
Zian menangis sejadi-jadinya di dalam kamar sempit dan pengap itu, laki-laki itu terus menggumamkan nama Naya dalam tangisannya, mengutuk perbuatannya sendiri karena telah menyia-nyiakan Naya selama ini, gadis yang begitu mencintainya tanpa syarat.
Mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Zian mencari nomor kontak Naya di sana. Namun, setelah mencari, Zian tak menemukannya. Laki-laki itu baru mengingt-- telah memblokir nomor telepon sang istri di ponselnya agar gadis itu tidak bisa menghubunginya. Zian pun membuka pengaturan privasi di ponselnya dan menemukan satu-satunya nomor dalam daftar terblokir.
Laki-laki itu segera menghubungi nomor itu setelah membuka blokirnya, namun setelah berkali-kali mencoba, panggilannya tak juga tersambung. Zian memejamkan matanya kasar, diikuti air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Bodoh kau Zian!" umpatnya pada diri sendiri. Dia menatap setiap sudut kamar itu, kamar yang menurutnya tidak layak ditempati, bahkan Zian membuat Naya tidur di atas kasur lipat yang sudah lusuh. Dan meskipun Zian memberinya hidup yang tidak layak, tidak pernah sekalipun Naya mengeluh atas apa yang Zian lakukan padanya.
Rasa penyesalan yang teramat dalam menggerogoti jiwanya, tangisannya pilu. Namun, semuanya telah terlambat. Naya telah pergi membawa semua luka yang di torehkan oleh Zian. Kini, Zian tenggelam dalam rasa bersalahnya, dia telah kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kemana aku harus mencarimu, Naya..." gumam Zian.
Hingga beberapa jam, Zian yang masih terbelenggu oleh rasa penyesalannya belum beranjak dari kamar Naya. Dia kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Anita.
"Anita, kau dimana?" tanya Zian begitu panggilannya terhubung.
"Aku masih di kantor pusat, kenapa?"
"Aku butuh bantuanmu..."
"Bantuan apa?"
"Naya pergi dari rumah, aku ingin kau mengerahkan orang sebanyak mungkin untuk mencarinya."
"Apa? Naya pergi dari rumah?" Anita terdengar begitu terkejut, "Baiklah, kita bertemu di kantor saja, aku juga akan meminta Dimas kemari," ucap Anita.
"Baiklah..." timpal Zian.
Setelah memutuskan panggilannya, Zian segera beranjak menuju kantor pusat Kia Group. Sepanjang jalan, laki-laki itu terus mengarahkan pandangannya ke sisi jalan, berharap menemukan Naya di sana.
*****
Semntara itu, di sebuah rumah sakit...
Dimas menatap wajah pucat dan tirus seorang gadis yang sedang terbaring lemah dengan perasaan iba. Tak henti-hentinya Dimas mengumpati kebodohan Zian yang menyia-nyiakan istrinya sendiri.
Perlahan, Naya membuka matanya yang sembab, gadis itu mencoba mengumpulkan kesadarannya, lalu memutar bola matanya kekanan dan kiri. Dia kemudian menyadari sedang berada di rumah sakit.
"Kau sudah sadar..." ucap Dimas yang sedang duduk di sisi pembaringan Naya.
"Kenapa aku di sini?" Naya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Kau pingsan... Jadi aku membawamu ke rumah sakit."
Naya langsung teringat pada Zian, gadis itu berusaha bangkit dari posisi berbaringnya, namun Dimas menahannya. "Kau tidak memberitahunya kalau aku di sini, kan?" tanya Naya dengar suara gemetaran.
"Memangnya kenapa?"
"Aku mohon, Dimas... Jangan beritahu dia kalau aku di sini, Aku tidak mau membebaninya," ucap Naya dengan wajah memelasnya. Tidak ingin Zian sampai tahu kondisinya yang semakin memprihatinkan.
"Baiklah, aku akan merahasiakan darinya, tapi kau harus jujur padaku. Apa yang terjadi padamu. Aku yakin kau tidak sedang baik-baik saja. Apa yang kau tutupi dari semua orang?"
Akhirnya, Naya pasrah dan menceritakan pada Dimas apa yang selama ini ditutupinya dari semua orang, termasuk kejadian penembakan yang terjadi padanya lima tahun lalu. Dimas semakin merasa iba pada gadis itu. Rasanya ingin menghukum Zian karena kebodohannya yang tidak menyadari keadaan Naya, padahal mereka serumah.
"Kenapa kau merahasiakannya semua darinya?" tanya Dimas setelah Naya menceritakan rahasianya.
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca, Naya mengingat semua kalimat yang pernah terlontar dari mulut suaminya itu, yang melarangnya sakit karena tidak mau direpotkan jika Naya sampai sakit.
