Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Mulai terbuka


__ADS_3

"Kenapa kau menangis? Apa itu sakit?" Marvin lalu duduk di sebuah kursi yang terdapat di dalam kamar itu. Sementara Naya masih berusaha bangun dari posisinya.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja?" tanya Naya yang kini dalam posisi duduk dengan tangan bertumpu di lantai.


Marvin tertawa dengan suara menggelegar. Seperti sedang puas dengan apa yang dia lakukan. "Aku bisa saja membunuhmu dengan mudah. Tapi itu tidak akan seru. Aku belum puas menyiksamu," ujar Marvin.


Pria itu lalu bangkit dari duduknya, lalu kembali berdiri di hadapan Naya. "Kau pikir aku menyekapmu hanya karena ingin balas dendam atas penghinaan yang kau lakukan padaku?" ujar Marvin seraya berdecak, "Tidak Kanaya... Aku ingin sesuatu yang lebih. Kau sudah tahu semua rahasiaku. Jadi akan aman jika aku melenyapkanmu. Tapi, aku ingin kau mati secara perlahan."


Naya kembali memohon pada Marvin agar membiarkan Zian hidup tenang. Dia tidak ingin suaminya itu menerima akibat atas apa yang Naya lakukan pada Marvin.


"Baiklah... tapi aku mohon ampuni Zianku. Biarkan dia hidup tenang. Aku tidak mengatakan apapun padanya. Dia tidak tahu tentang rahasiamu," Naya bersujud di kaki Marvin seraya terus menangis. Sementara raut wajah Marvin berubah mendengar ucapan gadis polos itu.


Jadi dia tidak tau siapa Maliq yang sebenarnya. Sepertinya akan seru, dia belum tahu kalau Maliq adalah seorang bos mafia.


Marvin kemudian berjongkok kembali di hadapan Naya, lalu sekilas tersenyum, "Jadi kau belum tahu siapa suamimu yang sebenarnya? Jika kau tahu siapa dia yang sebenarnya, aku tidak yakin jika kau akan memohon seperti ini untuknya."


Zianku? Kenapa dengannya? Zianku hanya seorang laki-laki biasa.


"Kau berpikir aku adalah seorang mafia berbahaya, lalu apa yang kau pikirkan tentang Zianmu? Apa kau pikir dia benar-benar hanya seorang montir?"


Apa yang dia bicarakan? Apa maksudnya bicara seperti itu tentang Zianku. Apa Zianku punya rahasia seperti Marvin?


"Ap-apa ma-maksudmu?"


"Apa kau pernah dengar dia sedang mencari seorang gadis dari masa lalunya? Seorang gadis yang dia cintai... Apa kau tahu alasan kenapa dia terus mencari gadis itu?" Naya hanya terdiam mendengar ucapan Marvin. Karena kehilangan gadis itulah, sehingga Zian mengusir Naya dan memintanya pergi dari hidupnya.


Marvin kemudian kembali tertawa kecil melihat wajah Naya yang terlihat begitu menyedihkan. Dia bangkit dari posisi berjongkoknya, kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan Naya yang masih duduk di lantai. Tinggallah Naya seorang diri yang sedang dipenuhi tanda tanya di benaknya.


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Naya menggeser posisinya mendekat ke tempat tidur. Lalu berusaha naik ke tempat itu dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, namun itu tidak seberapa di banding rasa sakit di hatinya. Tubuhnya kini seperti tulang yang terbungkus oleh kulit, wajah pucat dan matanya yang sayu. Dengan banyaknya luka lebam di tubuhnya.


Tuhan, kenapa Kau biarkan aku tetap hidup? Aku sudah lelah dengan rasa sakit ini. Bahkan untuk berpijak di atas kakiku saja, aku sudah tidak kuat. Lalu kenapa Kau biarkan aku menungguMu datang membawaku pergi begitu lama?


***


Di kantor pusat Kia Group, Anita sedang berdiskusi dengan Dimas mengenai hilangnya Naya. Mereka merasa ragu jika Naya benar-benar hanya sedang bersembunyi dari Zian.


"Aku yakin ada yang tidak beres. Naya seperti sedang disembunyikan," ucap Anita membuat Dimas mengerutkan alisnya. "Jika Naya hanya bersembunyi, aku pasti sudah menemukannya dengan cepat. Tapi sekarang, Naya seperti hilang ditelan bumi."


"Apa maksudmu ? Apa menurutmu Naya diculik, begitu?" tanya Dimas.


