Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 85


__ADS_3

Malam harinya...


Dalam sebuah kamar yang temaram, dua manusia sedang berbaring dalam balutan selimut yang sama. Naya sudah terlelap dalam pelukan Zian. Menjadikan lengan Zian sebagai bantal paling empuk di dunia. Kecupan lembut kembali mendarat di kening, lagi dan lagi. Zian terus menghujani wajah itu dengan kecupannya yang seakan tiada puasnya.


Laki-laki itu belum dapat memejamkan matanya, masih sibuk bermain dengan ponselnya. Dia sedang asyik saling berkirim pesan melalui aplikasi whatsapp dengan kakak sulungnya.


Zian : "Kak... Kau serius dengan ucapanmu tadi?"


Fahri : "Kalau kau tidak percaya silakan browsing internet, baca sendiri!!"


Zian : "Kau benar-benar tega padaku!" di sertai beberapa emoticon sedih.


Fahri : Kalau kau berani melanggar dan menyentuh Naya, aku akan membawanya untuk tinggal di rumahku lagi. Tunggulah sampai kalian benar-benar pulih. Baru aku izinkan.


Zian mulai gusar membaca pesan yang di kirim oleh kakaknya itu.


Zian : Kau ini dokter ahli penyakit dalam atau dokter pakar seksologi? balasan Zian disertai beberapa emoticon marah. Dia mengumpati Fahri dalam hati.


Fahri : Bila perlu aku akan jadi keduanya.


Fahri : Aku kan sudah memperingatkanmu sebelumnya. Jangan beraktivitas berlebihan termasuk yang satu itu.


Zian : Berapa lama lagi aku harus menunggu?


Fahri : Tergantung kondisi kesehatanmu. Aku akan terus memantau perkembangan kalian. Jadi jangan macam-macam. Kita lihat dulu dua bulan ke depan bagaimana perkembangannya.


Zian : DUA BULAN??????


Fahri : Itu paling cepatnya. Bisa lebih lambat...


Zian : TEGA!!! Aku bisa gila!


Fahri yang sedang berbaring di kamarnya tertawa lantang membaca pesan terakhir yang dikirm oleh adiknya itu.


"Nikmatilah masa-masa penantianmu adikku! hahahha..."


Karena kesal, Zian mematikan ponselnya dan melemparnya entah kemana, kemudian menatap wajah Naya yang sudah tidur pulas. Wajah cantik itu telah menjadi candunya, dia menatap wajah Naya lekat-lekat.


Zian kemudian teringat pembicaraan tadi siang dengan Fahri yang membuatnya gusar seharian.


FLASHBACK ON


Fahri, Zian, Evan dan Rafli sedang duduk bersama di ruang keluarga sambil makan cemilan khusus yang dibuat Elma untuk Zian. Untuk pertama kalinya sejak dua tahun, tiga bersaudara itu berkumpul bersama lagi.

__ADS_1


"Jadi kapan kau mau menggelar resepsi pernikahanmu? Waktu itu kan kalian menikah sembunyi-sembunyi. Aku saja tidak tahu kalau kau sudah menikah..." tanya Fahri pada adiknya itu.


"Aku belum tahu... Aku ingin mempersiapkan semuanya seperti yang diinginkan Naya. Aku akan membuat kejutan untuknya..."


"Ya, aku tahu... Konsep Disney kan..." Fahri ingat Naya pernah menuliskan keinginannya itu dalam buku catatannya.


"Aku akan butuh bantuan Kak Elma untuk itu..."


"Kakak, kau tidak butuh bantuan kami? Aku dan Rafli bisa membantumu menyiapkan semuanya..." ucap Evan dengan percaya dirinya. Zian terkekeh pelan mendengar ucapan Evan, lalu menarik telinganya dengan gemas.


"Keong kembar seperti kalian bisa apa? Aku tidak mau pernikahanku berantakan kalau kalian yang mengurusnya! Waktu itu saja kalian menyembunyikan identitas pemain piano itu dariku, kan?"


"Aduh... lepaskan! Telingaku bisa putus! Kalian ini kenapa? Kau dan dan Kak Fahri benar-benar suka menyiksa telingaku!"


Zian kemudian melepaskan tangannya, Evan langsung mengusap telinganya yang telah merah itu. "Aku tahu kau sangat kaya, tapi kalau telingaku putus...."


"Aku tahu, kau mau bilang uangku tidak akan bisa menyambung kembali telingamu, kan?"


Evan melirik Zian dan Fahri dengan wajah merajuk, "Ayah dan ibu benar-benar tega meninggalkanku pada dua kakak mengerikan seperti kalian..."


