Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 94


__ADS_3

Lima bulan kemudian....


Di gedung pusat Kia Group, seorang pria sedang disibukkan dengan setumpukan pekerjaannya. Sesekali matanya melirik foto seorang gadis yang berada di atas meja kerja sebagai penyemangatnya. Zian tersenyum memandangi foto sang istri yang selalu dirindukannya saat sedang tidak bersamanya.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu terdengar sedikit kencang, membuat laki-laki itu mengernyit. Tidak pernah ada karyawannya yang berani mengetuk sekeras itu di pintu ruangannya.


Dimas dan Anita kemudian masuk ke ruangan itu dengan tergesa-gesa, membuat Zian keheranan.


"Ada apa?" tanya Zian heran.


"Bos, kau sudah lihat berita hari ini di tv?" tanya Dimas dengan wajah khawatir.


Sejenak Zian menghentikan aktivitasnya, menatap dua orang kepercayaannya itu bergantian.


"Berita...?" tanya Zian sambil berpikir sejenak, " Berita apa?"


"Berarti bos belum melihatnya," ucap Dimas pada Anita. Dimas buru-buru mengambil remote control tv yang terletak di atas meja , lalu segera menyalakan tv yang memuat berita yang akan membuat sang bos geram.


Zian membulatkan matanya, dengan tangan terkepal melihat berita yang ada di tv. Bahkan Dimas beberapa kali mengganti chanel tv itu, namun isi pemberitaannya semua tentang itu.


Tentang seorang gadis bernama Kanaya Indhira Adiwinata yang dua tahun lalu tersebar fotonya tidur bersama seorang pria yang akhirnya mengakibatkan pernikahannya dengan seorang pengusaha bernama Marvin Alexander batal.


Resepsi pernikahan Naya dengan Zian yang di gelar beberapa bulan lalu membuat publik bertanya-tanya. Mengapa seorang bos besar Kia Group mau menikahi seorang gadis seperti Kanaya Adiwinata yang fotonya pernah tersebar tidur bersama seorang pria tak dikenal.


"Naya..." Zian bergumam menyebut nama sang istri. Zian kemudian mengalihkan pandangannya pada Dimas dan Anita yang mematung di sana.


"Berita ini menjadi trending di internet, Bos. Akun instagram Naya juga di serang netizen. Mereka menghujat Naya dan mengatakannya wanita murahan," ucap Dimas yang sedang memainkan ponselnya, membuka akun instagram Naya yang sudah lama tidak aktif itu.


Dimas kemudian memberikan ponselnya pada Zian, agar sang bos dapat membaca hujatan demi hujatan yang dilayangkan netizen pada istrinya. Dia terlihat sangat geram membaca komentar dari warga net yang jumlahnya sudah ratusan ribu komentar itu.


"Berani sekali mereka semua menghina Nayaku!" ujar Zian kesal.


"Sekarang kita harus segera menghentikan pemberitaan ini. Hampir semua stasiun TV memuat berita ini. Dan semua akun gosip di media sosial juga mengunggah foto ini," ucap Anita.


Zian semakin geram setelah mengetik nama Kanaya di laman pencarian dan yang muncul di baris pertama adalah Kanaya Indhira sang gadis murahan. Zian memejamkan matanya kasar, lalu menghela napas kasar. Ingin rasanya menghukum orang-orang yang telah berani mengatakan istrinya wanita murahan.


"Ada berapa stasiun tv yang memuat berita itu?" tanya Zian kemudian.


"Hampir semua, Bos. Setidaknya aku menghitung lebih dari sepuluh saluran tv memuat berita itu," jawab Dimas.


"Tuntut mereka semua! Kalau perlu beri pelajaran berharga." titah Zian yang wajahnya masih geram. "Anita, siapkan konferensi pers untuk besok. Undang semua wartawan untuk hadir. Aku akan menjelaskan semua tentang foto itu pada media."


"Baik..." jawab Anita.


Zian kembali melirik ke layar tv yang sedang memuat berita tentang istri kesayangannya itu. "Kurang ajar! Beraninya mereka membuat berita semacam ini tentang Nayaku. Apa mereka lupa Naya itu istri siapa?" gumamnya.


"Bukankah resepsi pernikahan bos sudah di gelar beberapa bulan lalu? Tapi kenapa berita ini baru viral sekarang?" tanya Dimas bingung.

__ADS_1


"Entahlah!" jawab Zian singkat. Laki-laki itu mengendurkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


"Bagaimana kalau Naya sampai melihat berita ini?" tanya Anita.


"Kau tenang saja. Naya bukan orang yang peduli pada kata-kata orang. Dulu saja saat pertama kali foto ini tersebar, dia sangat santai. Malah dia mengambil keuntungan dari tersebarnya foto ini dengan memaksaku menikahinya," Zian kembali teringat pada sosok gadis kecil yang mendatanginya di bengkel dan mengancam akan membocorkan siapa laki-laki yang tidur dengannya jika Zian tidak mau menikahinya.


Sesaat kemudian, ponsel milik Zian berdering. Laki-laki itu meraih benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di atas mejanya. Tampak nama Dokter Fahri tertera di layar ponsel. Zian langsung menggeser tanda hijau.


"Halo, Kak...!"


"Kau sudah lihat berita di tv?" tanya Fahri.


Zian mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut, "Iya, aku baru saja melihatnya."


"Cepat kau bereskan masalah ini. Jangan sampai berita itu membuat Naya stres."


"Iya, Kak... Aku akan membereskannya secepat mungkin."


"Baiklah... Aku tidak mau Naya sampai sakit atau tertekan karena berita ini. " kata Fahri sebelum akhirnya menutup sambungan teleponnya.


