Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Dimas pengkhianat!!!


__ADS_3

Dimas ada di sana dengan senyum penuh kelicikan. Wajahnya terlihat sangat puas melihat Anita dalam keadaan terikat tak berdaya.


"Apa kabar, Monster Betina! Apa kau merindukan panggilan itu?" ucap Dimas seraya terkekeh pelan.


"Kau... Apa yang kau lakukan!?" teriak Anita dengan suara menggelegar.


Dimas tertawa mendengar suara teriakan Anita, lalu mendekat dan berjongkok di hadapannya seraya berdecak. "Bahkan, dalam keadaan terikat pun kau masih begitu menakutkan, sayangnya kau tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Karena kau akan mati."


"PENGHIANAT! Kau lah yang akan mati di tanganku!" Sekali lagi Anita menunjukkan sifat garangnya di hadapan Dimas.


"Ya ampun, dalam keadaan begini pun kau masih bisa mengancam. Aku benar-benar kagum padamu, Teman!" Dimas berdiri dati posisi berjongkoknya, kemudian memegang pistol dan mengarahkannya pada Anita. Sesekali matanya melirik Alex yang duduk di sudut ruangan itu dengan senyum liciknya.


"Haruskah aku membunuhmu sekarang? ucap Dimas.


"Tidak! Kau jangan membunuhnya sekarang. Dia pernah mengampuniku satu kali. Jadi kali ini, aku tidak akan membunuhnya. Kita akan menyerahkan wanita ini pada Kenzo," ucap Alex.


Seketika, seluruh tubuh Anita bergetar mendengar nama itu disebut. Sungguh, hanya satu orang di dunia yang paling membuatnya takut. Yaitu kekejaman sang mantan suaminya.


"Bunuh aku saja!" bentak Anita walaupun suaranya sudah jelas terdengar gemetaran.


"Harusnya kau senang akan bertemu dengan suamimu. Ah, mantan suamimu," ucap Alex sambil mengetuk-ngetuk meja. "Kau ingat apa yang kau lakukan padaku waktu itu padaku, Marissa? Haruskah aku membalasmu dengan cara yang sama?" ucap Alex sambil menunjukkan jari-jari tangannya yang kini tidak utuh lagi.


Mendengar ucapan Alex, Anita semakin memberontak, berusaha melepas tali yang mengikatnya. "Kau masih beruntung karena aku tidak membunuhmu malam itu." Anita masih menunjukkan keberaniannya pada dua orang di depannya.


"Monster Betina ini benar-benar banyak bicara."


"Dan kau, Dimas! Kau tidak lebih dari seorang pengkhianat. Kau dibayar berapa oleh Alex?"


"Kau dan Bosmu, Tuan Maliq itu sama bodohnya. Aku sudah lama bekerja untuk Bos Kenzo. Dan aku baru tahu kalau kau ternyata adalah wanita yang dicari olehnya. Aku hanya membantunya menangkapmu."


Anita semakin geram mendengar ucapan Dimas, ada rasa penyesalan dalam dirinya tidak mendengarkan perintah Zian untuk tidak kemana-mana. Kini, Anita telah berada di tangan Alex dan Dimas, dan kemungkinan sebentar lagi mereka akan menyerahkannya pada Kenzo.


"Beberapa hari lagi, sidang Maliq akan digelar. Aku membutuhkan satu tawanan lagi. Bawa Kanaya dan anaknya padaku. Akan kugunakan dia untuk membungkam Maliq! Setidaknya sampai maliq benar-benar dieksekusi mati," titah Alex pada Dimas.

__ADS_1


"Siapa kau yang berani memerintahku? Aku membantumu karena bosku yang memintaku membawa Anita kemari." Dimas melirik Alex dengan tatapan menantang. "Bosku hanya memintaku membawa Anita padanya. Soal Kanaya, itu urusanmu!"


Alex terlihat sangat geram dengan nada bicara Dimas yang baginya sangat menyebalkan. Laki-laki itu mendekat dan menarik kerah kemeja Dimas. "Aku sudah membuat kesepakatan dengan Kenzo. Jadi perintahku adalah perintahnya. Kau mengerti?"


"Berhati-hatilah padaku, Teman! Ingat, jari-jarimu sudah tidak utuh. Apa yang bisa kau lakukan padaku dengan kondisi menyedihkan seperti sekarang?"


Mendengar nada menyindir itu, Alex melepaskan cengkramannya, lalu segera kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Aku tidak tahu kenapa Kenzo bisa punya anak buah sepertimu!" ucap Alex seperti sedang merendahkan Dimas.


"Aku juga tidak tahu kalau kau dulu pernah menjadi anak buahnya Tuan Maliq." Dimas kembali bicara dengan nada menyindir.


