulai tersulut emosi.


Evan menghela napas kasar, lalu menutup bukunya. "Ular korba yang tersembunyi di dalam celanamu! Ya ampun, aku sampai harus menjelaskan sedetil ini."


Elma sudah tidak dapat menahan tawanya mendengar kebodohan Zian.


"Tuan Zildjian Maliq Azkara, adikmu Evan adalah calon dokter obgyn. Tanyalah padanya!" gelak tawa Fahri dan Elma menggema di ruangan itu. Membangunkan Kay yang sudah tertidur.


"Kenapa aku harus bertanya pada si Keong ini?" Zian menatap kesal Evan yang masih duduk di atas karpet. "Dia tahu apa masalah rumah tangga. Dia kan belum menikah."


"Aku belum menikah, tapi aku tahu gejala wanita hamil seperti apa! kau ini bodoh, Kak! Istrimu hamil dan kau tidak tahu!" Emosi di jiwa Evan ikut tersulut mendengar ucapan kakaknya itu.


"Hamil?" Zian membeku, matanya membulat sempurna. Antara terkejut dan bahagia.

__ADS_1


Apa? Naya sedang hamil? batin Zian.


****


__ADS_2