Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Operasi


__ADS_3

Dengan menggunakan pakaian khusus berwarna hijau, Zian mendekat pada Naya yang sudah terbaring di atas brankar. Dia membelai wajah pucat pasih itu lalu mengecup keningnya berkali-kali.


"Sekarang kita akan berjuang bersama," ucap Zian lalu meraih jemari Naya dan menggenggamnya.


Elma dan Fahri masuk ke ruangan itu. Elma adalah salah satu dari tim dokter yang akan menangani operasi pencangkokan itu. Elma kemudian meminta Zian berbaring di tempat yang berbeda.


"Kau sudah siap?" tanya Dokter Elma pada Zian yang sudah dalam posisi berbaring.


"Aku sudah siap!" jawab Zian. Elma kemudian memasangkan jarum infus di pergelangan tangan Zian. Lalu memberikan beberapa suntikan melalui selang infus itu.


Tidak lama kemudian, Evan ikut masuk ke ruangan itu. Dia menatap Zian dan Naya bergantian. Raut kesedihan terlihat jelas di wajahnya.


"Kenapa wajahmu jelek begitu?" tanya Zian saat menatap wajah Evan.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu dan Naya," jawab Evan dengan suara lirih.


Zian kemudian terkekeh pelan, "Kau tenang saja. Aku belum ada rencana mati. Aku juga tidak akan membiarkan Naya meninggalkanku."


Evan tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu. Kekhawatirannya sedikit berkurang.


Tidak lama kemudian, beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu, kemudian mendorong brankar tempat Zian berbaring menuju ruang operasi.


****


Dimas, Anita dan Evan menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas. Sudah delapan jam lebih operasi berjalan. Mia, sahabat Naya juga ada di sana. Dia baru mengetahui bahwa ternyata sahabatnya itu sedang sakit parah.


"Aku tidak tahu kalau Naya ternyata sedang sakit. Selama ini dia menyembunyikannya dariku," ucap Mia seraya terisak.


"Tenanglah Mia, jangan menangis lagi. Naya menyembunyikan sakitnya dari semua orang. Bukan hanya darimu saja."


"Aku menyadari wajahnya pucat dan dia sering mual. Tapi aku tidak terpikir bahwa dia sakit. Aku pikir smuanya baik-baik saja." Dimas mencoba menghibur Mia dan mengusap punggungnya.


Evan yang gelisah mondar-mandir di depan ruangan itu, sesekali mengarahkan pandangannya pada pintu kaca yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Setelah sepuluh jam menunggu, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter pria keluar dari sana. Evan, Dimas dan Anita langsung menghampiri sang dokter.


"Bagaiamana operasinya, Dokter?" tanya Anita dengan wajah cemas.


Dokter itupun tersenyum, "Operasinya berhasil. Setelah ini pasien akan di pindahkan kembali ke ruang ICU," jawab dokter itu.


Anita, Dimas dan Evan pun bernapas lega. Anita menjatuhkan setitik air matanya. Namun, dia belum sepenuhnya lepas dari perasaan khawatir pada Naya dan Zian.


"Syukurlah, operasinya berjalan lancar," ucap Dimas dengan mata berkaca-kaca.


***


Sudah dua belas jam berlalu setelah operasi, namun Zian masih belum tersadar dari pengaruh obat bius. Dia sudah berada di ruang perawatan sedangkan Naya dipindahkan ke ruang ICU.


Dimas dan Anita masih setia menjaganya di kamar itu. Sedangkan Mia sudah pulang ke rumahnya. "Kau ingin makan sesuatu? Ayo kita ke kantin rumah sakit."


"Aku belum lapar," jawab Anita, "Lagi pula aku tidak mau meninggalkan dia di sini sendirian. Kalau dia terbangun dan tidak melihat Naya di sampingnya, dia bisa melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya."


Dimas lalu melirik Zian dengam ekor matanya, Benar juga. "Baiklah, kalau begitu aku pesankan saja makanan untukmu, ya..." ucap Dimas dan dijawab anggukan kepala oleh Anita.


Dimas dan Anita segera menghampiri sang bos yang baru saja sadar.Zian kemudian menoleh kekini dan kanan, matanya mencari objek yang paling ingin dilihatnya, namun sosok itu tidak terlihat.


"Dimana Nayaku?" tanya Zian dengan suara serak.


