
Fahri mondar-mandir di ruang tamu, menunggu kabar keberadaan adik ipar kesayangannya. Namun, mentari sudah meninggi dan belum ada kabar maupun petunjuk tentang keberadaan peri kecilnya itu.
Sudah ratusan kali laki-laki itu menghubungi nomor ponsel Zian, namun zian menghilang bagai tenggelam di dasar samudera. Saking gelisahnya, sang dokter sampai tidak ke rumah sakit.
Tidak lama, ponselnya berdering. Fahri mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya. Tampak di layar tertera nama Evan. Fahripun segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Kak!" terdengar suara Evan di seberang sana.
"Kau temukan petunjuk?" tanya Fahri.
"Tidak, Kak! Kak Zian tidak ada. Di kantor hanya ada Kak Anita dan Kak Dimas," jawab Evan lesu.
"Kau tidak tanya mereka?"
Evan terdengar menghela nafas panjang, "Karena itulah aku menghubungimu, Kak! Kau tahu betul seperti apa Kak Anita. Dia hanya melihat Kak Zian di dunia ini sebagai manusia, sisanya hanya ulat belatung di matanya. Mana mau menjawab kalau aku bertanya."
Fahri terlihat frustrasi mendengar laporan adik bungsunya itu. "Baiklah, aku yang kesana,"
Dengan segera, Fahri menuju gedung kantor pusat Kia Group dimana Anita dan Dimas berada. Evan sudah menunggu kedatangan kakak sulungnya di lobby kantor itu.
Begitu memasuki gedung kantor super megah itu, tampak beberapa staf membungkuk tanda hormat. Mereka tahu siapa yang sedang berkunjung ke kantor itu.
Tanpa permisi, Fahri dan Evan segera menaiki lift khusus yang akan membawa mereka menuju lantai teratas gedung itu. Lift khusus yang tidak sembarang orang menggunakannya.
TING
Lift terbuka, Fahri dan Evan melangkahkan kaki keluar. Mereka langsung disambut oleh sekretaris Zian. Dan lagi, tanpa permisi Fahri dan Evan masuk ke ruangan sang bos.
Di dalam sana, hanya ada Anita dan Dimas yang sedang disibukkan dengan setumpukan pekerjaan yang ditinggalkan Zian tanpa belas kasih.
Begitu melihat Fahri datang, Anita langsung bangkit dari duduknya.
"Kak Fahri..."
"Katakan padaku dimana Zian sekarang!" tanya Fahri tanpa basa-basi.
Pertanyaan itupun membuat Anita terkejut, tapi wanita itu tetap berusaha bersikao sesantai mungkin.
"Dia..." Anita berfikir sejenak, "Dia tidak ada, Kak!" Anita melirik Dimas, memberi tatapan mengintimidasi agar laki-laki itu tidak membocorkan kemana Zian.
"Naya menghilang dari rumahku!" ucap Fahri, namun Anita yang terlihat tetap santai. Wanita itu bahkan tidak menunjukkan reaksi terkejut mendengar ucapan Fahri.
"Kami kemari untuk memberi tahu Kak Zian, bahwa Naya hilang. Sejak tadi dia tidak bisa dihubungi," Evan menambahkan.
"Tapi bos tidak ada. Sungguh, kami juga tidak tahu kemana dia," balas Dimas yang langsung berdiri dari duduknya.
Evan terlihat sangat frustrasi mendengar jawaban kedua asisten kakaknya itu, sedangkan Fahri menatap mereka dengan raut kecurigaan.
__ADS_1
"Ayo, Evan! Kita pergi," kata Fahri, lalu tanpa permisi keluar dari ruangan itu, sementara Evan mengekor dibelakangnya dengan heran.
"Kakak, kenapa kita tidak menunggu Kak Zian dulu?" Evan menahan lengan Kakak sulungnya itu-begitu tiba di lobby. Fahri pun menghentikan langkahnya sejenak.
"Si brengseek itu yang menculik Naya!" kata Fahri dengan kesal, Evan mengerutkan alisnya mendengar ucapan sang kakak..
