Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Kelakuan Bos gesrek!


__ADS_3

Di sebuah gedung pencakar langit, sedang terjadi drama seret menyeret yang dilakukan oleh beberapa pria bertubuh tinggi besar.


"Lepaskan aku! Kalian mau aku pecat ya??" terdengar suara Zian sedang meneriaki beberapa pengawal Kia Group yang menyeretnya memasuki ruangannya.


"Maaf, Bos! Kami terpaksa. Daripada kami ditembak Nona Anita," jawab salah seorang pria yang disebut Deniz sebagai Om Botak kesayangannya.


Anita baru saja memerintahkan para pengawal itu menjemput paksa sang bos yang dengan seenaknya mangkir dari tugasnya selama dua hari ini. Tentu saja, para pengawal itu lebih takut pada Anita daripada sang bos besar.


Saat memasuki ruangannya, Anita sudah duduk manis bersama Dimas dan Rama. Mereka bertiga sedang membicarakan proyek besar yang sedang dikerjakannya.


Rama, bergabung dengan Kia Group setelah Leo dan Dimas membebaskannya dari penyekapan yang dialaminya selama beberapa tahun, sehari setelah kematian ayah Naya.


Zian kemudian duduk di samping Dimas. Rama terkekeh saat melihat wajah Zian dan Dimas yang sama-sama memeiliki lebam di wajah, dengan lokasi yang sama. Jika Zian mengalami luka lebam karena berkelahi dengan Dimas, maka Dimas mendapatkan hadiah itu dari Anita.


Zian kemudian menatap sinis pada Anita, "Kenapa kau menyeretku kemari? Apa kau sadar kalau ini namanya penculikan!" Zian mencoba protes pada Anita.


Sejenak, Anita mengalihkan pandangannya pada Zian, "Kau adalah bos di sini. Tapi kau yang paling tidak disiplin. Kau enak-enakan di rumah bersama anak istrimu, melupakan kami yang sedang bekerja di sini," ucap Anita tak kalah galaknya.


Zian terlihat sangat kesal pada Anita yang menculiknya dari rumahnya sendiri. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Zian berperan sebagai seorang bos yang baik dan disiplin.


"Dimas, siang ini kau ikut aku meninjau lokasi. Biar Rama yang tetap di kantor," ucap Anita membuat Dimas terlonjak.


"Aku... Ikut denganmu? Kenapa bukan Rama saja yang pergi denganmu?" Dimas mencoba menghindari untuk pergi bersama Anita. Laki-laki itu mengusap wajahnya yang masih terlihat lebam setelah dihadiahi kepalan Anita dua hari lalu.


Anita tidak menyahut ucapan Dimas, namun pelototan matanya sudah berhasil menakuti laki-laki yang baginya sangat pecicilan itu.


Dimas pun menerbitkan senyum getirnya, sementara Rama mengulum bibirnya menahan tawa mengingat seisi kantor Kia Group yang begitu takut pada sosok Anita. Bahkan, nyali siapapun yang bekerja di sana akan menciut hanya dengan dipelototi wanita cantik itu.


"Baiklah, Nona Anita. Aku pasrah!" ucap Dimas.


Dengan sangat terpaksa, Dimas ikut dengan Anita untuk meninjau lokasi. Tinggallah Rama berdua dengan sang bos besar di ruangan itu.


Zian yang merasa belum kenyang menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya menjadi gelisah di kantor. Laki-laki itu tidak dapat berpikir dengan jernih. Pikirannya hanya tertuju pada Naya dan Deniz.


"Rama!" panggil Zian yang sedang duduk santai di kursi kebesarannya.


"Ada apa, Bos?"


"Aku ada tugas untukmu!" ucap Zian dengan senyum misteriusnya.

__ADS_1


Rama menaikkan alisnya mendengar ucapan sang bos. Sebelumnya, Anita dan Dimas telah memperingatkannya bahwa sang raja sangat suka memberi perintah yang tidak masuk akal. Mereka bahkan memperingatkan Rama agar menjaga jarak dari Tuan Zildjian Maliq Azkara.


"Tugas apa, Bos?" Rama bertanya dengan nada takut-takut.


"Mendekatlah kemari. Aku ingin memberimu sebuah tugas rahasia. Tapi ingat, Dimas dan Anita jangan sampai tahu kalau aku memberimu tugas ini," ucapnya menekan.