"Kau tahu kan, Zianku hanya seorang laki-laki biasa. Dia tidak akan sanggup membiayai pengobatanku. Aku hanya akan jadi bebannya saja. Dia bilang padaku akan mengusirku dari rumahnya kalau aku berani sakit. Aku hanya ingin menjalani hari-hari terakhirku dengan selalu bersamanya. Aku itu salah, aku sudah egois."
Gadis yang malang, dia benar-benar mengira suaminya hanya seorang laki-laki miskin. Andai kau tahu Naya, suamimu adalah seseorang yang sangat kaya. Tapi jika kau tahu suami mu adalah pemilik Kia Group, kau pasti akan semakin terluka. Dia bahkan pernah memasang iklan pencarian seorang gadis pemain piano untuk dia jadikan istri, padahal dia sudah memilikimu sebagai istrinya. Dimas membatin.
Mengingat semua itu membuat darah Dimas semakin mendidih. Benar-benar ingin menghajar bosnya itu.
Naya menyeka air matanya yang meluncur tanpa izin, seolah kelopak matanya memiliki mata air yang tidak bisa mengering. Menangis sampai sesegukan. "Semua hal buruk yang terjadi padanya adalah karena kehadiranku. Dia kehilangan gadis yang dia cintai karena aku, dan sekarang karena menikahiku dia harus berurusan dengan orang berbahaya seperti Marvin, sehingga dia harus kehilangan pekerjaannya. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Akulah yang bersalah, bukan Zianku."
Aku benar-benar salah menilaimu, Naya... Dulu aku pikir kau hanya seorang gadis kaya yang suka seenaknya dan menyebalkan. Tapi hari ini aku seperti melihat malaikat di dalam dirimu. batin Dimas.
"Jadi sekarang, apa yang akan kau lakukan? Kau akan pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya?" tanya Dimas disusul anggukan pelan oleh Naya.
Pergi kau dari sini! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi. Kau tahu, aku sangat membenci wajahmu yang sok polos itu. Aku sudah muak denganmu! Kau adalah gadis yang paling aku benci di dunia ini!" Kata-kata yang Zian ucapkan saat mabuk terngiang kembali di benaknya, meremukkan hati gadis itu. Semua keteguhannya selama ini runtuh hanya dengan mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Aku tidak layak berada di sisinya."
Dimas kemudian meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, "Kau tenanglah, aku akan membantumu."
"Terima kasih, Dimas. Tapi aku tidak mau merepotkan orang lain lagi."
"Jangan bicara begitu. Anggap saja aku kakakmu. Kau tidak keberatan, kan?" ucap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Naya menatap Dimas dengan berderai air mata. Merasa beruntung dalam hidupnya yang berat itu, ada banyak orang yang masih peduli padanya.
Dokter Fahri, Dokter Elma, Evan, Rafli dan sekarang dia punya Dimas yang boleh dia anggap kakak. Dimas kemudian membantu Naya bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian menyandarkannya di bahunya.
"Kau tenang saja. Kau sekarang punya aku."
"Terima kasih..." Naya menyeka air matanya, baru menyadari penampilan Dimas yang kini sangat berubah dengan setelan jasnya. Meneliti dari ujung kaki ke ujung kepala, "Kau bekerja dimana sekarang? Kau sangat berbeda dengan penampilan seperti itu."
"Em... aku bekerja sebagai pengawas di sebuah proyek pembangunan. Setelah bengkel bos tutup, aku dapat tawaran itu."
"Baguslah."
Tidak lama kemudian, ponsel milik Dimas berdering. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ada nama Anita tertera di layar ponsel.
"Aku keluar sebentar, ya... Aku ada telepon penting," ucapnya lalu keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan itu.
"Kau dimana? Cepat ke kantor pusat!" perintah Anita dibalik telepon.
"Baik, baik... Sabar!" Dimas mendengus kesal.
Setelah menerima panggilan itu, Dimas masuk kembali ke dalam ruangan dimana Naya berada.
"Naya, aku harus pergi dulu. Kau tunggulah di sini, aku akan segera kembali. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku saja." ucap Dimas diikuti anggukna oleh Naya. Dengan segera, laki-laki itu beranjak keluar dari ruangan.
Tinggallah Naya seorang diri terbaring di sana dengan tubuhnya yang lemah. Pikirannya terus tertuju pada Zian.
Selamat tinggal Zianku, sekarang aku akan menunggu dengan sabar kapan tangan Tuhan akan membawaku pergi dan melepaskanku dari semua kesakitanku ini.
***
Berselang hampir satu jam perjalanan, Zian tiba di kantor pusat Kia Group bersamaan dengan Dimas yang juga baru tiba. Sementara Anita sudah menunggu mereka di lobby. Dan, ketika melihat Zian, darah Dimas seperti mendidih, Mendekat pada Zian dan tanpa aba-aba, melayangkan tinju pada bosnya itu beberapa kali.
