
Zian membawa Naya untuk berbaring di tempat tidur lalu kembali mengusap perutnya. Senyum terbit dari sudut bibirnya ketika merasakan gerakan aktif dari dalam perut itu.
"Sepertinya dia senang saat aku menyentuhnya. Kau lihat? Dia terus bergerak," ucap Zian dengan wajah berbinar.
Naya memandangi wajah Zian tanpa berkedip, lalu membelai wajahnya dengan lembut. "Sayang, aku mencintaimu," bisik Naya.
Zian tersenyum mendengar bisikan itu lalu mendaratkan kecupan di kening. "Aku juga..."
"Tadi kau bilang, kau pulang untuk mengatakan sesuatu. Apa itu?" Naya bertanya tanpa melihat ekpresi wajah sang suami yang sudah berubah. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Zian, dan menghirup aroma tubuh yang baginya sangat wangi.
"Sebenarnya... Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kau..." Zian menggantung ucapannya. Memikirkan akan seperti apa reaksi Naya jika tahu apa yang kemungkinan akan terjadi padanya. "Kau percaya padaku, kan?" tanya Zian seraya mengeratkan pelukannya.
"Sangat!" jawab Naya singkat.
Zian melepaskan pelukannya sejenak, lalu menangkup wajah sang istri. "Kedepannya, apapun yang kau dengar tentang aku, tetaplah untuk percaya padaku. Aku hanya milikmu, selamanya. Kemanapun aku pergi, pada akhirnya aku akan tetap kembali padamu. Kau tahu kan, kau adalah rumahku, kau adalah satu-satunya tempatku pulang!"
Naya menatap Zian dengan mata berkaca-kaca, kalimat yang diucapkan Zian seolah seperti sebuah kalimat perpisahan baginya.
"Kenapa kau bicara begitu? Memang kau mau kemana? Kau tidak boleh kemana-mana! Kau sudah berjanji akan selamanya bersamaku, kan?
"Aku tidak akan kemana-mana, Sayang! Aku akan selalu ada untuk menjaga dan melindungimu." Zian kembali memeluknya. Kali ini Naya tidak dapat membendung air matanya. Perasaannya semakin campur aduk mengingat mimpi buruknya semalam. Zian menghapus air mata yang mengalir di wajah Naya.
"Janji?"
"Aku berjanji. Tapi kau juga harus berjanji satu hal padaku," ucap Zian dengan mengusap rambut sang istri.
"Apa?"
"Jadilah wanita yang kuat. Kau harus menjadi ibu yang kuat untuk anakku. Kau mau berjanji untukku, kan?"
"Kenapa... Aku merasa kau sedang mengucapkan kalimat perpisahan?" Naya melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh suaminya, lalu menatap dalam-dalam wajahnya.
"Tidak, Nayaku... Aku tidak mengucapkan kalimat perpisahan. Karena kita tidak akan pernah terpisah. Kau lupa kita adalah dua orang dengan hati yang sama?"
Dan, ucapan Zian itu menerbitkan senyum di wajah sang istri, "Baiklah. aku berjanji! Aku akan jadi ibu yang kuat untuknya."
"Baguslah! Aku sangat mencintaimu!" Zian memberi kecupan mesra di bibir, lalu kembali memeluk sang istri.
__ADS_1
Zian terus memeluknya, sambil membelai rambut panjang itu, sesekali mengusap perut sang istri dan menunggu gerakan menendang bayinya. Hingga akhirnya, Naya tertidur dalam pelukannya. Zian membelai wajah Naya yang sudah tertidur itu dengan penuh kasih sayang dengan matanya yang berkaca-kaca.
Maafkan aku, Naya! batin Zian.
Setelah puas memandangi wajah sang istri, Zian mengecup kening, mata, dan seluruh bagian wajah lainnya, lalu mengecup perut buncit Naya dan berbisik, "Maafkan ayah, Nak! Jadilah anak yang kuat untuk ibumu."