Mendengar ucapan Zian, Rama mulai curiga. Kira-kira tugas rahasia macam apakah yang akan diberikan olehnya. Dengan ragu-ragu, Rama mendekat pada Zian, sehingga sang raja dapat membisikkan tugasnya untuk asisten barunya itu. Kedua bola mata Rama membulat sempurna ketika mendengar perintah yang baginya sangat tidak masuk akal itu.


"Tapi, Bos..." Rama ingin protes, namun segera dipelototi oleh Zian.


"Zztt! Kau jangan berisik. Lakukan saja tugasmu dengan baik!" titah Zian.


"Baiklah, bos!" Dengan terpaksa, Rama mengiyakan tugas dari sang bos besar. Beberapa hari lalu, Zian telah memberinya tugas yang sama, namun Rama tidak pernah menyangka jika sang bos benar-benar serius dengan perintahnya.


"Ingat! Dimas dan Anita, tidak boleh tahu!" ucap Zian dengan penuh penekanan.


"Ba-baik, Bos!"


Susah payah, Rama menelan salivanya, bukan perkara mudah menghadapi Anita saat marah. Wanita cantik dan anggun itu layaknya seekor serigala saat sedang marah. Kira-kira seperti itulah deskripsi Anita bagi seorang Dimas. Bahkan, Dimas telah memperingatkan Rama agar berhati-hati pada Anita.


Bagaimana ini? Anita akan menghadahiku kepalan tinjunya. Rama membatin.


Dan, waktu dengan cepat berlalu. Detik berganti menit, menit berganti jam, serta siang berganti malam. Hanya kelakuan Zian saja yang tidak pernah berganti. Selalu semaunya sendiri, dan selalu memberi perintah diluar nalar manusia normal.


****


***


Sementara itu, Anita baru saja pulang ke rumah setelah beraktivitas seharian di luar rumah. Bibi Carlota datang menyambutnya dengan senyuman seperri biasanya


Wanita itu melirik kesana-kemari. Biasanya, Deniz sedang berlarian kesana kemari di jam seperti itu.


"Bibi, dimana Deniz? Kenapa sangat sepi?" tanya Anita.


"Entahlah, sejak tadi, Deniz dan Naya tidak turun dari kamar," jawab Bibi Carlota.


"Mereka kemana?" gumamnya, lalu kemudian menapaki tangga menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.


Suasana kepanikan pun terjadi manakala Anita menyadari Deniz dan Naya tidak ada di rumah. Naya tidak pernah kemana-mana tanpa memberitahu orang di rumah. Dan, tak ada satupun penjaga rumah itu yang melihatnya keluar rumah. Bersama Zian pun tidak mungkin, karena seingatnya, Zian sedang lembur di kantor bersama Rama.

__ADS_1


Wanita itu menghubungi nomor telepon Zian dan Naya bergantian, namun, tak tersambung.


"Kemana Naya dan Deniz? Apa jangan-jangan mereka diculik," gumam Anita penuh kekhawatiran.


***


***


**


***


Sementara itu, di suatu tempat yang hanya Tuhan, Zian dan Rama yang tahu, Zian sedang memandangi wajah Naya dan Deniz yang sedang tertidur dengan lelapnya. Laki-laki itu mengecupi wajah dua orang kesayangannya itu bergantian. Dia terkekeh kecil saat melihat Deniz tersenyum dalam tidurnya. Merasa anaknya itu adalah boneka yang sangat lucu dan menggemaskan.


*


*


*


*



*


*


"Sekarang, tidak akan ada yang mampu memisahkan kita bertiga. Sekalipun itu Dimas dan Anita," ucap Zian dengan penuh kepuasan.


Laki-laki itu kemudian ikut berbaring disana, memeluk kedua orang kesayangannya dengan erat. Seolah tak rela jika dunia memisahkan mereka lagi.


Cukup sudah perpisahan mereka selama dua tahun. Zian hanya ingin menebus waktu dua tahun yang terbuang itu dengan menikmati waktu sebaik-baiknya bersama orang-orang tercintanya itu.


***


BERSAMBUNG


kalian pasti sudah bisa nebak, ada apa dengan bos gesrek itu dan kemana dia mensabotase Naya dan Deniz.

__ADS_1


__ADS_2