
Zian berbaring membelakangi Naya dengan wajah merengut. Sementara Naya di belakang sana mengusap dadanya beberapa kali, bernapas lega, merasa lolos dari singa lapar itu.
Aku selamat, aku selamat, aku selamat... batin Naya.
Gadis itu kemudian menutup matanya, pura-pura tidur. Zian kemudian bangun dari posisi berbaringnya, lalu mengintip Naya yang sudah terbalut selimut.
Lihat dia! Enak sekali dia tidur. Setelah mengacaukan rencanaku, tanpa rasa berdosa dia enak-enakan tidur.
Zian menendang pelan kaki naya di bawah selimut saking kesalnya. Bibirnya yang mengerucut terlihat begitu lucu. Laki-laki itu kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan segera mengetikkan pesan.
Zian : Hey, apa kau sudah tidur? isi pesan yang di kirim Zian pada Anita.
Anita sudah akan tidur ketika mendengar ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Wanita cantik itu meraih ponselnya dan membuka pesan.
"Maliq... Mau apa lagi dia?" gumam Anita.
Anita: Ada apa ? Aku pikir kau sedang tidak ingin diganggu, lalu kenapa kau menggangguku?
Zian : Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.
Anita mengerutkan alisnya membaca pesan itu. "Jangan bilang kau mau bertanya padaku bagaimana cara melakukan malam pertama." Anita bergumam lagi, kemudian membalas pesan itu.
Anita : "Apa?"
Zian : "Berapa kali dalam sebulan wanita mengalami datang bulan?
Anita terperanjat membaca pesan itu, "Kenapa si bodoh ini menanyakan hal seperti ini padaku? Kenapa tidak tanya Naya, dia kan juga wanita." Anita sudah gusar di sana.
Hari itu dia benar-benar kesal pada Zian yang seperti mengerjainya habis-habisan.
"Kemarin kau membuatku malu dengan memintaku membelikanmu buku itu secara diam-diam. Sekarang kau menanyakan pertanyaan bodoh ini padaku. Aku tidak percaya jika laki-laki bodoh sepertimu pernah mendapat julukan 'mafianya mafia'. " Anita menggerutu kesal, mengumpati kebodohan bosnya itu. Namun, dia tetap membalas pesan itu.
Anita : Hanya sekali dalam sebulan, selama tiga sampai delapan hari.
Zian : Tapi Nayaku mengalaminya berkali-kali, setahuku minggu lalu dia datang bulan, dan sekarang dia datang bulan lagi.
Anita tertawa terbahak-bahak membaca pesan polos Zian yang menurutnya bodohnya sudah sampai ke kerak bumi terdalam.
"Dia menipumu bodoh! Itu tidak mungkin, hahaha..." kata Anita sambil tertawa, lalu kembali mengetik pesan.
Anita : Sepertinya dia hanya menghindarimu. Coba kau periksa. Wanita normal hanya datang bulan sekali dalam sebulan.
__ADS_1
Zian : Jadi kau mau bilang Nayaku bukan wanita normal ya??? isi balasan Zian disertai beberapa emoticon marah.
Anita menepuk jidatnya membaca pesan itu. "Kenapa kau sangat bodoh Maliq..." teriak Anita. Dengan kesal Anita membalas lagi pesan itu.
Anita : Kau sangat bodoh! Aku mau tidur, jangan ganggu aku lagi! Naya tidak mungkin datang bulan dua kali dalam sebulan, kalau dia benar-benar mengalaminya, berarti Naya mu memang tidak normal.
Zian mengerutkan alisnya membaca pesan terakhir yang dikirim Anita, lalu tersenyum puas.
Nayaku yang bodoh! Kau pikir kau bisa membodohiku, ya! Sekarang aku tidak akan melepaskanmu. Berani sekali kau menipuku. batin Zian.
Zian menatap gadis yang sudah terbalut selimut itu, lalu memeluknya dari belakang. Naya membulatkan matanya ketika merasakan tangan Zian melingkar di perutnya, lalu kembali memejamkan matanya, berusaha berpura-pura tidur.
"Kalau kau masih pura-pura tidur, maka aku akan memaksamu melakukannya," bisik Zian di telinga Naya.
Naya pun tersentak kaget mendengar bisikan itu, dia langsung bangkit dari posisi berbaringnya. "Melakukan apa? Aku kan datang bulan."
Zian terkekeh mendengar ucapan Naya, lalu merubah posisinya menjadi duduk selonjoran. "Kau pikir kau bisa membodohiku dengan datang bulan palsumu itu?"
Naya mengedip-ngedipkan matanya, mencoba mencerna ucapan sang suami.
Matilah aku, apa dia tahu aku berpura-pura.
"Hehe, aku... Aku hanya..."
"Kau pernah bilang tidak mau melepas perjakamu denganku!" ucap Naya polos membuat Zian mulai gemas.
"Hey, bodoh! Kalau bukan denganmu, lalu aku harus melepas perjakaku dengan siapa?"
Benar juga. Masa' aku menyuruhnya melakukannya dengan wanita lain. Tidak! Tidak! batin Naya.
Zian menatap lekat-lekat wajah Naya yang sudah berada di bawah kungkungannya, tubuhnya bertumpu pada kedua sikutnya. Kedua wajah itu sudah berada dalam jarak kurang dari sepuluh senti. Zian membelai wajah Naya dengan lembut, matanya berkaca-kaca, senyumannya menggambarkan betapa dia mencintai istrinya itu.
