Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Ada apa dengan Anita?


__ADS_3

Gedung pusat Kia Group


Sedang terjadi pembicaraan serius antara Zian dan Dimas. Dimas baru saja memberitahu Zian tentang Anita yang tanpa sengaja melihat Kenzo dan Marvin Alexander duduk bersama di sebuah cafe. Wajah Zian pun mendadak serius setelah mendengar Dimas menyebutkan nama dua orang itu.


"Lalu bagaimana keadaan Anita?" tanya Zian.


"Anita begitu ketakutan saat melihat mereka. Jadi aku langsung membawanya pulang ke apartemennya."


"Kau tidak meninggalkannya, kan?"


Zian bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Tidak, aku menemaninya sampai pagi. Tapi..." Dimas menggantung ucapannya lalu menatap Zian, "Bos, sebenarnya ada apa antara Anita dengan seseorang bernama Kenzo itu? Aku benar-benar tidak mengerti. Anita adalah seorang wanita yang tidak pernah takut apapun. Bahkan Alex saja takluk dengan mudah olehnya. Lalu kenapa dia begitu takut pada seseorang yang bernama Kenzo?"


Zian hanya menatap Dimas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


"Aku tidak bisa mengatakannya. Itu adalah masa lalu Anita. Aku tidak berhak membocorkan rahasia masa lalu seseorang."


"Baikkah, aku mengerti."


"Lalu, dimana Anita sekarang?"


"Aku meninggalkannya di apartemennya. Saat aku pergi dia masih tidur."


Zian berdiri dari duduknya, lalu meraih jas yang menggantung di sudut ruangan itu. "Batalkan semua rapat hari ini! Aku ada urusan penting!"


Setelah mengatakan itu, Zian keluar dari ruangannya menuju area parkir gedung itu. Laki-laki itupun segera naik ke mobil menuju suatu tempat.


Berselang tiga puluh menit, Zian sampai di depan sebuah apartemen mewah. Lelaki jangkung itu tergesa-gesa memasuki gedung pencakar langit itu.


Ketika tiba di lantai teratas, beberapa orang pria berseragam hitam dengan lambang huruf Z di punggungnya membungkuk tanda hormat padanya.


"Dia ada di dalam?" tanya Zian pada beberapa orang itu.


"Iya, Tuan!" jawab salah seorang pria. Zian segera melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Namun, saat masuk ke dalam, Anita tidak terlihat.


"Marissa!" panggil Zian.


Laki-laki itu pun memeriksa setiap bagian ruangan itu, hingga akhirnya mendengar suara isakan lirih dari sebuah ruangan. Zian melangkahkan kakinya mendekat pada sumber suara yang dia yakini adalah suara Anita yang sedang menangis.


Benar saja, Anita sedang meringkuk di sudut kamar dengan posisi telungkup. Zian langsung mendekat dan berjongkok di hadapannya.


"Marissa..." panggil Zian dengan suara yang lembut. Anita menengadahkan kepalanya menatap lelaki yang selama lebih dari delapan tahun telah melindunginya itu.


Seketika, pertahanannya runtuh. Anita menjatuhkan tubuhnya bersandar pada Zian. Bagai seorang kakak, Zian mencoba menangkan Anita dengan mengusap kepala dan punggungnya. Anita terus menerus menangis hingga sesegukan. Jika di hadapan semua orang Anita adalah wanita mengerikan, maka berbeda hal nya jika di hadapan Zian. Hanya di hadapan Zianlah gadis itu menunjukkan sisi rapuhnya.


"Maliq... Dia akan menemukanku! Aku melihatnya semalam," ucap Anita dibarengi isakannya yang semakin lirih.


"Tenanglah, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan dia menjangkaumu."


"Aku takut!"


"Jangan khawatir. Dia harus melangkahi mayatku dulu untuk bisa mendapatkanmu."


Zian membantu Anita berdiri dan membawanya duduk di sofa. Laki-laki itupun pergi ke dapur dan membuat teh hangat untuk Anita.


"Minumlah, kau akan merasa lebih baik setelahnya." Zian menyodorkan secangkir teh hangat ke hadapan Anita.


Zian menatap wajah Anita lekat-lekat. Laki-laki itu dapat melihat raut wajah Anita yang sangat ketakutan. Bahkan, tangannya masih gemetaran ketika meraih cangkir teh itu.


Dia masih sangat trauma atas apa yang laki-laki bejat itu lakukan padanya.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Kau akan aman! Aku menempatkan banyak pengawal untuk menjagamu."


Anita menyeruput teh buatan Zian dengan tangannya yang bergetar. Sekelumit bayangan-bayangan yang dilaluinya di masa lalu tergambar jelas diingatannya.


****


Di tempat lain, Naya sedang bergelayut manja pada Bibi Carlota, asisten rumah tangga Zian dengan merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu. Sambil melihat-lihat foto masa kecil sang suami dalam sebuah album foto.


"Bibi, apa bibi sudah lama bekerja di keluarga Azkara?" tanya Naya pada Bibi Carlota.


"Lumayan, Nona..."


"Bibi ini sangat curang! Saat ada aku, bibi memanggil suamiku dengan Tuan. Tapi saat hanya berdua memanggil namanya saja. Lalu bibi memanggilku Nona. Aku kan tidak suka dipanggil begitu. Bagaimana kalau Bibi panggil aku Naya saja," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari album foto itu.


"Tapi itu kan tidak sopan, Nona!"


"Bibi juga memanggil Kak Fahri dan Evan dengan nama saja."


"Hahaha, baiklah, Naya..."


"Ceritakan padaku bagaimana masa kecil mereka, Bibi! Bibi kan sudah lama bekerja pada keluarga Azkara."


"Lumayan lama. Kami masih tinggal di Turki saat itu. Usia Fahri masih lima tahun, dan Zian berusia satu tahun saat Bibi mulai bekerja. Fahri, Zian dan Evan... Bibi yang merawat mereka."


"Bibi juga merawat Elsa?"


"Iya, tapi kemudian Elsa pergi untuk selamanya. Dan keluarga ini berubah. Zian pergi dari rumah, meninggalkan segalanya. Dia bahkan tidak menyelesaikan sekolahnya. Dan Nyonya Alina Emely Azkara, mengalami depresi." Wajah bibi Carlota terlihat sangat sedih mengingat kondisi keluarga itu. Mulai saat majikannya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil sampai hilangnya Elsa.


"Menyedihkan sekali."


"Zian dan Evan masih beruntung karena memiliki Fahri. Dialah yang membuat keluarga ini tetap utuh. Dia seorang kakak yang sangat dewasa dalam membimbing adik-adiknya. Dia bisa mengendalikan Zian yang saat itu masih sangat labil."


"Bibi, suamiku bilang, dia pernah pergi dari rumah selama beberapa tahun."


"Bibi tahu itu. Bibi juga tahu apa yang dilakukannya di luar sana."


"Apa?" Naya membulatkan matanya, lalu bangkit dari posisi berbaringnya. "Bibi tahu, apa yang dia lakukan di luar sana?"


"Masuk ke sindikat mafia? Bibi tahu... Tapi Fahri dan Evan tidak tahu."


Naya mengusap wajahnya lalu menatap wanita paruh baya itu.


"Tapi percayalah, Zian bukan orang jahat. Bibi tidak mengatakannya pada Fahri karena Zian masuk ke sindikat itu dengan tujuan yang baik. Walaupun itu sangat berbahaya."


Aku tahu, Bibi! Zianku orang yang sangat baik.


Tiba-tiba, wajah Naya berubah sedih memikirkan ucapan sang suami beberapa waktu lalu yang mengatakan polisi masih mencari keberadaan Tuan Maliq. Entah mengapa, sejak saat itu, Naya selalu memikirkannya. Jika Zian sampai tertangkap, entah apa yang akan terjadi. Begitulah pikiran yang selalu hinggap di benaknya.


"Ada apa? Wajahmu kenapa sedih begitu?" tanya Bibi Carlota.


"Tidak apa-apa, Bibi. Aku hanya sedang merindukannya saja," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Bibi Carlota tertawa kecil mendengar ucapan Naya. Baru beberapa jam tidak bertemu dengan sosok suaminya, kerinduan sudah mengakar di hatinya.


"Dia kan baru pergi beberapa jam. Dia akan segera pulangi."


Tapi aku sedang merindukannya. batin Naya.


****


Zian baru saja keluar dari apartemen Anita ketika ponselnya berdering. Laki-laki itu segera mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Di layar tertera nama Nayaku.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang di sudut bibirnya, Zian menjawab panggilan itu.


"Sayang..." panggil Zian.


"Kau dimana?"


"Aku baru saja keluar dari apartemen Anita. Ada apa?"


"Apartemen Anita?"


"Iya, nanti aku jelaskan."


"Aku sedang merindukanmu. Apa kau bisa pulang sekarang?" Suara Naya terdengar begitu manja di telinga Zian.


"Baiklah, Sayang... Aku pulang sekarang."


"Aku tunggu ya..."


Setelah sambungan itu terputus, Zian segera melajukan mobil menuju rumahnya.


Tidak butuh waktu lama, lelaki itu telah tiba di rumah dan langsung disambut oleh sang istri yang mendadak menjadi gudang rindu itu.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Naya seraya membenamkan wajahnya di dada sang suami. Zian mengerutkan alisnya heran dengan tingkah Naya yang sangat manja itu.


"Ada apa denganmu? Kau tidak biasanya semanja ini."


"Memang tidak boleh?" Naya mengerucutkan bibirnya dengan lucu, sehingga Zian tertawa melihat tingkahnya.


"Kata siapa tidak boleh... Akan kuberikan apapun untukmu. Ayo kita ke kamar!"


****


*


*


*


Zian menarik selimut setelah melakukan sesuatu dengan sang istri di kamar, lalu memberi kecupan singkat di kening.


"Sayang... Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku butuh pendapatmu," ucap Zian seraya membelai rambut panjang sang istri.


"Apa?"


Dengan berat hati, akhirnya Zian menceritakan pada Naya tentang apa yang sedang terjadi pada Anita. Naya membulatkan matanya mendengar setiap kata yang terucap dari mulut suaminya itu. Tanpa terasa, air matanya lolos begitu saja.


"Apa kau keberatan kalau Anita tinggal bersama kita? Maksudkuhanya beberapa bulan saja, sampai semuanya aman untuknya." tanya Zian dengan ragu-ragu.


"Kenapa aku harus keberatan?"


"Sayang... Walaupun Anita sudah aku anggap adikku sendiri. Tapi kau kan istriku. Aku harus minta izinmu dulu untuk membawa wanita lain tinggal di rumah ini bersama kita."


"Aku tidak keberatan. Sungguh."


Zian membelai wajah Naya yang kini terlihat lebih berisi, lalu mengusap-usap perutnya.


"Terima kasih..."


BERSAMBUNG


Maaf kalo ceritanya membosankan. Aku penulis amatir

__ADS_1


__ADS_2