Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Dua tahun tanpamu


__ADS_3

"Deniz!"


Terdengar suara teriakan seorang wanita memanggil nama anaknya. Seorang bocah laki-laki yang menggemaskan sedang berlarian di taman dengan riang gembira.


"Ayo, Ibu! cepat lari!" ucapnya dengan suara yang terdengar begitu lucu, sambil mempercepat langkah kakinya dengan suara tawanya yang khas.


Deniz, anak Zian dan Naya kini berusia dua tahun. Jika wajahnya sangat mirip dengan sang ayah, maka semangatnya yang berapi-api turun dari sang ibu.


Pagi itu, Naya dan Deniz sedang bermain di taman belakang sebuah villa besar, yang mereka tinggali selama dua tahun ini.


Dua tahun lalu, setelah Naya menjalani Operasi Caesar, Zian memerintahkan Dimas membawa Naya, Anita dan Bayi yang baru lahir itu untuk tinggal di villa yang jauh dari kota dan terletak di tengah hutan belantara.


Bahkan di tempat itu tidak ada jaringan telekomunikasi dan tidak ada siaran tv, sehingga Naya dan anaknya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Walaupun begitu, Naya dan Deniz begitu termanjakan di villa itu. Karena semua fasilitas sengaja disediakan untuk mereka.


Hanya Fahri, Evan, Elma dan Dokter Sandra yang kadang datang mengunjungi mereka di akhir pekan.


"Kau tertangkap!" Naya menangkap tubuh bocah kecil itu dan menggelitik perutnya. Suara tawa mereka yang terdengar begitu ceria memecahkan keheningan di pagi itu. Sementara dari atas balkon, ada Anita yang tersenyum tipis melihat keceriaan dua orang itu.


Naya benar-benar memenuhi janjinya pada Zian. Selama dua tahun ini, tidak pernah sekalipun Naya menanyakan pada siapapun kemana sang suami pergi dan tidak pernah menangisinya. Yang dilakukannya hanyalah menunggu, menunggu, dan menunggu. Hanya keyakinan yang menguatkannya bahwa suatu hari, Zian akan kembali padanya seperti janji yang tertulis dalam suratnya.


Anita mengusap setitik air matanya yang terjatuh. Mengingat Zian yang sudah ditahan selama dua tahun lamanya.


"Kalau kau tahu yang sebenarnya, apa kau masih bisa seceria sekarang?" gumam Anita tanpa melepaskan pandangannya dari Naya dan Deniz.


Naya kemudian menggendong anaknya itu memasuki villa itu. Sesekali terdengar suara cekikikan di antara keduanya.


"Deniz, ayo sarapan!" ucap Bibi Carlota seraya merentangkan tangannya pada bocah itu.


Deniz langsung turun dari gendongan sang ibu dan memeluk Bibi Carlota dengan sayang.


"Bibi, aku mau makan roti yang diolesi madu diatasnya," pintanya dengan suara cadelnya yang begitu manja.


"Baiklah, Bibi buatkan ya...!" Wanita paruh baya itu mendudukkan Deniz di kursi, lalu membuatkannya menu sarapan kesukaannya yang bagi Naya sangat berbeda.


"Kau tahu, dia benar-benar Zian dalam bentuk kecil. Saat masih kecil, Zian juga sangat suka roti tawar yang diolesi madu di atasnya. Dia memintanya setiap pagi," ucap Bibi Carlota membuat Naya tersenyum.

__ADS_1


"Aku sangat merindukannya, Bibi! Aku memang tidak tau dia kemana dan sedang apa. Tapi aku yakin, suatu hari tangan Tuhan akan menyatukan kami lagi. Aku tidak akan pernah lelah menunggunya."


Naya tersenyum melihat Deniz yang makan roti dengan lahapnya. Deniz kecil bagaikan lilin yang menerangi kegelapan. Tingkahnya yang menggemaskan begitu menghibur di tengah kegundahan. Sedangkan Naya benar-benar menjalankan perannya sebagai ibu yang sangat sempurna.


"Ibu, kapan ayah pulang?" tanya Deniz begitu mendengar nama ayahnya disebut.


"Ibu tidak tahu, Nak! Tapi, suatu hari ayah pasti akan kembali," jawabnya.


Setiap malam menjelang tidur, sebelum mendongengkan anaknya, Naya selalu memperlihatkan foto sang ayah, Sehingga bocah kecil itu selalu menantikan kedatangan ayahnya.


Tidak lama kemudian, Anita datang dan duduk disana. Pagi itu, Anita sudah terlihat sangat rapih seperti akan keluar.


"Selamat pagi jagoan kecilku," ucapnya pada Deniz.


"Selamat pagi, Bibi Anita!" jawab Deniz.


