
"Sudah bangun, ya..." ucap Naya saat merasakan tangan Zian melingkar di perutnya. Bahkan tangan itu telah menyelinap masuk ke dalam baju dan mengusap-usap perutnya.
"Hemm..." Zian menjawab dengan deheman seraknya. "Kau curang! Siapa yang menyuruhmu bangun? Aku kan melarangmu bangun lebih dulu dari aku!"
"Memangnya kenapa kalau aku bangun lebih dulu?"
"Aku kan tidak bisa memelukmu saat baru terbangun."
Naya mematikan kompor saat memastikan masakannya telah matang, lalu berbalik menghadap Zian, melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.
"Peraturan itu kan hanya berlaku di rumah itu, karena kau adalah bos gila Kia Group. Tapi di rumah ini, kau hanyalah Zianku seorang MONTIR." Naya menekan kata montir. "jadi peraturanmu tidak berlaku di rumah ini."
Zian tertawa mendengar nada bicara Naya yang baginya sangat menggemaskan. Satu kecupan manis mendarat di kening. Lalu laki-laki itu melirik masakan sang istri.
"Kau dapat bahan makanan itu dimana? Rumah ini kan lama kosong," tanya Zian.
"Tadi aku ke pasar dan membeli keperluan dapur."
"Apa?" Zian membelalakkan matanya terkejut. Selama ini dirinya bahkan melarang Naya menyentuh dapur, apalagi pergi ke pasar.
"Tidak usah begitu juga ekspresinya, memangnya kenapa kalau aku ke pasar. Dulu juga aku sering melakukannya, dan kau tidak..." Naya menggantung ucapannya ketika melihat wajah sang suami yang mendadak berubah sedih.
Menyadari itu, Naya langsung memeluknya, "Aku senang melakukannya, sungguh! Aku sangat bahagia kembali ke rumah ini. Tinggal di sebuah rumah sederhana hanya berdua denganmu. Aku ingin membuat kenangan baru di rumah ini bersamamu."
Zian tidak dapat menyembunyikan kesedihannya akibat penyesalan dan rasa bersalahnya.
Naya, dulu aku begitu kejam memperlakukanmu. Tapi kau begitu baik padaku dan masih mau menerimaku.
Zian mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. "Kau ingin membuat kenangan indah di rumah ini, kan?" tanyanya diikuti anggukan kepala yang cepat oleh Naya, "ayo, kita mandi bersama!"
"Apa? Mandi bersama?" Naya membelalakkan matanya, sedangkan Zian menaikkan alisnya beberapa kali. "Tidak mau!"
"Kenapa?"
"Sudah cukup tanganmu menggerayangiku semalam. Aku tahu apa yang ada di otak mesummu."
Zian tersenyum penuh arti, menggoda Naya adalah kegiatan yang sangat menyenangkan baginya. "Memangnya apa yang kau pikirkan? Aku kan hanya mengajakmu mandi bersama..."
"Mesum juga harus ada batasnya, kan? Kau benar-benar tidak sopan mengajak seorang wanita mandi bersama!"
"Kau kan istriku, apa salahnya? Kau mau tidur bersamaku, kenapa mandi bersama tidak mau?"
"Dasar mesum!"
"Eh, lebih mesum mana? Kau atau aku? Waktu itu kau merayuku dengan memakai jaring-jaring penangkap ikanmu." .Zian berkacak pinggang di depan Naya, sementara wajah Naya langsung merah padam mengingat kejadian memalukan itu.
"Itu kan karena Mia bilang kau akan diambil pelakor kalau aku datar. Waktu itu aku melihatmu duduk berdua dengan seorang wanita cantik di cafe."
"Apa?" Zian memutar bola matanya, mencoba mengingat kapan dirinya bersama seorang wanita di cafe. "Oh, itu kan rekan bisnisku, kenapa? Kau cemburu kalau aku bersama wanita lain?"
Naya melempar Zian dengan apron yang baru saja dia lepas dari tubuhnya, lalu berlari menuju kamar sambil cekikikan. Sementara Zian mengejarnya dari belakang.
__ADS_1
"NAYAAA, jangan lari-lari! Kecebongku nanti kenapa-kenapa!" Zian menarik lengan Naya, dan mendudukkannya di tempat tidur agar berhenti berlari.
"Tadi kau bilang apa? Kecebongmu?" Naya mengerutkan alisnya, tatapannya penuh tanda tanya. "Kecebong apa?"
"Kecebong yang ada di dalam perutmu." Naya terlonjak mendengar istilah kecebong yang disematkan Zian untuk anaknya.
Apa ada ayah sepertimu yang menyebut anaknya kecebong? ucap Naya dalam hati.
*****
Dan, seharian dihabiskan di rumah sederhana itu dengan bersenda gurau. Bahkan mereka sedang saling melukis wajah masing-masing di dalam sebuah ruangan.
"Awas, ya... Kalau wajahku jelek. Aku akan marah!" ucap Naya pada Zian yang duduk di sebelah sana.
"Tenang saja, aku juga bisa melukis. Memang kau saja yang bisa!" Zian sangat serius berperan sebagai seorang pelukis profesional. "aku selesai!" ucap Zian sambil meletakkan kuasnya.
