
Mentari mulai menampakkan sinarnya, suara burung yang berkicau merdu seolah ikut menyambut datangnya pagi.
Sayup-sayup Zian mendengar suara berisik dari arah dapur. Suara seperti seseorang yang sedang memasak. Zian membulatkan matanya sempurna.
"Naya... Apa itu Naya? Dia sudah pulang..." gumamnya.
Secepat kilat Zian bangkit dari pembaringan dan berlari menuruni tangga. Dengan mata berbinar, berharap Naya ada di dapur sedang memasak seperti biasanya.
"Naya..." panggil Zian saat tiba di dapur. Namun, apa yang diharapkannya tidak sesuai kenyataan. Zian mematung melihat siapa yang ada di sana. Semangatnya yang tadi menyala kembali meredup.
"Selamat pagi," sapa Anita.
"Oh, ternyata kau..." Zian langsung kembali lemas. Dia benar-benar berharap Naya lah yang ada di sana. Zian lalu beranjak menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu kembali duduk di kursi dengan wajah lesu. Dia baru bisa memejamkan matanya saat pagi menjelang. Dan baru beberapa jam tertidur, suara dari dapur mengagetkannya.
Anita kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya pagi itu. "Kenapa kau biarkan pintu rumahmu terbuka lebar?" tanya Anita yang mendapati pintu rumah itu terbuka saat baru tiba tadi.
Zian menyeruput kopi yang telah Anita siapkan sebelum Zian terbangun. "Aku sengaja tidak menutupnya agar Naya bisa langsung masuk saat dia pulang."
Wajah Anita mendadak berubah sedih mendengar ucapan Zian, lalu dengan segera menyelesaikan masakannya. Dia mengambil piring dari rak dan memindahkan makanan dari wajan kedalam piring.
Anita kemudian meletakkan piring berisi nasi goreng itu di hadapan Zian lalu kemudian ikut duduk di sana.
"Aku sedang tidak ingin makan, Anita. Bawa ini pergi!" kata Zian sambil mendorong piring itu. Kembali menyeruput kopi itu dengan pikirannya terus berpetualang keluar.
"Kau kan belum makan sejak kemarin."
"Bagaimana aku bisa makan sementara istriku di luar sana sendirian. Aku tidak tahu dia makan apa, tidur dimana, apa dia baik-baik saja."
Anita menghela napas panjang, "Apa kau sudah tahu siapa Naya?" tanya Anita diikuti anggukan kepala dari Zian. Bos sekaligus sahabatnya itu terlihat begitu frustasi dengan menghilangnya sang istri.
"Naya adalah Kia. Dan aku baru menyadarinya, Kia adalah inisial nama Naya. Aku bahkan lupa nama panjang istriku sendiri, Anita..." ucap Zian dengan suara lirih. Sementara Anita menatapnya dengan perasaan iba. Untuk pertama kalinya dia melihat Zian begitu patah hati.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh orang mencarinya. Kau tenang saja. Naya pasti kita temukan," ujar Anita yang berusaha menghilangkan kegalauan Zian.
Zian menyandarkan punggungnya di kursi dengan tatapannya yang kosong. "Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kenapa takdir begitu kejam mempermainkanku? Apa ini balasan untuk semua dosa-dosaku di masa lalu? Apa ini akibat yang harus ku terima karena aku meninggalkan Naya begitu saja di jalanan padahal saat itu dia sedang kesakitan."
Anita tidak menjawab ucapan Zian. Dia hanya menatap wajah Zian yang lesu dengan mata sembabnya. Anita juga dipenuhi merasa bersalah setelah kejadian hari itu. Dirinyalah yang menarik Zian meninggalkan Naya di sana sendirian. Padahal saat itu, Zian ingin membawanya ke rumah sakit.
Aku juga bersalah, Zian... Aku dan Alex memaksamu meninggalkan Naya saat itu.
******
Sementara itu di sebuah ruangan, Dokter Fahri sedang membaca kembali buku catatan yang ditulis oleh Naya. Sang Dokter belum tahu jika Naya benar-benar telah pergi dan menghilang. Tidak lama, suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Selamat pagi, Kakak..." ucap Evan yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Masuklah!" kata Fahri. Evan kemudian masuk kedalam ruangan itu lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Evan yang belum tahu apa yang terjadi pada Naya terlihat begitu santai seraya duduk bersedakep di sofa. Fahri kemudian menutup buku milik Naya itu lalu memasukkannya ke dalam laci.
"Kenapa kau memintaku ke sini pagi-pagi? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Evan.
Fahri menghela napas dalam, lalu membuka kacamatanya, kemudian menatap Evan dengan wajah serius. Evan yang menyadari perubahan mimik wajah kakak sulungnya itu menyadari jika ada sesuatu yang penting.
Evan mengerutkan alisnya, tidak biasanya kakaknya itu tertarik urusan orang lain, "Aku pernah bertanya tapi dia tidak mau menjawabnya. Dia hanya bilang suaminya hanya seorang laki-laki biasa. Aku juga ingin tahu siapa laki-laki itu. Yang sudah berani mengabaikan Naya selama ini."