"Apa maksudmu, Kak?"
"Sudah jelas, Zian yang menculik Naya. Kau lihat, begitu aku memberitahu Anita bahwa Naya hilang, dia tidak terkejut. Sialan mereka!" untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fahri mengumpati seseorang saking kesalnya dengan kelakuan adiknya itu. Laki-laki itu benar-benar merasa dikerjai habis-habisan oleh Zian.
Evan pun baru menyadari reaksi Anita tadi. Biasanya Anita sangat sensitif jika itu berhubungan dengan Zian. Wanita itu bisa terlihat sangat cantik dan anggun dalam keadaan biasa, namun bisa berubah sangat mengerikan jika tuannya diusik sedikit saja.
"Benar juga, dia tidak bereaksi saat kita memberitahu Naya hilang. Artinya, besar kemungkinan memang Kak Zian yang menculik Naya."
Fahri menghela nafas panjang, mengingat kelakuan memalukan Anita semalam di rumahnya.
"Kau ingat, tadi malam apa yang dilakukan Anita di rumah?"
Evan kembali mengerutkan alisnya, "Dia membuat kita panik dengan berpura-pura pingsan."
Fahri mengangguk pelan, kini sang dokter itu sudah menebak rentetan peristiwa yang terjadi semalam di rumahnya.
"Aku yakin, CCTV di rumah kita, dia juga yang mensabotase." ucap Fahri begitu mengingat ruang kesehatan di rumahnya menyatu dengan ruang CCTV.
"Sial! Kenapa aku baru menyadarinya?" ujar Evan kesal. "Dia kan pura-pura pingsan, supaya kita membawanya ke ruang kesehatan. Lalu kita meninggalkannya disana agar bisa beristirahat. Tapi ternyata dia sangat licik."
Sungguh, Zian yang sekarang benar-benar bukan Zian yang mereka kenal dulu. Naya si gadis polos itu telah merubah sosok Zian yang dingin dan galak dengan cintanya.
"Haha, ternyata bukan alkohol saja yang bisa membuat seseorang jadi mabuk," kata Fahri dalam kekehannya, kemudian mengusap kepala adik bungsunya itu. "Kau jangan jatuh cinta. Karena kau pasti akan lebih parah dari kakakmu itu."
Aku sudah pernah jatuh cinta pada seorang Kanaya Indhira, Kakak! Dan benar, aku juga gila karenanya. Bahkan aku ingin merebut Naya dari suaminya saat itu. Tapi syukurlah, sekarang Naya sudah bahagia bersama Kak Zian.
*****
Sementara itu, di dalam sebuah kamar yang temaram, Naya masih tertidur dalam balutan selimut tebal. Sosok tangan kekar membelai wajahnya dengan lembut. Sesekali kecupan di kening mendarat. Benar dugaan Fahri, si gila Zianlah yang telah menculik istrinya sendiri.
"Sekarang, tidak akan ada yang bisa menjauhkanmu dariku," ucap Zian seraya tersenyum puas.
Laki-laki itu kemudian melirik jam di pergelangan tangannya, hendak menghitung sudah berapa jam sang istri tertidur, kemudian menatap Naya dengan alis mengkerut. Ada sedikit rasa sesal menjalar di hatinya.
Otaknya menebak-nebak apakah dosis obat tidur yang dia masukkan ke dalam makanan yang dibawa Anita terlalu besar.
"Apa obat tidurnya terlalu banyak, ya. Kenapa Nayaku belum bangun juga," gumam si mafia gila itu.
"Sayaang..." Zian berbisik di telinga Naya, berharap bisikannya mampu membangunkan sang istri. Namun, Naya tertidur dengan sangat lelap.
"Dia bahkan tidur seperti kerbau. Enak sekali dia!" gumamnya tanpa rasa berdosa, padahal dirinyalah yang memberi sang istri obat tidur, agar tidak terbangun saat proses penculikan itu terjadi.
__ADS_1
Zian pun menunggu beberapa saat, hingga akhirnya, Naya menggeliat pelan, lalu merentangkan kedua tangannya.
