Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 107


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalanan ibu kota di sore itu. Kembali terjadi keheningan di dalam mobil yang dikemudikan oleh Zian tersebut. Sejak tadi Naya masih merengut karena kesal dengan suaminya.


Betapa tidak, Zian benar-benar membuatnya kesal dengan mencari-cari alasan agar tidak jadi berkunjung ke rumah lamanya. Bahkan, sempat terjadi drama pura-pura sakit yang berakhir memalukan, dilakukan oleh Zian.


"Nay...!" panggil Zian mencoba melembutkan suaranya.


"Hmm..." Naya hanya menjawab dengan deheman membuat Zian menjadi gusar. Bahkan, saking kesalnya, Naya sampai menggeser duduknya sampai ke ujung, sehingga Zian sulit menjangkaunya.


Zian menghela napas panjang, lalu menepikan mobilnya. Entah mengapa membujuk sang istri yang sedang merajuk adalah pekerjaan paling sulit di dunia ini.


"Sayang....!" Sekali lagi Zian mencoba memanggil, kali ini dengan menerbitkan senyum menawannya.



"Baiklah, ayo kita pulang ke rumah lama kita!"


Wajah Naya pun langsung berbinar mendengar ucapan sang suami. "Kau serius?"


"Iya, Sayang. Tapi ada syaratnya."


"Apa?" Naya berapi-api bertanya karena terlalu senangnya mendengar ucapan Zian.


"Jangan diamkan aku!" pintanya dengan wajah memelas, "tolonglah, aku benar-benar tidak sanggup didiamkan seperti ini. Memangnya kau pikir aku bahan fermentasi yang harus didiamkan terus!"


Naya mengernyit mendengar ucapan Zian, "Fermentasi? Apa hubungannya," gumam Naya.


"Fermentasi kan didiamkan artinya..." ucap Zian kemudian.


Terserah kau saja. Tidak ada yang bisa membantah pikiran anehmu itu.


"Dulu kau juga mendiamkanku selama satu tahun. Apa aku pernah protes?" ucap Naya tanpa sadar. Dan, ucapan yang lolos begitu saja tanpa unsur kesengajaan itu, membuat wajah Zian mendadak sedih.


Setiap kali mengingat perlakuannya pada Naya di masa lalu, Zian akan benar-benar terpenjara dalam rasa penyesalannya. Hal itulah, yang membuatnya berat membawa Naya kembali ke rumah itu lagi. Karena akan mengingatkannya pada penderitaan yang dia berikan untuk istrinya yang saat itu sedang berjuang melawan maut.


Naya memperhatikan wajah suaminya yang terlihat sedih, lalu kemudian baru tersadar dengan ucapannya. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu."


Zian menyadarkan diri dari lamunannya, lalu mengulurkan tangan dan membelai wajah Naya yang sekarang terlihat lebih gempil.


"Kenapa minta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf." ucap Zian dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Baiklah, tebuslah kesalahanmu. Ayo kita buat kenangan yang indah di rumah itu bersama-sama!"


"Baiklah."


Zian kembali melajukan mobil menuju rumah lamanya yang sangat sederhana. Rumah tempatnya menghabiskan satu tahun untuk menyiksa Naya.


Dengan wajah berbinar, Naya memasuki rumah yang sangat dirindukannya itu. Matanya berkeliling meneliti setiap bagian rumah itu.


"Aku pikir rumahnya akan kotor dan penuh debu. Tapi ternyata rumah ini sangat terawat. Siapa yang membersihkannya?"


"Aku minta orang membersihkannya setiap hari," Zian seraya rambut panjang sang istri.


Naya kemudian berbalik dan langsung memeluk Zian dengan manjanya. Sesuatu yang dulu sangat ingin dilakukannya, Namun, Zian terus mengabaikannya, jangankan memeluk, menatap wajah datar Zian saja sudah membuat nyalinya menciut.


Tanpa aba-aba, Zian langsung menggendong Naya, membuat gadis itu gelagapan, lalu membawanya masuk ke kamar.


"Turunkan aku!" pinta Naya sambil mengibas-ngibaskan kakinya.


Zian membaringkan Naya di tempat tidur itu, lalu ikut berbaring di sana. Belaian lembut mendarat di wajah gadis itu.


"Kau ingat, dulu kau sering menyelinap masuk ke kamar ini lewat jendela dan tidur di sampingku."