"Kau bilang apa? Coba ulangi!" tanya Zian seraya membulatkan matanya.


Fahri hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat perdebatan dua adiknya itu. Dia kemudian teringat sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Peringatan yang mana? Kau kan sangat banyak memberiku peringatan." Zian melirik Fahri sekilas dengan ekor matanya, kemudian meraih segelas air putih lalu meneguknya.


"Sebenarnya bukan peringatan, tapi lebih tepatnya larangan!" Fahri menghela napas pelan, "Aku melarangmu menyentuh Naya sampai kalian berdua benar-benar pulih..."


Ucapan Fahri itu membuat Zian membelalakkan matanya. Air putih yang belum turun ke kerongkongannya dengan terpaksa harus menyembur keluar mengenai wajah Rafli. Zian Kemudian melirik Evan dan Rafli bergantian. Dua bocah tengik itu menahan tawanya mendengar ucapan sang kakak sulung yang melarangnya menyentuh istrinya sendiri.


Rafli mengambil tissue dan mengusap wajahnya yang basah karena terkena semburan Zian. Dengan tawanya yang masih tertahan.


"Kau sudah gila, ya... Apa hubungannya itu? Lagipula operasi pencangkokan itu kan sudah empat bulan lalu, lukaku sudah kering!" Zian mulai tersulut emosi.


"Harus berapa kali aku memperingatkanmu. Paling tidak enam bulan. Jangan membuat Naya kelelahan! Dia belum pulih sepenuhnya, bahkan sekarang sama sekali dia belum boleh beraktivitas berat. APAPUN ITU!" Fahri berkata dengan nada penuh penekanan, membuat Zian mendengus kesal.


Tawa kecil lolos begitu saja dari bibir Evan. Zian yang kesal langsung melemparnya dengan bantalan kursi.


"DIAM KAU, BOCAH LAKNAT!!" ucap Zian kesal.


"Kau sudah menikah berapa lama, Kak?" tanya Rafli dengan polosnya.


"Hampir dua tahun!" Zian menjawab dengan cepat.

__ADS_1


Evan pun menyambar, "Hampir dua tahun? Dan kau masih perjaka, hahahaha..."


Evan tertawa lantang, sedangkan Fahri menutupi seringainya dengan jari. Zian pun mulai naik pitam. Tatapannya mulai tidak bisa dikondisikan.


"Ehmmm Evan, sepertinya aku harus kembali ke cafe... Aku permisi... " Sadar situasi berbahaya, Rafli segera cari aman dengan angkat kaki dari sana, Evan pun langsung berdiri dan mengekor di belakang Rafli.


"Pergi kalian! Dasar keong kembar!" Zian kembali menggerutu, kemudian menatap Fahri dengan wajah kesal. "Nasib apa ini, aku hampir dua tahun menikah dan sampai sekarang aku masih perjaka..." gumamnya.


Fahri ingin menertawakan nasib malang adiknya itu, namun dia menahannya.


"Bersabarlah, ini ujian untukmu!"


Kau benar kakak, ini memang ujian. Aku benar-benar ingin memaki takdir yang membuatku berada dalam situasi ini. Sepertinya hanya aku seorang di dunia ini yang menikah sudah hampir dua tahun, tapi masih perjaka.


Zian melirik Naya yang sedang mengobrol dengan Elma di ruang tamu, sesekali bermain dengan si kecil Kay. Zian benar-benar menyesali waktunya selama satu tahun yang terbuang percuma dihabiskan untuk mengabaikan istrinya itu.


Nayaku benar-benar seperti malaikat. Ya, dia memang malaikat! Walaupun aku terus menyakitinya, tapi dia sangat sabar menghadapiku.


Wajah Zian pun menjadi sangat memelas menatap kakaknya itu, namun Fahri hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya.


FLASHBACK OFF


Di sinilah Zian sekarang, menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan dongkol. Laki-laki itu hanya dapat memeluk sang istri dalam tidurnya. Dia harus bersabar menahan hasratnya yang sudah memuncak.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?"


******


BERSAMBUNG


Yang sabar yaa babang Zian... wkwkwkw


harus puasa lagi...


Eike nggak asal ngarang lohh gaes... memang orang yang habis menjalani operasi pencangkokan hati harus istirahat selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Nggak boleh beraktivitas melelahkan termasuk yang satu itu...wkwkkw


Acian babang Zian...


hampir dua tahun menikah masih perjaka ajeh... 😂😂😂😂 salah sendiri!!!!


TERIMA KASIH YANG SUDAH MENINGGALKAN LIKE KOMEN DAN VOTE...


Luv U all tanpa terkecuali

__ADS_1


__ADS_2