"Pertama kalinya aku melihatmu bermain piano saat itu, aku benar-benar ingin memilikimu. Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu. Maafkan kesalahanku sudah membuat hidupmu menderita, dan kebodohanku yang pernah mengabaikanmu."
Kedua mata Naya pun mulai berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu. Rasa bahagia membuatnya seperti akan terbang ke langit ke tujuh.
"Maukah kau melewati malam ini bersamaku?" tanya Zian kemudian. Naya menatap dalam manik hitam yang tegas itu. Merasa bersalah karena sempat berpura-pura datang bulan untuk menghindari suaminya itu. Tanpa sadar, Naya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Zian pun tersenyum setelah mendapat persetujuan dari sang istri.
"Aku akan mulai dari sini," Zian menunjuk kening Naya lalu memberinya kecupan lembut, dalam dan lama. "Kau tahu kenapa? Agar isi kepalamu ini tidak ada laki-laki lain selain aku."
__ADS_1
Zian kemudian berpindah mengecup kedua kelopak mata Naya bergantian, kanan dan kiri, "Yang ini, agar yang ada di matamu hanya aku seorang."
Satu kecupan lembut lagi mendarat di bibir, "Yang ini, agar hanya namaku yang akan selalu terucap dari bibirmu."
Satu kecupan sedikit keras di dada, membuat Naya melenguh, "dan yang ini, agar di hatimu hanya ada aku, aku dan aku."
Naya kemudian membelai wajah lelaki yang berada di atasnya. Tidak ada kata cinta, namun tatapan itu sudah mampu menyiratkan perasaannya, betapa dalamnya cinta yang dia miliki untuk suaminya itu. Dan, entah siapa yang memulai, mereka telah larut dalam ciuman mesra. Semakin lama, semakin dalam.
Zian melucuti pakaian yang melekat di tubuh sang istri satu persatu, lalu menjamah tubuh mungil itu, jengkal demi jengkal. Sehingga tidak ada satu bagianpun yang terlewatkan dari jamahannya. Naya memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan itu. Hingga gadis itu lupa dengan semua perasaan malunya. Yang dia lakukan hanya meremas kain seprai, menahan rasa geli dari setiap sentuhan lembut itu.
Kedua tubuh polos itu saling berpelukan di bawah selimut. Naya meletakkan tangannya di dada Zian dengan tatapn sendunya.
"Aku takut...!" ucap lirih Naya. Bahkan suara manja itu terdengar sangat sensual di telinga Zian dan membuatnya semakin bergelora.
"Kenapa takut, Sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut." bisik Zian dengan suara serak. Naya menganggukkan kepalanya pelan mendengar bisikan itu. Lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Sungguh, inilah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Zian sejak tujuh tahun lamanya.
Dia kembali ******* bibir itu tanpa ampun. Lembut, namun menuntut balasan. Mereka saling *******, bermain lidah, sesekali gigitan kecil di berikan Zian pada bibir yang rasanya terlampau manis itu. Dan untuk kesekian kalinya, Naya yang belum mampu mengatur napas saat berciuman itu kembali tersengal.
Merasakan sang istri kembali tersengal, Zian melepaskan pangutan itu, lalu memeluk tubuh itu lagi dengan eratnya.
Nafsu yang memuncak membuat Zian tidak tahan untuk segera melakukan penyatuan tubuh. Dan, erangan lirih lolos begitu saja dari bibir Naya ketika Zian berhasil menembus selaput daranya. Naya menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menahan agar suaranya tidak sampai terdengar keluar.
"Tidak apa-apa, Sayang... Teriak saja! Kamar ini kedap suara. Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu," bisik Zian lagi.
Naya menjerit kecil, menahan rasa sakit di bagian bawah sana ketika benda keras tak bertulang itu menerobos tubuhnya. Dia menggigit bahu suaminya itu, mencakar punggunya dengan kuku. Naya mengerang kesakitan, membuat Zian terdiam sejenak, membiarkan rasa sakit yang dirasakan istrinya mereda.
Laki-laki itu kembali menghujani sang istri dengan kecupan-kecupan dan sentuhan lembutnya, hingga gadis polos itu mulai terhanyut dalam sentuhannya. Zian pun memulai gerakannya perlahan, meresapi kehangatan bercampur kenikmatan itu. Makin lama, gerakannya semakin tidak beraturan. Zian mulai frustrasi dengan semua rasa itu. Menikmati buah penantiannya yang manis.
Di kamar temaram itu hanya ada suara pergulatan dan rintihan yang terdengar memenuhi setiap sudut ruangan. Perasaan cinta, kerinduan, dan nafsu menyatu. Hingga Zian menuntaskan hasratnya dan menumpahkan cairan cintanya di dalam rahim sang istri. Dia menjatuhkan kepalanya di ceruk leher sang istri, mengatur napasnya yang memburu.
Laki-laki itu mengangkat kepalanya, menatap wajah cantik yang berada di bawahnya, kemudian memberikan kecupan sayang di kening. Senyum kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Naya telah menjadi miliknya seutuhnya.
Naya yang sudah terkulai lemas, dengan nafasnya terengah-engah hanya mampu memejamkan matanya, kelelahan menghadapi keperkasaan sang suami.
****
Bersambung...
Di dedikasikan untuk kalian yang sudah sabar menunggu adegan hareudang dengan sabar dari bab pertama sampai bab 90π
Terima kasih yang bantuin nulis adegan hareudang ini. Maaf yaa... lama... Aku butuh bantuan teman2 author untuk membuat adegan iniππ Maafin bahasa yang nggak enak di baca ini. Author akan segera merevisi beberapa bagian yang nggak enak...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah meninggalkan like komen dan Vote.