"Maafkan aku! Kau benar, kita akan membuat kenangan baru di rumah ini!" ucap Zian seraya mendaratkan kecupan di kening, mata, dan bagian wajah lainnya tak luput dari kecupannya.


Zian kemudian memeluk erat tubuh sang istri. "Sayang, aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku padamu selama satu tahun itu. Mungkin, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku. Di rumah ini, aku memberimu kamar sempit dan pengap yang tidak layak dihuni, kasur lipat yang lusuh. Kau bahkan tidur tanpa menggunakan bantal dan selimut.


Aku begitu tega memberimu sedikit uang dengan harapan agar kau tidak tahan denganku. Dan aku memarahimu saat kau menghabiskan uang itu, sehingga kau begitu takut menggunakan uang yang kuberikan, dan memilih bekerja sebagai seorang pelayan.


Kau sampai menyembunyikan sakitmu dariku karena takut aku mengusirmu. Dan untuk semua itu, kau bahkan tidak pernah mengeluh atas apa yang kulakukan padamu. Bagaimana kau bisa punya hati sebaik itu? Dan bagaimana aku bisa memaafkan diriku? Kau terus menghujaniku dengan cintamu, tapi apa yang kulakukan untuk membalasnya?"


Buliran air mata yang begitu deras mengalir di wajah Zian seolah menjadi bukti betapa rasa sesal itu seakan mampu membunuhnya. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa dalam rasa bersalahnya pada wanita yang teramat dicintainya itu.


"Aku begitu serakah mencari Kia, dan ingin memilikinya sampai aku menyakitimu. Tanpa kusadari bahwa kau dan Kia adalah orang yang sama."


Naya menangkup wajah Zian dengan telapak tangannya, menerbitkan senyum indahnya yang begitu tulus. "Aku sangat mencintaimu!"


Zian semakin tidak dapat membendung air mata penyesalannya. Dia memeluk tubuh Naya seerat-eratnya. Meyakinkan dirinya bahwa Naya adalah miliknya seorang. Dan membuat janji pada dirinya sendiri, bahwa sisa hidupnya akan dia habiskan untuk menjaga dan melindungi Naya. Bagaimana pun caranya.


"Maafkan aku!" bisiknya dengan diiringi isakan lirih.

__ADS_1


"Maukah kau berjanji satu hal padaku?"


Zian mengangguk pelan, sambil membelai wajah Naya. "Apapun untukmu!"


"Berjanjilah, kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Kau pernah meninggalkanku selama sebulan tanpa memberiku kabar. Kau tidak tahu, kan? Aku rasanya mau mati menahan rinduku. Kau tidak akan mengulangi itu lagi, kan? Kau akan bersamaku selamanya, kan?"


"Aku berjanji," ucap Zian, lalu memberi kecupan di bibir. Sesaat kemudian mereka berpelukan erat dan lama. Pelukan yang mampu mengalirkan cinta yang dalam di antara keduanya.


Zian menggeser posisinya, sehingga wajahnya kini berada di atas wajah Naya, dia bertumpu pada kedua tangannya agar tidak menindih sang istri di bagian perut.


"Aku sangat mencintaimu," bisik Zian dengan mesra.


Dan, malam itupun dihabiskan mereka dengan berbagi kehangatan. Zian mencurahkan seluruh cintanya dengan kelembutan.


****


Pagi menjelang. Sayup-sayup terdengar bunyi kicauan burung yang saling bersahutan. Naya membuka matanya perlahan. Senyum pun mengembang di sudut bibirnya saat memandangi wajah Zian yang masih begitu lelap dalam tidurnya.



"Selamat pagi, Sayang!" bisiknya, lalu memberi kecupan di kening sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur.


Naya pun memulai aktivitasnya di rumah itu, seperti yang dulu sering dilakukannya.


****


Zian masih betah bergelung di bawah selimut. Laki-laki itu menggeliat pelan, lalu meraba tempat di sampingnya, berharap Naya masih berbaring di sampingnya.


Kosong, tidak ada sosok yang selalu dipeluknya setiap pagi.


"Naya..." panggil Zian dengan suara serak.


Dia kemudian bangkit dari pembaringan, lalu keluar dari kamar, masih dalam keadaan mengantuk. Samar-samar, Zian dapat mendengar bunyi peralatan memasak yang saling beradu dari arah dapur.


Dengan langkah gontai, Zian menuju dapur dan menemukan Naya sedang sibuk memasak.


"Sayang..." panggil Zian dengan memeluk dari belakang.


****

__ADS_1


__ADS_2