Karena tidak tahan dengan Dimas yang selalu berbicara tanpa kenal rem, Alex akhirnya keluar dari ruangan itu dengan kesalnya. Tinggallah Dimas dengan beberapa anak buah Alex yang lain. Dimas melirik satu persatu pria yang ada di sana.


"Aku akan keluar sebentar! Jaga dia dan pastikan dia tidak kabur! Kalau dia lecet sedikit saja, akan kubunuh kalian semua!" Dimas melirik Anita sekilas, "Bos Kenzo menginginkan dia dalam keadaan utuh!" ucap Dimas kemudian langsung keluar dari ruangan itu.


Anita melirik dimas dengan tatapan penuh kemarahan. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika Dimas akan menjadi seorang pengkhianat.


Maliq, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melindungi Naya dan Deniz sekarang. batin Anita.


****


Sementara itu, Dimas baru saja tiba di sebuah hotel mewah tempat sang bos berada. Laki-laki yang biasanya terlihat pecicilan itu berubah menjadi seseorang yang mengerikan dengan tatapan mata yang tajam.


Dia menekan bel sebuah kamar, dan tidak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka. Tampaklah seorang pria bertubuh tinggi besar dengan raut wajah garangnya. Kenzo Octavius atau lebih dikenal sebagai Kenzo Salvatrucha karena terkenal dengan kekejamannya.


"Bos, aku sudah kerjakan apa yang kau perintahkan. Dia sudah ada di tempat yang seharusnya!" ucapnya pada pria yang yang sedang duduk menhadap ke jendela itu.


"Bagus, Dimas! Pekerjaanmu selalu membuatku puas!" ujarnya tanpa menoleh. Tangannya masih menggenggam gelas minuman, dengan senyum licik yang menghiasi wajahnya.


"Ucapanmu adalah perintah bagiku, Bos!"


Dimas masih terlibat pembicaraan serius dengan bos lamanya itu ketika bel kembali berbunyi. Seorang pengawalnya membuka pintu.

__ADS_1


Alex masuk ke ruangan itu tanpa permisi, lalu menyela pembicaraan Kenzo dan Dimas.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Kenzo saat melihat Alex memasuki ruangan itu.


Alex duduk di sofa tanpa dipersilahkan, sementara Dimas masih berdiri di sudut ruangan itu.


"Beberapa hari lagi sidang putusan kasus Maliq akan digelar. Aku butuh Kanaya dan anaknya untuk membuat Maliq tetap bungkam. Sayangnya, hanya anak buahmu itu yang mengetahui dimana Maliq menyembunyikan anak dan istrinya. Aku sudah membantumu mendapatkan Marissa. Sekarang giliranmu membantuku mendapatkan Kanaya."


Seperti biasa, wajah Dimas akan terlihat sebagai makhluk paling menyebalkan sejagat raya jika berhadapan dengan Alex.


"Dimas, kau bisa mengerjakannya kan? Hanya kau yang tahu dimana Maliq menyembunyikan mereka," ucap Kenzo.


"Itu benar! Tapi... Aku tidak menyukai semua anak buah orang itu." Dimas menunjuk Alex dengan dagunya, "Mereka sama sekali tidak berguna! Bagiku mereka hanya menghalangi tugasku saja. Aku tidak mau bekerja dengan manusia tidak berguna seperti mereka."


Bahkan, anak buah Alex yang berada di ruangan itu ikut menggeram mendengar ucapan Dimas. Namun, Dimas seakan tidak peduli dengan raut wajah mereka yang sudah berubah.


"Lalu apa yang kau inginkan?"


"Aku bisa mengerjakan semuanya dengan caraku sendiri. Akan kubawa Kanaya bersama anaknya."


Kenzo tertawa puas mendengar ucapan Dimas. Bagi Kenzo, Dimas adalah anak buah andalannya yang selalu mengerjakan tugasnya dengan baik dan tanpa jejak.


"Apa Maliq belum tahu kalau kau bekerja untukku?" tanya Kenzo lagi.


Dimas tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya senyum misterius yang terbit di wajahnya.


***


Bersambung


Terima kasih kalian sudah meramaikan tulisan amatiran ini dengan like dan komentar kalian. Semakin kalian menyemangati akoh. semakin akoh rajin Up. Apakah kalian masih sanggup ngelanjutin membacanya. Makin pelik, ya si Zian. Makin Berat kasusnya, makin cepat terbuka. wkwkw Sabar, nggak lama lagi. Setelah ini, juru kunci untuk kasus Zian akan masuk ke dalam naskah.


****

__ADS_1


__ADS_2