"Naya masih berada di ruang ICU. Kondisinya belum stabil." jawab Anita membuat Zian gelisah. Dia tidak ingin ditempatkan di kamar yang berbeda dengan sang istri.


"Aku ingin di sana bersamanya. Kenapa kau tidak beritahu mereka untuk menempatkanku di ruangan yang sama dengannya?" Zian ingin bangkit dari pembaringannya, namun Dimas menahannya. Zian pun meringis menahan perih di bagian perutnya.


"Bos... Kau jangan banyak bergerak dulu... Tenanglah! Semua akan baik-baik saja!" Dimas berusaha menenangkan bosnya itu.


"Cepat suruh mereka membawaku pada Nayaku. Aku tidak mau jauh darinya." Zian terus memberontak ingin pergi ke tempat Naya berada. Anita yang menyadari situasi segera keluar dari ruangan itu dan memanggil Dokter Fahri.


Tidak lama, dokter Fahri masuk ke dalam ruangan itu dan langsung memberi suntikan obat penenang. Dengan sisa tenaganya, Zian masih terus berusaha memberontak, seraya memanggil nama Naya. Tidak lama, dia kembali merasa pusing dan akhirnya kembali tertidur.

__ADS_1


Dokter Fahri kemudian menyibakkan pakaian yang di pakai Zian lalu memeriksa bekas luka sayatan di bagian perutnya.


"Dasar bodoh, bekas lukanya berdarah, kan..." gumam sang dokter. Dia kemudian keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. Lalu beberapa saat kemudian kembali ke dalam ruangan itu bersama seorang perawat. Mereka pun mengganti pembalut luka di perut kanan Zian yang sudah penuh darah itu.


Anita dan Dimas menatap Zian dengan perasaan sedih, "Benar kan, apa yang aku khawatirkan. Itulah kenapa aku tidak mau meninggalkannya sendirian," ucap Anita yang memperhatikan perawat yang kembali membalut luka Zian dengan perban.


"Iya, kau benar... Dia jadi gila saat tidak melihat Naya di sisinya." jawab Dimas.


Takut Zian akan memberontak lagi, mereka akhirnya memutuskan memindahkannya ke ruang ICU agar saat terbangun, dia bisa langsung melihat Naya.


Malampun tiba, Zian sudah terbangun dari pengaruh suntikan obat penenang yang diberikan Dokter Fahri. Kini, dia berbaring di sebelah Naya. Seolah tiada puasnya, dia terus memandangi wajah pucat itu. Dia menggenggam tangan Naya dan meletakkan di depan dadanya.


"Sayang... berjuanglah untukku sekali lagi. Hatiku sudah ada bersamamu," bisik Zian.


***


Setiap dua jam sekali, Fahri akan masuk ke ruangan itu untuk memantau perkembangan Naya setelah operasi pencangkokan itu.


"Kapan Naya akan sadar, Kak?" tanya Zian tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Naya. Dia masih berbaring di samping Naya dan Dokter Fahri duduk di sisi lain, sedang memeriksa Naya.


"Itu tidak bisa dipastikan. Tergantung kondisinya. Kita akan terus memantau perkembangannya dan melihat reaksi tubuhnya terhadap organ baru yang masuk ke tubuhnya. Semoga tidak terjadi penolakan," ungkap sang dokter.


"Apa itu berbahaya?" Zian kembali di landa rasa khawatir.


"Bukankah aku sudah jelaskan padamu resiko pencangkokan sebelumnya?" ucap sang dokter diikuti anggukan oleh Zian, "Resiko lainnya pascaoperasi adalah pendarahan, komplikasi saluran empedu, penggumpalan darah hingga masalah dengan memori atau ingatan. Tapi semoga itu semua tidak terjadi," tutur sang dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk Nayaku, Kakak." pinta Zian kemudian.


"Tentu saja. Dan kau juga, kau ingat apa yang aku katakan padamu sebelum operasi, kan? Kau jangan melanggar semua itu."


"Iya, aku tahu..."


Setelah Dokter Fahri keluar dari ruangan itu, Zian kembali memandangi wajah Naya. Banyaknya peralatan medis yang melekat di tubuh sang istri membuatnya merasa tidak tega.

__ADS_1


"Apa semua ini membuatmu sakit? Maafkan aku... Aku penyebab kau mengalami semua ini..."


*****


__ADS_2