Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Diculik bos gila.


__ADS_3

Sebuah pesawat jet pribadi dengan logo Kia terus mengudara menuju sebuah negara yang jauh di sana. Tiga orang manusia masih terlelap dengan posisi saling memeluk.


Zian benar-benar tidak punya akhlak. Untuk kedua kalinya laki-laki itu menculik sang istri, hanya karena tidak ingin diganggu. Dan kali ini, Deniz yang tidak tahu apa-apa itu ikut menjadi korban penculikan ayahnya sendiri.


Pelan-pelan, Naya mulai membuka matanya dengan malas. Dinginnya hembusan udara dari AC membuatnya betah berlama-lama bergelung di bawah selimut.


Wanita berambut panjang itu belum menyadari sedang berada dimana. Yang dia lakukan hanya mengeratkan pelukannya pada sosok lelaki yang masih tidur di sampingnya. Sejenak melupakan Deniz yang terbaring di ujung tempat tidur itu.


Naya membelai wajah sang suami, lalu mengecupi keningnya. Kerinduannya terpisah selama dua tahun belum juga terpuaskan. Rasanya waktu 24jam untuk dihabiskan bersama terasa masih kurang.


"Sayang..." bisiknya dengan mesra.


"Ehm..." Zian berdehem dengan suara serak, lalu perlahan membuka matanya.


Pemandangan yang sangat indah bagi Zian adalah ketika baru terbangun disambut senyum indah sang istri. Dan, tanpa aba-aba lelaki itu langsung menerkam bibir yang baginya lebih manis dari madu itu. Selama beberapa saat mereka Saling berpangutan, tangan nakal milik Zian pun sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Sudah menjelajahi buah-buahan kesukaannya.


Dan, ruangan itupun kembali terguncang,membuat Naya tersentak kaget dan langsung melepas bibirnya yang masih menyatu dengan bibir suaminya.


"Kenapa kamar kita bergoyang? Apa sedang terjadi gempa bumi?" tanyanya dengan panik, lalu melirik kesana-kemari.


"Gempanya belum di mulai, Nayaku! Tapi sebentar lagi," jawab Zian dengan senyum misteriusnya.


"Ap-apa?" Naya mencoba mencerna ucapan sang suami, sebelum akhirnya menyadari bahwa mereka tidak sedang berada di kamar. "kita dimana?"


"Di suatu tempat yang hanya ada kita bertiga."


Naya kemudian meneliti sekali lagi ruangan itu, lalu kemudian baru menyadari bahwa mereka sedang di dalam pesawat jet.


"Kita di pesawat... Kita mau kemana?" Naya bertanya dengan mata berbinar.


"Kita akan ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang akan memisahkan kita."


Naya tersenyum bahagia, mengingat dulu Zian menculiknya dan memberinya kejutan dengan bulan madu ke Barcelona. Kali ini, entah kejutan macam apa yang sedang disiapkan lelaki itu.


"Kau menculikku lagi, ya..."


"Hehe... Aku tidak punya pilihan lain," jawab Zian sekenanya.


"Dasar bos gila!" gumam Naya.


Zian bangkit dari pembaringan dan memindahkan Deniz dengan sangat hati-hati ke dalam sebuah box bayi yang terletak di sudut ruangan itu. Lalu setelahnya, kembali ke tempat tidur.


"Kenapa kau pindahkan Deniz ke sana?" tanya Naya.


"Aku tidak mau dia terbangun kalau merasakan gempa bumi di sini," ucap Zian diikuti kekehan kecil setelahnya.

__ADS_1


Dan, sudah bisa ditebak, apa akan terjadi selanjutnya. Naya harus bersiap-siap kelelahan jika suami mesumnya itu menginginkan sesuatu darinya.


*


*


-(Adegan tersensor**)


*


*


"Aku lelah!" Naya berbisik pelan di telinga Zian di tengah-tengah aktivitasnya.


"Sedikit lagi, Sayang!" Zian mengecupi bibir itu, sambil mempercepat gerakannya. Namun belum juga tuntas, sudah terdengar suara dari sudut sana.


"Ibu..." Dengan mata masih terpejam, Deniz memanggil ibunya. Zian langsung frustrasi ketika mendengar panggilan itu.


"Mengganggu saja." gumam Zian dengan kesalnya. Naya akan bangkit dari posisinya yang masih berada di bawah kungkungan Zian, namun Zian seperti tidak rela melepasnya.