Zian pun beranjak dari pembaringan dan meninggalkan Naya yang masih tidur.
Saat menuruni tangga, bersamaan dengan Bibi Carlota yang baru akan menapaki anak tangga. Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya ketika melihat tuannya menuruni tangga.
"Bibi, aku akan pergi! Naya sedang tidur, kalau dia bangun dan mencariku, katakan aku ke kantor!" ucap Zian.
"Baiklah," jawab Bibi Carlota sambil mengangguk pelan.
Zian melangkahkan kakinya, namun berhenti sejenak, lalu berbalik, "Bibi, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Zian.
Bibi Carlota menatap wajah Zian yang terlihat begitu serius. Wanita paruh baya itu selalu bisa menebak ekpresi wajah Zian yang sudah dirawatnya sejak kecil.
"Baiklah, ayo kita bicara," ucap Bibi Carlota.
Zian merangkul wanita paruh baya itu memasuki ruangan kerjanya. Terjadilah pembicaraan rahasia antara mereka berdua.
***
"Brengs*k!" teriak Anita dengan geramnya. "Aku sangat bodoh, kenapa aku tidak bunuh dia saja saat itu."
Dimas bergidik ngeri melihat ekpresi wajah Anita yang sedang dikuasai kemarahan.
"Tenanglah, Anita. Bos tidak akan kenapa-kenapa. Mereka tidak punya bukti untuk menuduh bos, kan?"
"Itulah yang aku tidak tahu. Mereka punya rencana apa. Aku benar-benar sedang ingin membunuh orang saat ini!"
Dimas menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Anita, mencari jarak yang aman. Tidak lama kemudian, Zian datang. Dimas dan Anita langsung berdiri ketika sang bos memasuki ruangan itu.
"Ada perkembangan?" tanya Zian.
"Bos, sepertinya mereka benar-benar ingin menjebakmu!" ucap Dimas.
__ADS_1
"Aku sudah menduganya, sebentar lagi, polisi pasti akan datang," ucap Zian dengan santainya.
Benar dugaan Zian. Baru satu jam berlalu sejak dirinya datang, polisi sudah menyambanginya di kantor. Zian pun menyambut kedatangan beberapa polisi dengan santai, tanpa rasa takut.
****
*
*
*
Semua mata tertuju pada sosok lelaki jangkung yang berjalan keluar dari gedung tinggi menjulang itu dengan dikawal beberapa polisi. Ada yang menatap heran, dan adapula yang saling berbisik.
Zian kemudian naik ke salah satu mobil dengan beberapa polisi. Sementara Anita dan Dimas mengendarai mobil lain di belakang sana.
Raut kecemasan terlihat jelas di wajah kedua asisten kepercayaan Zian itu.
Hingga mereka tiba di kantor polisi. Dimas dan Anita tetap setia menemani sang bos yang sedang diperiksa dan dimintai keterangan oleh tim penyidik.
Zian diberondong dengan banyaknya pertanyaan, namun laki-laki itu menjawab dengan santai dan bersikap biasa saja. Seolah tidak ada kepanikan di wajahnya.
Setelah selesai dimintai keterangan, Zian duduk di sudut ruangan itu bersama Anita, sementara Dimas pergi memberitahu Fahri atas apa yang terjadi pada Zian.
"Anita, rahasiakan ini dari Naya. Aku tidak mau dia tahu aku sedang berada di kantor polisi," ucap Zian.
"Tapi kenapa?"
"Aku tidak mau Naya sampai stress. Kau tahu kan, stress bisa mempengaruhi kesehatannya. Beberapa minggu lagi dia akan menjalani operasi. Tolong jaga Naya untukku!"
"Lalu aku harus jawab apa kalau dia menanyakanmu?"
"Katakan padanya aku keluar negeri untuk mengurus sesuatu. Lakukan apapun agar Naya tidak mengetahui apa yang terjadi padaku."
"Baiklah," ucap Anita dengan wajah sedihnya.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG