Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Melampiaskan emosi


__ADS_3

Zian terus mencari Naya tanpa lelah. Dia berkeliling mencari kemanapun yang dia bisa. Bahkan Mia, satu-satunya sahabat yang Naya miliki tidak tahu tentang keberadaan sahabatnya itu. Di tengah kebimbangannya, Zian teringat pada Evan dan Rafli. Zian pun segera mengarah ke sebuah cafe yang terletak bersebelahan dengan kantor pusat Kia Group itu.


Selang tiga puluh menit menempuh perjalanan, sampailah Zian di depan cafe itu. Buru-buru lelaki jangkung itu memasuki cafe.


Rafli yang melihat kedatangan Zian langsung gemetaran, apalagi dia melihat raut wajah kakak sahabatnya itu yang begitu menakutkan. Zian langsung menghampiri Rafli yang sudah membeku di dalam sana.


"Aku ingin bicara denganmu?" ucap Zian dengan wajah datar.


Rafli menatap bola mata Zian yang berwarna hitam itu dengan perasaan takut. "Ada apa, Kak?"


"Apa Naya pernah kemari?" tanya Zian dengan tatapan mengintimidasinya membuat Rafli terlonjak kaget.


Glek!


Susah payah Rafli menelan salivanya karena takut pada pria menyeramkan yang sedang berdiri di hadapannya.


Naya... Apa dia sudah tahu kalau Naya adalah pemain piano di acara ulang tahun Kia Group? Matilah aku, dia pasti akan mencincang habis diriku.


"Na- Naya..." Rafli terbata-bata menyebut nama itu.


"Cepat katakan! Apa Naya pernah kemari?" tanyanya lagi.


"Ti-tidak, Kak... Naya tidak pernah kemari..." jawab Rafli.


Evan, cepatlah datang. Kakakmu yang mengerikan ini akan mencincangku kalau aku salah bicara sedikit saja. Ya ampun, kenapa dia sangat mengerikan? Dia sangat berbeda dengan Kak Fahri.


Zian melangkah maju semakin mendekat dengan Rafli, seiring langkah kaki Rafli yang terus mundur kebelakang hingga menyandar di dinding. "Benarkah?" tanya Zian ingin memastikan.


"Su-sungguh, Kak... Naya benar-benar tidak pernah kemari. Aku tidak berhohong."


Zian kemudian mencengker*m leher Raflii, namun cengkaramannya tidak begitu kuat, dia seperti ingin mengancam teman adiknya itu. "Kenapa aku harus percaya padamu? Saat itu kau juga membohongiku tentang gadis yang bermain piano itu. Kau ingin aku percaya padamu?"


Rafli semakin ketakutan, tubuhnya sekarang gemetaran. "Sungguh, Kak. Kau boleh tanya Evan atau karyawan lain di cafe ini kalau tidak percaya. Naya benar-benar tidak kemari."


Zian kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Rafli. Dia menghela napas panjang seraya memejamkan matanya sesaat. "Baiklah, kali ini aku akan percaya padamu. Kalau Naya kemari cepat hubungi aku," pinta Zian kemudian.


Rafli pun bernapas lega. "Memangnya ada apa dengan Naya, Kak?" Rafli memberanikan diri bertanya pada Zian karena rasa penasarannya yang begitu tinggi. Sehingga dia hampir melupakan ketakutannya.


"Itu bukan urusanmu! Tugasmu hanya memberitahuku jika Naya kemari atau menghubungimu. Kau tahu kan, apa akibat yang akan kau terima jika kau berani membohongiku?" tutur Zian dengan tatapan mengintimidasinya.

__ADS_1


Raflipun mengangguk dengan cepat. "Ba-baik, Kak... Begitu ada kabar tentang Naya, aku akan segera memberimu kabar."


Setelah memberi ancaman itu, tanpa rasa bersalah Zian beranjak keluar dari tempat itu. Saat tiba di area parkir, bersamaan denga. Evan yang baru saja tiba. Zian yang sudah membuka pintu mobilnya langsung menutupnya kembali begitu melihat Evan datang.


Evan mengepalkan tangannya hingga bergetar saat melihat Zian berdiri tegak di samping mobilnya.


Kebetulan sekali dia ada di sini. Tanganku sedang gatal ingin menghajarnya. Batin evan.


Evan membuka pintu dan turun dari mobilnya, lalu menutup pintu mobil dengan kasar seperti sedang emosi. Dia lalu menghampiri kakaknya itu dan berdiri tepat di hadapannya. Evan pun membuka kacamata hitam yang melekat di wajahnya dan mengaitkannya di saku kemejanya.


"Kebetulan kau ada di sini. Aku memang sedang mencarimu..." ucap Evan.


Zian menyadari nada bicara Evan yang seperti sedang menantangnya. "Sepertinya kau sudah tahu alasan kenapa aku kemari," ujar Zian membuat Evan berdecih seraya memalingkan wajahnya ke kiri.


"Aku tahu apa yang kau cari, tapi kau tidak akan mendapatkannya di sini, Kakak..."


"Apa kau tahu dimana Nayaku berada? Katakan dimana dia!" tanya Zian kemudian.


"Nayamu? Kenapa kata-katamu membuat telingaku gatal? Setelah semua yang kau lakukan padanya, sekarang kau menyebutnya Nayamu?"


Zian tidak menanggapi kalimat bermuatan sindiran yang dilontarkan Evan. Pikirannya hanya tertuju pada Naya. Walaupun dia harus memohon pada Evan, akan dia lakukan selama itu untuk menemukan Sang Istri.


Karena telah dikuasai emosi yang memuncak, tanpa aba-aba Evan melayangkan pukulannya ke wajah Zian.


BUGH BUGH BGH!!


Tiga kali pukulan mendarat di wajah Zian. Belum sembuh lebam di awajahnya karena dipukuli oleh Dimas kemarin, sekarang dia harus kembali mencicipi kepalan tinju dari Sang Adik yang lebih muda sepuluh tahun darinya itu. Dan seperti kemarin, Zian tidak membalas serangan Dimas, kali ini pria itu juga tidak membalas pukulan Evan.


Beberapa orang yang melihat adegan itu pun membeku di sana termasuk Rafli. Mereka tidak berani melerai. Evan kemudian menarik kerah kemeja Zian dengan penuh emosi. "Jika saja kau bukan kakakku, aku pasti sudah menghajarmu sampai mati."


Zian mengusap darah dari sudut bibirnya dengan jari jempolnya. "Lalu kenapa? Kenapa kau tidak melakukannya... Ayo pukul aku sesukamu!" ujar Zian yang terlihat pasrah.


"Aku beritahu, aku tidak tahu dimana Naya. Sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu. Aku tidak akan biarkan kau menyakiti Naya lagi!" teriak Evan dengan suara menggelegar.


Evan lalu kembali menghadiahi Zian dengan pukulannya beberapa kali, namun Zian tak sekalipun membalasnya. Zian jatuh bangun mendapat serangan itu, Evan kemudian kembali meraih kerah kemejanya dan akan melayangkan tinjunya lagi, namun kepalan tinjunya tertahan oleh tangan kekar yang tiba-tiba mennggenggam tangannya.


Evan menoleh pada sosok yang berani mengganggu kegiatan pentingnya. Tampak Sang Kakak sulung ada di sana.


"Hentikan! Sudah cukup!" titah Fahri.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Kak. Aku belum kenyang menghajarnya," ujar Evan yang masih terlihat dipenuhi emosi, napasnya pun tersengal karena kelelahan memukuli kakaknya itu. Dia berusaha melepaskan genggaman Fahri, namun semakin erat Fahri menahan tangannya.


"AKU BILANG CUKUP!" bentak Fahri. Evan pun menghela napas kasar lalu mendorong tubuh Zian yang sudah sempoyongan itu sehingga terbentur ke mobilnya.


Zain yang wajahnya telah dipenuhi luka lebam dan tetesan darah dari lubang hidungnya hanya diam membisu. menatap Evan dan Fahri dengan ekor matanya.


Di sebelah sana, Anita baru akan keluar dari gedung kantor Kia Group melihat kerumunan orang di depan cafe milik Evan. Karena penasaran, dia akhirnya mendekat. Anita pun terperanjat melihat Zian yang sudah dipenuhi luka lebam dan darah.Seketika wanita itu menjadi panik lalu mengeluarkan senjata api andalannya dari saku bagian dalam blazernya.


Anita tidak akan pernah mengampuni siapapun yang berani melukai bosnya itu, kecuali Dimas yang memukuli Zian kemarin. Namun, saat mendekat, dia melihat Fahri bersama Evan di sana. Dia melihat raut wajah Evan yang seperti sesang menahan emosinya. Anita pun kembali memasukkan senjatanya ke dalam saku blazernya kemudian segera menghampiri Zian. Kerumunan orang itu pun segera bubar ketika melihat Anita datang.


"Pegilah, obati lukamu!" ucap Fahri yang kemudian merangkul Evan memasuki cafenya.


Tinggallah Zian yang mematung di sana. Anita mengusap darah yang keluar dari lubah hidung Zian dengan jarinya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Anita.


"Aku tidak apa-apa!" jawab Zian.


"Ayo, kita ke kantor! Aku akan obati lukamu." Zian dan Anita kemudian kembali ke kantor yang bersebelahan dengan cafe itu.


Sementara itu, Evan yang masih merasa belum puas melampiaskan emosinya terduduk di kursi dengan napas tersengal. jari-jarinya menjadi lecet karena terus memukuli Zian. Fahri kemudian meraih tangannya dan mengoleskan obat merah pada luka itu.


"Kau kan seorang Dokter, kenapa bukan kau yang mengobati luka Kak Zian?" tanya Evan yang heran karena Fahri malah menyuruh Zian pergi dan bukan mengobati lukanya.


"Bukankah kau yang terus memukulinya sampai dia terluka? Lalu kenapa kau memintaku mengobatinya?" ucap Fahri seraya mengoleh obat merah di jari-jari Evan. "Aku lebih mengkhawatirkanmu, luka Zian itu hanya luka kecil. Aku tidak mau kau sampai masuk penjara karena membunuh," jawab Sang Kakak sulung itu dengan santainya.


"Kau pikir aku sudah gila? Mana mungkin aku tega membunuhnya... Kita sudah kehilangan ayah dan ibu. Aku tidak mau kehilangan satu kakakku lagi. Aku hanya marah padanya, bukan mau membunuhnya," ucap Evan membuat Fahri tertawa kecil.


"Jadi kau sudah puas?" tanya Fahri kemudian.


"Sebenarnya aku belum kenyang memukulinya. Tapi sudahlah, lebih baik aku fokus mencari Naya... Entah dimana dia sekarang." Evan kembali menebak-nebak kemana Naya pergi.


***


Bersambung


Jangan lupa like dan komen. Vote sekalian.


Yang kemarin nggak sengaja ke hapus dari grup chat silahkan masuk lagi. author habis bersih2 dari geng penyusup asal negara lain yang masuk di grup chat ..


Btw ayo tebak Naya dimana? wkwkwkk

__ADS_1


__ADS_2