Tangan kecil itu pun mendarat di wajah Zian. Naya yang merasa tangannya menyentuh benda lembut berbulu halus segera membuka matanya perlahan, namun efek mengantuk membuatnya belum menyadari sedang berada di mana. Tangan kecilnya pelan-pelan meraba benda yang sangat dikenalinya itu.
"Aku pasti sudah gila. Kenapa aku merasa sedang menyentuh wajah Zianku. Aku kan sedang kabur ke rumah Kak Fahri." gumaman kecil yang terucap dari bibir mungil itu membuat Zian menahan tawanya.
Naya menguap, kemudian membetulkan posisi tidurnya. Matanya pun menangkap sosok lelaki yang berbaring di sampingnya.
"Aaaaa!!!" teriak Naya membuat Zian menutup kedua telinganya, kemudian segera membekap mulut sang istri.
"Zzzzttt... Jangan teriak!" bisik Zian dengan mata membulat.
"Kau! Apa yang kau lakukan di kamarku?!" tanya Naya dengan pura-pura kesal. Padahal dalam hati benar-benar senang karena rindu pada suaminya itu telah menggunung.
Zian hanya tersenyum penuh arti, Naya belum menyadari sedang berada dimana.
Sesaat kemudian, kedua bola mata Naya berkeliling di setiap sudut kamar yang baginya asing itu. "Aku dimana? Ini bukan kamar di rumah Kak Fahri."
Gadis itu pun meneliti tubuhnya yang tidak tertutupi sehelai benang pun. Zian yang usil menanggalkan semua pakaiannya, sehingga hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa kau lakukan padaku? Mana pakaianku!" tanya Naya.
"Aku membuangnya!" jawab Zian tanpa rasa berdosa.
"Ap-apa?"
"Sekarang, tidak akan ada yang bisa menjauhkanmu dariku, sekalipun dokter bedebah dan keong laknat itu," ucapnya disertai kekehan kecil. Zian benar-benar puas dengan kelakuannya semalam yang menculik Naya tanpa sepengetahuan orang-orang.
"Lalu kenapa kau menelanjangiku? Kau mengambil keuntungan dari tidur pulasku, ya?"
"Eh, aku hanya membuka pakaianmu, aku sama sekali belum memakanmu." Zian melingkarkan tangannya, mengunci tubuh sang istri yang akan bangkit dari posisi berbaringnya. "Tidak enak melakukannya dengan orang yang sedang tidur, makanya aku hanya membuka pakaianmu, lalu menunggumu bangun. Sekarang aku sudah siap."
Naya menganga tak percaya mendengar ucapan sang suami yang baginya kelewat mesum itu. Dia mendorong tubuh Zian dengan keras, sehingga pelukannya terlepas.
Gadis itu menggulung selimut di tubuhnya, lalu berencana bangun dari posisi berbaringnya. Namun, ruangan itu tiba-tiba bergetar bagai sedang terjadi gempa bumi.
Naya pun menjadi panik bukan kepalang, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke pelukan sang suami.
"Kenapa kamar ini bergoyang? Apa sedang terjadi gempa bumi? Aku takut!" Zian menguluum bibirnya, menahan tawa mendengar ucapan polos istrinya itu, yang benar-benar belum juga sadar.
"Makanya, jangan jauh-jauh dariku. Gempa sering terjadi di kamar ini," ujar Zian yang semakin menambah ketakutan di wajah sang istri. Laki-laki mesum itu kemudian berbisik, "dan sebentar lagi, gempanya akan semakin besar, tapi hanya di tempat tidur ini."
"Apa? Gempa yang lebih besar?" Naya beringsut menyembunyikan tubuhnya dalam pelukan sang suami.
Naya yang polos dan tidak bisa diajak bicara menggunakan bahasa ambigu itu semakin ketakutan. Hanya matanya yang melirik takut kesana kemari, karena kamar itu beberapa kali terasa bergetar. Tentu saja yang di maksud Zian gempa yang lebih besar di tempat tidur adalah hal lain.
****
__ADS_1