"Itulah yang sedang aku pikirkan, tapi siapa yang mau menculik gadis itu..." Sejenak Anita berpikir, kemudian dia seolah menemukan jawaban dalam benaknya. "Alex... Ya, hanya Alex yang memiliki alasan untuk itu."


Dimas tercengang mendengar ucapan Anita, "Alex? Maksudmu..." Dimas menggantung ucapannya, dia langsung dipenuhi perasaan khawatir.

__ADS_1


"Ayo! Kita ke rumah sakit tempat Naya terakhir kali dirawat. Aku ingin lihat rekaman cctv di sana." Anita langsung bangkit dari duduknya lalu tergesa-gesa keluar dari ruangan itu, Dimas mengikuti langkahnya dari belakang.


Selang hampir dua puluh menit menempuh perjalanan dari kantor menuju rumah sakit, mereka akhirnya tiba. Anita dan Dimas langsung menemui petugas keamanan di rumah sakit itu, lalu segera ke sebuah ruangan untuk melihat rekaman CCTV.


Setelah beberapa menit tampaklah Naya yang sedang keluar dari ruangannya dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang pria. Dugaan Anita bahwa Naya diculik semakin menemui titik terang.


"Siapa pria yang mendorong kursi roda itu?" tanya Dimas yang tidak mengenal sosok laki-laki yang ada dalam rekaman cctv.


"Aku tidak tahu, gambarnya tidak begitu jelas, walaupun gambarnya dizoom tetap tidak jelas," jawab Anita. "Coba perlihatkan rekaman dari sudut lain!" pinta Anita pada petugas itu.


Mereka kemudian melihat satu persatu rekaman itu hingga di area parkir rumah sakit itu. Anita baru yakin akan kecurigaannya dan langsung mengetahui dalang penculikan itu, setelah melihat jenis mobil yang ditumpangi Naya bersama orang itu.


"Alex... Itu mobil Alex..." kata Anita, dia kemudian meminta petugas itu memindahkan rekaman itu ke ponselnya.


Setelah itu, Anita dan Dimas langsung meninggalkan rumah sakit itu menuju rumah Zian untuk memberitahukan temuannya.


"Sebenarnya ada apa antara Bos dengan Marvin Alexander itu? Apa hanya karena bos menikahi Naya makanya dia sampai nekat melakukan ini?" tanya Dimas di tengah perjalanan.


"Jangan banyak tanya! Kau akan tahu nanti!" jawab Anita yang sedang menyetir bagai orang kesetanan. Dimas pun harus kembali merasa berada dalam ancaman.


"Baiklah, aku diam!" ucap Dimas seraya melakukan gerakan seperti mengunci bibirnya.


Tidak lama, mereka telah sampai di rumah Zian. Anita tergesa-gesa masuk ke dalam rumah itu mencari Zian bersamaan dengan Zian yang baru keluar dari ruangan rahasia milik Naya.


"Aku ada informasi penting!" ucap Anita ketika melihat Zian keluar dari ruangan itu. Seketika mata Zian membulat, berharap Anita mendapatkan informasi keberadaan Naya.


Ragu-ragu, Anita menjelaskan pada Zian tentang Naya yang diculik oleh Marvin. Entah akan seperti apa reaksi Zian jika tahu Naya di culik oleh Marvin.


"Sepertinya Naya diculik oleh Alex," ucap Anita membuat Zian tersentak. Dia mengepalkan tangan seraya memejamkan matanya. Pikirannya mulai menjalar-kemana-mana. Marvin bisa saja sudah membunuh Naya. Begitu isi pikiran Zian.


"Bajing*n!" Zian mengumpat dengan keras. "Akan ku bunuh dia jika menyentuh Naya seujung kukupun."


"Sekarang kita harus bagaimana? Kita tidak tahu kemana dia membawa Naya." Anita kembali memikirkan tempat-tempat rahasia milik Marvin yang mungkin menjadi tempatnya mmebawa pergi Naya.


"Bawa Glenn ke hadapanku. Dia pasti tahu kemana Alex membawa Naya," titah Zian dengan tatapan membunuhnya. Dimas bergidik ngeri melihat raut wajah Zian. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah Zian yang sedang dipenuhi kemarahan.


Anita pun langsung menghubungi orang kepercYaannya dan meminta mereka berkumpul. "Dimas, kau ikut aku!" pinta Anita. "Maliq, tunggulah di tempat biasa. Aku akan bawa Glenn kesana dalam tiga jam."


