Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
HAREUDANG PART 1


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar...


Seorang pria polos cenderung bodoh dengan setelan piyamanya, sedang duduk selonjoran di pembaringannya. Laki-laki itu sedang sangat serius membaca sebuah buku berjudul Kama Sutra.


Kadang matanya membulat sempurna, kadang alisnya mengkerut, kadang pula dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gelisah. Bola matanya yang tegas begitu tajam menatap kata demi kata yang tersirat di dalam buku itu.


"Mereka bilang ini buku terbaik untuk belajar. Tapi kenapa aku masih bingung saja?" gerutu laki-laki itu.


Zian kembali membuka-buka halaman demi halaman buku itu, mencoba mencerna sekali lagi.


Katanya di buku ini juga ada petunjuk cara memuaskan wanita di ranjang. Ya ampun, sepertinya aku ketularan bodoh dari Naya.


Zian menutup halaman buku itu, berpikir sejenak. "Sebentar! Memangnya Nayaku yang bodoh itu bisa apa? Dia tidak akan minta yang macam-macam padaku, kan? Dia mana mengerti melakukan hal-hal seperti ini." gumamnya.


Zian masih begitu serius membaca buku itu ketika Naya masuk ke dalam kamar. Gadis itu tercengang saat kakinya melangkah masuk ke kamar itu. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar temaram itu.


Betapa tidak, kamarnya telah dihias seindah mungkin menjadi sebuah kamar pengantin. Kelopak bunga mawar putih dan merah bertaburan dimana-mana. Hanya cahaya dari lilin-lilin kecil yang menerangi kamar itu, serta wewangian aromaterapi yang menyeruak, memanjakan siapapun yang menghirup wanginya. Matanya kembali berkaca-kaca menyadari sang suami yang begitu baik memberinya semua kejutan itu.


Aku seperti masih bermimpi. Zianku yang dulu sangat galak sekarang menunjukkan betapa dia mencintaiku.


Rasanya gadis itu ingin memeluk suaminya itu, lalu mengucapkan kalimat aku mencintaimu sebanyak-banyaknya. Naya melangkahkan kakinya mendekat pada Zian yang begitu serius membaca buku.


"Kau sedang membaca apa?" tanya Naya.


Zian yang baru menyadari kehadiran sang istri terlonjak kaget. Gelagapan, laki-laki itu menutup buku itu dan meletakkan di pangkuannya. "Sayang... Sejak kapan kau di sini?" Tamu-tamu mu sudah pulang?"


"Sudah, baru saja mereka pulang..." jawab Naya singkat. Naya pun terperanjat setelah membaca judul buku yang berada di pangkuan suaminya. Perlahan, Naya mundur beberapa langkah, mencari jarak aman.


Bukankah buku itu adalah buku tentang.... Aaa... Matilah aku! Dia benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik.


"Ya sudah, cepat buka bajumu!" ucap Zian santai tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya, namun perintahnya yang santai itu justru membuat Naya terlonjak kaget. Gadis itu reflek menyilangkan tangannya di dada.


"A-a-apa? Bu-buka baju?" Nada bicara gadis itu sudah terputus-putus saking kagetnya.

__ADS_1


Zian mengalihkan pandangannya dari buku, lalu menatap Naya yang masih membeku di sudut sana dengan tubuh gemetaran dan tangan menyilang di dada. "Kau tidak gerah dengan pakaian itu? Cepat ganti bajumu!"


"Hehe... I-iya..." Tanpa banyak bicara, Naya setengah berlari menuju lemari pakaian menyeret gaun panjang yang melekat di tubuhnya, lalu mengambil jubah mandi dan masuk ke kamar mandi.


Di dalam sana, Naya masih kesulitan mengatur napasnya yang tidak beraturan. Setelah cukup tenang, dia melepas gaun panjang itu dari tubuhnya dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian yang berada di luar kamar mandi. Gemercik air pun mulai terdengar dari dalam kamar mandi.


Zian melanjutkan membaca buku itu, sesekali membayangkan apa yang tertulis di sana. Tanpa terasa, Naya sudah hampir satu jam di kamar mandi. Zian sudah mulai gusar menunggunya.


"Kanaya... Apa yang kau lakukan di kamar mandi? Kau sengaja membuatku menunggu, ya?" teriak Zian.


Gadis itu diam membisu karena terkejut dengan suara panggilan sang suami. Dia membuka sedikit pintu kamar mandi, lalu mengintip keluar. "Kenapa aku jadi takut begini? Apa yang akan terjadi padaku?" gumamnya.