"Lepaskan aku! Aku mau lihat Deniz. Kau tidak malu, kalau dia melihat kita dalam keadaan begini?"


"Zzttt! Jangan berisik!" Zian menoleh sejenak pada Deniz yang terlihat tidak bergerak di dalam box-nya. "Dia masih tidur," ucapnya dengan nada menekan.


Bocah kecil itu selalu menangis saat terbangun dan tidak mendapati siapapun di sisinya.


"Ibu... Hiks... Hiks..." Suara tangisan bocah laki-laki itu sudah mulai kencang. Naya langsung mendorong Zian agar turun dari atas tubuhnya, lalu meraih pakaiannya yang teronggok di lantai. Sementara Zian memejamkan matanya kesal.


"Menyebalkan sekali," gumam Zian dengan wajah merengut.


Naya langsung mendekati tempat Deniz berbaring, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut sambil bernyanyi. Tidak lama kemudian, si kecil itu sudah tertidur kembali. Sedangkan Zian, bersandar di tempat tidur dengan wajah kesal.


Bocah itu benar-benar telah merebut Naya dariku, bahkan saat dia sedang tidur. Zian membatin.


****


Pagi hari di gedung kantor pusat Kia Group.


BRAK!


Punggung Rama terbentur di dinding akibat terdorong oleh sang monster betina. Anita yang baru saja tiba di kantor langsung menodongnya dengan senjata andalannya. Sementara Dimas di belakang sana menjadi penonton drama itu.


Dimas hanya memberi kode pada Rama dengan melakukan gerakan tangan seperti menebas leher, lalu berbicara tanpa mengeluarkan suara dengan menyebut 'monster betina', menambah ketakutan di wajah laki-laki itu.


"Kalau kau masih menyebutku monster betina, maka aku akan lebih dulu menembakmu!" ucap Anita pada Dimas.

__ADS_1


Dimas terlonjak kaget mendengar ucapan Anita. Bagaimana mungkin Anita selalu tahu saat Dimas menyebutnya monster betina, bahkan saat berbisik saja.


"Ampuni aku, Anita!" ucap Rama memelas.


"Katakan kemana dia membawa Naya dan Deniz!" bentak Anita dengan garangnya.


"Aku tidak mau menjawab!"


"Jawab atau kutembak kepalamu!" Anita semakin terlihat ganas.


"Baiklah, baiklah! Aku akan jawab. Bos pergi ke Turki," ucap Rama takut-takut.


"Turki? Kau pikir aku percaya padamu? Dia belum mengurus paspor dan visa. Lalu bagaimana dia bisa ke Turki?" Anita kembali menodongkan senjata di kepala Rama.


"Aku akan jawab, tapi singkirkan dulu senjatamu! Aku mohon..."


Anita menurunkan senjatanya dari kepala Rama, namun telapak tangannya masih mendarat di ceruk leher laki-laki itu.


"Beberapa hari sebelumnya, bos sudah memintaku mengurusnya. Jadi kemarin, aku tinggal mengurus penerbangannya saja."


Anita melepaskan tangannya dari leher Rama, kemudian menghela napas panjang.


BUGH BUGH BUGH!!!


*


*


*


*


Anita menggerutu kesal keluar dari ruangan itu sesaat setelah memberi hadiah yang menurutnya pantas untuk Rama. Wanita itu kembali ke ruangannya dengan membanting pintu kesal.


"Enak sekali dia! Aku susah tidur semalaman karena memikirkan Naya dan Deniz. Ternyata dia yang menculiknya dan membawanya ke Turki. Bos macam apa dia, seenaknya meninggalkan pekerjaannya tanpa permisi."


Anita melirik berkas di atas meja yang sudah bertumpukan membentuk sebuah gunung. Kekesalannya pada Zian kali ini benar-benar sudah naik ke ubun-ubunnya. Sang bos sangat santai di tengah padatnya pekerjaan, dan tanpa rasa berdosa , malah pergi keluar negeri dengan menculik istri dan anaknya.


Jika sudah seperti ini, Anita dan Dimaslah yang akan menjadi tumbalnya. Sama seperti saat Zian menculik Naya dari rumah Fahri. Bahkan Zian mencampur obat tidur di makanan yang dibawa Anita, sehingga seluruh penghuni, berikut petugas keamanan di rumah Dokter Fahri tertidur pulas. Sehingga tidak ada yang menyadari Naya diculik oleh suaminya sendiri.


"Awas saja dia kalau kembali nanti," gumam Anita.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2