Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Kenangan terakhir


__ADS_3

Zian terkekeh sinis mendengar ucapan Naya, "Talak? Kenapa aku harus mengucapkan talak padamu? Aku tidak pernah menganggapmu istriku. Jadi aku tidak perlu mengucapkan talak padamu..."


Bagai petir menyambar di siang bolong, Naya bergetar mendengar ucapan suaminya itu. Matanya yang sudah bengkak karena terlalu banyak menangis itu harus kembali dipenuhi cairan bening. Namun, Naya menahannya sekuat tenaga dan memilih menutupinya dengan senyumannya.


Ya, itu benar... Kenapa Zianku harus mengucapkan talak padaku? Zianku tidak pernah menganggapku sebagai istrinya.


"Baiklah, aku akan selalu berdoa agar kau mendapatkan kebahagiaanmu. Selamat tinggal..." ucap Naya dengan suara bergetar lalu beranjak meninggalkan Zian yang masih mematung di ambang pintu kamarnya.


Naya pun kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuh di kasur lipatnya. Dikamar itulah Naya terus menangis, berharap air matanya habis malam itu dan mengering, sehingga di hari berikutnya dia tidak akan lagi punya daya untuk menangis.


Zianku, aku sangat membutuhkanmu untuk memelukku malam ini. Aku benar-benar tidak kuat lagi untuk bertahan. Aku ingin menyerah dan melepaskan diriku dari kesakitan yang akan membunuhku perlahan ini.


Sementara Zian di kamarnya sedang merenungi nasibnya. Kehilangan Kia benar-benar membuatnya terpuruk. Dia menghubungi Anita dan menanyakan kembali informasi tentang Kia. Setelah bicara dengan Evan, dia meminta Anita dan Dimas untuk mencari informasi tentang Kia. Dia ingin melihat sendiri bagaimana Kia menjalani hari-harinya dan tidak ingin Kia-nya hidup kekurangan. Dia ingin memastikan Kia hidup dengan baik bersama suaminya.


****


Di lain tempat, Dokter Fahri sedang berada di sebuah ruangan yang temaram. Hanya ada satu lampu yang menyala untuk menerangi matanya yang sedang membaca sebuah buku.


Dokter Fahri membaca buku harian yang dia berikan untuk Naya. Dia membaca lembar demi lembar buku itu dengan berderai air mata. Naya bukan hanya menuliskan apapun gejala yang di alaminya, namun dia juga menuangkan seluruh perasaan cintanya pada Zian ke dalam buku itu. Dokter Fahri pun terfokus pada satu nama seseorang yang sangat dikenalnya yang tertulis dalam buku itu.


"Zian?" gumam Dokter Fahri yang dipenuhi pertanyaan dalam benaknya. Apakah Zian yang di maksud dalam buku itu adalah Zian yang sama.


"Gadis bodoh... Kenapa kau begitu terpenjara oleh cintamu pada seseorang yang tidak pernah menginginkanmu?" gumam Dokter Fahri.


Dokter Fahri menyeka air matanya dengan tissue, ketika tepukan tangan seorang wanita di bahunya membuyarkan lamunannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita yang menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Elma..." jawabnya. Wanita itu kemudian duduk di depan suaminya itu.


"Apa itu buku milik Naya?" tanya Elma saat melihat buku di tangan suaminya.


"Iya, ini catatannya," dia menghela napas panjang, "Kau tahu Elma, dia memenuhi buku ini dengan nama suaminya. Gadis kecilku yang malang, aku benar-benar ingin menghajar laki-laki bodoh yang menjadi suaminya itu. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Naya sedang berjuang melawan mautnya," ucapnya dengan suara lirih.


Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya lalu memeluk sang suami. Dokter Fahri pun menangis dalam pelukan wanita itu, "Bukankah Naya menyembunyikan sakitnya dari suaminya?"


"Iya, Elma... Dia tidak mau membebani siapapun. Dan aku... Aku sudah gagal! Aku kalah, gadis kecilku sekarat dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya."