Setelah itu, Anita dan Dimas beranjak meninggalkan tumah itu menuju suatu tempat rahasia. Dimas kembali dipenuhi pertanyaan dalam benaknya. Dia mulai merasa Zian dan Anita adalah dua paket manusia paling misterius di dunia.


Sementara Zian memasuki sebuah ruangan di rumah itu yang selalu terkunci. Ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun, termasuk Naya. Didalam ruangan itu ada banyak senjata api paling berbahaya di dunia dengan berbagai jenis.


Zian kemudian melirik satu senjata api yang tidak pernah lagi dia sentuh selama lima tahun. Senjata yang dulu dia gunakan saat menembak Naya. Perasaan sedih bercampur kemarahan pada dirinya sendiri begitu besar. Dia mengambil senjata itu dan mengisinya dengam peluru.

__ADS_1


"Nayaku, dengan senjata ini dulu aku mencelakaimu, sekarang dengan senjata ini aku akan menyelamatkanmu dari sana. Tunggulah aku sebentar saja. Aku akan datang menjemputmu."


Zian kemudian keluar dari rumah itu, lalu naik ke mobil dan segera menuju ke tempat yang di maksud Anita.


****


Dan, benar... Kurang dari tiga jam, Anita telah berhasil membawa Glenn ke tempat yang dia maksud. Dia mengikat pria itu dengan tali di sebuah kursi seraya menodongkan senjata di kepala pria itu.


"Katakan kemana Alex membawa Naya!" teriak Anita.


"A-Aaku tidak tahu, Marissa. Sungguh... tolong lepaskan aku!" Pria itu memohon dengan sangat memelas. Anita lalu melepaskan satu tembakan yang dia arahkan ke sembarang arah untuk menggertak pria itu.


"Kau tahu, kan? Aku tidak pernah main-main. Jadi katakan dimana Naya!" Glenn yang tubuhnya sudah penuh luka lebam itu kembali membisu.


Tidak lama, Zian tiba di tempat itu. Dari wajahnya jelas terlihat kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. Anita mundur perlahan ketika melihat Zian mendekat.


Dimas melirik Zian dan Anita bergantian, lalu menggeser tubuhnya mendekat pada Anita.


"Apa yang akan dilakukan bos pada pria itu?" tanya Dimas.


"Kau akan tahu nanti!" jawabnya singkat.


Zian berjalan semakin mendekat pada Glenn dengan tatapan dinginnya, kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang sudah di siapkan anak buahnya.


"Aku belum pernah membunuh orang sebelumnya. Jangan sampai kau menjadi orang pertama yang aku bunuh. Jadi katakan dimana Alex membawa istriku!" ucap Zian dengan nada datar, namun terdengar sangat menakutkan, membuat seluruh tubuh pria itu bergetar ketakutan. "CEPAT KATAKAN!" bentak Zian dengan suara menggelegar.


"A-Aku... A-ku..."


"Kalau kau bilang tidak tahu, peluru ini akan menembus kepalamu!" ancam Zian kemudian.


Glenn pun pasrah, ketakutannya yang luar biasa pada sosok Zian membuatnya tidak berkutik, "Ga-Gadis itu di-sekap di sebuah Villa yang jauh. Alex membawanya kesana. Kau harus cepat sebelum Alex membunuhnya. Dia sedang membunuh gadis itu secara perlahan," ucap Glenn dengan suara bergetar dan terbata-bata.


Zian mengepalkan tangannya geram, lalu melayangkan satu tinjunya ke wajah Glenn. "Bawa dia ke mobil, jika dia memberi informasi yang salah, tembak saja!" titah Zian.


Beberapa orang pengawal berseragam hitam dengan logo huruf Z kemudoan menyeret Glenn menuju sebuah mobil. Zian, Anita dan Dimas kemudian ikut keluar dari ruangan itu dan naik ke sebuah mobil.


Dengan kecepatan tinggi mereka menuju ke sebuah villa yang jaraknya cukup jauh dan terpencil, tempat Marvin menyekap Naya.


Sementara Naya yang terkurung di sana dengan kondisi yang semakin lemah, berharap agar mautnya segera datang padanya. Dia sudah merasa tidak kuat lagi, bahkan hanya untuk bangun. Bibirnya yang pucat dan kering terus menggumamkan nama Zian, dengan matanya yang terpejam diiringi tetesan air mata yang mengalir di sudut matanya.


*****


Bersambung.

__ADS_1


Siap-siap ya... adegan selanjutnya pertemuan Zian dan Naya yang paling nyeseeekkkkk, Author sarankan untuk siapin tissue... wkwkwk


Jangan lupa selalu like komen vote...


__ADS_2