Naya menggigiti kuku jarinya, kemudian bersandar di dinding kamar mandi. Membayangkan apa yang akan terjadi padanya malam ini.


"Naya, kau mau membuatku menunggu berapa lama lagi? Aku sudah menunggu hari ini selama tujuh tahun. Dan kau mau membuatku menunggu lagi?" Suara Zian sudah terdengar kesal.


Zian turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi. Laki-laki itu membuka pintu yang tidak terkunci dan menemukan sang istri sedang bersandar di dinding.


"Kau sedang apa?" tanya Zian.


"Aku sedang bersih-bersih..."


Zian tersipu, "Bersih-bersih? Wah sepertinya kau benar-benar ingin menyenangkan suamimu ini, ya?"


"Bu-bukan begitu... Aku hanya... Anu..."


"Kau sangat banyak bicara!" Karena sudah tidak sabar, Zian meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya keluar dari kamar mandi. Gadis itu pun memberontak minta diturunkan.


"Tu-tu-turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" pinta Naya dengan mengibas-ngibaskan kakinya.


"Harusnya kau senang, aku mau menggendongmu! Ini kan adegan keren di novel-novel. Memang kau tidak pernah baca novel?" Zian membaringkan Naya di tempat tidur.


"Ta-pi a-aku belum selesai mandi..." kata Naya dengan nada takut-takut.

__ADS_1


"Diam!" seru Zian. "Siapa yang mengizinkanmu membuatku menunggu lama? Kau sengaja kan, membuatku menunggu lama!"


Naya hanya mampu nyengir kuda mendengar ucapan Zian. Entah kenapa di mata Naya, Zian bagaikan seekor singa yang kelaparan dan akan menerkamnya tanpa ampun.


Zian mendekatkan wajahnya dengan wajah Naya sehingga mata mereka saling bertemu, hembusan napas mereka saling beradu. Naya yang merasa sangat gugup itu hanya mampu meremas jubah mandi yang melekat di tubuhnya.


"Kau sudah siap, Sayang? tanya Zian.


"Siap? Siap apa?"


Iya, kan... Gadis bodoh ini benar-benar tidak peka dan sangat kaku. Apa yang harus ku lakukan padanya? Harus mulai dari mana coba? Dasar Naya bodoh! batin Zian.


Dia mengumpati Naya dalam hatinya karena kebodohannya, padahal dirinya pun sama bodohnya dengan sang istri.


Zian kemudian menarik Naya kedalam pelukannya, menghirup aroma tubuh yang wangi itu. Tangannya yang kekar mengusap rambut, turun ke punggung. Pelukan hangat itu seakan mampu menjelaskan betapa Zian sangat mencintai Naya dengan segenap hatinya.


Zian melepaskan pelukannya sejenak, menatap wajah polos itu lekat-lekat dan membelainya, lalu berbisik mesra, "Aku sangat mencintaimu!"


Naya terdiam, menatap manik mata hitam suaminya itu. Tidak ada kata yang dapat keluar dari bibir mungilnya. Dan tanpa aba-aba, Zian sudah menempelkan bibirnya dengan bibir tipis berwarna merah delima itu. Ciumannya lembut namun menuntut, tangannya menahan tengkuk gadis itu agar kedua bibir itu tetap saling beradu. Detakan jantung pun mulai tak teratur. Naya beberapa kali mencoba melepaskan diri dari ciuman itu, namun Zian semakin memperdalam ciumannya. Kedua tangannya mengunci tubuh sang istri, sehingga yang dapat dilakukan Naya hanya memejamkan mata dan meremas piyama Zian.


Zian melepaskan ciumannya ketika merasa sang istri sudah hampir kehabisan Napas. Wajah keduanya telah merona merah, menahan rasa malu. Mereka pun terlibat drama tatap-tatapan yang lama. Hingga Zian mencoba menyibakkan jubah mandi berwarna putih bersih yang melekat di tubuh istrinya itu.


Tiba-tiba...


"Aku datang bulan!" seru Naya dengan matanya yang membulat.


Zian tersentak mendengar ucapan sang istri yang seolah memporak-porandakan rencana malam indahnya itu, "Apa? Datang bulan?" tanya Zian terkejut.


Keheningan pun tercipta selama beberapa detik, lalu...


"NAYAAAAA!!!" teriak Zian dengan kesalnya.


******

__ADS_1


BERSAMBUNG


TIDAK SEMUDAH ITU FERGUSO!!!!!!😅😂😂😂


__ADS_2