Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 86


__ADS_3

Mentari telah bersinar dengan cerahnya menerangi seluruh alam. Kicauan burung bersahutan menyambut hangatnya mentari pagi. Tetes embun pun jatuh perlahan, seiring fajar menyapa dedaunan.


Di dalam sebuah kamar yang cahayanya remang-remang, dua insan masih terlelap dalam balutan selimut tebal. Hingga sayup-sayup gadis itu dapat mendengar kicauan burung yang begitu merdu. Naya menggeliat dalam pelukan sang suami.


Sepanjang malam Zian tak pernah sedikitpun melepaskan pelukannya, sehingga Naya tidak dapat bergerak semalaman. Masih setengah sadar, Naya berusaha memindahkan tangan kekar yang melingkar di atas perutnya. Namun, tangan itu semakin erat memeluknya.


Zian membuka matanya perlahan, menatap wajah yang baginya memiliki kecantikan sempurna itu. Rambut panjang berwarna hitam yang acak-acakan menambah kadar keseksiannya pagi itu. Dan, hanya hal sederhana seperti itu sudah membangkitkan gejolak dalam diri laki-laki di sampingnya.


"Selamat pagi..."Naya menerbitkan senyuman indahnya, menyambut sang suami yang baru saja terbangun.


Bukannya menjawab, Zian malah langsung menerkam Naya dengan buasnya, menabrakkan bibirnya dengan bibir tipis Naya dengan penuh gairah, membuat gadis itu gelagapan. Saking terkejutnya, gadis itu hanya dapat mematung, memejamkan mata dan mencengkram seprai dengan kedua tangannya, bahkan dirinya sampai lupa untuk bernapas.


Apa yang dia lakukan? Kenapa baru bangun sudah seperti orang kelaparan begini ? Dan tangannya sudah menjelajah kemana-mana... batin Naya.


Hingga beberapa menit, kedua bibir itu masih saling berpangutan. Menyadari sang istri sudah mulai tersengal, Zian baru melepaskannya, lalu menatap dalam-dalam wajah yang berada di bawahnya itu. Naya memejamkan matanya dengan alis yang mengkerut, wajahnya yang merah merona membuat Zian ingin tertawa.


"Hey bodoh... Sudah!" ucap Zian tanpa beranjak dari posisinya. Dia masih menindih tubuh kecil itu dengan hanya bertumpu pada kedua lututnya, dan tangannya yang mengunci tubuh Naya.


Naya membuka matanya, menatap wajah laki-laki yang berada di atasnya.


"Kenapa kau tidak bernapas? Ah, kau terlalu menikmatinya ya?"


Wajah yang sudah memerah itu semakin merona karena malu. Naya tersadar dari lamunannya, lalu menarik napas dalam-dalam, seakan udara di sekitarnya tidak cukup untuknya bernapas. Dia ingin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun terlambat. Zian sudah mengunci tangan kecilnya.


"Mau lagi?" tanya Zian dengan suara menggodanya.


Dengan cepat Naya mengangguk, lalu menggeleng setelahnya. Gadis itu masih terlalu malu untuk berada dalam posisi sedekat itu dengan suaminya.


Zian memberikan kecupan lembut di kening, dalam dan lama. Kecupan itu seakan mampu menjelaskan betapa dalam cintanya pada gadisnya itu.


Zian kemudian menempelkan keningnya dengan kening Naya, lalu berbisik pelan."Kau tahu satu hal, aku benar-benar ingin mencekik kakak doktermu itu!"


Zian melepaskan cengkramannya dari tubuh sang istri, lalu berbaring menyamping.

__ADS_1


"Ka-kakak Fahri?" tanya Naya terputus-putus dan dijawab anggukan oleh Zian. "Kenapa?"


"Jangan tanya aku! Aku sedang kesal pagi ini!" bentak Zian, lalu sesaat kemudian tersadar dengan suaranya yang keras. "Mmm... Maaf Sayang... Aku bukan kesal padamu, tapi pada kakak doktermu itu..."


"Kesal kenapa?" tanya Naya lagi, membuat Zian menggaruk kepalanya.


Gadis bodoh! Haruskah aku jelaskan padamu kalau dia melarangku menyentuhmu dan memintaku menunggu dua bulan lagi... Bedebah itu benar-benar ingin aku mati menahannya.


"Aku rasa dia ingin membunuhku..." jawab Zian asal. Namun, jawabannya itu malah ditanggapi dengan serius oleh sang istri.


"Me-membunuhmu? Mana mungkin?"


"Bukan membunuh dalam makna sebenarnya, Nayaku yang polos... Kau benar-benar tidak peka, yaa..." Zian mulai gemas dengan sang istri yang tidak bisa diajak bicara dengan bahasa kode itu.


"Lalu apa?" Naya semakin bingung, sementara Zian langsung menepuk jidat gadis itu dengan lembut.