"Kau ini suami macam apa? Istrimu sedang sekarat dan kau terus menyiksanya! Aku pastikan kau tidak akan menemukannya lagi," teriak Dimas seraya terus menghujani Zian dengan kepalan tinjunya. Anita membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk pertama kalinya wanita itu diam melihat ada orang yang berani melakukan itu pada seorang Zildjian Azkara.
__ADS_1
Dimas menarik kerah kemeja Zian, "Kau ingin menemukan Naya? Kenapa? Kau baru sadar akan semua kesalahanmu? Dengar, sampai matipun kau tidak akan menemukannya!" Dimas kembali menghujani Zian dengan pukulan-pukulannya.
Beberapa petugas keamanan yang melihat kejadian itu segera melerai dan memegangi Dimas yang sedang di kuasai emosi. Sedangkan Zian yang sudah tersungkur hanya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Mendengar ucapan Dimas tadi membuatnya yakin jika Dimas mengetahui dimana Naya berada.
"Lepaskan dia!" perintah Zian pada beberapa petugas keamanan itu lalu segera berdiri.
"Tapi, Tuan..." ujar salah satu pria itu.
"Kau tidak dengar, aku bilang lepaskan dia!" bentak Zian membuat beberapa pria itu segera melepaskan cengkraman tangannya dari tubuh Dimas.
Setelah itu, Dimas kembali menghantamkan tinjunya dengan penuh emosi. Zian sama sekali tidak membalas apapun yang dilakukan bawahannya itu padanya. Hingga Dimas merasa puas memukuli Zian yang wajahnya telah lebam itu.
"Kau sudah puas memukuliku? Lakukanlah lagi!"
"Dasar bodoh!" teriak Dimas memaki bosnya itu.
"Tolong katakan, dimana Naya. Kau pasti tahu dimana dia kan," ucap Zian membuat Dimas berdecih.
"Kau tidak akan pernah menemukannya. Bukankah kau yang mengusirnya? Kau yang ingin dia pergi dari hidupmu, kan? Kau sering bilang sedang menunggu saat dimana dia pergi untuk selama-lamanya. Sekaranglah saatnya. Harusnya kau senang, kan? Karena akhirnya Naya menyerah dan pergi dari hidupmu!" ucapan Dimas yang menghujam jantung itu membuat Zian menjatuhkan air matanya.
Kemarahan Dimas akan perbuatan Zian pada Naya membuatnya kehilangan rasa hormatnya pada Sang Bos. Dimas akan melangkahkan kakinya meninggalkan Zian, namun Zian langsung berlutut menyentuh kakinya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Zian seumur hidupnya.
"Aku mohon, Dimas! Katakan dimana istriku..."
"Istri? Apa aku salah dengar? Bukankah selama ini kau tidak pernah menganggapnya istrimu?" ucap Dimas menyindir tajam.
"Izinkan aku menebus kesalahanku pada Naya. Tolong beritahu aku dimana dia!" pinta Zian dengan wajah memelas.
Anita yang melihat adegan itu, hanya berdiam diri. Dulu, jika seseorang berani menyentuh Zian sedikit saja, wanita itu akan langsung mengeluarkan senjatanya dan menembak orang itu. Namun, sekarang Zian dipukuli di depan matanya, namun dirinya hanya diam seribu bahasa.
Dimas memejamkan matanya kasar, menahan emosinya. "Naya sedang sekarat. Aku menemukannya di jalan dengan membawa kopernya. Dia pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit."
Zian pun kembali menangisi istrinya yang malang itu. Masih bisa mengingat dengan jelas saat mabuk, setengah sadar dirinya memaki Naya dan mengusirnya dengan kata-kata kasar.
"Katakan kerumah sakit mana kau membawa istriku!"
Dimas mengatur napasnya yang tersengal karena kelelahan memukuli Zian, dia masih mengepalkan tangannya menahan emosinya yang seakan menembus langit ke tujuh.
Maafkan aku, Naya... Aku akan melanggar janjiku padamu. Kau berhak bahagia di hari-hari terakhirmu. Dan kebahagiaanmu adalah bersama Zianmu.
****
Dengan langkah tergesa-gesa, Zian melewati lorong rumah sakit itu bersama Dimas dan Anita, menuju ruangan dimana Naya berada. Zian yang dipenuhi rasa penyesalan itu ingin segera memeluk gadis yang selama ini begitu haus akan kasih sayangnya.
Tibalah Zian di depan sebuah ruangan dimana Naya dirawat.
"Dia ada di dalam. Kau masuklah..." ucap Dimas.
Dengan langkah penuh keraguan dan tanda tanya, apakah Naya akan mau memaafkannnya kesalahannya, Zian mendekat ke arah pintu itu. Tangannya gemetar memegang gagang pintu kamar itu-- menghela napasnya yang berat, mengumpulkan keberaniannya untuk memohon pengampunan pada sang istri yang selama satu tahun ini terus disakitinya.
Dan, ketika membuka pintu itu, Zian mematung di ambang pintu.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1