Zian kemudian teringat pada sang istri yang tadi meminta izinnya untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama Mia. Rasa khawatir pun menjalar di hatinya. Laki-laki itu kemudian mencoba menghubungi nomor telepon sang istri namun tidak ada jawaban.


"Ada apa?" tanya Anita yang melihat raut kecemasan di wajah tuannya itu.


"Naya tidak menjawab teleponku. Tadi dia minta izin untuk pergi ke mall bersama Mia."


"Apa? Kau bilang pergi ke mall?" tanya Anita dengan nada terkejut. Zianpun menganggukkan kepalanya seperti sedang frustrasi karena Naya tak juga menjawab panggilannya. Anita dan Dimas saling melirik dengan wajah khawatir.


"Itulah yang sedang kupikirkan," lanjut Zian.


Beberapa saat kemudian, ponsel milik Zian berdering lagi. Tampak di layar tertera nama Mia.


"Ini dari Mia..." kata Zian lalu segera menjawab panggilan itu. Dan, terdwngarlah suara Mia yang sepertinya sedang panik itu.


"Kak Zian..." panggil Mia.


"Mia, ada apa dengan istriku?" Langsung bertanya setelah mendengar nada bicara Mia yang panik.


"Kau harus segera kemari, Kak! Naya..." Suara Mia terdengar bergetar saking paniknya.


"Ada yang terjadi" Zian sudah setengah berteriak disana. Menjamb*k rambutnya sendiri saking khawatirnya.


"Kami sedang jalan-jalan di mall. Saat sedang istrirahat di sebuah cafe, ada pemberitaan di tv tentang foto Naya yang sedang tidur bersama seorang pria. Lalu..." Mia menggantung ucapannya, seperti takut melanjutkan ucapannya.


"Lalu apa? Cepat katakan!" bentak Zian.


Takut-takut, Mia menjelaskan pada Zian. "Orang-orang yang ada di cafe menyadari kalau Naya ada di sana. Mereka mengumpati Naya dan mengatakan Naya gadis murahan. Sekarang Naya mengurung diri di kamar mandi dan terus menangis. Aku sudah membujuknya, tapi Naya tidak mau keluar dari sana."


Zian mendengkus kesal, mengumpati orang-orang itu dalam hatinya. "Baiklah, aku kesana. Tolong jaga Naya sampai aku datang." pinta Zian pada Mia.

__ADS_1


"Baik, Kak!"


Zian menyandarkan punggungnya di kursi, menghela napas kasar. Wajahnya sudah memancarkan kemarahan. Dimas dan Anita kembali saling melirik, setelah melihat raut wajah sang bos.


"Anita, batalkan rapat hari ini! Katakan aku ada urusan penting. Aku mau menjemput Naya di sana."


"Baiklah." jawab Anita.


"Dimas, kau ikut aku!" Zian berdiri dari duduknya, lalu mengambil langkah seribu keluar dari ruangannya. Dimas pun mengekor di belakangnya.


Tidak lama, mereka telah sampai di pusat perbelanjaan itu. Zian segera menghubungi Mia yang masih berada di dalam sana.


Dengan langkah tergesa-gesa, Zian menuju tempat Naya mengurung diri. Mia yang sedang menunggu di depan toilet wanita bernapas lega ketika melihat Zian datang bersama Dimas.


"Dimana Naya?" tanya Zian.


"Di dalam, Kak! Dia tidak mau keluar. Aku sudah membujuknya beberapa kali. Tapi Naya tidak juga mau keluar. Dia terus menangis di dalam sana," kata Mia dengan raut wajah khawatirnya.


"Tapi ini kan tolilet wanita. Haruskah aku masuk ke sana?" Zian melirik Dimas dan Mia bergantian.


"Masuk saja, Kak! Di dalam tidak ada orang selain Naya."


Zian masuk ke dalam tolilet itu, mencari sang istri. Samar-samar laki-laki itu dapat mendengar suara isakan dari balik sebuah pintu. Zian pun mengetuk pintu dimana suara isakan itu bersumber.


"Sayang... Kau di dalam? Buka pintunya..." ucap Zian.


Naya pun tersentak mendengar suara itu. Dia mengusap air matanya yang telah membanjiri wajahnya.


Zianku, itu suaranya kan? Dia kesini? batin Naya.


Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka. Naya keluar dari sana dengan mata memerah karena menangis. Zian langsung memeluknya erat. Dan tangis gadis itupun kembali pecah.


Zian membawanya duduk di sebuah kursi lalu berjongkok di depannya. Zian menghapus air mata yang terus berjatuhan itu.


"Mereka... Mereka menghinaku dan bilang aku wanita murahan! Laki-laki yang ada di foto itu kan kau. Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki lain selain denganmu..." ucap Naya terputus-putus bersamaan dengan isakannya.


Zian kembali memeluk sang istri, mengusap punggungnya dengan sayang. "Tenanglah. Aku akan segera membereskan masalah ini," bujuk Zian dengan suara lembut. "Sekarang ayo kita pulang..."


Naya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau keluar. Kalau aku keluar, mereka akan menghinaku lagi. Aku akan keluar dari sini kalau orang-orang di luar sana sudah habis."


"Kau mau menunggu sampai mall-nya tutup? Ayolah, Sayang... Tidak akan ada yang berani menghinamu selama ada aku."


"Tidak mau!"


Naya tetap tidak mau keluar walaupun Zian sudah membujuknya dengan berbagai cara.


Ada apa denganmu, Naya! Dulu kau tidak pernah peduli dengan apapun yang orang katakan tentangmu. Lalu kenapa sekarang kau sangat sensitif dan cengeng? Ini seperti bukan dirimu yang dulu...


***

__ADS_1


Bersambung.


Sorry baru up... Nulisnya butuh waktu lama 😂😂😂


__ADS_2