Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Dimana Zianku?


__ADS_3

Malam harinya...


Setelah mendapat kabar dari Dimas mengenai penangkapan Zian, dan juga melihat berita di tv, Fahri dan Evan pergi menemui saudaranya itu. Dengan wajah penuh kekhawatiran, dua orang itu memasuki kantor polisi.


Fahri dan Evan duduk menunggu di sebuah ruangan hingga akhirnya Zian datang dengan dikawal dua orang polisi. Fahri menatap Zian dari ujung kepala ke ujung kaki, tatapan yang sangat mengintimidasi. Zian akhirnya duduk di antara kedua saudaranya itu.


"Apa yang terjadi? Apa benar kau terlibat sindikat mafia obat-obatan terlarang?" Fahri bertanya dengan raut wajah datar, sedangkan Evan dia membisu. Dia hanya menatap kedua kakaknya bergantian.


"Apa kalian percaya dengan berita itu?" Zian balik bertanya tanpa menatap saudaranya.


"Aku tidak punya alasan untuk percaya dengan berita itu. Tapi aku juga punya alasan untuk meragukanmu. Beberapa tahun lalu, kau sering pergi dari rumah, dan aku tidak pernah tahu apa yang kau lakukan di luar sana," ucap Fahri menekan.


"Aku tidak tahu kenapa mereka melibatkanku. Tapi aku yakin mereka sedang berusaha membuatku terjebak di sini!"


"Tapi kenapa laki-laki bernama Glenn itu menyeret namamu kalau memang kau tidak terlibat? Apa kau punya banyak musuh selain..." Fahri menggantung ucapannya ketika menyadari siapa laki-laki yang baru saja hampir dia sebut namanya.


"Tebakanmu benar, Kak! Glenn bekerja untuk Marvin Alexander," ucap Zian.


Seketika raut wajah Fahri dan Evan menggeram, mengingat perbuatan Marvin Alexander yang pernah hampir membunuh Zian dan Naya.


"Tapi, Kak... Apa Naya sudah tahu kau ditahan di sini?" Evan menyela pembicaraan dua orang itu.


"Tidak! Aku tidak mau Naya tahu. Kalau dia tahu aku ditangkap polisi, dia akan stress. Aku tidak mau itu terjadi," jawab Zian.


"Tapi lambat laun, Naya pasti tahu. Kau tidak tahu kan, se-viral apa berita penangkapanmu di tv. Hampir semua stasiun tv memberitakannya," ucap Fahri.


Zian menghela napas kasar, pikirannya hanya tertuju pada satu arah, Naya. "Aku sudah meminta pada orang di rumahku, agar Naya jangan sampai melihat berita di tv. Beberapa minggu lagi jadwal operasinya. Aku tidak mau berita penangkapanku mempengaruhi kesehatannya."


"Apa kau mencurigai orang lain lagi selain Marvin Alexander?" tanya Fahri.


Zian terdiam sejenak, sambil mengurut pangkal hidungnya. "Kenzo Octavius atau lebih dikenal dengan julukan Kenzo Salvatrucha. Anita bilang, pernah melihat mereka bersama di sebuah cafe. Mereka bisa saja bekerja sama. Alex menginginkan Naya dan Kenzo menginginkan Anita."


Evan tersentak mendengar ucapan Zian. Pikirannya langsung tertuju pada Naya. "Artinya Naya dalam bahaya, Kak! Jika Marvin Alexander masih berkeliaran di luar sana, artinya Naya sedang terancam."


"Kita harus mengamankan Naya. Bagaimana kalau Naya dan Anita tinggal bersama kami untuk sementara?" ucap Fahri, namun dijawab dengan kebisuan oleh Zian. Laki-laki itu sedang mempertimbangkan segalanya dari berbagai sisi.

__ADS_1


"Iya, Kak! Itu benar. Naya akan aman tinggal bersama kami," imbuh Evan.


"Tidak! Kalian akan ikut terancam. Aku akan tetap menjaga Naya dengan caraku sendiri."


Fahri dan Evan hanya saling melirik mendengar ucapan saudaranya itu. Tidak ada yang lebih keras kepala dari Zian. Laki-laki itu punya cara sendiri yang unik untuk melindungi miliknya. Termasuk cara uniknya menjaga Anita selama hampir sembilan tahun bersamanya.


Bahkan, Zian sempat menyembunyikan identitasnya dari media mengenai dirinya yang merupakan pemilik Kia Group.


****


Di tempat lain, Naya sedang duduk melamun di sofa ruang tamu dengan tatapannya yang mengarah keluar jendela. Sudah beberapa jam dia terduduk sendiri menunggu sang suami. Namun, Zian tak kunjung memunculkan dirinya.