"Kau pasti akan sangat terkejut jika kau tahu siapa nama suaminya," ucap Fahri lalu berdiri dari duduknya kemudian duduk di samping Evan yang alisnya sudah mengkerut mendengar ucapan Sang Kakak. "Kau pernah bilang ingin menghajar suami Naya, kan? Aku rasa sekaranglah waktunya."
"Apa maksudmu, Kak? Apa aku mengenal suami Naya?" tanya Evan penasaran.
"Kau mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya," jawab Fahri dengan wajah datarnya, "Kakakmu, Zian... Dia telah menikahi Naya setahun yang lalu," ucapnya kemudian.
Evan membeku mendengar ucapan Fahri. Dia masih belum sepenuhnya percaya pada pendengarannya. Berharap Fahri salah menyebut nama orang,
"Ka-Kau jangan bercanda, Kak!" ucap Evan terbata-bata. "Mana mungkin suami Naya adalah Kak Zian. Naya bilang padaku suaminya hanya laki-laki biasa. Sedangkan Kak Zian, dia seorang bos besar. Lagipula Kak Zian belum menikah, kan? Kau lihat sendiri beberapa bulan lalu dia mencari seorang gadis pemain piano untuk di jadikan istri."
__ADS_1
"Sayangnya itu semua itu benar. Zian adalah suami Naya. Dia sengaja berpura-pura miskin selama ini dan menyiksa Naya. Dia merahasiakan pernikahannya dari kita," ucap Fahri dengan wajah penuh kemarahan. Sementara Evan masih membeku. Benar-benar tidak menyangka jika suami Naya adalah kakaknya sendiri.
Bagaimana mungkin? Naya bahkan tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana bersama suaminya. batin Evan.
"Kenapa semua ini bisa terjadi?" gumam Evan. "Kau tahu Kak, Gadis pemain piano yang dicari Kak Zian saat ulang tahun perusahaannya itu adalah Naya. Hari itu aku dan Rafli meminta bantuannya untuk tampil di sana."
Fahri pun kembali terkejut dengan penuturan Evan. Dia kembali mengingat iklan yang pernah sangat viral itu. "Jadi pemain piano itu adalah Naya?" tanya Fahri yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Evan.
"Naya memintaku merahasiakan identitasnya saat bermain piano di sana. Tapi bukankah kau juga hadir malam itu bersama Kak Elma?"
Pikiran Fahri kembali menerawang ke masa itu, dirinya juga hadir di sana saat itu. "Ya, aku ingat... Tapi saat itu pemain piano itu menggunakan topeng penutup mata, sehingga aku tidak mengenalinya."
Evan menghela napas panjang. Seketika tangannya mengepal begitu mengingat bagaimana Naya hidup dalam kesederhanaan dan memaksa dirinya tetap bekerja walaupun dalam keadaan sakit. Gadis itu benar-benar mengira suaminya hanya laki-laki miskin, padahal yang sebenarnya adalah suaminya sangat kaya raya.
"Aku pasti akan menghajar si bajing*n itu, Kak. Dia membuat Naya menderita selama ini." Evan sudah terlihat sangat geram.
"Zian sudah tahu kalau Naya sakit. Dan karena itulah aku memintamu kemari. Beberapa hari yang lalu, Naya bilang padaku akan pergi dari rumahnya. Aku menghubungi nomor teleponnya tapi tidak terhubung. Temukan Naya dan bawa dia padaku! Aku yang akan merawatnya bersama Elma."
Evan masih terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca, lalu mengusap wajahnya kasar. Evan benar-benar berharap sedang bermimpi dan apa yang dikatakan kakaknya tidak benar.
Sekarang yang ada di benaknya hanya menghajar Zian yang selama ini sudah menyakiti Naya. Gadis polos itu bahkan menyembunyikan sakitnya karena tidak ingin membebani suaminya yang dipikirnya hanya seorang lelaki biasa. Dan sekarang, Naya sedang menjalani hari-hari terakhirnya dengan luka yang ditorehkan oleh kakaknya sendiri.
"Kak, aku pergi dulu. Nanti aku kembali." ucap Evan lalu bangkit dari duduknya meninggalkan rumah sang kakak.
****
Di tempat lain, Zian, Anita dan Dimas masih di sibukkan dengan pencarian Naya. Anita mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari Naya. Sementara Dimas meminta bantuan teman-teman lamanya.
Zian memilih pergi mencari Naya sendiri ke setiap tempat yang mungkin didatangi Naya. Namun, Naya tak juga ditemukan.
Naya, kembalilah padaku. Aku akan membayar semua kesalahan yang aku perbuat. Aku akan bersujud di kakimu untuk memohon pengampunanmu. Aku mencintaimu, Naya... Aku tidak akan sanggup kehilanganmu lagi...
__ADS_1
***
Bersambung