"Kau tidak gagal, kau sudah melakukan semua yang kau bisa untuk menjaga Naya agar tetap hidup. Jika takdir menginginkan yang lain untuk Naya, itu bukan salahmu. Bukankah dia akan tetap menjadi adik kesayangan kita?"


Elma, adalah seorang dokter ahli bedah. Dia adalah salah satu dokter yang mengoperasi Naya saat tertembak dulu. Setelah itu, dia merekomendasikan Naya untuk ditangani oleh Dokter Fahri. Nayalah yang mendekatkan kedua orang itu hingga akhirnya mereka menikah dan kini memiliki seorang anak perempuan.


"Aku ingat pertama kalinya dia terbangun dari koma selama beberapa minggu setelah penembakan itu. Dia sama sekali tidak mengeluh sakit. Aku jatuh cinta pada semangat hidup seorang gadis kecil berusia 15tahun itu. Bahkan aku tidak pernah melihatnya menangis," ungkap Elma dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu dimana Naya sekarang?"


"Dia masih di rumah suaminya malam ini. Dia bilang akan pergi dari rumah itu besok pagi,"


"Kenapa kita tidak mengajaknya tinggal bersama kita di rumah ini. Aku akan sangat senang jika Naya ada disini bersama kita. Jadi kita bisa merawatnya bersama-sama."


"Aku akan bicara dengannya besok, tapi aku harus meluruskan sesuatu yang mengganggu pikiranku dulu," ucap Dokter Fahri.


Aku harus memastikan Zian siapa yang di tulis Naya dalam buku ini.


****

__ADS_1


Matahari sudah menampakkan sinarnya menerangi alam. Kicauan burung seolah ikut menyambut hangatnya mentari pagi. Naya masih tertidur dengan wajah sembabnya. Semalaman dia menangis menumpahkan kesedihannya. Hingga menjelang subuh, dia baru bisa tidur setelah lelah menangis berjam-jam.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun Naya belum juga terbangun. Dia masih terlelap berselimut mimpi.


Sementara Zian masih merenung di kamarnya memandangi kalung bertuliskan nama Kia. Bayang-bayang seorang gadis yang bernyanyi dengan suara merdu kembali terngiang di telinganya. Patah hatinya seolah tidak terobati hingga menjadikannya seseorang yang tidak berperasaan. Kia adalah alasan mengapa dirinya meninggalkan dunia hitamnya.


Zian memiliki mimpi memulai semuanya dari awal bersama gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Namun, sekarang dia harus mengubur dalam-dalam mimpi itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan lamunannya pagi itu. Tampak nama Anita tertera di layar ponsel. Zian langsung meraih benda pipih yang terletak di atas meja dan segera menjawab panggilan itu.


"Ada apa, Anita?" tanya Zian.


"Bos, aku menemukan informasi tentang Kia!" ucap Anita, Zian langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Anita.


"Benarkah?"


"Iya, aku akan menunggumu di kantor pusat. Cepatlah!" Zian pun segera beranjak dari duduknya lalu secepat kilat meraih kunci motor di atas meja lalu pergi meninggalkan rumah itu.


Zian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju kantor pusat Kia Group. Dia tidak peduli dengan umpatan pengendara lain yang hampir ditabraknya saking inginnya menemukan Kia.


Sementara Naya baru saja terbangun dari tidurnya. Dia lalu beranjak menuju lantai bawah dan memasuki sebuah ruangan yang dia sebut sebagai ruangan rahasianya. Matanya berkeliling menatap setiap sudut ruangan yang telah dipenuhi dengan lukisan wajah Zian.


Naya kemudian duduk di sebuah kursi lalu mengambil kuas. Dia mulai menggerakkan tangannya dan menyelesaikan lukisan terakhirnya.


Harapan, ambisi, cinta dan mimpinya tentang masa depan yang pernah hinggap di hatinya dia tuangkan dalam lukisan terakhirnya itu.


Aku sudah mati dan meninggalkan semua kenanganku di dalam ruangan ini. Semua ini mungkin tidak ada artinya lagi. Aku akan pasrah dan menunggu saat waktuku tiba. Tuhan, jika aku boleh meminta sesuatu, jagalah Zianku dimana pun dia berada.

__ADS_1


****


__ADS_2