Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
IZIN


__ADS_3

Ya tuan Austin."


"Baiklah katakan saja."


"Ini tuan Austin."


Seketika itu juga asisten Jo memberikan foto - foto mengerikan tersebut kepada Austin."


Dengan mata terbelalak Austin melihat semua foto yang berada di dalam ponsel asisten Jo.


"Ini semua adalah pengawal kita Jo?"


"Betul tuan Austin, dan hari hasil pemeriksaan, mafia yang sengaja meninggalkan tanda adalah mafia dari keturunan Harold."


Deg


Mata Austin kini memerah menahan marahnya, bagaimana tidak, pagi ini tiba - tiba saja Austin harus melihat foto mengenai para pengawalnya yang di siksa oleh kelompok mafia Harold sampai mati.


"Kita tidak boleh tinggal diam Jo."


"Apa yang harus kita lakukan tuan Austin."


Austin kini hanya terdiam, Austin memejamkan mata dan memikirkan satu rencana yang sangat jahat namun tidak menimbulkan luka seperti ini.


"Aku tau cara yang sangat jahat, tapi tidak harus membunuh banyak orang seperti ini Jo, tapi aku sangat yakin ini akan membuat pemimpin Harold marah besar."


"Cara apa itu tuan Austin?"


Dengan cepat Austin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan satu foto wanita cantik kepada asisten Jo.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan? aku dengan dia adalah satu aktivis sosial, wanita ini tidak pernah tergabung di dalam kelompok mafia Harold, namun dirinya begitu dilindungi oleh kelompok mafia Harold, bawa wanita di hadapan ku Jo, dan aku tau harus melakukan hal apa kepadanya nanti."


Austin mengatakan hal tersebut dengan senyum yang mengerikan dan asisten Jo yang sudah mengerti jalan pikiran Austin hanya bisa mengangguk - anggukan kepalanya.


"Tidak harus nyawa itu di balas dengan nyawa, untuk apa kita melakukan hal itu, jika pembalasan tanpa membunuh nyawa rasanya lebih sakit daripada harus menjadi seseorang pembunuh."


Di akhir kata Austin mengatakan hal tersebut sambil tertawa dan membayangkan hal apa yang akan dia lakukan pada nantinya terhadap satu wanita yang kini menjadi incaran nya.


Hari ini Austin kembali di sibukkan segala bisnisnya di dalam dunia hitam.

__ADS_1


Sementara itu Maureen yang telah bangun dari pingsan serta mendapatkan obat - obatan anti mual dari dokter Daisy hari ini mulai bosan.


Bagaimana tidak seharian Maureen hanya duduk di dalam kamar, dan tidak di perbolehkan keluar dari kamar yang bernuansa hitam tersebut.


"Selamat pagi nona Maureen."


Satu suara mengatakan hal tersebut sambil mengetuk pintu kamar pribadi Austin dengan pelan.


"Ya, dengan siapa di luar?"


"Aku Huaran nona Maureen."


"Ah Huaran, bagaimana keadaan mu?"


"Aku baik - baik saja nona Maureen, nona bisakah anda membuka pintu kamar ini dan membiarkan aku masuk ke dalam?"


Maureen yang mendengarkan permintaan Huaran kini hanya terdiam, dirinya takut jika mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Austin, akan berakibat fatal.


"Maafkan aku Huaran, sebenarnya aku ingin sekali membuka pintu ini untuk mu, tapi aku takut dengan tuan muda kalian jika mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam kamar pribadinya."


Pada akhirnya Maureen mengatakan apa yang ada di dalam isi hatinya.


"Tidak Huaran, yang aku tau semua harus se izin tuan muda kalian bukan?"


"Ya nona Maureen, namun saat ini anda adalah istri sah dari tuan muda Austin dan kedudukan kalian itu sama di hadapan kami, jadi nona Maureen dapat membuat keputusan sederhana seperti membuka kan pintu tanpa harus meminta izin terlebih dahulu kepada tuan muda Austin."


Dan baru kali ini Maureen mengerti akan hal ini, selama ini Maureen berpikir bawah dirinya harus mendapatkan semua izin suami terlebih dahulu ketika melakukan sesuatu di dalam mansion Black Devil yang menurut Maureen menakutkan.


"Baiklah, masukan Huaran."


Maureen pada akhirnya membukakan pintu untuk Huaran agar bisa masuk ke dalam kamar pribadi Austin.


"Nona Maureen aku sangat merindukan anda."


Huaran mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat Maureen.


"Ya Huaran aku juga sama, ayo duduklah."


Maureen mengajak Huaran untuk duduk di kursi di samping tempat tidurnya.

__ADS_1


"Nona, rasanya seperti mimpi ketikan mendengarkan anda di persunting tuan muda kami."


"Ya Huaran, bukan hanya kau mengatakan hal tersebut, tapi aku sendiri yang saat ini menjalani nya juga merasakan hal yang sama."


"Apakah nona sudah berkeliling mansion utama ini?"


Dengan polos Maureen langsung menggelengkan kepalanya.


"Belum Huaran, sehari - hari kegiatan ku hanya di dalam kamar saja, sampai saat ini aku belum pernah menanyakan apakah tuan muda Austin memberikan aku izin untuk keluar dari dalam pribadinya ini."


Maureen mengatakan hal tersebut sambil pandangan nya menyapu keseluruhan kamar.


"Nona, aku yakin anda pasti di perbolehkan untuk keluar dari dalam kamar ini, hanya untuk sekedar jalan - jalan di dalam mansion utama."


"Kau yakin Huaran?"


"Ya sangat yakin, asalkan nona Maureen mendapatkan jaminan dari para pelayan kepercayaan tuan muda Austin pasti bisa, jadi apa yang ini anda lakukan hari ini nona?"


Maureen terdiam dan memikirkan hal apa yang tidak membuatnya bosan untuk di lakukan dan tiba - tiba saja ada satu ide yang kini hinggap di kepala Maureen.


"Kau bilang aku boleh melakukan sesuatu hal yang sederhana bukan di dalam mansion utama ini?"


Huaran langsung menganggukkan kepalanya ketika Mauren mengajukan pertanyaan ini.


"Baiklah, hari ini aku ingin pergi ke dapur mansion utama."


Mendengarkan jawaban dari Maureen, Huaran hanya bisa mengernyitkan dahinya.


"Dapur nona? begitu banyak tempat di dalam mansion ini kenapa anda malah memilih dapur tempat yang ingin anda kunjungi?


"Ya Huaran, aku rindu untuk memasak di dalam dapur, sejak berada disini aku sama sekali tidak pernah menyentuh dapur sama sekali, dan hari ini aku ingin menyentuh dapur itu meskipun hanya sekali.."


"Ya, ya aku mengerti rasanya menjadi nona Maureen, baiklah tunggu sebentar aku akan menghubungi asisten Jo."


"Astaga Jo? Siapa dia Huaran?"


"Ah asisten Jo adalah asisten pribadi dari tuan muda Austin.


Hai, hai pembaca setia penjara cinta sang mafia, terus dukung author nya yah, dengan memberikan like dan vote sebanyak - banyaknya, agar authornya tetap semangat. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2