Naya mengerutkan alisnya mendengar ucapan sang suami. "Benarkah? Aku saja belum jadi," kata Naya dengan raut wajah heran.
"Berarti aku lebih hebat darimu!" ucap Zian dengan kepercayaan dirinya yang berlebihan.
"Aku mau lihat!" Naya berdiri dari duduknya, lalu mendekat pada Zian. Dan, matanya membulat sempurna saat melihat lukisan yang dibuat oleh sang suami.
"APA INI??" Naya berteriak kesal membuat Zian menutup telinganya dengan telapak tangannya. Sedetik kemudian laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah merengut Naya.
"Itu sangat cantik. Coba kau lihat hidungnya, sangat mancung, kan?"
"Itu Minnie Mouse!!" Naya mendengus, lalu menyilangkan tangan di dada, Zian yang tidak dapat menahan tawanya.
"Kau kan putri Disney! Coba lihat dirimu! Pendek, gendut dan imut. Persis seperti Minnie Mouse..." ucap Zian seraya menepuk lukisannya dengan perasaan bangga.
Zian yang menyadari wajah merengut itu langsung mencari jalan aman. "Sayang... Tadi kan kau bilang mau jalan-jalan. Ayo kita keluar!" tawarnya mencoba mencairkan suasana.
Wajah Naya langsung berbinar mendengar ajakan dari sang suami. "Benarkah? Kau mau mengajakku jalan-jalan?"
"Kau mau kemana?"
Naya langsung mendekat dan menempelkan tubuhnya pada sang suami. "Aku mau jalan-jalan ke pasar malam. Boleh, kan?"
"Apa? Pasar malam? Tapi..."
"Tapi apa? Kau kan sudah berjanji mau menuruti semua keinginanku. Di rumah ini aku ratunya. Peraturanmu tidak berlaku."
Zian menarik hidung mungil itu dengan gemasnya, "Kau sangat licik. ya! Kau selalu berhasil menjebakku."
"Hehe, biar saja!"
"Baiklah, tuan putri! Ayo!" Zian merangkul Naya keluar dari ruangan itu, lalu menyambar kunci mobilnya.
"Aku tidak mau naik mobil!" seru Naya, "Aku mau naik motormu yang dulu."
Zian menghela napas panjang mendengar permintaan sang istri yang baginya semakin lama semakin aneh. "Sayang, ini sudah malam. Di luar itu dingin."
__ADS_1
Zian berusaha membujuk, namun setelah melihat wajah Naya yang terlihat kecewa, laki-laki itu menjadi tidak tega.
"Baiklah, ayo kita naik motor," ucap Zian lalu masuk ke kamar mengambil jaket di lemari untuk dipakai Naya.
****
Dengan wajah sumringah, Naya memutar bola matanya kesana-kemari memperhatikan keramaian jalan malam itu. Gadis itu sangat bahagia karena sang suami menuruti apapun keinginannya, walaupun sangat tidak masuk akal.
Dan akhirnya, mereka tiba di sebuah pasar malam. Zian membawa Naya mengelilingi tempat hiburan itu. Senyum pun tak pernah pudar dari wajah gadis itu.
"Aku lapar!" ucap Naya sesaat setelah lelah berkeliling.
"Kita makan di rumah saja. Kau tidak boleh makan sembarangan."
"Sekali saja! Aku mau makan di sana!" Naya menunjuk sebuah food Court di sudut sana. Dan, demi menyenangkan hati sang istri, Zian akhirnya mengikuti semua keinginannya.
"Aku mau makan ini!" Naya menunjuk gambar di daftar menu itu.
"Itu makanan berlemak." ucap Zian.
"Aku mau!"
"Sayang, cari menu lain saja! Kata Kak Fahri makananmu masih harus dalam pengawasan ahli gizi. Kau sama sekali belum bisa makan sembarangan. Apalagi sekarang kau sedang hamil."
"Baiklah, pesan jus saja."
Zian mengedarkan pandangannya kesana kemari, seperti mencari sesuatu.
"Tunggu Sebentar! Aku mau pesan makanan untukmu."
Naya pun duduk disana menunggu Zian yang sedang memesan makanan. Namun, saat matanya mengarah pada sisi jalan, wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Ketakutan besar tiba-tiba merasuki jiwanya.
Zian yang baru selesai memesan makanan langsung mendekati Naya ketika melihat wajahnya yang pucat.
"Naya, ada apa? Apa kau sakit? Kau sangat pucat." tanya Zian yang langsung khawatir melihat ekspresi wajah sang istri.
Naya pun mencoba menormalkan perasaannya, lalu menatap Zian dengan mata berkaca-kaca.
"Se-pertinya tadi aku melihat... " Naya menggantung ucapannya, Suaranya terdengar bergetar ketakutan.
****
BERSAMBUNG
Naya liat apa ya?
terima kasih yang sudah ninggalin like dan komen.
Yang sempet mau masuk ke grup chat dan nggak bisa, boleh coba kembali. Kemarin Grup Chat author di sabotase orang dari luar negeri gitu dan di kunci.
hehe
__ADS_1
Makasih mak author favoritkuuu JEA STRANGE sudah benerin grup chatkuuu
nb: MAAF BAB INI NGACO. aku nulis sambil merem. ngantuk tapi maksa nulis.