Sementara sang asisten rumah tangganya hanya mengamati dari dalam sana. Wanita paruh baya itu menatap Naya dengan perasaan sedih. Zian telah menceritakan padanya tentang apa yang terjadi dan memintanya menjaga Naya.


Tidak hanya mematikan siaran tv di rumah itu, bahkan dia telah meminta para penjaga rumahnya menghalau para wartawan yang mungkin akan menyambangi rumah itu untuk mencari berita.


Naya, masih melamun ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman rumah itu. Wajahnya seketika berbinar. Lalu secepat kilat segera keluar dari rumah untuk menyambut suami yang entah kenapa begitu dirindukannya. Namun, senyum di wajahnya meredup manakala mendapati hanya Anita dan sopir yang turun dari mobil itu.


"Dimana suamiku?" tanya Naya pada sang sopir. Mendengar pertanyaan Naya, Anita langsung melirik sang sopir dengan tatapan mengancam. Tatapannya mampu menjelaskan agar sang sopir tidak membocorkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa? Keluar kota? Kenapa dia tidak memberitahuku sebelum berangkat?" Naya bertanya dengan mata berkaca-kaca. Anita langsung menepuk bahunya ketika melihat raut wajah Naya.


"Semuanya sangat mendadak, tadi dia ingin memberitahumu. Tapi katanya, kau ketiduran. Dan dia tidak mau membangunkanmu."


Naya menunduk, menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Tenanglah, Naya. Dia akan segera kembali begitu urusannya selesai. Ayo kita masuk! Udara di luar dingin." Anita sudah masuk ke rumah meninggalkan Naya yang masih mematung di ambang pintu. Dia menghindar dari pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan Naya selanjutnya, dan Anita tidak akan punya jawaban yang bisa menenangkannya.


Tinggallah Naya mematung sendirian, menatap punggung Anuta yang semakin menjauh. Sekelumit pertanyaan pun bermunculan di benaknya.


Kenapa aku merasa Anita sedang menyembunyikan sesuatu? Dan Zianku, kenapa dia lakukan ini lagi padaku? Dia sudah pernah berjanji padaku tidak akan meninggalkanku tanpa kabar seperti dulu. Lalu kenapa dia mengulanginya? Naya membatin.


Sesaat kemudian, Naya tersadar dari lamunannya, lalu menghapus air matanya, kemudian melangkahlan kakinya masuk ke dalam rumah, sesekali mengusap perutnya yang membuncit.


Bibi Carlota menghampiri Naya yang terlihat sangat tidak bersemangat.


"Ada apa, Naya?"

__ADS_1


"Bibi... Dia meninggalkanku tanpa memberitahuku. Anita bilang, dia keluar kota. Tapi kenapa dia tidak bilang padaku?"


Bibi tidak menjawab. Wanita itu hanya berusaha menenangkan Naya yang terus menangis.


Sementara Anita sedang bersandar di balik pilar, melirik Naya yang sedang menangis.


Maafkan aku, Naya. Aku sudah membohongimu. Suamimu tidak ingin kau terbebani dengan masalah ini. Maliq sudah melindungiku selama ini. Maka akan kulakukan apapun untuk bisa melindungimu. batin Anita.


***


Malam semakin larut, Naya belum bisa memejamkan matanya. Sejak tadi, dia hanya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Sudah ratusan kali dia menghubungi nomor telepon sang suami, Namun, tidak juga tersambung. Bahkan tak henti-hentinya Naya mengirimkan pesan melalui aplikasi whattsapp, namun pesannya tak kunjung terkirim.


"Kau dimana? Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau meninggalkanku seperti ini?" gumamnya sambil menatap foto Zian di ponselnya.


Malam itu, Naya tak dapat memejamkan matanya barang sejenak saja. Begitu dia memejamkan matanya, maka akan terbayang mimpi buruknya.


Hal yang sama terjadi pada Zian. Di balik jeruji besi, Zian menyandarkan kepalanya.



Pikirannya terus tertuju pada Naya. Selama beberapa bulan, istrinya itu sering gelisah saat tidur. Dan sejak perutnya mulai membesar, dia kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman. Sehingga Zian sering terbangun di malam hari walaupun hanya untuk mengusap perutnya.


"Apa kau baik-baik saja?" gumam Zian.


Laki-laki itu pun duduk di sudut ruangan itu, lalu mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku kemejanya. Foto hasil USG anaknya.


Kini, Zian hanya mampu berharap masalah itu cepat berlalu dan kembali pada sang istri, sehingga dapat menemaninya menjalani operasi caersar yang tinggal beberapa minggu lagi


****


BERSAMBUNG


Author sangat berterima kasih kepada kalian yang terus memberi semagat dengan meninggalkan like komen dan vote. Yang kemarin ngasih koin, makasih bangettttttttttt.... Maafkan keamatiramku.


luv u all tanpa terkecuali.

__ADS_1


__ADS_2