"Coba aku lihat kepalamu... Aku curiga saat pembagian otak, kau tidak hadir. Mungkin saja kepalamu ini isinya daging semua..." ucap Zian seraya memegangi kepala Naya.


"Nah, sekarang aku yakin kau masih punya otak walaupun hanya setengah sendok makan... Kau masih sadar kalau kau ini bodoh, artinya kau masih punya otak..."


"Apa?" Naya mulai mengeraskan suaranya.


"Hahaha, kenapa kau sangat lucu?" gelak tawa Zian memenuhi setiap sudut kamar itu.


Karena tidak tahan dengan kepolosan gadis itu, Zian menariknya ke dalam pelukannya lagi, menghirup aroma tubuh yang baginya sangat wangi itu. Lalu setelahnya bangkit dari pembaringan dan masuk ke kamar mandi.


Naya masih bingung dengan tingkah suaminya pagi itu yang menurutnya agak aneh. Dia bangun dari posisi berbaringnya, membetulkan piyamanya yang berantakan karena ulah Zian, lalu duduk di depan meja rias dan menyisir rambut panjangnya.


Gemercik air mulai terdengar di kamar mandi, sambil menunggu sang suami selesai dengan ritual mandinya, Naya membuka lemari pakaian milik Zian, ingin melakukan apa yang dulu tidak bisa dia lakukan, yaitu menyiapkan pakaian sang suami. Matanya pun terbelalak melihat isi lemari itu.


"Aku hampir lupa kalau Zianku bukan lagi seorang montir. Dia kan bos gila itu... Isi lemarinya pasti berbeda dengan Zianku yang lama. Aku tidak tahu harus memilihkan pakaian yang mana..." gumam pelan.


Tidak lama, Zian keluar dari kamar mandi, dia melirik Naya yang tampak bingung berdiri di depan lemari pakaiannya. Zian kemudian mendekat dan memeluknya dari belakang?

__ADS_1


"Kenapa kau melongo di depan lemari? Apa kau tersesat? Lemari pakaianmu di sebelah sana, Kak Elma sudah menyiapkan pakaian untukmu di lemari itu." ucapnya seraya menunjuk lemari pakaian milik Naya.


"Bukan... Aku mau memilihkan pakaian untukmu. Tapi aku tidak tahu harus memilih yang mana? Kau kan bukan Zianku yang dulu lagi. Kau menjelma menjadi bos gila itu..." ucapan polos yang keluar dari mulut Naya itu membuat Zian tertawa. Dia masih saja menyebut suaminya bos gila.


"Memang apa bedanya Zianmu yang lama dengan bos gilamu? Orangnya tetap sama kan?"Naya mengerutkan alisnya, mendongakkan kepalanya menatap pria jangkung itu.


"Aku lebih suka Zianku yang lama... Aku juga lebih suka rumah yang lama..."


"Tapi aku membenci Zian yang lama." Zian memeluk Naya, mengusap kepalanya dengan sayang. Sampai saat ini, Zian belum dapat berdamai dengan masa lalunya. Masa satu tahun yang dia habiskan dengan membenci Naya yang ternyata adalah Kia. Masa lalu yang akan di sesali olehnya seumur hidupnya. Mengingat perbuatannya pada Naya saja, sudah membuatnya menjatuhkan air mata penyesalannya lagi.


"Aku benci diriku yang dulu. Terlalu bencinya sampai aku ingin menghukum diriku sendiri..." Zian mengeratkan pelukannya. Bayangan dirinya yang selalu memarahi dan membentak Naya menari-nari di benaknya. "Maafkan aku..."


Naya terdiam, meresapi hangatnya pelukan itu. Pelukan yang dulu hanya bisa dia dapatkan di dalam mimpinya. Kini, dirinya dapat memeluk tubuh itu sesuka hatinya, sepuasnya.


Beberapa saat kemudian, Naya melepaskan pelukan itu, lalu menghapus air mata yang telah membanjiri wajah sang suami.


"Jangan pernah memintaku untuk membawamu kembali ke rumah itu. Rumah itu akan mengingatkanku pada penderitaanmu. Sekarang, aku hanya ingin kau bahagia bersamaku di rumah ini."


"Aku bahagia, selama kau bersamaku. Dimana pun itu, aku akan bahagia..."ucap Naya membuat Zian tersenyum bahagia.


"Baiklah, sekarang mandilah, lalu kita sarapan. Aku tidak mau dimarahi kakak doktermu itu kalau kau terlambat makan. Kau tahu, kan... Secerewet apa dia jika itu berhubungan denganmu."


"Baiklah..."


Naya akan beranjak ke kamar mandi, namun Zian menahannya, "Apa kau ingin aku memandikanmu?"


Naya membulatkan matanya mendengar ucapan Zian yang baginya sudah tidak normal itu.


Kenapa Zianku yang galak jadi mesum begini? Aku jadi takut padanya...


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2