"Apa kau akan pergi?" tanya Naya sambil memperhatikan penampilan Anita.


"Iya, aku harus mengurus sesuatu," jawabnya sambil mengoles selai pada selembar roti tawar. "semuanya baik-baik saja, kan?"


Hari itu, Anita berencana akan mengunjungi Zian di rumah tahanan. Hampir tiga bulan lamanya, sejak Dimas memutuskan hengkang dari Kia Group, Anita tidak pernah lagi menjenguk Zian.


Karena sesuatu dan lain hal, Dimas memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu, sehingga Anita merasa tidak aman jika bepergian hanya dengan beberapa orang pengawal. Namun hari itu, Anita seperti kehilangan semua rasa takutnya dan memutuskan pergi menemui Zian.


****


Di dalam sebuah ruangan sempit, seorang pria terduduk di sudut ruangan dengan memandangi sebuah foto. Senyum tipis hadir di wajah laki - laki itu menatap foto sang istri yang terlihat begitu bahagia menggendong seorang bayi kecil.


Bahkan, Zian dapat begitu betah memandangi foto itu selama berjam-jam.


"Naya, tetaplah untuk seperti ini, kau harus kuat! " gumamnya dengan menerbitkan senyum. Kedua bola matanya tak lepas dari foto itu.



Beberapa minggu lagi, sidang putusan kasus yang menimpa Zian akan digelar. Fahri, Evan dan lainnya dihinggapi perasaan cemas. Sebab, jika Zian dinyatakan bersalah, maka hukuman mati akan menantinya. Sementara semua tuduhan sudah mengarah padanya. Zian pun terus mengakui sesuatu yang bukan merupakan perbuatannya. Ancaman Alex dan Kenzo untuk membunuh Naya, Anita dan anaknya membuatnya menuruti apapun yang diinginkan Alex.

__ADS_1


Namun, tidak ada sedikitpun raut kecemasan di wajah laki-laki itu. Bahkan dalam setiap sidang yang dijalaninya selama ini, dia terlihat sangat santai. Seperti tak ada beban di pundaknya.


Lain halnya dengan keluarganya yang harap-harap cemas menantikan hasil sidang putusan itu.


Tidak lama kemudian, seorang petugas datang dan membuyarkan lamunanya. Zian kembali memasukkan foto sang istri dan anaknya ke dalam sakunya. Petugas baru saja memberitahukan kedatangan seorang tamu untuknya.


Zian berdiri dari duduknya, kemudian keluar dari ruangan itu dengan dikawal dua orang petugas.


Anita duduk di sana dengan membawa sebuah kotak makanan yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh Bibi Carlota untuknya.


"Kau bawa apa?" tanya Zian ketika melihat kotak kecil di tangan Anita.


"Bukalah!"


Zian meraih kotak kecil itu dan melihat isinya. Laki-laki itupun mengambil sendok dari dalam kotak itu dan mencicipi makanan yang dibawa Anita untuknya. Tiba-tiba, cairan bening menggenangi kelopak matanya, sesaat setelah mencicipi makanan itu.


"Ini masakan Naya," ucap Zian yang begitu mengenali rasa makanan itu. Rasa yang sedikit aneh. Namun, Zian selalu dapat menikmati rasa makanan buatan sang istri.


"Iya. Setiap kali merindukanmu, dia akan memasak dan meletakkannya di meja. Kau tahu, dia benar-benar seorang wanita yang kuat. Dia bahkan tidak pernah bertanya pada siapapun kemana kau pergi. Dia menjadi ibu yang kuat untuk Deniz. Kau... harus bisa membayar perjuangan Naya dengan membuktikan dirimu tidak bersalah."


Zian tidak menyahut, yang ada hanya keheningan. Memikirkan Naya yang sejatinya hanyalah seorang gadis manja. Namun, cintanya pada Zian membuatnya menjadi seseorang yang kuat.


"Boleh aku menghabiskan makanan ini dulu?" tanya Zian kemudian diikuti anggukan kepala oleh Anita.


Zian pun memakan makanan dalam kotak itu dengan lahapnya. Sementara Anita terus memandanginya dengan perasaan sedih.


*****


BERSAMBUNG


Terima kasih yang tetap mendukung penulis amatiran ini. bagi kalian yang merasa alur ceritanya bertele-tele, Maaf!! aku bukan penulis handal yang bisa membuat alur cerita sesuai dengan keinginan kalian.


Di bab pengumuman sudah aku katakan bahwa konflik yang di hadapi Zian akan agak berat. Jadi kalau masih kuat silakan lanjut. 😅🙏🙏🙏


Love you all tanpa terkecuali!😘

__ADS_1


__ADS_2